Pada minggu pertama persiapan, Jihan membuat jadwal yang tampak sangat baik di atas kertas dan sangat melelahkan ketika dijalani. Ia menaruh terlalu banyak bahan pada satu hari, lalu merasa gagal ketika bagian terakhir belum tersentuh menjelang malam.
Bian menemukannya masih duduk setelah waktu istirahat yang disepakati lewat. Buku terbuka, tetapi pandangannya tidak bergerak.
"Yang dibaca masuk?" tanyanya pelan.
Jihan menggeleng tanpa mengangkat wajah. "Tapi kalau berhenti, besok makin banyak."
Bian tidak menutup bukunya paksa. Ia duduk di kursi lain dan meminta Jihan menunjukkan bagian yang sudah dikerjakan. Ternyata jumlahnya tidak sedikit. Masalahnya bukan tidak belajar, melainkan rencana yang dibuat seolah ia tidak membutuhkan makan, bergerak, atau berpikir sebelum memahami.
Jihan memandangi jadwal itu cukup lama. Ia mengenali kebiasaan lama yang kembali dengan bentuk baru: mengambil semuanya sendiri, lalu merasa buruk karena tidak mempunyai tenaga untuk mengerjakannya sekaligus.
"Besok aku perbaiki," katanya.
"Malam ini tidur dulu."
Ia menurut setelah menandai tempat berhenti. Keputusan kecil itu terasa seperti menyerah selama beberapa menit, kemudian menjadi kelegaan ketika tubuhnya akhirnya menyentuh tempat tidur.
.
.
Pertemuan dengan Shasya dan Ranza membantu Jihan melihat kebutuhannya lebih jelas. Mereka tidak mempunyai kelemahan pada bagian yang sama, sehingga belajar bersama tidak berarti membaca seluruh bahan dari awal sampai akhir dalam urutan seragam.
Mereka menyepakati bagian yang perlu dibahas bersama dan bagian yang dikerjakan sendiri. Jihan menyebutkan hal yang belum dipahaminya tanpa menyamarkannya sebagai pertanyaan untuk membantu orang lain.
Ranza melakukan hal serupa. Shasya bahkan menunjukkan halaman penuh tanda tanya sambil tertawa pasrah.
"Jangan ada yang sok paling tenang. Gue nggak percaya," katanya.
Jihan tertawa, dan ketegangan sedikit berkurang. Mereka tetap harus belajar dengan serius, tetapi tidak perlu menghabiskan tenaga berpura-pura tidak cemas di depan teman yang sedang menghadapi perjalanan sama.
Saat membahas latihan, mereka memeriksa alasan dari sumber yang digunakan, bukan sekadar menghafal pilihan jawaban. Jika penjelasannya belum jelas, mereka menandainya untuk ditanyakan melalui pendampingan yang tersedia.
Tidak ada yang menyebarkan jawaban tebakan sebagai kepastian hanya agar diskusi cepat selesai. Jihan menjaga kebiasaan itu karena tahu dirinya mudah tergoda oleh kalimat yang terdengar meyakinkan ketika sedang takut.
Pada satu pertemuan, mereka berbeda pendapat tentang alasan yang dipakai dalam latihan. Jihan sempat ingin mengikuti pendapat yang disampaikan paling cepat karena merasa penjelasannya sendiri lebih lambat. Ia berhenti dan meminta sumbernya dibuka bersama.
Mereka meninjau kembali tanpa menjadikan perbedaan itu perlombaan tentang siapa yang paling banyak hafal. Ada bagian yang ternyata dibaca terlalu singkat, sehingga kesimpulan awal perlu diperbaiki. Jihan ikut mengoreksi catatannya sendiri, bukan hanya menandai kekeliruan teman.
Sesudahnya mereka mengambil jeda. Shasya berdiri untuk meregangkan kaki dan mengaku kepalanya mulai penuh. Ranza menutup buku, sementara Jihan membagi makanan ringan yang dibawa.
Percakapan selama jeda sama sekali tidak cerdas atau penting. Mereka mengeluhkan kursi, membicarakan cuaca, dan menertawakan nama berkas yang terlalu panjang. Ketika kembali duduk, Jihan baru menyadari ia dapat membaca dengan lebih baik setelah beberapa menit berhenti.
Ia menambahkan jeda yang wajar pada jadwalnya, bukan sebagai hadiah jika semua target selesai, tetapi sebagai bagian dari rencana. Jika ia terus menunggu sampai seluruh bahan habis untuk beristirahat, waktu itu mungkin tidak akan pernah datang.
Malamnya ia menunjukkan jadwal baru kepada Bian. Suaminya tidak menilai isinya, hanya bertanya apakah ada waktu tidur yang cukup. Jihan menunjuk bagian yang sudah dikosongkan dan mengangguk.
Ia tahu pelaksanaannya masih harus dijaga. Namun ia tidak lagi bangga hanya karena kertasnya penuh. Jadwal yang dapat dijalani lebih berguna daripada daftar yang membuatnya tampak rajin tetapi selalu berakhir dengan kepala sakit dan rasa bersalah karena gagal mengejar sesuatu yang sejak awal tidak masuk akal.
.
.
Di rumah, Bian menyesuaikan urusan sehari-hari tanpa menganggap seluruh hidup harus berhenti selama Jihan mempersiapkan penilaian. Ia tetap bekerja, Jihan tetap membantu bagian yang dapat dilakukan, dan beberapa pekerjaan rumah disederhanakan.
Makanan tidak selalu dimasak dari awal. Cucian tidak dibiarkan menjadi pertengkaran tentang siapa yang lebih sibuk. Mereka memeriksa kebutuhan pada waktu yang sama, lalu mengerjakan bagian masing-masing.
Suatu sore, Bian pulang dengan kabar bahwa penutupan catatan proyek berjalan baik. Jihan sudah hendak meminta mendengar ceritanya sambil terus membaca, tetapi berhenti ketika menyadari ia tidak akan menangkap apa pun.
"Beri aku sepuluh menit menyelesaikan bagian ini. Habis itu cerita, ya."
Bian mengangguk. Jihan benar-benar menutup buku setelah selesai, lalu mendengarkan tanpa menyentuh halaman lagi.
Ia tidak ingin persiapannya menjadi alasan bahwa semua kabar lain di rumah tidak penting. Bian telah banyak memberi ruang. Ia juga dapat memberi waktu meskipun tidak sepanjang biasanya.
Setelah percakapan, pikirannya justru terasa lebih segar. Selama beberapa menit ia tidak harus menjadi orang yang akan dinilai. Ia hanya istri yang mendengarkan hari suaminya.
.
.
Mendekati hari penilaian, Jihan mulai menerima lebih banyak pertanyaan dari keluarga. Semuanya bermaksud baik, tetapi mengulang tanggal dan menjelaskan persiapan berkali-kali membuatnya semakin tegang.
Ia menelepon Ibuk dan Mama pada waktu terpisah. Dengan sopan ia meminta agar beberapa hari terakhir tidak dipenuhi pertanyaan apakah dirinya sudah siap. Ia akan memberi kabar, dan jika memerlukan bantuan ia akan mengatakan.
Ibuk sempat terdiam, lalu menyatakan memahami. Mama juga menerima tanpa menganggap Jihan sedang menjauh.
Sesudahnya, Jihan meletakkan ponsel dengan lega. Bian yang mendengar sebagian percakapan bertanya apakah ia juga sering menanyakan kesiapan terlalu banyak.
"Kadang. Tapi sekarang sudah tahu, kan?"
"Sudah."
Mereka tersenyum. Tidak perlu ada orang yang merasa ditolak hanya karena bentuk perhatian perlu disesuaikan.
Malam itu Jihan memilih meninjau bagian yang paling perlu, lalu berhenti. Ia menyiapkan barang sesuai informasi yang diterima, memeriksa perjalanan, dan menyisihkan pakaian. Hal yang dapat dipastikan diperiksa, hal yang belum dapat diketahui tidak dipaksa mempunyai jawaban.
.
.
Pada malam terakhir, Bian menemukan istrinya sedang membaca catatan kecil yang dibuat jauh sebelum persiapan ini. Kalimat tentang berani tidak tahu lalu mencari dengan benar masih ada di sana.
"Aku takut, mas," akunya.
Bian duduk di sampingnya. "Saya tahu."
"Kalau hasilnya nggak sesuai harapan?"
Ia tidak menjawab dengan janji bahwa hal itu mustahil. Ia mengatakan mereka akan menghadapi hasil yang benar-benar datang, tetapi malam ini Jihan sudah melakukan persiapan dan perlu memberi tubuhnya kesempatan beristirahat.
Jihan mengangguk. Jawaban itu tidak menghapus takut, tetapi tidak menambah beban bahwa ia harus berhasil demi menjaga keyakinan semua orang terhadapnya.
Ia menutup catatan, lalu meminta Bian menemaninya duduk sebentar tanpa membicarakan bahan belajar. Mereka bercerita tentang Kavin yang mengirim pesan suara terlalu dekat dengan mikrofon dan Kani yang masih menggoda gambar Bian.
Jihan tertawa, lalu menguap. Saat akhirnya berbaring, ia tetap memikirkan esok. Namun tangannya menemukan tangan Bian, dan ia mengingat bahwa hasil penilaian akan menentukan langkah pendidikan berikutnya, bukan apakah dirinya pantas dicintai di rumah ini.