Bulan-bulan berikutnya menuntut kesabaran yang tidak dapat digantikan semangat satu malam. Jihan menjalani kegiatan yang tersisa, menyelesaikan catatan, dan kembali memeriksa bagian yang belum memenuhi arahan.
Tidak semua hari layak difoto. Ada seragam yang harus segera dicuci, perjalanan pulang yang terasa panjang, dan makanan yang dimakan setelah seleranya hampir hilang karena terlalu lelah.
Bian hadir dalam bagian-bagian yang sering tidak terlihat itu. Kadang ia menyiapkan makan, kadang menjemput ketika memang dapat dilakukan, kadang hanya menerima pesan bahwa Jihan perlu langsung tidur. Ia tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan, tetapi sudah lebih jarang membuat Jihan bekerja lagi untuk menjelaskan mengapa dirinya lelah.
Jihan juga belajar melihat kelelahan suaminya. Ketika Bian pulang setelah pembahasan panjang, ia tidak selalu menyimpan semua cerita sampai malam. Ada pesan singkat, ada percakapan pada pagi berikutnya, dan ada hal yang ternyata tidak perlu menjadi masalah jika dikatakan sebelum menumpuk.
Waktu bergerak melalui kebiasaan tersebut sampai bagian kegiatan klinik yang harus diselesaikan Jihan akhirnya mencapai ujungnya.
.
.
Ia tidak mempercayai daftar yang telah penuh sebelum memeriksanya sekali lagi. Jihan memastikan catatan yang diminta sudah lengkap dan menanyakan hal yang belum dipahaminya kepada pihak yang bertanggung jawab.
Setelah mendapat kepastian tentang penyelesaian kegiatan tersebut, ia duduk sebentar dengan map di pangkuan. Ada rasa lega, tetapi bukan rasa bahwa seluruh perjalanan sudah berakhir.
Tahap penilaian berikutnya masih menunggu. Ia perlu mempersiapkan diri sesuai informasi resmi yang diberikan kepadanya, tidak hanya mengikuti cerita teman tentang apa yang biasanya terjadi.
Shasya datang dan duduk di sebelahnya. Mereka saling memandangi map masing-masing, lalu tertawa tanpa alasan yang jelas selain kelelahan yang akhirnya mendapat sedikit ruang.
"Sudah sejauh ini," gumam Shasya.
Jihan mengangguk. Ia teringat masa ketika satu presentasi yang tidak lancar terasa seperti bukti bahwa dirinya salah memilih jalan. Sekarang ia mempunyai banyak koreksi di belakangnya, dan justru dari sanalah sebagian kemampuannya tumbuh.
Mereka tidak membuang catatan lama. Beberapa masih akan digunakan untuk persiapan berikutnya, beberapa disimpan sebagai arsip. Jihan ingin membawanya pulang tanpa membuat seluruh meja makan kembali tertutup map selama berminggu-minggu.
.
.
Bian menerima kabar melalui telepon, bukan pesan pendek. Jihan mengatakan bagian kegiatan tersebut sudah diselesaikan dan ia ingin bercerita sebelum kembali mengurus langkah berikutnya.
"Saya senang kamu menelepon," jawab Bian setelah mengucapkan selamat.
Jihan tertawa kecil. "Biasanya kan cuma kirim foto map."
"Yang ini boleh pakai suara."
Ia mendengarkan beberapa menit sebelum harus kembali pada urusan kantor. Bian mengatakannya dengan jelas, lalu menjanjikan waktu untuk berbicara lagi setelah pulang. Jihan menerima tanpa mengubah jeda tersebut menjadi ukuran apakah suaminya cukup bangga.
Ia kemudian menghubungi Ibuk dan Bapak. Kabar itu disambut hangat, disusul pengingat bahwa masih ada tahap yang perlu dijalani. Kali ini kalimat tersebut tidak mengecilkan pencapaiannya. Semua orang sudah tahu betapa panjang jalan yang ditempuh, dan mereka dapat gembira tanpa berpura-pura bahwa seluruh persyaratan selesai.
Jihan pulang dengan map yang terasa lebih ringan meskipun jumlah kertasnya sama. Ia memeluknya sepanjang jalan menuju kendaraan, tersenyum sendirian tanpa merasa perlu menjelaskan.
Di perjalanan ia teringat satu hari awal ketika tersesat mencari tempat berkumpul dan malu bertanya terlalu banyak. Sekarang ia mengenali jalur yang sama, orang-orang yang sering ditemui, serta bunyi kegiatan yang dahulu membuatnya gugup.
Tidak semuanya akan dibawa ke tahap berikutnya. Ada teman yang jadwalnya berbeda, ada pendamping yang mungkin tidak lagi ditemui sesering sekarang. Jihan menyadari akhir suatu bagian juga berarti berpisah dengan kebiasaan yang baru terasa nyaman setelah dijalani lama.
Ia menulis beberapa pesan terima kasih pada waktu senggang, singkat dan ditujukan kepada orang yang benar-benar telah membantunya. Tidak ada permintaan agar mereka terus mendampinginya tanpa batas. Ia hanya ingin mengakui bantuan yang pernah diterima sebelum kesibukan berikutnya membuat niat itu terlupa.
Salah satu balasan mengingatkannya untuk tetap menjaga kebiasaan bertanya dengan alasan yang jelas. Jihan membaca dua kali dan menyimpannya. Ia tidak menganggap pesan itu sebagai jaminan bahwa ia pasti berhasil pada semua penilaian. Itu pengingat tentang cara bekerja yang masih perlu dijaga.
Saat tiba di apartemen, ia menaruh tas lalu berdiri sebentar di dapur. Ia ingin membuat minum, tetapi mendadak tertawa karena tidak tahu harus memulai dari apa setelah sekian lama mempunyai daftar yang mendesak.
Jihan akhirnya mengambil gelas, mengisinya, dan duduk. Ia membiarkan dirinya merasakan lega tanpa segera mencari tugas baru. Map berada di dekatnya, tertutup untuk sementara. Dunia tidak runtuh karena ia tidak membukanya selama beberapa menit, dan pekerjaan yang sudah selesai tetap selesai meskipun tidak terus diperiksa dengan mata yang cemas.
.
.
Malam itu Bian membawa makanan yang disukai Jihan. Mereka tidak mengundang orang banyak atau membuat pesta kelulusan lebih dulu. Jihan sendiri ingin menandai hari tersebut secara sederhana sebelum mulai menata bahan persiapan.
Sesudah makan, ia mengeluarkan daftar berikutnya. Bian mengangkat alis.
"Sekarang juga?"
Jihan melihat kertas di tangannya, lalu tertawa malu. "Kebiasaan. Takut kalau berhenti, nanti ketinggalan."
Ia meletakkannya kembali. Untuk malam itu, ia boleh bercerita tentang hal yang telah diselesaikan tanpa segera membebani setiap kalimat dengan pekerjaan baru.
Bian menanyakan hari yang paling diingatnya. Jawaban Jihan bukan peristiwa besar. Ia menyebut seorang perempuan yang takut bertanya, teman yang menunjukkan catatan ketika dirinya bingung, dan pendamping yang meminta ia mengulang alasan alih-alih hanya menyebut istilah.
Hal-hal itulah yang membuat belajar tidak lagi sekadar mengejar tanda selesai.
Bian mendengarkan sampai Jihan berhenti sendiri. Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya semakin mengenali suara istrinya ketika bercerita tentang pekerjaan: masih manja ketika mengeluh di rumah, tetapi lebih tegas ketika menyebut tanggung jawabnya.
"Manjanya jangan dihapus," kata Jihan cepat.
"Tidak sedang saya hapus."
Mereka tertawa dan duduk lebih dekat.
.
.
Pada hari-hari berikutnya, Jihan mulai menyusun rencana belajar untuk penilaian yang akan datang. Ia mencari informasi yang benar, memastikan pendaftaran serta persyaratan yang berlaku bagi dirinya, dan menyepakati waktu belajar dengan teman-teman.
Ia tidak menjadikan setiap jam kosong sebagai jam belajar. Ada waktu untuk makan, beristirahat, dan tidak membicarakan soal sama sekali. Ketika rencananya terlihat terlalu padat, ia menguranginya sebelum tubuhnya yang memaksa berhenti.
Bian memberitahukan bagian jadwal kerjanya yang mungkin sibuk. Mereka membagi urusan rumah berdasarkan waktu nyata, bukan harapan bahwa salah satu akan tiba-tiba mempunyai tenaga tanpa batas.
Di meja, Jihan menaruh satu foto wisuda sarjana di dekat catatan barunya. Ia tahu foto tersebut bukan akhir pendidikan profesi. Justru itu mengingatkannya bahwa ia pernah mencapai satu tahap dan masih dapat bekerja menuju tahap berikutnya.
Ia menyalakan lampu yang dahulu diganti Bian, membuka buku, dan mulai dari bagian pertama. Tidak ada keyakinan bahwa ia akan selalu siap. Ada kemauan untuk mempersiapkan diri dengan cara yang lebih jujur daripada sekadar mengatakan tidak takut.