Ucapan pertama datang sebelum Jihan benar-benar membuka mata. Bian menyentuh punggung tangannya, lalu mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan dengan suara rendah.
Jihan tersenyum tanpa langsung bangun. "Sudah setahun kamu tahan dengar aku ngomel."
"Saya juga tidak selalu mudah."
"Bagus kalau sadar."
Bian tertawa dan mengecup keningnya. Mereka tidak berlama-lama karena pagi tetap mempunyai tuntutan. Jihan masuk kamar mandi lebih dulu, Bian menyiapkan minum, dan sarapan berlangsung dengan saling mengingatkan barang yang harus dibawa.
Sebelum berangkat, mereka berdiri sebentar di dekat foto akad. Tidak ada perhiasan baru yang dipertukarkan. Cincin yang biasa dipakai masih berada di jari mereka, dengan goresan kecil yang tidak membuatnya terasa perlu diganti.
"Sampai nanti malam," kata Bian.
Jihan mengangguk. "Kalau berubah, kabari."
Ia mengatakannya sebagai kebiasaan yang dipercaya, bukan ancaman agar hari itu tidak boleh mempunyai hambatan sedikit pun.
.
.
Siang hari, Jihan menerima ucapan dari keluarga. Ibuk mengirim doa, Bapak menambahkan pesan singkat, sementara Kani menyelipkan lelucon tentang kemampuan kakaknya menemukan barang di apartemen.
Jihan membalas saat mempunyai waktu. Ia tidak menunjukkan semua pesan kepada teman-temannya atau menunggu kejutan datang ke tempat belajar. Hari itu tetap dijalani dengan tugas yang sama, hanya ada perasaan hangat yang muncul setiap kali mengingat tanggalnya.
Bian menyelesaikan pekerjaan sesuai rencana. Ada pertanyaan tambahan menjelang sore, tetapi dapat dijawab tanpa membuat semua orang bertahan lebih lama. Ia memastikan tindak lanjut jelas sebelum pulang, bukan meninggalkan meja sambil berharap masalah hilang karena dirinya sedang merayakan sesuatu.
Di perjalanan, ia membeli bunga dalam jumlah kecil. Ia memilih yang mudah dibawa dan tidak membutuhkan vas baru. Penjual sempat menawarkan rangkaian lebih besar, tetapi Bian membayangkan meja makan mereka dan menolak dengan sopan.
Jihan lebih dahulu sampai di apartemen. Sebagian makanan sudah disiapkan, sebagian dipesan agar ia tidak menghabiskan seluruh sore di dapur. Ia menata meja, mengganti pakaian, lalu duduk sebentar ketika semuanya siap.
Ia tidak berdiri gelisah di depan pintu. Bian sudah memberi kabar sedang dalam perjalanan, dan ia percaya kabar itu.
.
.
Saat pintu terbuka, Jihan tersenyum melihat bunga di tangan suaminya. Bian baru sempat melepas sepatu ketika istrinya mengambil rangkaian tersebut dan mencium aromanya.
"Ini cantik."
"Saya pilih yang muat di meja."
"Sangat arsitek jawabannya."
Mereka tertawa. Jihan mencari wadah yang sesuai sementara Bian mencuci tangan. Setelah bunga ditempatkan, keduanya duduk dan berdoa sebelum makan.
Tidak ada pidato panjang pada suapan pertama. Mereka membicarakan hari masing-masing, makanan yang ternyata cukup banyak, dan foto dalam album yang belum ditempel. Perayaan itu tidak mengubah mereka menjadi pasangan lain yang harus selalu berbicara dengan kalimat indah.
Baru setelah makan selesai, Bian menyerahkan kertas yang dilipat rapi. Jihan menerima sambil mengeluarkan kartu dari tempat penyimpanannya.
"Kok sama?"
"Kamu juga menulis?"
Ia mengangguk dan langsung meminta agar tidak dibacakan keras-keras. Bian setuju. Mereka duduk berhadapan, membaca tulisan masing-masing dalam keheningan yang tidak terasa kosong.
Jihan tersenyum pada bagian awal, lalu terdiam ketika sampai pada pengakuan Bian tentang kebiasaannya menyimpan pikiran sendiri. Tidak ada janji bahwa ia tidak akan pernah mengecewakan lagi. Ada kesediaan untuk mengatakan apa yang terjadi, menerima bantuan, dan kembali membicarakan hal yang sulit tanpa membuat istrinya merasa bersalah karena bertanya.
Ia mengusap sudut mata sebelum Bian selesai membaca kartunya.
"Jangan lihat dulu," gumamnya.
Bian melipat kartu dengan hati-hati, lalu mengulurkan tangan. Jihan menerimanya, tertawa kecil karena dirinya tetap menangis meskipun sudah berniat tidak.
.
.
Mereka berbicara tentang tahun yang telah lewat. Jihan mengatakan ia paling takut kehilangan dirinya sendiri ketika awal menikah. Ia ingin menjadi istri yang baik, tetapi sering mengira itu berarti semua orang harus selalu senang terhadap dirinya.
"Sekarang masih belajar," katanya. "Tapi aku nggak merasa harus berhenti jadi aku."
Bian mengangguk. Ia juga mengakui pernah mengira memberi tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan sudah cukup untuk membuat seseorang merasa aman bersamanya. Ia baru memahami bahwa kabar yang jelas dan sikap ketika marah mempunyai pengaruh yang tidak bisa digantikan barang.
Mereka tidak mengulang setiap kesalahan untuk saling menghukum. Beberapa hal disebut karena masih menjadi pengingat, kemudian diletakkan kembali pada tempatnya.
Jihan mengatakan ia tidak membutuhkan bukti cinta berupa janji yang semakin besar setiap tahun. Ia ingin dapat mempercayai janji kecil yang dibuat sesuai kemampuan mereka.
"Termasuk kalau aku bilang capek, jangan langsung dianggap nggak mau bersama," tambahnya.
"Termasuk kalau saya butuh ditemani, saya bilang."
Jihan tersenyum dan mengangguk. Kedua kalimat itu terdengar biasa, tetapi membutuhkan satu tahun untuk dapat diucapkan tanpa rasa takut yang sama.
Ia kemudian bertanya apa yang paling mengejutkan Bian setelah menikah. Suaminya berpikir cukup lama sebelum menjawab bahwa ia tidak menyangka akan begitu memperhatikan suara pintu dibuka pada sore hari.
"Dulu pulang ya pulang. Sekarang saya tahu kamu sudah datang dari bunyi tas ditaruh."
Jihan tertawa. "Berarti aku berisik."
"Kadang."
Ia memukul pelan lengan Bian, lalu mengaku juga telah mengenali langkah suaminya. Ada cara berbeda ketika Bian masih memikirkan pekerjaan dan ketika ia benar-benar santai. Jihan tidak selalu menafsirkannya dengan tepat, tetapi sekarang lebih sering bertanya daripada menyusun kemungkinan buruk sendiri.
Percakapan bergeser menjadi hal-hal kecil yang baru mereka ketahui setelah tinggal bersama: suhu kamar, cara melipat pakaian, makanan yang disukai ketika lelah, dan kebiasaan Bian membaca satu halaman lagi sebelum benar-benar tidur.
Jihan menyadari tidak semua kedekatan lahir dari percakapan penting. Sebagian tumbuh karena melihat orang yang sama pada hari biasa, menerima sisi yang tidak selalu menarik, dan masih ingin duduk di dekatnya ketika malam datang.
Ia merapikan ujung kertas ucapan, lalu mengatakan ingin menyimpan tulisan tangan Bian dengan baik. Suaminya mengangguk, meminta hal yang sama untuk kartu darinya. Keduanya tidak saling menjanjikan kalimat yang lebih indah tahun depan; mereka masih perlu menjalani isi kalimat sederhana yang sudah ditulis malam ini.
.
.
Mereka menelepon orang tua sebentar setelah meja dibereskan. Tidak ada perayaan kedua yang harus segera diadakan. Keluarga mengucapkan doa, lalu membiarkan mereka menikmati sisa malam.
Sesudahnya, Bian mengambil album. Mereka menempelkan kartu di halaman yang masih kosong, menggunakan sudut perekat agar bisa dilepas dan dibaca lagi. Foto malam itu diambil sederhana, sedikit miring, dengan bunga yang hampir menutupi ujung piring.
Jihan ingin mengulang, tetapi berhenti setelah melihat Bian sedang tersenyum di foto pertama. Ia menyimpannya juga.
Di kamar, ia meletakkan cincin sebentar saat merapikan tangan, lalu memperhatikan tulisan kecil di dalamnya sebelum mengenakannya kembali. Always Forever. Dulu kalimat itu terdengar seperti harapan yang sangat jauh. Sekarang ia mengetahui bahwa selamanya tidak hadir sekaligus; ia tersusun dari hari yang terus dipilih.
Bian mematikan lampu ketika Jihan sudah berbaring. Ia merapat, menerima pelukan suaminya, dan membiarkan malam menjadi milik mereka tanpa cerita yang perlu diketahui orang lain.
Esok pekerjaan dan pendidikan tetap menunggu. Malam itu mereka tidak meminta dunia berhenti, hanya bersyukur dapat pulang ke tempat yang sama setelah setahun belajar membangun kehidupan berdua.