Jihan meletakkan kalender di antara dua piring sarapan. Bian memindahkan gelasnya sebelum air membasahi sudut kertas, lalu melihat tanggal yang diberi lingkaran.
"Kamu mau apa?" tanyanya.
"Ditanya dulu seperti ini sudah lumayan."
Bian tersenyum, tetapi menunggu jawaban yang sebenarnya. Jihan memotong roti, mengunyah, lalu mengaku tidak menginginkan pesta. Ia ingin mempunyai waktu yang cukup untuk duduk bersama tanpa melihat jam setiap beberapa menit.
Tanggal ulang tahun pernikahan mereka jatuh pada hari yang masih mempunyai kegiatan. Bian harus datang ke kantor, Jihan juga tidak bisa mengosongkan seluruh harinya. Mereka memeriksa waktu yang benar-benar tersedia dan memilih makan malam di rumah. Jalan santai dapat dilakukan pada kesempatan lain, tidak perlu dipaksakan menjadi bagian perayaan.
"Jangan menunggu tengah malam kalau besok harus bangun pagi," kata Jihan.
"Saya juga tidak berencana membuatmu mengantuk sepanjang hari."
Ia tertawa. Tahun sebelumnya, banyak keputusan terasa seperti sesuatu yang mengejar mereka. Kali ini mereka dapat membuat acara kecil tanpa harus mengalahkan jadwal seluruh dunia.
Bian menanyakan apakah Jihan ingin mengundang orang tua. Ia menggeleng, lalu mengatakan mereka bisa menelepon keluarga. Malam tersebut ingin dihabiskannya berdua saja.
.
.
Sepulang dari kegiatan, Jihan membuka kotak berisi benda-benda yang disimpan sejak pernikahan. Tidak semuanya berharga bagi orang lain. Ada salinan undangan, kartu kecil, dan foto yang belum pernah dimasukkan ke album.
Ia menemukan catatan dari persiapan pindah. Tulisan tangannya lebih miring daripada sekarang, dengan daftar kebutuhan yang beberapa kali dicoret. Tempat sendok bergambar kelinci termasuk keinginan yang saat itu belum terlaksana.
Jihan menoleh ke dapur dan tertawa sendiri.
Benda tersebut sudah menjadi bagian biasa dari rumah. Ia tidak lagi tersenyum setiap kali melihatnya, tetapi tetap akan langsung mencari jika tempatnya dipindahkan. Rupanya sesuatu yang sangat diinginkan bisa berubah menjadi hal sehari-hari tanpa kehilangan nilainya.
Ia memisahkan beberapa foto untuk disusun. Tidak ada niat membuat album sempurna dalam satu malam. Ia hanya ingin melihat kembali tahun pertama mereka dalam bentuk yang dapat disentuh, bukan deretan gambar yang tenggelam di ponsel.
Bian pulang ketika lantai dekat sofa mulai dipenuhi kertas. Ia berhenti, menatap istrinya yang duduk bersila, kemudian meletakkan tas jauh dari tumpukan.
"Boleh lewat sebelah mana?"
"Sebelah sana. Jangan injak masa lalu kita."
Bian tertawa dan berjalan memutar. Sesudah berganti pakaian, ia ikut duduk. Jihan memberinya beberapa foto untuk dipilih, bukan meminta ia menyetujui semua yang sudah ditentukan.
.
.
Bian memilih foto yang wajah Jihannya tidak menghadap kamera. Istrinya sedang tertawa kepada Ibuk setelah akad, dengan ujung kerudung sedikit bergeser.
"Kenapa ini?"
"Kamu kelihatan lega."
Jihan memerhatikan lebih lama. Ia ingat rasa lelah dan gugup, tetapi juga ingat tangan Bian yang tetap berada di dekatnya ketika orang-orang mulai meminta foto bergantian.
Ia memilih satu foto Bian sedang memegang tas titipan pada hari wisuda. Bian langsung menggeleng karena wajahnya tampak terlalu serius.
"Yang ini bukan sedang marah. Panas," katanya.
"Aku tahu. Justru aku suka. Kamu benar-benar ada di situ."
Bian tidak menolak lagi. Mereka meletakkan dua foto itu berdekatan, lalu menambahkan foto makan keluarga di apartemen. Piring yang tidak seragam terlihat di pinggirnya, dan Jihan kini tidak merasa perlu memotong bagian tersebut.
Beberapa halaman dibiarkan kosong. Mereka tidak mengisi semuanya dengan foto yang hampir sama hanya agar album tampak penuh.
Di antara hasil cetak, ada satu gambar yang tampak buram. Jihan hendak menyingkirkannya ketika Bian meminta melihat. Foto itu diambil tanpa sengaja di dapur; yang terlihat jelas justru tangan mereka dan sebagian meja.
"Ini waktu yang mana?" tanyanya.
Jihan mencoba mengingat, lalu tertawa. Itu ketika mereka belajar menyiapkan makanan bersama dan ponselnya tersenggol. Ia bahkan tidak tahu mengapa gambar tersebut ikut tercetak.
Bian meletakkannya di samping foto yang lain. Jihan menatapnya dengan heran.
"Masa ini juga?"
"Satu saja yang tidak jelas. Sisanya sudah banyak yang rapi."
Jihan memandangi gambar itu lebih lama. Tidak ada wajah untuk dinilai cantik atau kurang bagus. Hanya dua orang yang sedang mengerjakan sesuatu, dengan dapur yang belum beres dan tangan yang saling mendekat pada benda yang sama.
Ia mengangguk dan menaruhnya pada halaman tersendiri. Di bawahnya ia menulis bahwa tahun pertama tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh foto bagus.
Bian membaca tulisan itu, lalu menyentuh bahunya sebentar. Mereka melanjutkan pekerjaan tanpa mengatakan sesuatu yang besar. Gunting, kertas, dan perekat berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Ketika Jihan meminta alat yang sedang dipegang Bian, suaminya menyerahkan sebelum diminta dua kali. Di luar jendela malam semakin gelap, tetapi keduanya belum ingin buru-buru selesai. Untuk sekali ini, pekerjaan yang memenuhi meja adalah sesuatu yang mereka pilih bersama, tanpa tenggat dari kantor maupun tempat belajar.
Ketika Bian menemukan gambar wajah berkumis dalam kotak lain, Jihan langsung mengenalinya. Ia tertawa karena kertas itu masih rata meskipun pernah masuk koper perjalanan.
"Ini harus ikut?"
"Harus," jawab Bian.
Jihan mengambil perekat dan memasangnya dengan hati-hati. Di sampingnya ia menulis keterangan pendek tentang perjalanan pertama Bian setelah menikah. Tidak ada catatan bahwa hari itu sempurna. Mereka memang saling merindukan dan sempat kecewa karena waktu telepon berubah. Namun mereka berhasil membicarakannya, dan kenangan itu tidak harus dibersihkan dari bagian sulit agar layak disimpan.
.
.
Malam berikutnya, Bian menyiapkan sesuatu sendiri. Ia duduk di meja dengan selembar kertas kosong, mencoba menulis ucapan yang tidak terdengar seperti penutup rapat.
Kalimat pertamanya terlalu resmi. Kalimat kedua seperti permintaan maaf atas semua hal sekaligus. Ia mencoret keduanya dan mulai lagi dengan satu kejadian yang diingat: Jihan menunggunya pulang, tetapi tetap belajar, makan, dan menjalani hari tanpa menjadikan seluruh hidupnya ruang tunggu.
Ia bersyukur istrinya masih ingin berbagi hidup dengannya. Ia juga tahu rasa syukur itu seharusnya terlihat dalam tindakan sesudah ulang tahun pernikahan berlalu.
Jihan tidak mengetahui isi kertas tersebut. Ia sedang menyiapkan kartu kecil di kamar, berhenti beberapa kali karena merasa ucapannya terlalu manis jika nanti dibaca keras-keras.
Pada akhirnya ia menulis dengan bahasa yang biasa dipakainya. Ada terima kasih, ada satu lelucon tentang kunci yang tidak lagi selalu hilang, dan ada pengakuan bahwa dirinya merasa lebih berani menjadi diri sendiri bersama Bian.
Mereka tidak saling menunjukkan malam itu. Kertas disimpan di tempat masing-masing, sementara makan malam perayaan tetap sederhana dan sesuai rencana.
Sebelum tidur, Jihan memeriksa kegiatan esok. Masih ada bahan belajar yang perlu dibawa dan catatan yang harus dilengkapi. Ia menaruhnya di tas, lalu mendekati Bian yang sudah berbaring.
"Besok jangan gugup seperti mau akad lagi," godanya.
Bian menoleh. "Yang dulu gugup siapa?"
"Dua-duanya. Jangan menyangkal."
Ia tertawa dan menarik selimut. Di luar kamar, album belum selesai terletak di meja. Beberapa halaman sudah terisi, beberapa masih kosong, dan untuk pertama kalinya Jihan menyukai kenyataan bahwa sesuatu dapat belum lengkap tanpa berarti kurang baik.