Daftar di hadapan Jihan lebih panjang daripada yang terlihat pada layar ponsel. Ia mencetaknya agar dapat memberi tanda dengan jelas, lalu memisahkan kegiatan yang sudah selesai, catatan yang perlu dilengkapi, dan bagian pendidikan yang masih harus dijalani.
Tidak semua dapat dipercepat hanya karena ia sudah ingin sampai di akhir.
Ia membawa pertanyaannya kepada pendamping yang sesuai. Ada keterangan yang semula disalahpahaminya, ada berkas yang ternyata belum lengkap, dan ada kegiatan yang memang baru akan berlangsung pada waktu berikutnya. Jihan mendengarkan sampai selesai sebelum memperbarui catatannya.
Dulu daftar seperti itu akan membuatnya ingin menghubungi Ibuk sambil menangis. Sekarang ia tetap merasa cemas, tetapi dapat membedakan sesuatu yang belum dikerjakan dari sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan.
Ia belum selesai menjadi peserta didik. Itu bukan kabar buruk. Itu hanya kenyataan yang harus dijalani sampai tuntas.
Di luar ruangan, ia bertemu Ranza yang juga sedang mengurus catatan. Mereka membandingkan informasi umum, lalu mengingatkan satu sama lain untuk memastikan rincian masing-masing kepada pihak yang bertanggung jawab.
"Jangan cuma karena punya gue sudah, lo anggap punya lo sama," kata Ranza.
Jihan mengangguk. Ia sudah cukup sering belajar bahwa menebak dari keadaan orang lain justru dapat membuat pekerjaan bertambah.
.
.
Pada hari-hari berikutnya, Jihan mulai menyelesaikan bagian yang dapat diurus lebih dahulu. Ia tidak mengosongkan seluruh malam untuk mengejar semuanya. Ada kegiatan belajar yang tetap perlu dipersiapkan, dan tubuhnya masih memerlukan tidur.
Bian membantu menyediakan map kosong serta tempat penyimpanan yang tidak bercampur dengan dokumen kantor. Setelah itu ia membiarkan Jihan menentukan urutannya sendiri.
Satu malam, ia mendapati istrinya duduk dengan wajah kusut karena mencari catatan yang ternyata berada pada map berbeda. Bian hampir ikut membuka seluruh tumpukan, tetapi bertanya dulu apa yang sebenarnya dicari.
Jihan menjelaskan, kemudian menemukan sendiri halaman tersebut setelah mengingat waktu terakhir dipakai.
"Jangan bilang aku selalu begini," katanya sambil mengangkat kertas.
"Saya belum bilang apa-apa."
"Wajahmu terlalu jelas, mas."
Bian tersenyum. Ia mengambilkan air dan menunggu sampai Jihan berhenti memarahi dirinya sendiri karena kehilangan sesuatu selama sepuluh menit.
Mereka menempelkan penanda sederhana pada map. Tidak ada lemari baru yang dibeli. Ruang yang tersedia cukup jika mereka tidak memasukkan barang tanpa mengetahui di mana akan mencarinya lagi.
Esoknya Jihan datang lebih awal untuk menanyakan satu bagian catatan yang belum jelas. Orang yang perlu ditemuinya ternyata masih mempunyai kegiatan, sehingga ia diminta kembali pada waktu yang sesuai.
Ia sempat ingin mengirim pertanyaan kepada banyak orang sekaligus agar segera mendapat jawaban. Namun ia tahu hasilnya bisa justru berbeda-beda. Jihan mencatat waktu yang diberikan, menggunakan jeda untuk meninjau bahan sendiri, lalu kembali tanpa menganggap menunggu sebagai penghinaan terhadap kesungguhannya.
Penjelasan yang diterima kemudian sederhana. Ada urutan yang perlu dipenuhi dan satu catatan yang harus disertakan. Ia mengulang pemahamannya untuk memastikan tidak salah, lalu mengucapkan terima kasih.
Di perjalanan pulang ia mengirim kabar kepada Bian bahwa urusannya sudah jelas. Bukan seluruh pendidikan selesai, hanya satu hal yang sejak kemarin memenuhi pikirannya.
Balasan Bian mengatakan ia senang mendengarnya. Tidak ada saran tambahan yang harus dilakukan Jihan malam itu. Ia membaca pesan tersebut sambil tersenyum, kemudian menyimpan ponsel.
Sesampainya di rumah, ia menempatkan catatan baru pada map yang tepat. Gerakan itu hanya memerlukan beberapa detik, tetapi membuatnya teringat betapa banyak tenaga dapat habis karena menunda hal kecil. Ia tidak berjanji akan selalu rapi mulai hari itu. Ia hanya menaruh satu kertas dengan benar, lalu melanjutkan urusan lain tanpa perlu membawa kekacauan yang sama sampai besok.
.
.
Jihan mulai menjalani bagian kegiatan berikutnya dengan rasa percaya diri yang berbeda. Ia masih bisa gugup di depan pembimbing, tetapi tidak lagi menganggap bertanya sebagai pengakuan bahwa seluruh ilmunya tidak berguna.
Pada satu pembahasan, ia memberikan jawaban yang kurang lengkap. Pendamping memintanya meninjau kembali alasan yang dipakai. Jihan mencatat, membaca, kemudian kembali pada kesempatan yang disediakan dengan penjelasan yang telah diperbaiki.
Ia tidak membawa koreksi itu pulang sebagai cerita bahwa dirinya paling buruk di antara semua orang. Ia membawanya sebagai pekerjaan yang perlu dituntaskan.
Perubahan itu juga terlihat ketika seorang teman baru meminta bantuan memahami susunan catatan. Jihan bersedia menunjukkan cara yang dipakainya, tetapi mengatakan bagian mana yang tetap harus diperiksa dengan sumber dan pendamping.
Ia tidak ingin menjadi orang yang terdengar paling yakin hanya karena telah melewati lebih banyak hari.
Sore itu, setelah kegiatan selesai, ia menuliskan satu kalimat di buku pribadinya: berani tidak tahu, lalu mencari dengan benar. Kalimat tersebut bukan sesuatu yang akan dipajang. Ia hanya ingin mengingatnya ketika rasa takut membuatnya ingin menebak lagi.
.
.
Ibuk menelepon pada akhir pekan. Jihan menceritakan perkembangan seperlunya, kemudian bertanya bagaimana Ibuk dahulu menghadapi masa ketika akhir pendidikan sudah terlihat tetapi masih terasa jauh.
Ibuk tidak memberinya cerita yang seluruhnya penuh keberhasilan. Ada kelelahan, kesalahan mengatur waktu, dan hari ketika ia juga ingin berhenti memikirkan apa pun yang berkaitan dengan belajar.
Jihan mendengarkan dengan perhatian yang berbeda. Selama kecil ia lebih sering melihat Ibuk sebagai orang yang sudah tahu jawaban. Sekarang ia dapat membayangkan bahwa kemampuan itu dibangun melalui banyak hari yang tidak mudah.
"Adek nggak harus mirip Ibuk semuanya," kata Ibuk kemudian. "Yang penting tanggung jawabnya dijalani."
Jihan tersenyum. Ia tidak sedang diminta melampaui keluarga untuk membuktikan diri. Ia hanya perlu berjalan dengan cukup jujur untuk mengetahui apa yang sudah mampu dilakukan dan apa yang masih harus dipelajari.
Sesudah telepon, ia duduk di sebelah Bian dan bercerita tentang percakapan tersebut. Suaminya mengatakan ia juga baru memahami beberapa kebiasaan Papa setelah mempunyai tanggung jawab sendiri.
"Dulu saya cuma lihat Papa pulang bawa pikiran kantor," katanya. "Sekarang saya tahu mudah sekali melakukannya tanpa sadar."
Mereka saling memandang dan tersenyum kecil. Memahami orang tua tidak berarti harus mengulang seluruh kebiasaan mereka.
.
.
Beberapa pekan berlalu dengan langkah yang tidak selalu terlihat besar. Satu catatan dilengkapi, satu kegiatan selesai, satu pertanyaan mendapat penjelasan yang dibutuhkan. Jihan memberi tanda hanya setelah yakin, bukan supaya daftar tampak cepat kosong.
Pada suatu malam, ia menunjukkan lembar yang sudah lebih banyak terisi kepada Bian.
"Masih ada. Tapi sudah berkurang."
Bian membaca sekilas dan mengangguk. "Kelihatan hasilnya."
Ia tidak menyebutnya hampir dokter hanya untuk membuat Jihan senang. Perjalanan itu masih mempunyai tahap yang harus dipenuhi. Namun ia juga tidak mengecilkan pekerjaan yang telah diselesaikan istrinya.
Jihan menyimpan daftar, kemudian mengeluarkan album ulang tahun pernikahan untuk dilihat sebentar. Kertas ucapan Bian masih berada pada halaman yang sama, dan bunga kecil yang sudah dikeringkan diselipkan terpisah agar tidak merusak foto.
Ia menutup album sambil tersenyum. Hidupnya tidak sedang menunggu pendidikan selesai baru boleh mempunyai kenangan baik. Ia sedang belajar dan hidup pada waktu yang sama, dengan orang yang kini mengerti bahwa keduanya sama-sama memerlukan ruang.