Jawaban yang ditunggu Bian datang pada awal minggu. Ia tidak langsung memberi tanda selesai. Konfirmasi tersebut dibandingkan dengan bahan yang sudah diperiksa, lalu dibaca lagi bersama orang yang menangani bagian terkait.
Setelah semuanya sesuai, bahan koreksi disusun dengan keterangan yang jelas. Versi sebelumnya dipisahkan agar tidak terambil lagi. Bian menyampaikan penjelasan tentang perubahan dan dampak waktunya kepada pihak yang menunggu, tanpa mengecilkan pekerjaan ulang yang telah dilakukan tim.
Tidak ada pujian besar setelahnya. Yang diterimanya adalah kepastian bahwa bahan terbaru sudah dipahami dan tindak lanjut dapat berjalan berdasarkan versi yang benar.
Untuk kali ini, itu sudah cukup.
Bian kemudian mengajak tim meninjau cara pemeriksaan berkas. Ia tidak membuat aturan panjang hanya agar kesalahan tersebut tampak menghasilkan sesuatu. Mereka memilih langkah yang dapat dilakukan: daftar versi yang mudah diperiksa, penandaan bahan yang belum siap, dan pemeriksaan silang sebelum diteruskan.
Ia mengambil bagian yang menjadi tanggung jawabnya sendiri, bukan hanya membagikan kewajiban baru kepada orang lain.
Ketika pertemuan berakhir, Khairul menepuk ringan bahunya.
"Sekarang jalankan. Jangan cuma rapi di catatan."
Bian mengangguk. Ia tahu perubahan kebiasaan baru akan terlihat pada pekerjaan berikutnya, bukan pada kalimat yang ditulis setelah melakukan kesalahan.
.
.
Pada minggu yang sama, diskusi kelompok Jihan berlangsung sesuai waktu yang disepakati. Ada bagian yang berjalan lancar, ada pertanyaan yang perlu dibawa kepada pendamping, dan ada penjelasan yang tetap harus diperbaiki.
Jihan tidak menilai keberhasilannya dari seberapa sedikit orang menyela. Ia justru lega ketika seorang teman berani mengatakan belum paham, sehingga mereka dapat meninjau bagian tersebut sebelum melanjutkan.
Ketika waktu hampir habis, ia merangkum hal yang sudah jelas dan yang belum. Tidak semua pertanyaan dipaksa mempunyai jawaban hari itu. Mereka menentukan siapa yang akan mencari penjelasan lebih lanjut dan kapan hasilnya dibagikan.
Seusai kegiatan, teman yang sebelumnya keberatan bagiannya dipotong mendekat.
"Ternyata susunan akhirnya lebih enak diikuti," katanya.
Jihan tersenyum. "Karena lo bilang bagian mana yang nggak boleh hilang."
Percakapan itu singkat, tetapi membuat Jihan pulang tanpa kebutuhan untuk menceritakan dirinya sebagai orang yang menyelamatkan seluruh kelompok. Mereka telah mengerjakannya bersama, dan itu justru bagian yang ingin dibanggakannya.
Ia mengirim kabar kepada Bian ketika mempunyai waktu. Balasan suaminya mengatakan koreksi pekerjaan juga sudah dapat diteruskan. Tidak ada foto perayaan atau janji makan mendadak. Mereka hanya sama-sama mengakui bahwa satu hal yang berat telah dikerjakan sampai jelas.
.
.
Pada kesempatan keluarga berikutnya yang benar-benar dapat dipenuhi, Bian datang bersama Jihan. Bangunan Kavin sudah berubah lagi. Sebagian jembatan dibongkar, garasi dipindah, dan mobil yang dulu hampir tidak muat sekarang mempunyai jalan sendiri.
Bian mendengarkan penjelasannya sambil duduk di karpet. Ia tidak mengatakan bahwa bangunan lama lebih baik hanya karena itulah yang ingin dilihatnya dahulu.
"Yang kemarin sudah nggak ada?"
Kavin menggeleng. "Bikin baru."
"Bagus. Om lihat yang sekarang."
Jihan duduk tidak jauh dan tersenyum. Anak itu tidak menyimpan seluruh permainannya sebagai bukti bahwa Om pernah melewatkan sesuatu. Ia masih sempat menyebut Bian tidak datang waktu itu, dan Bian kembali mengakui bahwa ia memang tidak datang, tanpa mengubah pembicaraan menjadi pembelaan diri.
Setelahnya mereka bermain sebentar. Kavin memberi Bian tugas memegang ujung jembatan, sementara Jihan diminta memilih warna bagian depan. Tidak ada yang menjadi ahli paling berkuasa di atas karpet tersebut kecuali pemilik mainan.
Sebelum pulang, Bian menyempatkan berbicara dengan Mama dan Papa. Ia tidak membawa berkas untuk menunjukkan pekerjaan sudah selesai dikoreksi. Kabar kantor sudah disampaikan di tempatnya; sore itu ia datang sebagai anggota keluarga yang akhirnya mempunyai waktu duduk dan mendengarkan.
.
.
Beberapa bulan berikutnya tidak berlalu tanpa kesulitan. Ada jadwal yang berubah, bahan belajar yang perlu dibaca ulang, dan pekerjaan Bian yang menuntut lebih banyak perhatian pada hari tertentu. Namun tidak setiap kesulitan menjadi pertengkaran yang sama.
Jihan makin mengenal cara meminta bantuan yang tepat. Ia tidak lagi menunggu sampai seluruh kepanikannya menumpuk sebelum bertanya. Bian juga tidak selalu berhasil berhenti tepat waktu, tetapi lebih cepat menyadari ketika mulai mengambil terlalu banyak pekerjaan sendiri.
Mereka tetap berkunjung kepada orang tua, bertemu teman saat memungkinkan, dan kadang menghabiskan waktu luang dengan diam di ruangan yang sama. Pendidikan Jihan belum selesai. Beberapa kegiatan berikutnya sudah mulai terlihat, bersama persyaratan yang harus dituntaskan sebelum melangkah lebih jauh.
Ia memeriksa catatan itu dengan lebih teliti, memastikan apa yang sudah dikerjakan dan apa yang masih menunggu. Bian membantunya menyediakan tempat untuk menyusun berkas, lalu membiarkan isi dan urutannya ditangani Jihan sendiri.
Pada salah satu sore, Jihan menemukan catatan kegiatan yang belum lengkap. Dulu ia mungkin akan menganggap seluruh persiapannya kacau, lalu membuka semua map sekaligus. Kali ini ia menandai bagian tersebut dan mencari keterangan yang diperlukan melalui pendamping yang sesuai.
Ia tidak meminta Ibuk atau Mama menyelesaikannya. Mereka dapat mendengarkan jika ia cemas, tetapi urusan belajar itu tetap perlu diurus oleh dirinya.
Setelah memperoleh penjelasan, Jihan melengkapi bagian yang memang dapat dilengkapi dan menuliskan apa yang masih harus ditunggu. Tidak semuanya selesai pada hari yang sama. Namun ia tahu alasan keterlambatannya, siapa yang harus dihubungi, dan kapan perlu memeriksa lagi.
Bian melihat map-map yang kembali tersusun dan bertanya apakah sudah beres. Jihan menggeleng sambil tersenyum.
"Belum semuanya. Tapi sekarang aku tahu yang kurang apa."
Ia mengatakan itu tanpa terdengar kalah. Bian mengangguk, lalu membantu memindahkan meja kecil agar kertas tidak menutupi tempat mereka makan. Sesudahnya Jihan menyimpan daftar tindak lanjut di bagian depan map. Ia tidak perlu mengingat semuanya sekaligus sepanjang malam untuk membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh ingin menyelesaikan pendidikannya.
Tidak ada kontak baru dari Dante yang diterima Jihan selama rentang waktu tersebut. Catatan lama tetap tersimpan, tetapi hari-harinya tidak lagi diukur berdasarkan kemungkinan orang itu muncul. Ia mempunyai pekerjaan belajar yang nyata, hubungan yang sedang dijaga, dan rencana yang dibuat atas kehendaknya sendiri.
.
.
Suatu malam, Jihan berhenti saat memperbarui kalender. Tanggal akad mereka akan kembali tiba tidak terlalu lama lagi.
Ia menyentuh angka tersebut dengan ujung jari, lalu menoleh kepada Bian yang sedang mengembalikan gelas ke dapur.
"Mas, kita sudah hampir setahun."
Bian mendekat dan melihat bagian yang ditunjuk. Ia tersenyum, seolah sedang menghitung banyak pagi yang telah dilewati sejak pernikahan itu berlangsung.
"Rasanya cepat?"
"Kadang cepat. Kadang kalau ingat semuanya, banyak sekali."
Mereka berdiri berdampingan. Jihan teringat apartemen yang masih terasa asing, map yang pernah dipindahkan, malam-malam menunggu kabar, dan sarapan yang sekarang dapat dilakukan tanpa saling bertanya di mana semua barang berada.
Bian meraih tangannya. Mereka belum menentukan perayaan, belum memilih tempat atau membuat janji cuti. Untuk malam itu, keduanya hanya mengakui waktu yang sudah dijalani bersama.
Jihan mengambil pulpen dan memberi lingkaran kecil pada tanggal tersebut. Lalu ia menutup kalender tanpa menutup percakapan.
"Nanti kita pikirkan," katanya.
Bian mengangguk. "Bersama."