Jihan datang ke rumah Mama membawa wadah kecil yang sudah disiapkan sebelumnya. Ia tidak berusaha membuat kunjungan itu terlihat seolah tidak ada yang berubah. Ketika Kavin melihat ke belakangnya, ia menggeleng pelan.
"Om masih kerja, Bang."
Kavin menunduk pada mainan yang dibawanya. Jihan berjongkok agar tidak berbicara dari atas kepala anak itu.
"Tante boleh lihat dulu?"
Anak itu mengangkat bahu, lalu berjalan menuju ruang tengah. Jihan mengikutinya tanpa memaksa ia tersenyum. Beberapa balok sudah disusun menjadi bangunan yang jauh lebih lebar daripada sebelumnya, dengan satu bagian yang menurut Kavin adalah garasi.
Jihan mendengarkan penjelasannya. Ia tidak berpura-pura memahami semua fungsi sebelum ditunjukkan, sehingga Kavin perlahan mulai berbicara lebih banyak.
Ketika ia salah menyebut jembatan sebagai atap, anak itu memprotes dengan sungguh-sungguh. Jihan meminta diperlihatkan lagi dan akhirnya tertawa ketika mengetahui jembatan tersebut dibuat untuk mobil yang ukurannya hampir tidak muat.
Kavin belum melupakan Om yang tidak datang. Namun ia tidak harus berhenti menikmati permainannya sampai Bian muncul.
Jihan menggeser duduknya agar jalan mobil tetap terbuka, lalu menunggu penjelasan berikutnya dengan kedua tangan di pangkuan.
.
.
Mbak Al menyapa Jihan setelah membereskan urusan anak-anak yang lain. Ia menanyakan apakah Bian sudah memperoleh kepastian waktu, lalu menerima jawaban bahwa mereka belum tahu.
"Tadi sudah telepon sendiri. Jadi kami nggak menunggu," katanya.
Jihan mengangguk lega. Ia tidak perlu membawa penjelasan suaminya ke setiap orang yang bertanya. Bian sudah melakukan bagian yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Mama mengajak Jihan duduk dan menanyakan kegiatan kelompok baru. Jihan bercerita tentang tugas mengatur diskusi, termasuk keberatan teman yang ternyata membantu memperbaiki susunan.
Percakapan itu membuatnya ingat bahwa ia datang bukan hanya sebagai pengganti Bian. Ia mempunyai hubungan sendiri dengan keluarga ini, cerita sendiri yang ingin dibagikan, dan tempat duduk yang tidak menjadi kosong hanya karena suaminya tidak berada di sebelahnya.
Kani datang membawa ponsel dan langsung duduk di dekat Jihan. Ia masih ingin membahas gambar Bian yang pernah dikirim, terutama tangan yang menurutnya terlalu panjang.
"Kakak gue menerima ini tanpa revisi?"
"Iya. Malah disimpan."
Kani tertawa seolah mendapatkan bahan yang sangat berharga untuk menggoda kakaknya. Jihan ikut tertawa, tetapi meminta gambar itu tidak disebarkan ke mana-mana. Ia senang membaginya dengan keluarga, bukan menjadikannya tontonan orang yang tidak mengenal mereka.
Kani mengangguk dan mengembalikan layar ke percakapan biasa. Setelah itu ia bertanya tentang kegiatan Jihan, lalu bercerita mengenai hal yang sedang dikerjakannya sendiri. Jihan mendengarkan sambil membantu memindahkan beberapa gelas agar anak-anak tidak menyenggolnya.
Di dekat kaki mereka, Kavin mencoba membawa bagian mainan yang terlalu lebar untuk diangkat sekaligus. Jihan hampir langsung membantu, tetapi Kani lebih dulu bertanya bagian mana yang ingin dibawanya. Anak itu menunjuk, dan mereka mengangkat bagian yang diminta tanpa membongkar sisanya.
Jihan tersenyum melihat kesungguhannya mengatur dua orang dewasa. Rumah terasa ramai dengan urusan kecil yang terus bergerak. Ia masih ingin Bian berada di sana, tetapi semakin lama ia duduk, semakin jelas bahwa kehadirannya sendiri juga berarti sesuatu bagi orang lain. Kani tidak berhenti bercerita hanya karena kakaknya tidak datang, dan Kavin tetap memanggil Tante ketika membutuhkan pendengar untuk menjelaskan bangunannya.
Ketika Papa bergabung, ia tidak membicarakan kesalahan Bian di depan keluarga. Jihan menghargai itu. Ia tahu Papa sudah menerima laporan pekerjaan, tetapi ruang tengah bukan tempat meneruskan pemeriksaan berkas.
Mereka makan bersama ketika waktunya tiba. Jihan sempat memeriksa ponsel, lalu menaruhnya kembali setelah melihat tidak ada kabar baru. Ia tidak ingin menghabiskan seluruh kunjungan dengan menunggu layar menyala.
.
.
Di kantor, Bian dan tim membandingkan hasil pemeriksaan sesuai pembagian yang sudah dibuat. Bagian yang selesai ditandai, yang masih mempunyai pertanyaan dikembalikan untuk diperjelas.
Bian beberapa kali menemukan dirinya ingin mempercepat ketika melihat jam. Ia mengingatkan diri bahwa tujuan hadir pagi itu bukan sekadar membuat tanda selesai, melainkan memastikan bahan yang akan diteruskan benar-benar dapat dipakai.
Menjelang siang, pekerjaan utama yang menjadi tanggung jawabnya sudah diperiksa, tetapi satu konfirmasi masih menunggu. Tim sepakat tidak meneruskan bagian tersebut sampai jawaban tersedia pada hari kerja berikutnya.
Bian memberi kabar kepada pihak yang menunggu dan memastikan tidak ada orang menganggap seluruh bahan sudah siap. Setelah itu ia menghubungi Jihan.
Ia tidak akan memaksakan datang terburu-buru hanya untuk singgah beberapa menit lalu terlihat seperti telah menepati janji semula. Kunjungannya hari itu memang terlewat.
"Saya pulang apartemen setelah selesai bereskan. Kamu nikmati waktumu dulu," katanya.
Jihan membaca pesan itu di sela percakapan. Ia membalas bahwa akan pulang sesuai rencana, lalu menyampaikan kepada Kavin bahwa Om sudah hampir selesai dan nanti dapat dihubungi jika waktunya cocok.
Tidak ada janji bangunan mainannya akan dinilai langsung hari itu.
.
.
Sebelum Jihan pulang, Kavin meminta foto bangunannya diambil. Ia berdiri di samping hasil kerjanya dengan ekspresi serius, kemudian memeriksa foto di layar untuk memastikan garasi tidak terpotong.
"Kirim Om."
Jihan menurut setelah meminta izin kepada Mbak Al. Ia mengirim foto, lalu menyimpan ponsel agar dapat berpamitan dengan baik.
Mama membekalinya sedikit makanan. Jihan menerima tanpa merasa harus menolak semua bantuan agar dianggap sudah mampu mengurus rumah sendiri. Ia berterima kasih dan berjanji memberi kabar setelah sampai, bukan menjanjikan tanggal kunjungan baru yang belum diperiksa.
Di perjalanan, ia masih merasa kehilangan bagian akhir pekan yang tadinya dibayangkan bersama Bian. Namun ia juga membawa cerita Kavin, percakapan dengan Mama, dan rasa nyaman berada di tengah keluarga tanpa terus memperkenalkan diri sebagai istri seseorang.
Keduanya dapat ada bersamaan. Ia tidak perlu memilih antara kecewa dan tetap menikmati hari.
.
.
Bian sudah di apartemen ketika Jihan tiba. Ia membantu menerima wadah makanan, kemudian menunggu sampai istrinya selesai berganti pakaian sebelum menanyakan kunjungan.
Jihan bercerita tentang jembatan yang dikiranya atap. Bian tertawa, lalu membuka foto yang dikirim. Mereka menghubungi Kavin setelah memastikan waktunya sesuai melalui Mbak Al.
Anak itu langsung menjelaskan bangunannya lagi. Bian mendengarkan sampai selesai, tidak sibuk menawarkan perbaikan pada setiap bagian yang miring. Ketika diminta datang besok, ia mengatakan belum dapat memastikan dan akan memberi kabar setelah mengetahui waktu yang tersedia.
Sesudah telepon berakhir, Jihan menyandarkan punggung ke sofa.
"Aku masih pengin akhir pekan tadi ada kamu," katanya.
Bian mengangguk. "Saya juga. Terima kasih sudah tetap datang."
"Aku datang karena mau ketemu mereka. Bukan cuma supaya kamu nggak merasa bersalah."
Ia menatap Jihan, lalu tersenyum kecil. "Iya. Saya mengerti."
Mereka tidak membuat hadiah mendadak untuk menutup kesalahan jadwal. Bian meminta maaf, Jihan menerimanya, dan keduanya membiarkan sisa hari berjalan lebih tenang. Ada makanan untuk dihangatkan, cerita yang belum selesai, serta pekerjaan yang masih harus ditutup dengan benar pada awal minggu. Kali ini semuanya disebut apa adanya, tanpa perlu menjadikan satu orang sebagai penjahat agar kekecewaan terasa sah.