Bian menemukan perbedaan itu setelah seorang anggota tim menanyakan acuan yang harus dipakai. Dua halaman menunjukkan susunan yang tidak sama, padahal keduanya berada dalam bahan pembahasan terbaru.
Ia mendekat, membandingkan catatan perubahan, lalu merasakan tengkuknya menegang.
Satu halaman dari versi sebelumnya masih ikut masuk.
Kesalahan itu ditemukan sebelum bahan dinyatakan siap diteruskan untuk pekerjaan berikutnya. Namun beberapa pemeriksaan sudah dilakukan berdasarkan susunan berkas yang seharusnya ia pastikan lebih dulu.
"Yang ini jangan dipakai dulu," katanya.
Ia tidak mencari nama orang yang terakhir menyentuh map untuk langsung disalahkan. Bian meminta tim menandai bahan yang sedang diperiksa, kemudian membuka kembali catatan peninjauannya sendiri.
Ia memang sudah memberi tanda pada bagian utama. Ia belum membandingkan setiap halaman pendukung dengan daftar yang diperbarui.
Kesalahannya tidak menjadi lebih kecil hanya karena gambar utama benar.
Ia menandai halaman tersebut dengan jelas, memastikan tidak ada orang yang tanpa sengaja mengambilnya lagi.
Bian menarik kursi dan meminta semua bagian yang berkaitan dikumpulkan. Ia perlu tahu seberapa jauh perbedaan itu memengaruhi pemeriksaan yang sudah berlangsung sebelum menjelaskan langkah berikutnya.
.
.
Menjelang siang, lingkup koreksi mulai jelas. Ada pekerjaan tim yang harus diulang, dan jadwal pembahasan internal yang semula longgar menjadi lebih padat. Belum ada pekerjaan lapangan yang dijalankan berdasarkan halaman tersebut.
Bian menyampaikan temuan kepada Papa. Ia membawa daftar bagian yang terdampak, bukan hanya kalimat bahwa terjadi sedikit kekeliruan.
"Saya melewatkan pemeriksaan halaman pendukungnya," ujarnya. "Kami sedang cocokkan semuanya sebelum diteruskan."
Papa membaca daftar dan bertanya siapa yang perlu diberi kabar. Bian menjelaskan bahwa pihak yang menunggu bahan harus mendapat pemberitahuan perubahan waktu, sementara tim membutuhkan pembagian ulang agar pemeriksaan tidak hanya menumpuk pada satu orang.
"Berapa lama?"
"Saya pastikan setelah pembagian selesai. Saya tidak mau menyebut sore ini kalau belum masuk akal."
Papa mengangguk. Ia tidak membiarkan kesalahan itu berlalu tanpa pertanyaan, tetapi juga tidak membentak di depan orang lain. Bian keluar dengan pekerjaan yang harus dilakukan dan rasa malu yang belum hilang.
Di meja, Khairul sudah menyiapkan catatan perbandingan. Ia menunjukkan bagian yang dapat diperiksa tim lain sementara Bian menangani bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Bian hampir mengatakan akan mengerjakan semuanya sendiri. Ia menelan kalimat itu. Membayar kesalahan dengan tidak tidur bukan jaminan hasil berikutnya akan lebih teliti.
Seorang anggota tim yang membantu menyusun bahan mendekat setelah pembagian selesai. Ia mengatakan seharusnya dapat melihat halaman yang tidak sesuai sebelum mengumpulkannya.
Bian mendengarkan tanpa buru-buru membebaskan atau menyalahkannya. Ia menanyakan bagaimana bahan diambil, halaman mana yang dijadikan acuan, dan pada tahap apa pemeriksaan terakhir dilakukan. Jawaban itu membantu menunjukkan celah yang sebelumnya tidak terlihat.
"Kita perbaiki urutannya," kata Bian. "Bagian pemeriksaan saya juga tidak lengkap. Itu tetap tanggung jawab saya."
Orang itu mengangguk, tampak lebih siap berbicara setelah tidak langsung ditempatkan sebagai penyebab tunggal. Mereka menuliskan langkah yang benar-benar sudah dilakukan, memisahkannya dari kebiasaan yang selama ini hanya dianggap pasti dilakukan orang lain.
Bian menemukan satu anggapan yang sama-sama mereka pegang: jika halaman utama sudah diberi tanda, seluruh bahan pendukung dianggap sudah sesuai. Ia meminta anggapan tersebut dihentikan pada pemeriksaan kali ini dan setiap bagian dibandingkan dengan daftar yang dipakai bersama.
Percakapan itu tidak menghapus waktu yang sudah terbuang. Namun setidaknya mereka tidak mengulang pekerjaan dalam keadaan saling curiga. Bian berterima kasih karena rekannya menjelaskan proses dengan jujur, kemudian membiarkannya kembali pada bagian yang sudah dibagi. Ia sendiri duduk memeriksa catatan, kali ini dengan kesadaran bahwa jabatan dan pengalaman tidak membuat tanda pemeriksaannya otomatis benar.
.
.
Sore harinya ia memperoleh perkiraan yang lebih jelas. Sebagian pemeriksaan masih diperlukan pada Sabtu pagi, bersamaan dengan waktu yang semula disiapkan untuk kunjungan keluarga. Hasil akhir belum dapat dijanjikan pada jam tertentu.
Bian menatap pesan suara Kavin yang diterimanya malam sebelumnya. Anak itu sudah bersemangat menunjukkan mainannya. Ia menghela napas, lalu menghubungi Jihan sebelum pikirannya mulai mencari alasan untuk menunda kabar.
"Ada koreksi berkas yang saya lewatkan. Sabtu pagi saya masih harus menyelesaikan pemeriksaan. Saya belum bisa menjanjikan sempat ke rumah Mama."
Jihan diam sebentar. Ia sedang duduk setelah pulang, dan undangan itu memang sudah diterima oleh mereka berdua.
"Mama sudah dikabari?"
"Setelah ini saya hubungi. Kavin juga."
"Aku bisa tetap datang. Tapi jujur, aku kecewa sedikit."
Bian memejamkan mata sesaat. "Saya tahu. Maaf. Ini bukan perubahan yang bisa saya anggap biasa saja."
Jihan tidak langsung mengatakan tidak apa-apa. Ia menanyakan apakah Bian sudah makan, lalu kembali kepada hal yang perlu diputuskan: ia akan datang sendiri sesuai jadwalnya, sementara Bian menyampaikan perubahan kepada keluarga tanpa menjadikan Jihan pembawa alasan.
.
.
Telepon kepada Mama berlangsung singkat. Bian menjelaskan ada pekerjaan yang harus dikoreksi dan belum dapat memastikan kedatangan. Mama menerima, kemudian meminta ia berbicara sendiri kepada Kavin ketika anak itu berada dekat telepon.
Kavin bertanya apakah Om lupa.
"Nggak lupa, Bang. Om tahu sudah bilang mau datang. Tapi ada pekerjaan Om yang salah dan harus dibetulkan."
Anak itu terdiam. Penjelasan tersebut mungkin belum membuatnya senang, tetapi Bian tidak menambahkan janji pasti datang sore hanya agar percakapan cepat berakhir.
"Tante Jihan tetap datang. Kalau Abang mau, nanti Om lihat bangunannya lewat telepon setelah Om selesai kerja. Bukan sekarang."
Kavin menjawab pelan. Bian menerima kekecewaannya tanpa meminta anak itu segera mengerti. Setelah berbicara dengan Mbak Al sebentar, ia menutup telepon dan kembali kepada pekerjaan.
Ia tidak merasa lebih baik karena sudah meminta maaf. Setidaknya, sekarang tidak ada orang yang masih menunggu dengan informasi yang salah.
.
.
Di apartemen malam itu, Bian tampak lebih pendiam daripada biasanya. Jihan tidak memaksanya mengulang seluruh kesalahan, tetapi meminta ia duduk dan makan sebelum membuka berkas lagi.
"Aku belum punya jawaban untuk bagian ini," katanya ketika Bian mulai menjelaskan perbandingan halaman. "Aku cuma bisa dengar."
"Itu cukup."
Bian bercerita tentang pekerjaannya yang harus diperiksa ulang oleh orang lain. Bagian itu lebih mengganggunya daripada waktu tambahan yang diperlukan. Ia terbiasa menjadi orang yang menemukan kekurangan, bukan orang yang membuat tim berhenti untuk membetulkan kekurangannya.
Jihan menatapnya dan mengangguk pelan. Ia mengenali rasa tersebut dari pembahasan ulang yang pernah dijalaninya.
"Besok periksa dengan orang yang bisa bantu. Jangan karena malu terus semuanya kamu kerjakan sendirian."
Bian mengangguk. Ia sudah membagi pekerjaan, tetapi mendengar kalimat itu dari Jihan membuatnya kembali memastikan bahwa keputusan tersebut tidak akan diubah ketika ia mulai panik.
Malam itu ia menyelesaikan satu catatan yang diperlukan, lalu berhenti pada waktu yang ditentukan. Masih ada pekerjaan esok, masih ada keluarga yang kecewa, dan semuanya tidak hilang hanya karena ia duduk lebih lama di depan layar. Bian mematikan laptop dengan berat hati, kemudian masuk kamar untuk beristirahat agar esok dapat memeriksa dengan kepala yang lebih jernih.