Jihan datang membawa kertas kosong, bukan susunan yang sudah selesai. Ia menaruhnya di tengah meja ketika teman-teman kelompok mulai duduk.
"Kita sepakati dulu yang mau dibahas. Kalau semuanya dimasukkan, waktunya nggak cukup."
Salah seorang teman mengangguk dan membuka catatan. Yang lain menyebut bagian yang masih membingungkan. Jihan menuliskan usul tanpa langsung memilih, kemudian mengajak mereka mengelompokkan hal yang saling berkaitan.
Ia masih ingin merapikan beberapa kalimat. Tangannya hampir bergerak mengubah, tetapi ia meminta penjelasan lebih dulu. Ternyata salah satu istilah dipakai temannya untuk mengingat bagian tertentu, bukan karena tidak tahu kalimat yang lebih formal.
Mereka memutuskan susunan bersama dan membagi tugas. Jihan menjadi orang yang menjaga urutan serta waktu, sementara isi tiap bagian tetap diperiksa oleh yang mengerjakannya. Pertanyaan yang belum dapat diselesaikan akan dibawa kepada pendamping pada waktu yang sesuai.
Ketika percakapan mulai melebar, ia menunjuk daftar awal.
"Yang itu dicatat dulu. Kalau sekarang dibahas juga, bagian ini nggak selesai."
Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas. Ia sedikit terkejut melihat teman-temannya menerima tanpa menganggapnya sedang memerintah seluruh ruangan.
.
.
Pada latihan pertama, pembagian waktu tetap meleset. Seorang teman menjelaskan terlalu panjang, lalu bagian berikutnya hanya mendapat sisa. Jihan merasa serba salah untuk menghentikan, terutama karena penjelasannya sudah disiapkan dengan sungguh-sungguh.
Ia akhirnya menunggu sampai satu kalimat selesai, kemudian mengingatkan waktu yang disepakati. Temannya tampak kecewa sebentar, tetapi meminta kesempatan menunjukkan bagian mana yang dapat diringkas.
Mereka mencoba lagi. Kali ini Jihan tidak hanya mengatakan terlalu panjang. Ia menunjukkan dua bagian yang berulang dan bertanya apakah salah satunya dapat dipindahkan menjadi bahan baca sendiri.
Usul itu diterima setelah dibicarakan. Ketegangan kecil yang tadi membuat Jihan ingin meminta maaf berulang kali ternyata tidak berkembang menjadi pertengkaran.
Ia mulai memahami bahwa menjaga kesepakatan kadang membuat orang tidak langsung senang. Itu tidak selalu berarti dirinya telah menyakiti atau gagal menjadi teman yang baik.
Menjelang selesai, mereka menuliskan pertanyaan yang belum terjawab. Jihan memeriksa bahwa tidak ada jawaban tebakan yang dimasukkan hanya agar catatan tampak lengkap. Ia tidak mempunyai kewenangan untuk mengubah diskusi teman menjadi keputusan tentang orang lain, dan ia tidak ingin lupa batas tersebut ketika mulai merasa lebih percaya diri.
.
.
Shasya menelepon ketika Jihan sedang dalam perjalanan pulang. Mereka berbicara setelah Jihan tiba dan duduk, karena ia ingin mendengarkan tanpa sambil memeriksa barang.
"Katanya sekarang jadi pengatur waktu?" goda Shasya setelah mendengar ceritanya.
"Jangan bayangkan pakai peluit."
"Padahal cocok."
Jihan tertawa. Ia mengaku tadi sempat kesulitan menghentikan penjelasan yang terlalu panjang. Shasya mengatakan itu berbeda dengan mengambil alih bahan diam-diam; kali ini aturan dibicarakan sebelumnya dan semua orang masih dapat memberi pendapat.
Jihan tahu temannya benar. Namun mendengarnya dari orang yang pernah kesal kepadanya membuat perubahan itu terasa lebih nyata.
Percakapan kemudian beralih ke kegiatan Shasya. Jihan mendengarkan sampai selesai, tidak menjadikan telepon itu hanya tempat melaporkan kemajuan sendiri. Mereka mencari kemungkinan bertemu, tetapi belum menentukan hari karena jadwal keduanya masih perlu diperiksa.
Setelah telepon ditutup, Jihan melihat pesan Bian. Suaminya akan pulang sedikit lebih lambat, tetapi sudah memastikan makanan untuk malam itu. Ia membalas singkat, lalu meninjau catatan kelompok yang perlu dikirim.
.
.
Bian datang ketika Jihan sedang memeriksa satu pesan yang nadanya membuatnya ragu. Seorang teman meminta agar bagiannya tidak banyak dipotong, khawatir penjelasannya menjadi tidak utuh.
Jihan hampir mengetik pembelaan panjang tentang waktu yang terbatas. Ia berhenti ketika menyadari dirinya belum tahu bagian mana yang dimaksud temannya.
Ia membalas dengan pertanyaan yang lebih jelas dan menawarkan membicarakannya sebentar pada pertemuan berikutnya. Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel untuk menyambut Bian.
"Ada masalah?" tanya suaminya.
"Belum tentu. Aku tadi hampir bikin masalah dari menebak nada pesan."
Bian tersenyum tipis. Ia menggantung tas dan mencuci tangan sebelum mereka makan. Jihan menceritakan tugas barunya dalam kelompok, termasuk bagian yang membuatnya tidak nyaman.
"Aku pengin semua orang senang, tapi waktunya tetap jalan."
"Kalau semuanya disenangkan dengan menambah waktu, nanti siapa yang mengerjakan sisanya?"
Jihan mengangguk. Ia sudah tahu jawabannya dan tidak ingin kembali mengambil semua yang tertinggal hanya karena tidak berani menjaga batas sejak awal.
Bian tidak mengubah percakapan itu menjadi pelajaran kepemimpinan. Ia bertanya apa yang diputuskan kelompok, lalu mendengarkan. Malam itu Jihan lebih membutuhkan ruang untuk mengurai pikiran daripada nasihat tambahan yang harus dikerjakan.
.
.
Pertemuan berikutnya menjawab sebagian kecemasannya. Teman yang mengirim pesan menunjukkan bahwa satu bagian memang perlu tetap dijelaskan. Mereka memindahkan contoh lain agar waktu tersedia, dan susunannya justru menjadi lebih mudah diikuti.
Jihan berterima kasih karena hal tersebut disampaikan. Ia tidak perlu mempertahankan potongan awal hanya untuk membuktikan bahwa keputusan pertamanya benar.
Setelah latihan selesai, kelompok sepakat siap melanjutkan pembahasan sesuai waktu yang tersedia. Ada hal yang masih perlu dikonfirmasi kepada pendamping, dan semuanya ditandai dengan jelas.
Seseorang mengusulkan pertemuan tambahan malam itu untuk memeriksa sekali lagi. Jihan melihat daftar yang tersisa, kemudian bertanya bagian mana yang benar-benar membutuhkan semua orang hadir.
Ternyata hanya satu catatan yang belum masuk. Orang yang mengerjakannya mengatakan dapat mengirim setelah diperiksa, sehingga mereka tidak perlu mengulang seluruh pertemuan dari awal.
Jihan sempat merasa khawatir dianggap kurang bersungguh-sungguh karena tidak langsung menyetujui tambahan waktu. Namun ia juga melihat wajah teman yang sejak tadi menahan mengantuk. Kesungguhan mereka tidak hanya terlihat dari berapa lama duduk bersama.
Mereka menyepakati batas waktu pengiriman dan siapa yang akan memastikan catatan masuk. Jihan tidak menawarkan berjaga sampai semua orang tidur. Ia menerima satu tugas yang jelas, lalu menutup buku ketika pembagian selesai.
Dalam perjalanan pulang, ia baru menyadari betapa lega rasanya mengetahui apa yang masih menjadi tanggung jawabnya dan apa yang sudah dikerjakan orang lain. Ponselnya tidak harus terus dibuka untuk memeriksa kemungkinan pekerjaan tambahan. Ia tetap akan membaca pesan penting, tetapi malam itu tidak dimulai dengan janji kepada seluruh kelompok bahwa dirinya selalu tersedia kapan pun diperlukan.
Jihan pulang dengan lelah yang menyenangkan. Ia telah melakukan sesuatu yang dulu mudah membuatnya panik: mengatakan cukup, menerima keberatan, dan mengubah sebagian keputusan tanpa merasa seluruh usahanya runtuh.
Malamnya, ia dan Bian memastikan bahwa undangan Mama akhir pekan dapat dihadiri berdasarkan jadwal yang mereka ketahui. Jihan mengirim jawaban kepada Mama, sementara Bian membalas pesan suara Kavin.
Anak itu ingin menunjukkan bangunan mainan baru. Bian mengatakan akan melihatnya saat datang, lalu menyimpan ponsel ketika Jihan menunjukkan urutan diskusi yang akhirnya selesai.
Ia membaca judulnya saja, tersenyum, dan mengembalikan kertas.
"Kamu kelihatan puas."
"Iya. Bukan karena semuanya mengikuti aku. Justru karena nggak harus begitu."
Bian mengangguk. Jihan melipat catatan dan menaruhnya di tempat yang mudah ditemukan. Untuk pertama kalinya, mendapat tanggung jawab sedikit lebih besar tidak langsung berarti ia harus membawa semua pekerjaan pulang sendirian.