Jihan menemukan pesan lama itu ketika sedang mencari alamat yang dikirim Bian. Nama tempat makan yang ditandainya masih ada, belum tenggelam terlalu jauh di antara kabar pulang dan pertanyaan tentang belanja.
Ia mengangkat ponsel kepada suaminya.
"Yang ini kapan?"
Bian mendekat, membaca, lalu tersenyum. "Saya kira kamu sudah lupa."
"Aku memang kadang lupa taruh pulpen. Bukan semua hal."
Mereka memeriksa waktu yang sama-sama tersedia. Tidak ada perayaan besar yang perlu menunggu hari tertentu. Presentasi sudah lewat, gambar sudah ditindaklanjuti, dan mereka masih ingin datang karena rencana itu pernah dibuat berdua.
Bian menghubungi tempat makan untuk memastikan ketersediaan. Setelah mendapat jawaban, ia menyampaikan waktunya kepada Jihan dan menaruh ponsel kembali.
"Jadi."
Jihan mengangguk puas, kemudian menutup buku belajarnya. Ia sudah menyelesaikan bagian yang direncanakan hari itu, sehingga tidak perlu membawa catatan kecil ke meja makan untuk mengurangi rasa bersalah.
Kali ini ia memilih pakaian tanpa memikirkan sepatu yang akan membuat kakinya sakit. Bian yang menunggu di dekat pintu memperhatikan pilihannya, tetapi tidak mengeluarkan komentar. Jihan menangkap senyum itu dan langsung mengangkat telunjuk.
"Jangan dibahas."
"Saya belum bicara."
"Aku sudah hafal mukanya."
.
.
Tempat itu lebih sederhana daripada bayangan Jihan. Ada meja dekat jendela dan suara percakapan yang tidak terlalu keras. Bian mengatakan ia tertarik karena pernah melihat suasananya sepintas, bukan karena ingin membuat kejutan mewah.
Jihan justru tampak senang. Ia memilih duduk di sisi yang dapat melihat keluar, lalu membuka menu sambil bertanya apa yang biasanya dipesan Bian.
"Belum pernah makan di sini."
"Oh, jadi kita sama-sama percobaan."
Mereka memesan hidangan yang dikenali, menambahkan satu pilihan untuk dibagi. Ketika pelayan pergi, Jihan menyandarkan punggung dan memandangi suaminya cukup lama.
"Apa?" tanya Bian.
"Ternyata kamu juga suka menyimpan rencana kecil. Aku dulu mengira yang kamu simpan cuma kerjaan."
Bian tertawa pendek. "Saya memang lebih sering bicara kerjaan."
"Sekarang boleh bicara yang lain."
Ia mengatakannya sambil tersenyum, tetapi Bian tidak langsung menemukan cerita. Ia terbiasa menunggu sesuatu yang perlu diselesaikan sebelum berbicara. Mengatakan apa yang diinginkan tanpa alasan penting masih terasa seperti membuka bagian diri yang jarang diperlihatkan.
Akhirnya ia bercerita bahwa ia ingin menghabiskan satu hari tanpa ponsel kantor terus berada di tangan. Bukan menghilang tanpa kabar, hanya menyiapkan pekerjaan agar ada waktu yang benar-benar luang.
Jihan mendengarkan dan menanyakan seperti apa hari itu dalam bayangannya. Jawabannya ternyata tidak rumit: bangun tanpa terburu-buru, pergi sebentar, membaca, lalu pulang sebelum lelah.
"Mirip waktu kita jalan dan kamu menggambar," katanya.
Bian mengangguk. Jihan mengambil ponsel sebentar untuk memperlihatkan balasan Kani pada foto yang pernah dikirimnya. Adik Bian mengomentari gambar buatan Jihan dengan menyebut bahwa kakaknya tampak mempunyai satu lengan cadangan.
Bian tertawa setelah melihat ulang halaman tersebut. Ia tetap menyimpannya, meskipun Jihan kini dapat menemukan lebih banyak kesalahan bentuk daripada ketika pertama menggambar.
"Nanti aku bisa bikin lagi. Yang lebih bagus."
"Boleh. Yang lama tetap ada."
Jihan menatapnya sebelum menyimpan ponsel. Ia terbiasa ingin mengganti sesuatu yang kurang baik agar tidak terus terlihat. Bian justru dapat menerima gambar tersebut sebagai bagian dari hari yang menyenangkan, bukan pekerjaan yang menuntut koreksi.
Di seberang meja, suaminya merapikan letak sendok yang hampir tersenggol gelas. Gerakannya begitu biasa, tetapi Jihan mendadak tersenyum karena mengenali kebiasaan itu. Banyak hal tentang Bian tidak berubah: ia masih suka kerapian, kadang terlalu serius, dan sering menjawab pendek. Yang berbeda, sekarang Jihan tidak selalu harus menebak apakah di balik diamnya ada penolakan. Ia dapat bertanya, lalu mendengar jawaban yang mungkin sederhana tetapi sungguh-sungguh diberikan.
"Itu bisa dicoba," kata Jihan. "Nggak harus langsung liburan jauh."
Bian mengangguk. Mereka tidak membuat janji perjalanan baru malam itu. Mengetahui keinginan masing-masing sudah cukup untuk menjadi awal.
.
.
Saat makanan datang, percakapan beralih pada hal yang lebih ringan. Jihan mencicipi hidangan yang akan dibagi, lalu mendorong piring sedikit ke tengah karena rasanya lebih pedas daripada perkiraannya.
Bian memberinya air tanpa tertawa lebih dulu. Setelah Jihan selesai minum, barulah ia mengingatkan siapa yang tadi mengatakan sanggup.
"Aku sanggup. Cuma perlu bantuan," jawab Jihan dengan mata sedikit berair.
Bian tertawa dan menukar letak piring agar makanan yang lebih ringan dekat istrinya. Mereka tidak perlu membuktikan apa pun kepada menu.
Jihan kemudian bercerita tentang kelompok belajarnya. Salah seorang teman mengusulkan pembahasan bersama setelah mereka meninjau bahan masing-masing, dan meminta Jihan membantu mengatur urutannya.
"Aku belum jawab langsung. Takut mengulang waktu dulu semua malah kuambil sendiri."
"Tugasnya mengatur atau mengerjakan semuanya?"
"Mengatur. Harusnya. Makanya mau diperjelas."
Bian mengangguk. Ia tidak mengatakan Jihan pasti sanggup hanya untuk membuatnya senang. Ia menanyakan apakah waktu dan pembagian tugasnya sudah jelas, lalu menerima jawaban bahwa itu yang akan dibicarakan esok.
Jihan menyukai kenyataan bahwa suaminya tidak mengambil keputusan untuknya. Ia dapat mempertimbangkan kesempatan tersebut tanpa menjadikannya ujian apakah dirinya cukup hebat di mata Bian.
.
.
Di tengah makan, ponsel Bian bergetar. Ia melihat nama pengirim dan membaca pesan singkat, kemudian menaruhnya kembali. Jihan tidak langsung mengerutkan wajah; ia menunggu sampai suaminya kembali pada percakapan.
"Tidak mendesak?"
"Bisa dibahas besok. Orangnya juga hanya mengirim bahan."
Jihan mengangguk. Perhatian tidak harus berarti berpura-pura tidak memiliki pekerjaan. Ia hanya ingin tahu kapan suaminya masih duduk bersamanya dan kapan pikirannya sudah pindah seluruhnya.
Setelah makanan habis, Bian meminta waktu sebentar sebelum pulang. Ia ingin memesan minuman hangat dan duduk lebih lama. Jihan tersenyum karena kali ini keinginan itu diucapkan, tidak menunggu ditebak.
Mereka membicarakan akhir pekan berikutnya. Mama mengajak keluarga berkumpul santai di rumah, dan Kavin sudah menanyakan apakah Bian akan datang. Jihan belum memastikan kegiatannya, sementara Bian perlu meninjau satu batas waktu pekerjaan lebih dulu.
"Kita jawab setelah tahu, ya," ujar Jihan.
Bian setuju. Mereka tidak mengirim janji hanya karena suasana malam sedang menyenangkan.
.
.
Dalam perjalanan pulang, Jihan lebih banyak diam karena kenyang. Bian sempat menanyakan apakah ia mengantuk, dan ia mengangguk tanpa merasa perlu terus mengisi percakapan agar kencan dianggap berhasil.
Di apartemen, mereka mengganti pakaian dan menyimpan barang. Jihan membuka pesan yang memuat nama tempat makan tadi, menghapus tandanya dari daftar yang masih menunggu, lalu meletakkan ponsel.
"Sudah ditunaikan," katanya.
"Apa?"
"Rencana makan itu. Jangan nanti kamu merasa masih punya utang."
Bian tersenyum dan mendekat. Ia memeluk Jihan dari samping, menunggu istrinya selesai merapikan kerudung sebelum mengajaknya beristirahat.
Tidak ada hadiah mahal atau kabar besar yang menutup malam mereka. Hanya rasa kenyang, cerita yang akhirnya sempat dibagikan, dan satu rencana lama yang tidak dibiarkan menghilang karena keduanya terlalu sibuk. Jihan mematikan lampu ruang tengah dengan perasaan bahwa keinginan kecil pun dapat mempunyai tempat, selama mereka mau mengingat dan mengusahakannya bersama.