Beberapa minggu berikutnya membuat Jihan hafal wajah-wajah yang semula terasa asing. Ia mulai mengetahui teman yang lebih suka membaca lebih dulu sebelum diskusi, dan siapa yang perlu menyebutkan pertanyaan keras-keras agar pikirannya teratur.
Ia masih menerima koreksi. Ada hari ketika ia pulang dengan bahu pegal dan tidak ingin berbicara panjang. Namun ia tidak lagi menghitung setiap koreksi sebagai langkah mundur menuju titik awal.
Bian juga menjalankan tindak lanjut pilihan klien. Catatan perubahan diselesaikan bertahap bersama tim. Tidak ada perjalanan mendadak, tetapi beberapa sore tetap panjang karena pekerjaan harus diperiksa sebelum diteruskan.
Di antara kesibukan itu, mereka akhirnya menemukan satu hari dengan waktu luang yang cukup. Jihan mengingatkan janji berjalan tanpa melihat denah, dan Bian mengangkat tangan tanda tidak berniat menghindar.
Mereka memilih berangkat setelah urusan pagi selesai. Jihan memakai sepatu yang nyaman, membawa air, dan menatap tas kecil Bian dengan curiga.
"Laptop?"
"Bukan."
"Gambar?"
"Buku kecil."
Jihan menyipitkan mata, lalu membiarkannya. Setidaknya tas itu tidak cukup besar untuk membawa seluruh ruang kerja.
.
.
Mereka berjalan di tempat terbuka yang cukup teduh, tidak memilih rute panjang karena ingin berbicara tanpa kehabisan napas. Di sekitar mereka ada keluarga, orang yang berjalan sendiri, dan anak-anak yang berhenti setiap kali menemukan sesuatu menarik.
Jihan beberapa kali menunjuk bentuk daun atau seekor kucing yang tidur tanpa peduli keramaian. Bian mengikuti arah pandangnya, lalu mengomentari betapa cepat Jihan berubah dari membahas makanan menjadi membahas ekor kucing.
"Hari ini nggak ada urutan presentasi," jawabnya.
Bian tertawa. Mereka duduk ketika menemukan bangku kosong. Jihan membuka botol minum, sementara Bian mengeluarkan buku kecil dari tas.
"Ternyata tetap bawa kerjaan."
"Bukan kerjaan."
Ia mulai menggambar garis sederhana. Jihan melihat dari samping, lalu menyadari gambar itu bukan bangunan. Ada bangku, pohon, dan sosok duduk dengan botol di tangan.
"Itu aku?"
"Kalau kamu tidak keberatan."
Jihan langsung duduk lebih tegak. Bian berhenti menggambar dan menatapnya.
"Tadi lebih enak dilihat."
"Sekarang aku sadar digambar."
Mereka tertawa. Jihan akhirnya kembali bersandar dan membiarkan tangannya memegang botol seperti semula. Ia tidak bisa diam sepenuhnya, sehingga Bian harus beberapa kali menyesuaikan garis.
.
.
Ketika gambar selesai, Jihan menerima buku dengan kedua tangan. Hasilnya sederhana, tetapi ia mengenali dirinya dari cara duduk dan ujung kerudung yang sedikit terangkat angin.
"Kok bisa mirip padahal wajahnya cuma sedikit garis?"
Bian mengangkat bahu. "Saya sering lihat orangnya."
Jawaban itu membuat Jihan diam lebih lama daripada pujian yang sudah diperkirakannya. Ia menunduk lagi pada kertas, lalu meminta meminjam pensil.
Di halaman sebelah, ia menggambar Bian. Bahunya terlalu lebar, rambutnya terlalu rapi, dan satu tangan tampak lebih panjang. Bian memandangi prosesnya dengan wajah serius yang justru membuat Jihan sulit menahan tawa.
"Dilarang protes."
"Saya belum bicara."
"Alisnya sudah."
Setelah selesai, ia menunjukkan gambar itu dengan bangga. Bian menerima buku, lalu menambahkan tanggal hari tersebut tanpa menyebut angka keras-keras. Ia menutupnya hati-hati dan memasukkan kembali ke tas.
Jihan sempat bertanya apakah gambar buatannya akan dibuang nanti. Bian hanya menatapnya, dan ia langsung teringat kertas kecil di laci kamar yang masih disimpan.
"Iya, aku tahu. Kamu koleksi wajah anehmu sendiri."
Bian tertawa sambil mengulurkan tangan untuk mengajaknya berjalan lagi.
Tidak jauh dari bangku, seorang anak menjatuhkan mainan kecil lalu baru menyadarinya setelah berjalan beberapa langkah. Jihan menunjuk benda tersebut kepada orang dewasa yang bersamanya. Mainan diambil kembali, dan anak itu melanjutkan perjalanan tanpa mengetahui bahwa Jihan masih tersenyum melihat caranya menggenggam benda tersebut erat-erat.
"Ingat Kavin?" tanya Bian.
Jihan mengangguk. "Kalau dia yang bawa, mungkin kita disuruh ikut mencari dari ujung sana."
Mereka tertawa. Jihan menanyakan kabar keponakan-keponakan Bian, lalu mendengar cerita singkat dari percakapan keluarga terakhir. Tidak ada yang mengubah pembicaraan itu menjadi desakan agar mereka segera mempunyai anak sendiri.
Jihan senang mendengarkan anak-anak dan tetap tahu keputusan mereka belum berubah. Ia tidak perlu menahan setiap senyum agar orang lain tidak menganggapnya sebagai pengumuman baru.
Bian berjalan di sisi luar ketika jalur menyempit. Setelah melewati bagian tersebut, Jihan kembali meraih tangannya. Ia menyebut ingin mengirim foto gambar tadi kepada Kani, tetapi meminta izin lebih dulu karena wajah buatan dirinya mungkin akan menjadi bahan lelucon keluarga.
"Boleh. Asal yang punya gambar juga ikut dikirim," jawab Bian.
Jihan mengerutkan dahi sebelum memahami maksudnya. Mereka berhenti sebentar mengambil foto berdua, sederhana dan sedikit miring karena tangannya kurang panjang. Bian tidak meminta mengulang berkali-kali. Ia hanya merapikan posisi ponsel untuk satu foto lagi, lalu keduanya menyimpan layar agar sisa perjalanan tetap menjadi waktu yang dijalani, bukan hanya dikumpulkan sebagai gambar.
.
.
Percakapan tentang masa depan muncul ketika mereka berhenti untuk makan ringan. Jihan melihat beberapa orang seusianya masih membawa buku di sela waktu luang dan teringat pendidikan yang belum selesai.
"Kadang aku ingin cepat sampai akhir," katanya. "Terus sadar setelah itu masih banyak yang harus dipikirkan."
Bian mengangguk. Ia tidak menjanjikan bahwa setelah koas semuanya otomatis menjadi mudah.
"Yang kamu inginkan setelah selesai apa?"
Jihan berpikir cukup lama. Ia ingin menjalani pekerjaan dengan baik, punya kesempatan belajar lagi, dan tidak terus merasa tertinggal ketika orang lain tampak sudah jauh. Namun ia belum ingin membuat keputusan besar hanya karena takut tidak punya rencana.
Ia menyampaikan semuanya dengan kalimat yang belum rapi. Bian mendengarkan tanpa menyusun jawaban untuknya.
"Kita bahas saat informasinya lebih jelas," katanya kemudian. "Kamu nggak harus memutuskan semuanya hari ini."
Jihan mengangguk. Ia bertanya balik tentang pekerjaan Bian. Suaminya mengatakan ingin menjaga pembagian tugas yang sudah mulai berjalan agar perkembangan pekerjaan tidak selalu berarti semakin sedikit waktu hidup di luar kantor.
Tidak ada rencana pindah rumah mendadak atau janji berhenti bekerja. Mereka hanya mulai mengenali arah yang ingin dijaga, sambil mengakui masih banyak hal yang perlu dipelajari.
.
.
Mereka pulang sebelum terlalu lelah. Di apartemen, Jihan mengeluarkan botol dari tas dan Bian menaruh buku gambar di tempat yang mudah ditemukan.
Ponsel Jihan berisi pesan Shasya tentang kemungkinan bertemu pada waktu senggang berikutnya. Ia membalas setelah memeriksa kegiatan, tidak menganggap berjalan bersama Bian berarti ia harus kehilangan waktu untuk teman-temannya.
Bian membuat minum dan duduk di dekatnya. Setelah pesannya selesai, Jihan menyandarkan kepala ke bahu suaminya.
"Bayaran jasaku sudah lunas," katanya.
"Yang mendengarkan penjelasan gambar?"
"Iya. Tapi kalau nanti diminta lagi, tarifnya bisa berubah."
Bian tersenyum. "Nanti saya tanya dulu."
Ia mengambil botol kosong dari tangan Jihan dan meletakkannya di meja sebelum kembali duduk nyaman.
Jihan memejamkan mata sebentar. Hari itu tidak menghasilkan keputusan besar, tetapi menghasilkan dua gambar, kaki yang cukup lelah, dan percakapan yang tidak harus selesai dengan jawaban pasti. Untuk pasangan yang pernah kesulitan sekadar memberi kabar, dapat menghabiskan waktu seperti itu terasa sebagai sesuatu yang pantas dijaga.