Klien memilih gambar yang bukan kesukaan Bian.
Ia sudah mengetahui kemungkinan itu sejak menyiapkan dua pilihan. Tetap saja, ketika jari klien berhenti pada gambar kedua, ia memerlukan satu tarikan napas sebelum mengangguk dan melanjutkan penjelasan.
Pilihan tersebut memenuhi kebutuhan utama dengan perubahan yang lebih besar pada tampilan awal. Tim telah memeriksa konsekuensinya, dan Bian menjelaskan kembali bagian yang akan disesuaikan sebelum keputusan dicatat.
Ada beberapa pertanyaan tambahan. Bian menjawab yang sudah mempunyai dasar, lalu menandai hal yang masih harus diperiksa agar tidak tercampur dengan kesepakatan hari itu.
Tidak semua keinginan klien terpenuhi. Namun untuk pertama kalinya sejak permintaan berubah, mereka membicarakan hal yang sama dengan batas yang cukup jelas.
Pertemuan ditutup dengan pilihan yang dapat ditindaklanjuti, bukan persetujuan samar yang akan menjadi masalah beberapa minggu kemudian.
Ketika ruangan mulai kosong, Bian memandangi gambar pertama sebentar sebelum memasukkannya ke map. Ia menyukainya, tetapi pekerjaan tidak selalu selesai dengan mempertahankan hal yang paling disukai pembuatnya.
.
.
Khairul membantu mengumpulkan bahan, lalu bertanya apakah ada bagian yang ingin Bian bahas kembali sebelum catatan dikirim.
"Yang belum pasti tetap ditulis belum pasti," jawab Bian. "Jangan sampai orang mengira semua perubahan sudah disetujui lengkap."
Mereka memeriksa catatan bersama. Setelah itu Bian menyampaikan terima kasih kepada tim yang menyiapkan perbandingan, termasuk orang-orang yang pekerjaannya tidak terlihat ketika gambar ditayangkan.
Papa menemuinya sebentar sebelum kembali ke ruangan.
"Tadi kamu tidak terlalu sibuk membela gambar," katanya.
Bian tersenyum tipis. "Sulit juga, Pa."
"Yang penting kebutuhan mereka dijawab. Bukan cuma selera kamu yang didengar."
Bian mengangguk. Ia menerima kalimat itu tanpa menganggap hasil pertemuan kehilangan nilainya karena tidak disertai pujian panjang.
Sebelum keluar, Papa bertanya apakah ia masih keberatan dengan pilihan klien. Bian menatap map di tangannya, lalu menjawab bahwa ia hanya perlu melepaskan gambaran yang sudah terlalu lama disukainya.
Papa mengangguk tanpa menertawakan. Ia pernah melihat anaknya bertahan pada gagasan sampai lupa bahwa orang lain akan menggunakan hasil pekerjaan itu setiap hari.
"Simpan yang tidak dipakai. Tapi jangan diam-diam dimasukkan lagi pada revisi berikutnya," ujarnya.
Bian tertawa karena memahami maksudnya. Gagasan yang baik pada tempat lain belum tentu tepat untuk kebutuhan yang sedang ditangani sekarang. Ia berjanji memeriksa perubahan sesuai keputusan, kemudian kembali ke meja kerja.
Di sana ia memisahkan gambar lama dari bahan yang akan diteruskan. Bukan dihapus karena malu, melainkan diberi keterangan supaya tim tidak salah mengambil versi. Ia kemudian membaca ringkasan pertemuan satu kali lagi, memastikan pilihan yang disetujui tertulis tanpa kalimat yang masih membela alternatif pertama.
Pekerjaan kecil itu membutuhkan lebih banyak kejujuran daripada yang dibayangkannya. Namun setelah selesai, Bian merasa lebih ringan. Ia masih menyukai gambar awal, tetapi tidak perlu membuat semua orang terus membicarakannya agar usahanya terasa dihargai. Ada hasil yang dapat diterima dan ada catatan yang dapat dipelajari untuk pekerjaan lain nanti.
Sesudah catatan kerja selesai dibagikan, ia mengirim pesan kepada Jihan. Presentasi berjalan, salah satu pilihan diterima untuk ditindaklanjuti, dan tidak ada kebutuhan berangkat mendadak malam itu.
Ia menambahkan bahwa nanti ingin bercerita tentang gambar yang tidak terpilih.
Pesannya belum dibaca. Bian meletakkan ponsel dan melanjutkan pekerjaan yang tersisa sebelum pulang.
Ia mengembalikan bahan cetak kepada tim dan memastikan salinan yang akan disimpan telah diberi keterangan. Setelah meja kosong, barulah ia menyadari gelas airnya masih hampir penuh. Bian meminumnya perlahan sebelum membereskan tas.
.
.
Jihan baru sempat membaca ketika memperoleh jeda. Ia duduk, minum, kemudian tersenyum melihat kabar Bian. Ada rasa lega yang ikut datang meskipun ia tidak berada di ruangan presentasi.
Ia membalas ucapan selamat dan mengatakan ingin mendengar cerita lengkap setelah pulang. Sebelum sempat menambahkan kalimat lain, kegiatan kembali memanggil perhatiannya.
Jihan menyimpan ponsel. Malam itu ia perlu mengikuti arahan dengan teliti, mencatat yang memang harus dicatat, serta bertanya kepada pendamping saat tidak memahami. Ia tidak membawa keberhasilan satu pembahasan sebelumnya sebagai alasan untuk merasa tidak boleh tampak bingung lagi.
Pada satu kesempatan, seorang teman hampir melewatkan informasi yang baru diperbarui. Jihan menunjukkan catatan yang tepat, lalu mereka memastikan kembali kepada pendamping. Tidak ada yang memperbesar kejadian itu menjadi saling menyalahkan.
Sesudahnya, temannya berterima kasih. Jihan mengangguk dan kembali bekerja. Ia merasa lebih menjadi bagian dari kelompok baru itu, bukan orang yang terus mengukur dirinya dengan kebiasaan kelompok lama.
Malam berjalan panjang. Ketika sempat beristirahat lagi, ia melihat satu pesan tambahan dari Bian: suaminya sudah makan dan pulang. Tidak ada pertanyaan mengapa balasannya singkat.
Jihan mengirim kabar bahwa dirinya masih berkegiatan, lalu meletakkan ponsel dengan perasaan lebih tenang.
.
.
Di apartemen, Bian meletakkan makanan yang sudah dibeli untuk kebutuhan esok sesuai tempatnya. Ia sempat melihat dua kursi di meja dan merasakan keheningan lebih jelas daripada biasanya.
Ia tidak menyalakan laptop hanya untuk mengisi ruangan. Setelah mandi, ia menelepon Mama sebentar dan bercerita tentang hasil presentasi. Percakapan beralih ke kabar keluarga, lalu berakhir sebelum terlalu malam.
Bian kemudian mengambil buku yang beberapa minggu hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia membaca beberapa halaman, kehilangan fokus sekali, lalu melanjutkan. Menunggu Jihan pulang tidak harus berarti menghentikan seluruh malamnya sendiri.
Sebelum tidur, ia menaruh catatan pemberian istrinya di laci bersama gambar lama yang masih disimpan. Ia tersenyum melihat wajah berkumis yang tidak terlalu mirip dirinya, lalu menutup laci.
Kali ini tidak ada janji pulang yang dilanggar. Mereka hanya sedang berada di tempat berbeda pada malam yang semula ingin dihabiskan bersama.
.
.
Jihan pulang setelah kegiatannya selesai pada pagi hari. Bian masih sempat menyambut sebelum berangkat. Ia membantu menerima tas, tidak langsung mengajaknya mendengar seluruh cerita presentasi.
"Mau makan dulu?"
Jihan mengangguk. "Sedikit. Habis itu tidur."
Mereka duduk bersama sebentar. Jihan terlihat lelah, tetapi masih sempat menanyakan apakah Bian kecewa pilihan favoritnya tidak dipakai.
"Sedikit. Nanti saya ceritakan."
"Simpan, ya. Jangan karena lewat semalam terus dianggap sudah nggak penting."
Bian menatapnya dan mengangguk. Ia senang Jihan tidak menawarkan perhatian yang dipaksakan saat matanya hampir tertutup, tetapi tetap mengingat bahwa cerita itu belum selesai.
Setelah istrinya masuk kamar untuk beristirahat, Bian berangkat. Cerita panjang mereka baru terjadi malam berikutnya, ketika Jihan sudah cukup tidur dan keduanya tidak sedang mengejar waktu.
Bian menunjukkan perbedaan kedua gambar dengan penjelasan singkat. Jihan mendengarkan, bertanya tentang bagian yang disukai suaminya, kemudian mengakui bahwa pilihan klien lebih mudah ia bayangkan digunakan sehari-hari.
Bian tertawa. "Kamu juga pilih yang itu?"
"Aku sayang kamu. Bukan berarti harus pilih semua gambarmu."
Ia memandangi istrinya sesaat, lalu tertawa lebih lepas. Makan malam mereka memang terlambat sehari, tetapi percakapannya tidak kehilangan tempat. Setelah berhari-hari mempertahankan batas ruang dan biaya, Bian akhirnya dapat membicarakan gambar yang ditolak tanpa merasa dirinya ikut ditolak.