Bian sudah melihat tempat makan yang ingin didatanginya sebelum Jihan mengirim jadwal jaga. Ia memandangi dua layar bergantian, lalu menutup halaman tempat makan tanpa membuat pemesanan.
Malam setelah presentasinya ternyata tidak kosong bagi Jihan.
Ia tahu kemungkinan itu selalu ada. Mereka bahkan sudah beberapa kali membicarakannya. Namun pengetahuan tidak membuat rasa kecewa langsung hilang ketika rencana yang diam-diam disukai tidak dapat dijalankan.
Bian mengetik balasan singkat bahwa jadwalnya sudah dibaca. Setelah itu ia melanjutkan pekerjaan, tetapi beberapa menit kemudian kembali memikirkan kalimat yang belum disampaikan kepada istrinya.
Jihan tidak tahu ia sedang merencanakan sesuatu.
Menyimpan kekecewaan lalu berharap istrinya menebak tidak akan membuat malam tersebut menjadi luang.
Ia mengirim pesan lagi, mengatakan bahwa tadinya ia ingin makan bersama setelah presentasi, dan mereka akan mencari waktu lain. Tidak ada kalimat yang meminta Jihan menukar jadwal atau merasa bersalah.
Balasan datang saat ia sedang menutup berkas.
"Aku juga pengin. Nanti kita cari hari yang benar-benar bisa, ya, mas."
Bian membaca sampai selesai, lalu memasukkan ponsel ke saku. Ia masih ingin ditemani malam itu. Ia juga tahu keinginan tersebut tidak harus menjadi beban yang diletakkan di pundak Jihan.
Ia mencoret rencana makan dari catatan harian, memastikan tidak ada pemesanan yang perlu dibatalkan sebelum kembali membuka bahan presentasi.
.
.
Di KMC, Jihan memeriksa pembagian jadwal dengan teman-temannya. Ada yang mempunyai keperluan keluarga dan bertanya apakah waktu tertentu dapat dipertukarkan sesuai pengaturan yang berlaku.
Jihan sempat memikirkan makan malam Bian. Ia melihat jadwalnya, lalu menyadari bahwa perubahan hanya untuk memenuhi keinginan sendiri akan memindahkan kerepotan kepada orang yang sudah mempunyai tanggung jawab lain.
Ia tidak mengajukan permintaan tersebut. Ia tetap membantu membaca pembagian waktu agar tidak ada orang yang salah mencatat, kemudian menyimpan salinan untuk dirinya.
Seorang teman menanyakan apakah suaminya keberatan ia mendapat kegiatan malam. Jihan berhenti sebentar sebelum menjawab.
"Kadang pasti kangen atau kecewa kalau rencana berubah. Tapi dia tahu ini bagian kegiatanku."
Temannya mengangguk. Percakapan tidak berubah menjadi pembandingan suami siapa yang paling pengertian. Mereka kembali membicarakan hal yang perlu disiapkan sebelum kegiatan dimulai.
Jihan senang dapat menyebut Bian tanpa menjadikannya orang sempurna. Suaminya tetap manusia yang ingin ditemani, sama seperti dirinya. Bedanya, sekarang keinginan itu dapat disampaikan sebelum berubah menjadi sikap dingin yang harus ditebak.
.
.
Malam sebelum presentasi, Bian menyiapkan pakaian lebih lama daripada biasanya. Jihan melihat dua kemeja di tempat tidur dan berhenti di pintu.
"Yang ini," katanya sambil menunjuk.
"Saya belum tanya."
"Tapi kelihatan sebentar lagi mau."
Bian tersenyum dan mengambil kemeja pilihan Jihan. Istrinya duduk di tepi tempat tidur, menanyakan apakah ia masih ingin berlatih pembukaan sekali lagi.
"Kalau kamu belum capek."
"Sekali saja. Habis itu aku juga harus istirahat."
Bian setuju. Ia menjelaskan pilihannya dengan kalimat yang lebih pendek daripada beberapa hari sebelumnya. Jihan mendengarkan, lalu menyebut satu bagian yang masih terdengar seperti pembelaan terhadap gambar kesukaannya sendiri.
Bian terdiam, membaca catatan, kemudian mengangguk.
"Kamu benar. Yang itu seharusnya tidak saya taruh di awal."
Ia mengubah urutan singkat, lalu benar-benar berhenti setelah sekali latihan. Jihan menghargai itu. Menemani tidak berarti waktunya dapat diperpanjang tanpa batas hanya karena ia belum tidur.
Mereka merapikan pakaian dan tas masing-masing. Bian menaruh kemeja di tempat yang tidak mudah kusut, sementara Jihan memastikan barang untuk kegiatannya sudah lengkap.
Untuk malam itu, persiapan mereka berlangsung berdampingan meskipun esok menuju tempat yang berbeda.
Jihan mengambil wadah kecil untuk bekal dan menaruhnya dekat tas. Ia memeriksa isinya, kemudian menambahkan satu benda yang sering tertinggal: pengikat rambut cadangan. Bian memperhatikan dari sisi lemari sambil melipat pakaian yang tidak jadi dipilih.
"Kamu sudah hafal yang perlu dibawa?"
"Sebagian. Makanya diperiksa. Kalau merasa hafal semua, biasanya ada yang ketinggalan."
Bian mengangguk, lalu memeriksa tasnya sendiri. Catatan perbandingan gambar ternyata masih berada di meja, belum masuk bersama bahan lain. Jihan menunjuk ke arahnya tanpa perlu berkata apa-apa.
Suaminya tersenyum kecil dan mengambil catatan tersebut.
Sesudah barang siap, Jihan menanyakan apakah makan malam yang belum jadi dipesan itu merupakan tempat yang sudah lama ingin didatangi Bian. Ia baru tahu suaminya pernah melewati tempat tersebut dan menyimpan namanya, bukan sekadar mencari pilihan pertama di ponsel.
"Simpan namanya. Aku ingin coba nanti," katanya.
Bian menyimpan keterangan tempat itu tanpa menentukan hari baru. Mereka akan memeriksa waktu sesudah jadwal berjalan, bukan menumpuk janji sebagai pengganti kekecewaan malam ini.
Jihan kemudian menarik selimut yang terlipat di ujung tempat tidur. Ia berhenti sebentar dan memandang Bian, menyadari bahwa ada keinginan kecil suaminya yang selama ini mudah terlewat karena jarang diucapkan. Ia tidak bisa memenuhi semuanya seketika, tetapi bisa mengingatnya. Maka ia meminta nama tempat itu dikirim kepadanya juga, agar rencana tersebut tidak hanya tinggal di dalam ponsel Bian. Sesudah pesan masuk, ia menandainya untuk dilihat kembali ketika keduanya benar-benar luang.
.
.
Sesudah lampu utama dipadamkan, Jihan masih memikirkan pesan Bian tentang makan malam. Ia bergeser mendekat dan memanggil suaminya pelan.
"Mas, kamu memang pengin aku ada besok malam, ya?"
Bian menoleh. "Iya."
Jawaban jujur itu membuat Jihan diam sesaat. Ia terbiasa menganggap Bian tidak terlalu membutuhkan hal-hal kecil karena suaminya jarang memintanya.
"Aku kira kamu bisa makan sama tim dan senang saja."
"Bisa. Tapi beda dengan cerita ke kamu."
Jihan meraih tangannya. Ia tidak menawarkan janji akan terus memegang ponsel sepanjang malam. Ia tahu dirinya mungkin tidak dapat menjawab cepat, dan janji seperti itu hanya akan membuat keduanya menunggu dengan cara yang salah.
"Kirim kabar kalau selesai. Aku baca begitu bisa. Cerita panjangnya kita simpan sampai ketemu."
Bian mengangguk. "Iya."
Ia mengecup dahi Jihan dan mematikan lampu kecil. Tidak ada pertengkaran, tetapi percakapan itu tetap memberi mereka sesuatu yang baru: Bian dapat mengatakan membutuhkan istrinya tanpa meminta Jihan meninggalkan hidupnya sendiri.
.
.
Pagi berikutnya, Jihan menyelipkan catatan kecil di dekat tas Bian, di tempat yang pasti terlihat sebelum berangkat. Isinya hanya pengingat untuk sarapan dan ucapan semoga pembahasan berjalan lancar.
Bian menemukannya saat hendak mengambil kunci. Ia menoleh kepada Jihan yang sedang memakai kerudung.
"Nggak ada gambar kucing kali ini?"
"Itu dulu gambar kamu."
"Saya tahu. Makanya bertanya."
Jihan tertawa, lalu menghampiri untuk merapikan ujung kerahnya. Ia sendiri akan berangkat sesuai jadwalnya, setelah memastikan sempat makan dan beristirahat secukupnya.
Bian memasukkan catatan itu ke bagian tas yang tidak tercampur berkas. Ia tidak menyebutnya sebagai pengganti makan malam. Itu hanya tanda bahwa Jihan memikirkannya di tengah kesibukan yang lain.
Sebelum pintu ditutup, ia mengangkat tangan sebentar. Jihan membalas dari dalam apartemen, kemudian kembali kepada persiapannya. Presentasi Bian belum dimulai, kegiatannya sendiri juga masih menunggu, tetapi tidak ada lagi rencana tersembunyi yang harus ditebak salah satu dari mereka.