Permintaan itu terlihat sederhana ketika pertama kali dibaca. Klien ingin ruang yang lebih lapang, tambahan satu fungsi, dan tampilan yang tetap sama seperti gambar sebelumnya.
Masalahnya, luas dan perkiraan biaya yang disepakati tidak bertambah.
Bian menatap catatan di meja rapat. Ia dapat membuat gambar yang tampak menyenangkan untuk beberapa menit, tetapi konsekuensinya akan muncul pada pekerjaan berikutnya. Ia tidak ingin menyetujui sesuatu hanya agar percakapan hari itu cepat selesai.
"Kami perlu menunjukkan pilihannya," ujarnya. "Kalau bagian ini ditambah, ada bagian lain yang berubah."
Klien bertanya apakah tidak ada cara mempertahankan semuanya. Bian menjelaskan bahwa tim akan memeriksa kemungkinan, kemudian membawa perbandingan yang dapat dilihat bersama. Ia tidak menjanjikan hasil sebelum pemeriksaan dilakukan.
Pertemuan berakhir tanpa keputusan akhir. Di luar ruangan, Bian merasa lelah meskipun belum banyak bergerak. Ia lebih suka menghadapi masalah pada gambar daripada mengatakan kepada seseorang bahwa keinginannya tidak dapat hadir sekaligus.
Khairul berjalan di sebelahnya sambil membawa catatan.
"Jangan pulang bawa tiga gambar yang sebenarnya kamu sendiri nggak percaya bisa dikerjakan."
Bian menoleh, lalu tertawa pendek. Nasihat itu terlalu dekat dengan godaan yang baru saja muncul dalam kepalanya.
.
.
Mereka membagi pemeriksaan kepada orang yang sesuai. Bian menangani susunan ruang dan penjelasan pilihan, sementara bagian biaya serta pelaksanaan diperiksa bersama tim terkait. Tidak ada angka yang dibuat agar terlihat cocok sebelum dasarnya jelas.
Pada sore hari, dua pilihan mulai terbentuk. Keduanya mempunyai kekurangan. Yang satu mempertahankan sebagian besar keinginan awal dengan pengurangan fungsi tambahan. Yang lain memberi ruang bagi fungsi baru, tetapi mengubah beberapa bagian yang sebelumnya disukai klien.
Bian memandangi keduanya cukup lama. Ia ingin menemukan pilihan ketiga yang menyelesaikan semua hal, tetapi kertas tidak menjadi lebih luas hanya karena ia terus menatapnya.
Patricia masuk untuk memastikan waktu pertemuan lanjutan. Bian meminta jeda yang cukup bagi tim untuk menyelesaikan pemeriksaan, lalu menyebutkan bahan yang harus diterima peserta sebelum rapat.
"Penjelasannya jangan hanya gambar akhir," katanya. "Sertakan bagian yang berubah."
Patricia mencatat. Sebelum keluar, ia mengingatkan bahwa Bian belum mengambil makan siangnya. Bian melihat jam, menghela napas, lalu berterima kasih.
Ia sudah lebih teratur dalam banyak hal, tetapi kebiasaan lupa waktu masih sesekali kembali saat pekerjaannya tidak menemukan jawaban yang disukai.
.
.
Jihan pulang dan mendapati makan malam belum tersedia. Bian sudah mengabarinya sejak sore bahwa ia akan selesai lebih lambat, sehingga ia tidak menunggu dalam keadaan lapar.
Ia menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya dan menyisihkan bagian yang dapat dihangatkan. Setelah itu ia belajar sampai mendengar pintu terbuka.
Bian masuk dengan wajah yang masih seperti berada di ruang rapat. Ia menyapa, meletakkan tas, lalu berhenti sebelum membuka laptop kembali.
"Saya mandi dulu."
Jihan mengangguk. Ia senang tidak harus menjadi orang yang mengingatkan setiap kali suaminya membawa pekerjaan masuk rumah.
Saat Bian makan, ia duduk di dekatnya dan mendengarkan. Cerita tentang ruang yang tidak cukup membuat Jihan mencoba membayangkan denah tanpa benar-benar melihatnya.
"Kalau kamu jelaskan ke orang yang nggak ngerti gambar, kalimat pertamanya apa?" tanyanya.
Bian berhenti mengunyah, lalu memikirkan jawabannya. Kalimat pertama yang keluar masih terlalu panjang dan penuh istilah.
Jihan mengangkat tangan. "Aku sudah hilang di tengah."
Bian menatapnya, kemudian tertawa lelah. Ia mencoba lagi. Kali ini ia menjelaskan bahwa setiap tambahan membutuhkan tempat dan biaya, sehingga klien perlu memilih apa yang paling penting.
"Nah, itu aku mengerti."
Jihan tidak menilai gambar atau mengusulkan keputusan teknis. Ia hanya menjadi pendengar yang tidak terbiasa dengan cara Bian menjelaskan pekerjaannya. Kadang itulah bantuan yang diperlukan suaminya.
.
.
Sesudah makan, Bian membuka dua gambar yang sudah disederhanakan. Ia meletakkan kertas kecil di samping masing-masing, menulis perubahan dengan kalimat pendek. Jihan membaca satu bagian, lalu menunjuk kata yang menurutnya masih membingungkan.
"Ini maksudnya yang mana?"
Bian menjelaskan sambil menunjuk gambar. Ketika selesai, ia menyadari penjelasan itu justru perlu ditulis, bukan hanya disimpan untuk menjawab jika orang bertanya.
Ia menambahkan catatan dan mengucapkan terima kasih. Jihan tersenyum puas, lalu kembali ke bukunya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Bian menutup berkas. Ia belum menemukan cara membuat semua permintaan cocok, tetapi kini mempunyai cara menunjukkan pilihan secara jujur.
"Saya besok ada pembahasan internal lagi," katanya.
"Aku besok pulangnya agak malam. Makan dulu kalau lapar."
Mereka bertukar kabar seperlunya, lalu membereskan tempat masing-masing. Tidak setiap pekerjaan harus dituntaskan malam itu untuk membuat rumah terasa tenang.
Jihan menyimpan bukunya lebih dulu, kemudian kembali untuk mengambil catatan kecil yang tadi dipakai Bian. Ia membalik kertas tersebut dan menemukan coretan yang berkali-kali diperbaiki.
"Yang ini jangan dibuang dulu?"
"Masih saya pakai besok."
Ia menyerahkannya, lalu membantu memisahkan kertas kerja dari bungkus makanan yang akan dibuang. Bian memperhatikan bahwa istrinya bertanya sebelum menyentuh bagian yang belum jelas. Ia teringat kesalahannya sendiri ketika merapikan map Jihan pada awal mereka pindah.
Malam itu ia tidak perlu mengangkat kenangan tersebut sebagai pelajaran panjang. Ia cukup melakukan hal yang sama ketika menemukan buku Jihan tertinggal di sofa: bertanya apakah diletakkan di rak atau tetap di meja untuk esok.
"Di meja, mas. Yang itu masih dipakai."
Bian menurut. Mereka kemudian memindahkan gelas kosong ke dapur dan memastikan meja masing-masing siap digunakan lagi tanpa harus mencari barang dari awal.
Tidak ada yang selesai sempurna. Jihan masih mempunyai halaman yang perlu ditinjau, Bian masih harus menghadapi pembahasan internal. Namun ia tahu kertasnya tidak akan hilang dan Jihan tahu bukunya tidak akan disusun ulang tanpa ditanya. Hal-hal kecil yang dulu mudah menjadi sumber kesal kini membantu mereka berhenti bekerja dengan kepala lebih ringan. Ketika akhirnya masuk kamar, Bian tidak kembali keluar untuk memeriksa gambar sekali lagi, meskipun godaan itu sempat muncul saat ia mematikan lampu.
.
.
Dalam pembahasan berikutnya, Papa meminta Bian menjelaskan alasan di balik kedua pilihan. Bian menyampaikan bagian yang dapat dipertahankan, yang perlu dilepas, serta hal yang masih menunggu pemeriksaan tim.
Papa tidak langsung memilih. Ia bertanya apa yang paling dibutuhkan klien berdasarkan percakapan awal, lalu meminta Bian memastikan kebutuhan tersebut tidak tenggelam oleh keinginan mempertahankan bentuk gambar.
Bian kembali membaca catatan pertemuan. Ada satu kebutuhan utama yang hampir tertutup oleh daftar tambahan. Ia menandainya dan mengubah urutan penjelasan, tanpa mengubah hasil pemeriksaan hanya agar tampak lebih menarik.
Ketika rapat selesai, ia merasa lebih siap meskipun belum tahu keputusan klien nanti. Persoalannya tidak hilang, tetapi kini ia membawa pilihan yang sungguh-sungguh dapat dibicarakan.
Sore itu ia mengirim pesan kepada Jihan bahwa penjelasan sederhana semalam ternyata membantu. Balasan istrinya datang setelah beberapa waktu.
"Berarti aku boleh menagih bayaran?"
"Mau apa?"
"Temani jalan kalau sama-sama libur. Nggak usah lihat denah."
Bian tersenyum. Ia menyimpan ponsel dan kembali memeriksa bahan pertemuan. Kali ini ia tahu pekerjaan mana yang memang perlu diselesaikan, dan mana yang hanya godaan untuk terus mengutak-atik karena takut menghadapi jawaban orang lain.