Jihan baru menyadari betapa terbiasanya ia mencari Shasya ketika masuk ruangan dan tidak menemukan wajah temannya. Ia berhenti dekat pintu, membaca pembagian kelompok sekali lagi, lalu memilih kursi yang belum ditempati.
Kegiatan baru itu masih di KMC, tetapi susunan teman dan pendampingnya berubah. Ranza berada pada kelompok berbeda, sementara waktu istirahat Shasya belum tentu bertepatan dengan miliknya.
Perempuan di sebelahnya menggeser tas, memberi ruang untuk buku Jihan.
"Di sini kosong."
Jihan tersenyum dan memperkenalkan diri. Mereka berbicara singkat sebelum pengarahan dimulai. Ia tidak langsung mengingat semua nama, sehingga menuliskan pembagian tugas dengan hati-hati agar tidak salah menghubungi orang nanti.
Pada kelompok lama, ia tahu siapa yang biasanya membawa catatan lengkap dan siapa yang perlu diingatkan sebelum waktu latihan. Di sini, ia harus mempelajarinya lagi. Tidak ada yang mengetahui cerita presentasinya yang berantakan atau pembahasan ulang yang membuatnya menangis.
Untuk sesaat, keadaan itu terasa menyenangkan. Sesaat kemudian, justru membuatnya gugup.
Ia tidak dapat mengandalkan orang lain memahami kebiasaannya tanpa dijelaskan.
.
.
Setelah pengarahan, mereka diminta meninjau bahan dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk pertemuan berikutnya. Jihan hampir menawarkan menyatukan seluruh catatan, lalu teringat akibat kebiasaan itu sebelumnya.
Ia mengusulkan pembagian lebih dulu. Salah satu temannya sudah mempunyai cara menyusun bahan yang berbeda dari susunan Jihan. Ada bagian yang ingin ditempatkan di awal, sementara Jihan merasa penjelasannya perlu diberikan sesudahnya.
"Boleh dicoba dua-duanya dulu?" tanyanya.
Mereka membaca urutannya bersama. Ternyata cara temannya lebih mudah diikuti untuk pembukaan, sedangkan catatan Jihan membantu menjelaskan bagian lanjutan. Tidak ada yang perlu menang seluruhnya.
Saat keluar untuk beristirahat, Jihan membuka percakapan dengan Shasya dan menulis bahwa kelompok barunya baik-baik saja. Ia hampir menambahkan permintaan agar semua bahannya diperiksa, kemudian menghapusnya.
Shasya juga sedang menjalani kegiatan sendiri.
Jihan akhirnya hanya mengirim cerita pendek tentang kursi yang didudukinya sempat dikira tempat menaruh tas bersama. Balasan berupa tawa datang agak lama, disusul kabar bahwa Shasya baru selesai.
Mereka tidak bisa bertemu hari itu. Jihan mengantongi ponsel dan duduk bersama dua orang dari kelompok barunya. Percakapan dimulai dari makanan, lalu perlahan beralih ke perjalanan pulang dan kebiasaan belajar. Ia tidak langsung merasa dekat, tetapi setidaknya tidak makan sambil menunggu orang yang sedang berada di tempat lain.
.
.
Menjelang sore, Jihan diminta menyampaikan hasil pengamatannya di bawah pendampingan. Ia sudah menyiapkan catatan, tetapi cara pembimbing mengajukan pertanyaan berbeda dari yang dikenalnya.
Ia sempat menjawab terlalu panjang. Ketika diminta kembali pada inti, wajahnya menghangat. Namun kali ini ia tidak menganggap satu koreksi sebagai tanda bahwa seluruh hari telah gagal.
Ia berhenti, memilih bagian yang paling relevan, kemudian menjelaskan ulang. Ada yang masih perlu dibaca lagi, dan ia mencatatnya sebelum kegiatan berakhir.
Di luar ruangan, salah satu teman kelompok bertanya bagaimana ia biasanya menata sumber belajar. Jihan menunjukkan susunan yang dipakai tanpa mengatakan bahwa cara itu harus diikuti semua orang.
"Gue pernah bikin berantakan karena semuanya diubah sendiri," akunya.
Temannya tertawa, lalu mengaku pernah melakukan hal serupa. Jihan ikut tersenyum. Rupanya ia tidak perlu berpura-pura selalu rapi agar diterima dalam kelompok baru.
Mereka bertukar catatan yang memang boleh dibagikan untuk belajar, memastikan tidak ada informasi pribadi yang ikut terbawa. Setelah itu Jihan pulang dengan kepala penuh nama dan kebiasaan baru.
Sebelum meninggalkan tempat belajar, ia sempat kembali karena satu buku tertinggal di kursi. Teman yang tadi duduk di sebelahnya sedang memegang buku itu sambil mencari nama pemilik pada halaman depan.
"Punya gue," kata Jihan, sedikit terengah karena berjalan cepat.
Perempuan itu menyerahkan buku dan tertawa. "Besok jangan lupa bawa yang ini. Kita perlu lihat bagian yang tadi."
Jihan mengangguk. Mereka berjalan keluar bersama sampai arah tujuan berbeda. Percakapan singkat itu tidak membuatnya langsung mempunyai sahabat baru, tetapi ada rasa nyaman karena seseorang sudah mengenali barang dan tugasnya tanpa harus melihat daftar kelompok lagi.
Di kendaraan, Jihan memotret bagian sampul yang namanya mulai pudar. Ia berencana menulis ulang setelah sampai rumah. Barang yang biasa dilempar begitu saja di dekat Shasya sekarang perlu dikenali oleh orang lain juga.
Pesan Shasya masuk ketika perjalanan hampir selesai. Temannya mengirim cerita tentang kegiatan sendiri, sama sekali tidak menanyakan apakah Jihan lebih suka kelompok baru. Jihan membalas sambil tersenyum. Ia baru menyadari tidak ada yang sedang memintanya memilih antara pertemanan lama dan orang-orang yang baru dikenal. Yang berubah hanya susunan hari mereka, bukan semua hal yang pernah membuat mereka dekat.
Ia menyimpan ponsel sebelum turun, memeriksa tas sekali lagi, lalu mengangkat buku yang hampir tertinggal itu dengan ekspresi geli kepada dirinya sendiri.
.
.
Bian sedang mengganti lampu meja ketika Jihan masuk apartemen. Ia sudah mematikan sambungan listrik dan menaruh bagian yang dilepas di atas kain agar tidak menggelinding.
Jihan berdiri di dekat pintu, memandangi meja yang biasanya ditempatinya.
"Rusak?"
"Tadi berkedip. Saya ganti sebelum kamu belajar."
Ia menaruh tas dan menunggu sampai Bian selesai. Setelah lampu menyala kembali, suaminya bergeser agar ia bisa mencoba arah cahayanya sendiri.
Jihan duduk, membuka buku, lalu menggeser lampu sedikit. "Pas. Makasih, mas."
Bian mengangguk dan membereskan alat yang dipakai. Ia baru bertanya tentang hari pertama ketika mereka makan, memberi Jihan waktu berganti pakaian lebih dulu.
Cerita Jihan keluar tidak berurutan. Ia menyebut teman baru, pertanyaan yang belum dapat dijawab, lalu tiba-tiba mengeluhkan betapa anehnya tidak duduk bersama Shasya.
"Padahal masih bisa ngobrol lewat pesan. Tapi beda."
"Kamu kangen kebiasaannya."
Jihan mengangguk. Ia tidak sedih sampai ingin menangis. Hanya merasa seperti harus belajar berjalan pada tempat yang lantainya sedikit berubah.
Bian menceritakan pengalaman bekerja dengan tim berbeda, ketika orang yang biasanya memahami isyarat singkatnya tidak lagi berada di dekatnya. Ia pernah kesal karena harus menjelaskan ulang, sebelum menyadari orang baru memang tidak bisa membaca kebiasaan yang belum dikenalnya.
"Aku juga tadi hampir berharap mereka tahu cara belajarku," kata Jihan.
"Sekarang sudah mulai tahu. Besok tambah lagi."
.
.
Malam itu Jihan tidak meminta Bian mendengarkan latihan panjang. Ia membuat daftar tugas untuk esok, lalu menuliskan nama teman sesuai bagian yang disepakati. Ada dua nama yang sempat tertukar, sehingga ia memeriksa kembali percakapan kelompok sebelum mengirim pertanyaan.
Bian duduk di sofa dengan gambar pekerjaannya. Jihan mengangkat wajah ketika mendengar suaminya mengembuskan napas lebih panjang dari biasa.
"Kenapa, mas?"
"Ada permintaan perubahan. Besok saya perlu bahas dulu sebelum jawab."
Jihan tidak langsung menghampiri atau menanyakan setiap rincian. Ia menyelesaikan pesannya, menutup buku, lalu duduk di sebelah Bian ketika waktu belajarnya selesai.
"Sekarang boleh cerita."
Bian menunjukkan dua lembar gambar tanpa membuka berkas pribadi klien yang tidak perlu dilihat istrinya. Jihan tidak memahami semua garisnya, tetapi ia dapat melihat ada bagian yang sudah dicoret beberapa kali.
Hari pertama mereka sama-sama membawa hal yang belum selesai. Namun lampu meja kembali menyala, tugas Jihan sudah terbagi, dan Bian tidak harus memikirkan pekerjaannya dalam ruangan yang sepenuhnya sunyi.