Undangan berkumpul dari grup alumni muncul beberapa hari setelah makan siang keluarga. Jihan membacanya saat sedang menunggu waktu berangkat, lalu berhenti pada daftar orang yang mungkin hadir.
Nama Dante ada di sana.
Ia tidak menerima pesan langsung darinya. Tidak ada ancaman atau permintaan baru. Namun melihat nama tersebut tetap membuat tubuhnya menegang sesaat, seolah harus bersiap menjelaskan penolakan yang sebenarnya sudah disampaikan.
Jihan menutup layar dan meletakkan ponsel. Ia melanjutkan menyiapkan tas, tetapi pikirannya masih kembali kepada undangan itu.
Bian memperhatikan ketika ia memasukkan buku yang sama dua kali.
"Ada yang mengganggu?"
Jihan menjelaskan singkat, lalu menunjukkan undangan. Bian membaca dan mengembalikan ponselnya.
"Kamu ingin datang?"
Jihan menggeleng. "Nggak. Tapi aku kesal karena rasanya dia masih menentukan tempat yang bisa aku datangi."
Bian tidak langsung mengatakan bahwa ia akan menemani dan semuanya selesai. Ia duduk sebentar, memberi Jihan waktu menemukan apa yang sebenarnya diinginkan.
"Aku ingin ketemu beberapa teman. Bukan harus di acara itu," lanjutnya.
"Kalau begitu, bisa pilih waktu lain dengan orang yang memang ingin kamu temui."
Jihan mengangguk perlahan. Ada perbedaan antara kehilangan seluruh pertemanan dan menolak satu acara. Pagi itu, ia perlu mengingat perbedaannya.
.
.
Pada waktu senggang, Jihan menghubungi Jennita. Mereka sudah lama tidak berbicara panjang. Ia tidak memulai dengan kabar Dante, melainkan menanyakan keadaan temannya dan bercerita singkat tentang kesibukan setelah menikah.
Percakapan mengalir lebih ringan daripada yang dibayangkannya. Setelah beberapa pesan, Jihan menyampaikan bahwa ia tidak akan ikut pertemuan alumni, tetapi ingin bertemu Jennita secara terpisah jika waktunya cocok.
Jennita setuju. Mereka memilih tempat umum untuk makan singkat pada hari ketika keduanya luang. Tidak ada janji membawa teman lain tanpa bertanya dahulu.
Sebelum hari pertemuan, Jihan sempat mempertimbangkan meminta Bian ikut. Suaminya tidak keberatan, tetapi menanyakan apakah ia menginginkan makan bertiga atau hanya membutuhkan kepastian bahwa dapat menghubunginya.
Jihan memikirkan pertanyaan itu. Ia ingin berbincang berdua dengan Jennita, tanpa membuat temannya merasa harus menjaga setiap kalimat di depan orang yang belum akrab. Pada saat yang sama, ia sedikit gugup karena sudah lama tidak bertemu.
"Aku pergi sendiri saja. Nanti kabari kalau sudah selesai."
"Baik. Kalau rencananya berubah, bilang."
Mereka memeriksa waktu pulang agar tidak saling menunggu tanpa kabar. Bian mempunyai urusan yang dapat diselesaikan di rumah, dan Jihan tidak memintanya duduk di sekitar tempat pertemuan untuk berjaga diam-diam.
Sesudah keputusan dibuat, ia memilih pakaian yang nyaman dan sepatu yang biasa dipakai berjalan. Ia tertawa sendiri mengingat kencan dengan sepatu cantik yang membuatnya harus duduk beristirahat. Bian melihat pilihan itu dan mengangguk setuju tanpa komentar panjang. Persiapan kecil tersebut membuat pertemuan terasa seperti kegiatan biasa yang dapat dinikmati, bukan ujian tentang apakah dirinya sudah cukup berani menghadapi masa lalu.
Jihan merasa perlu menyebut batas itu dengan jelas, dan Jennita menerimanya tanpa menjadikannya persoalan.
Ia kemudian menjawab undangan grup secara singkat bahwa tidak dapat hadir. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada tuduhan kepada orang yang mengundang. Ia memeriksa informasi pribadi yang pernah dicantumkan di grup dan meminta pengurus tidak membagikan jadwal atau kontaknya kepada orang lain tanpa izin.
Sesudahnya, ia membisukan pemberitahuan lagi.
Langkah tersebut tidak menjamin apa yang akan dilakukan setiap orang. Namun Jihan tidak perlu terus membuka layar untuk memastikan penolakannya masih berlaku. Ia sudah menyampaikannya dan sudah tahu kepada siapa harus bercerita jika ada masalah baru.
.
.
Pertemuan dengan Jennita berlangsung pada sore lain, singkat dan biasa. Mereka duduk berhadapan, memesan makanan, lalu menertawakan betapa sulitnya mencari waktu yang cocok sekarang.
Jennita bertanya tentang Bian. Jihan menjawab sambil tersenyum, menceritakan kebiasaan suaminya menyusun barang dan latihan mereka menerima tamu di apartemen.
"Jadi lo masak sendiri?"
"Satu menu. Yang lain dibantu beli. Jangan bayangkan gue mendadak jago semua."
Jennita tertawa. Ia juga bercerita tentang kesehariannya, dan Jihan mendengarkan tanpa merasa harus menarik setiap topik kembali kepada masa sekolah.
Menjelang akhir pertemuan, Jennita menanyakan apakah ada hal yang perlu diketahui agar tidak membuat Jihan tidak nyaman pada kesempatan lain. Jihan memilih menjawab secukupnya.
"Gue nggak mau dipertemukan sama Dante. Termasuk kalau niatnya baik. Jangan kasih jadwal gue juga."
Jennita mengangguk. "Oke. Gue paham."
Tidak ada permintaan agar Jihan mendengar versi lain, tidak ada kejutan seseorang muncul dari pintu. Mereka menyelesaikan makan, membayar, lalu berpamitan dengan pelukan singkat.
Dalam perjalanan pulang, Jihan menyadari bahwa ia baru menghabiskan waktu bersama teman lama tanpa seluruh pertemuan berubah menjadi pembicaraan tentang orang yang ingin dihindarinya.
Ia mengirim kabar kepada Bian bahwa sedang pulang, kemudian menyimpan ponsel dan memandangi jalan.
.
.
Malam itu, Jihan merapikan berkas di laptop. Ia memisahkan catatan belajar aktif dari dokumen yang tidak perlu dibuka setiap hari. Salinan percakapan lama tetap disimpan, tetapi dipindahkan dari tempat yang selalu terlihat saat ia mencari tugas.
Bian duduk di sebelahnya sambil membaca. Ia menoleh ketika Jihan menutup satu folder dan mengembuskan napas lega.
"Sudah beres?"
"Sebagian. Yang lama tetap ada kalau diperlukan. Aku cuma nggak mau melihatnya tiap buka bahan belajar."
Bian mengangguk. Ia tidak menyebutnya sebagai tanda bahwa Jihan sudah memaafkan atau melupakan semuanya.
Jihan memutar kursi menghadap suaminya.
"Aku nggak tahu dia akan benar-benar berhenti atau nggak. Tapi aku nggak mau menunggu permintaan maaf supaya bisa merasa hidupku jalan lagi."
"Kamu nggak perlu menunggu itu."
Ia tersenyum kecil. Kalimat tersebut tidak terdengar seperti penyelesaian ajaib. Ada batas yang sudah dibuat, orang-orang yang mengetahui situasinya, dan kehidupan yang tetap harus dijalani.
Untuk malam itu, ia memilih membuka bahan kegiatan berikutnya.
.
.
Beberapa minggu setelahnya, hari-hari mereka kembali dipenuhi hal biasa yang tidak selalu ringan. Jihan menerima pembagian kegiatan belajar berikutnya dan mulai mengenali tuntutan yang berbeda. Bian tetap memantau tindak lanjut proyek tanpa perjalanan tambahan pada rentang waktu itu.
Tidak ada kontak baru dari Dante yang diterima Jihan selama minggu-minggu tersebut. Catatan keamanan tetap ada, tetapi namanya tidak lagi menjadi bahan percakapan setiap malam.
Pada suatu pagi, Bian menemukan Jihan sedang menempelkan jadwal baru di tempat yang mudah dilihat. Ia berdiri di sampingnya dan membantu menahan ujung kertas agar tidak miring.
"Mulai pekan depan?"
"Iya. Aku masih perlu menyesuaikan."
Bian membaca waktu yang tertulis, lalu mengangguk. Mereka belum tahu seluruh kerepotan yang akan muncul. Namun kali ini Jihan tidak melihat jadwal itu sebagai ancaman bahwa rumah mereka akan kehilangan dirinya.
Ia menekan ujung perekat, kemudian mundur selangkah untuk melihat hasilnya.
Di dekatnya masih ada foto makan siang keluarga, kalender dengan dua kunjungan yang sudah dicoret, dan tempat sendok kelinci di dapur. Jihan mengambil tas, menerima kecupan singkat dari Bian, lalu berjalan menuju pintu. Ada hari baru yang perlu dijalani, dan ia ingin hadir di dalamnya.