Pada hari makan siang keluarga, Bian mendapat tugas yang ditulis Jihan di kertas kecil: meja, minum, makanan pesanan, dan pintu.
Ia membaca daftar itu, lalu menunjuk kata terakhir.
"Pintu diapakan?"
"Dibuka kalau ada tamu. Jangan tanya aku pas tanganku penuh."
"Baik."
Jihan kembali ke dapur sambil menahan senyum. Ia sudah menyiapkan sebagian bahan sebelumnya sehingga pagi itu tidak dimulai dengan kepanikan. Meski begitu, ia tetap memeriksa jam lebih sering daripada biasanya.
Bian memasang alas meja, mengeluarkan piring sesuai foto yang dibuat minggu lalu, lalu menghitung kursi. Ada satu kursi yang perlu dipindahkan dari meja kerja. Ia membersihkannya sebelum menaruh di tempat yang tidak menghalangi jalan menuju dapur.
Ketika makanan pesanan datang, ia memindahkannya ke wadah yang disiapkan. Jihan sempat mendekat untuk memastikan susunannya, tetapi berhenti di tengah langkah.
"Terserah kamu saja, mas. Yang penting gampang diambil."
Bian mengangguk. Ia tidak meminta petunjuk untuk setiap potong makanan. Jihan kembali memasak dan membiarkan tugas yang sudah dibagi benar-benar dikerjakan orang lain.
.
.
Ibuk dan Bapak datang lebih dahulu dengan buah. Jihan sudah selesai mengganti pakaian, meskipun satu ujung kerudungnya perlu dirapikan lagi. Ibuk langsung melihat gerakannya yang agak tergesa dan bertanya apakah masih ada yang perlu dibantu.
"Tinggal menunggu kuahnya siap disajikan. Duduk dulu, Buk."
Ibuk tetap melangkah ke arah dapur karena terbiasa. Jihan menyentuh lengannya dengan lembut.
"Sekarang Adek yang undang. Ibuk boleh istirahat."
Ibuk menatapnya sebentar, lalu tersenyum dan kembali ke kursi. Bapak sudah berbicara dengan Bian tentang perjalanan menuju apartemen, sementara buah diletakkan di tempat yang tidak memenuhi meja makan.
Mama dan Papa menyusul tidak lama kemudian. Setelah saling menyapa, ruangan yang sehari-hari tenang itu dipenuhi suara percakapan. Jihan sempat merasa setiap sudut mendadak terlalu kecil.
Ia membawa gelas dengan hati-hati. Bian mengambil sebagian tanpa menunggu diminta, lalu mengajak semua orang duduk ketika makanan siap.
"Ada yang masak sendiri, ada yang dibantu beli," kata Jihan sebelum seseorang bertanya.
Mama mengangguk. "Yang penting kita makan bersama."
Tidak ada yang mempermasalahkan piring berbeda bentuk. Bahkan ketika Papa memilih tempat duduk, ia lebih sibuk memastikan Bapak Jihan mendapat ruang yang nyaman daripada memperhatikan alas meja.
Jihan baru menyadari betapa banyak ketakutan kecilnya tidak menjadi masalah bagi siapa pun selain dirinya.
.
.
Makan siang dimulai dengan pujian sederhana terhadap hidangan yang dibuat Jihan. Ibuk tidak mengambil alih cerita tentang cara memasaknya. Ia hanya tersenyum ketika Jihan mengatakan masih memakai catatan agar urutannya tidak tertukar.
Bian menuangkan minum, menambah makanan di wadah yang mulai kosong, dan beberapa kali berdiri mengambil sesuatu. Mama memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Sekarang tahu semua letak barangnya?"
"Sebagian besar, Ma."
Jihan tertawa. "Yang belum tahu biasanya ditanya pas saya sedang belajar."
Bian menoleh, pura-pura tersinggung. Percakapan itu membuat kedua keluarga tertawa tanpa menjadikan salah satu dari mereka sasaran yang harus malu.
Papa kemudian menanyakan kegiatan Jihan. Ia menjawab tentang hal yang sedang dipelajari, tidak menyebut identitas orang yang ditemuinya. Ketika Ibuk hampir menjelaskan jadwalnya, Jihan meneruskan sendiri dengan tenang.
Ia tahu Ibuk hanya terbiasa membantu. Namun hari itu ia ingin menjawab sebagai dirinya, bukan anak yang ceritanya selalu dilengkapi orang tua.
Ibuk berhenti dan mendengarkan. Sesudah Jihan selesai, ia menambahkan pertanyaan tentang apakah sudah sempat beristirahat, bukan penjelasan tentang apa yang seharusnya dikerjakan.
Perubahan kecil itu terasa oleh Jihan. Ia tersenyum kepada Ibuk sebelum kembali mengambil nasi.
Ketika percakapan beralih, Bapak memperhatikan foto wisuda di dekat rak. Ia menunjuk satu wajah yang tampak sedikit menoleh dan bertanya apakah ada foto lain dari sudut berbeda.
Jihan mengambil ponsel, tetapi Bian lebih dulu mengatakan bahwa beberapa hasil cetak masih tersimpan di map. Ia mengambilnya setelah meminta izin sebentar dari meja. Bapak dan Papa kemudian memeriksa foto bergantian, memilih gambar yang ingin disimpan.
Jihan sempat meminta agar map dijauhkan dari kuah. Papa langsung mengangkatnya lebih tinggi sambil tertawa, lalu memindahkannya ke meja kecil agar tidak terkena makanan.
Di antara foto wisuda ada satu foto akad. Ibuk memperhatikan wajah Jihan yang tegang di sana, kemudian membandingkannya dengan Jihan yang sedang sibuk menawarkan lauk tambahan.
"Sekarang sudah berani menyuruh semua orang duduk," katanya lembut.
Jihan tersenyum malu. Ia ingat pagi akad ketika banyak hal terasa terlalu besar untuk ditangani sendiri. Hari ini ia masih membutuhkan bantuan, tetapi tangannya tidak lagi gemetar ketika mengundang kedua keluarga masuk ke rumahnya.
Bian kembali duduk setelah menaruh foto di tempat aman. Di bawah meja, Jihan menyentuh lengannya sebentar sebagai ucapan terima kasih. Bian menoleh, lalu mengambilkan gelas yang hampir kosong tanpa mengubah sentuhan kecil itu menjadi perhatian seluruh meja. Mereka membiarkan orang tua melanjutkan cerita, sementara makan siang perlahan berubah menjadi sore yang akrab.
.
.
Setelah makan, orang tua mereka pindah duduk ke ruang tengah. Jihan hendak langsung mencuci semua piring, tetapi Bian menyentuh sikunya.
"Nanti. Kita duduk dulu."
"Numpuk."
"Masih bisa menunggu."
Ia memandang dapur, lalu mengangguk. Mereka menyingkirkan sisa makanan dengan rapi dan kembali bergabung. Buah yang dibawa Ibuk menjadi penutup, ditemani cerita Bapak tentang kebiasaan Jihan menyusun buku lalu lupa tempat barang lain.
Jihan memprotes sambil tertawa. Bian langsung bertanya apakah kebiasaan itu sudah lama, membuat istrinya menepuk lengannya.
Mama membalas dengan cerita Bian kecil yang pernah mengatur mainan orang lain karena menganggap susunannya tidak tepat. Papa tertawa paling keras pada bagian itu.
"Ternyata dari dulu," gumam Jihan.
Bian menyerah, membiarkan cerita tersebut berjalan tanpa membela diri panjang. Ia melihat istrinya tertawa bersama kedua keluarga dan merasa kerja pagi mereka terbayar oleh hal yang tidak bisa difoto dari meja makan saja.
Menjelang sore, kedua orang tua mereka bersiap pulang. Tidak ada rencana menginap mendadak atau permintaan agar seluruh keluarga lain segera diundang. Mama mengucapkan terima kasih, Ibuk memeluk Jihan, dan Bapak berjanji mengirim kabar setelah tiba.
.
.
Pintu menutup, lalu apartemen mendadak sunyi. Jihan bersandar di dekat meja sambil menghela napas panjang.
"Selesai."
Bian melihat tumpukan piring. "Belum semuanya."
"Jangan rusak momenku."
Mereka tertawa, kemudian mulai membereskan. Jihan menyimpan makanan yang masih layak disimpan, sementara Bian mencuci piring. Salah satu alas meja terkena noda, tetapi kali ini Jihan tidak menganggapnya sebagai kegagalan acara.
Itu meja yang dipakai makan, tentu bisa kotor.
Setelah dapur beres, mereka duduk dengan kaki diluruskan. Jihan membuka foto yang sempat diambil Bian: kedua orang tua mereka sedang tertawa, sementara dirinya terlihat setengah menoleh.
"Aku jelek di sini."
"Kamu lagi ketawa."
Jihan memperbesar foto, lalu mengecilkannya kembali. Ia akhirnya menyimpan foto itu tanpa meminta dihapus. Ada piring berbeda, gelas yang tidak semuanya sejajar, dan keluarga yang tampak nyaman. Untuk acara pertama di rumah mereka, ternyata itu sudah lebih dari cukup.