Bik Sri sudah mengeluarkan bahan ketika Jihan tiba di rumah. Ibuk berdiri di dekat meja, menggulung lengan pakaian sambil memeriksa panci yang akan digunakan.
"Adek kira cuma lihat," ujar Jihan setelah mencuci tangan.
"Kalau cuma lihat, nanti pulang tetap bilang secukupnya itu berapa," sahut Ibuk.
Bik Sri tertawa. Jihan mengambil tempat di antara mereka, membuka catatan, lalu mulai menanyakan bahan satu per satu. Kali ini tidak ada ujian dan tidak ada orang yang menuntut jawaban cepat. Meski begitu, ia tetap ingin mencatat dengan rapi.
Ibuk menunjukkan urutan memasak hidangan berkuah yang sudah sering dimakan Jihan sejak kecil. Bik Sri mengingatkan bagian yang mudah terlupa, termasuk menyiapkan wadah sebelum tangan sibuk dengan bahan.
Jihan beberapa kali bertanya ulang. Pada percobaan pertama, ia terlalu bersemangat menambahkan satu bumbu. Ibuk memintanya berhenti, mencicipi setelah cukup matang, lalu membandingkan sebelum menambahkan lagi.
"Pelan-pelan. Nggak semua harus langsung masuk," katanya.
Jihan mengangguk. Ia tertawa sendiri karena rupanya minggu itu berbagai hal sedang mengajarinya untuk tidak terburu-buru.
.
.
Sambil menunggu masakan, Jihan naik ke kamar lamanya. Ia ingin mengambil satu buku yang disebut Ibuk pada telepon sebelumnya. Pintunya tidak dikunci, dan cahaya sore jatuh di bagian lantai yang dikenalnya.
Kamar itu lebih rapi daripada saat masih ditempatinya. Beberapa barang sudah masuk kotak, sementara satu sisi lemari digunakan untuk menyimpan seprai bersih.
Jihan berdiri cukup lama sebelum membuka laci meja. Ia tahu dirinya tidak lagi tinggal di sini, tetapi melihat ruang yang mulai digunakan berbeda tetap menimbulkan rasa aneh.
Ibuk muncul beberapa saat kemudian, membawa kantong untuk bukunya.
"Yang masih dipakai dibawa saja. Biar gampang carinya."
Jihan mengangguk, tetapi gerakannya melambat. Ibuk melihatnya dan mendekat.
"Kenapa?"
"Nggak apa. Kamarnya kelihatan beda."
Ibuk memandangi lemari, lalu memahami arah pandangan anaknya.
"Ibuk taruh seprai di situ karena kosong. Barang Adek nggak dibuang."
"Adek tahu."
Jihan tersenyum kecil, merasa agak malu karena hampir tersinggung oleh tumpukan seprai. Ia duduk di tepi tempat tidur dan merapikan ujung kantong yang diberikan Ibuk.
"Rasanya seperti sudah benar-benar pindah. Padahal memang sudah."
Ibuk duduk di sampingnya. "Iya. Ibuk juga masih kadang mau panggil Adek makan, baru ingat rumahnya sudah beda."
Jihan menoleh. Selama ini ia lebih sering membayangkan perubahan dari sisinya sendiri.
.
.
Mereka berbicara tanpa terburu-buru. Ibuk mengatakan rumah terasa lebih sepi pada jam-jam tertentu, tetapi bukan berarti Jihan perlu pulang setiap kali orang tuanya merasa rindu.
"Adek punya rumah yang perlu diurus juga. Telepon saja sudah senang."
Jihan menyandarkan kepala sebentar ke bahu Ibuk. Ia ingin mengatakan akan datang lebih sering, lalu menahan janji yang belum tentu bisa ditepati.
"Adek kabari kalau ada waktu. Tapi jangan tunggu Adek untuk makan, ya."
Ibuk tertawa. "Sekarang siapa yang mengingatkan siapa?"
Jihan ikut tertawa, lalu bangkit memilih buku. Ia membawa yang masih diperlukan dan meninggalkan beberapa benda yang tidak harus dipindahkan hari itu. Sebelum keluar, ia merapikan laci, memastikan tidak ada barang penting tercampur dengan kertas yang sudah tidak digunakan.
Di tangga, aroma masakan membuat mereka mempercepat langkah. Bik Sri sudah menunggu sambil menunjuk jam.
"Katanya cuma ambil buku, Non."
"Sekalian nostalgia, Bik."
Mereka kembali ke dapur dan mencicipi hasil latihan. Rasanya belum persis seperti buatan Ibuk, tetapi tidak ada yang mengatakan itu masalah. Jihan mencatat satu penyesuaian kecil, lalu membagi masakan ke wadah setelah waktunya tepat.
Bik Sri menyerahkan lap ketika Jihan selesai membersihkan tepi wadah. Tangan perempuan itu bergerak cepat merapikan bahan yang tersisa, seperti kebiasaan yang sudah Jihan lihat bertahun-tahun tanpa banyak dipikirkan.
Kali ini Jihan mengambil wadah kosong sebelum Bik Sri sempat mengangkat semuanya.
"Yang ini Adek bereskan, Bik."
"Nggak usah, Non. Sudah mau pulang."
"Masih bisa. Tadi yang bikin dapur ramai juga Adek."
Bik Sri tertawa dan membiarkannya membantu. Jihan mencuci alat yang dipakai, lalu mengeringkan meja. Pekerjaan sederhana itu ternyata membuatnya menemukan bekas bumbu di tempat yang tidak disadarinya selama memasak.
"Ternyata kalau selesai makan terus tinggal pergi, banyak yang masih dikerjakan, ya, Bik."
"Namanya dapur, Non. Dipakai ya dibereskan lagi."
Tidak ada nada menuntut dalam jawaban tersebut. Justru itu membuat Jihan sedikit malu mengingat betapa sering ia hanya membawa piringnya ke dekat tempat cuci lalu menganggap semua sudah selesai.
Ia mengucapkan terima kasih, kali ini bukan hanya untuk bantuan sore itu. Bik Sri menepuk lengannya dan meminta ia tidak sampai lupa membawa buku karena terlalu sibuk membantu. Jihan tertawa, lalu memeriksa kantong yang ditaruh di kursi.
Sebelum berpamitan, ia memotret catatan resep yang telah diperbaiki dan menanyakan apakah boleh menelepon jika nanti menemui kesulitan. Bik Sri mengangguk, tetapi mengingatkan agar ia membaca catatan dulu sebelum panik. Jihan menerima pesan itu sambil tersenyum. Ia tahu bantuan masih tersedia, dan kini ia juga tahu bahwa menyediakan makanan selalu melibatkan pekerjaan yang tidak terlihat dari meja makan saja.
Sebagian untuk rumah, sebagian dibawa ke apartemen. Bapak yang baru bergabung mencicipi sedikit dan mengangguk.
"Ini yang bikin Adek?"
"Dengan pengawasan ketat."
"Bagus. Minggu depan Bapak tinggal makan."
Ucapan itu membuat Jihan tersenyum. Ia senang Bapak menganggap undangannya sebagai sesuatu yang akan dinikmati, bukan pertunjukan yang harus dinilai.
.
.
Bian menerima kabar bahwa Jihan akan pulang membawa buku dan hasil latihan. Ia masih berada di kantor, tetapi sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya. Mereka sepakat makan di apartemen tanpa menambah hidangan lain yang akan membuat sisa terlalu banyak.
Saat Jihan tiba, suaminya sedang menata meja. Ia mengangkat kantong dan meminta Bian membantu mengambil wadah agar tidak miring.
"Ini masakan atau barang pecah belah?" tanya Bian melihat kehati-hatiannya.
"Harga dirinya tinggi, mas. Jangan tumpah."
Bian langsung menerima dengan kedua tangan, membuat Jihan tertawa.
Mereka memanaskan makanan lalu duduk bersama. Jihan memperhatikan wajah suaminya saat mencicipi suapan pertama, sampai Bian berhenti dan menatap balik.
"Kalau dilihat terus, saya jadi seperti penguji."
"Enak nggak?"
"Enak."
"Beneran?"
"Iya. Saya boleh lanjut makan sekarang?"
Jihan mengangguk puas. Ia mulai makan sendiri dan menceritakan latihan memasak, kemudian bagian tentang kamar lamanya keluar tanpa direncanakan.
Bian mendengarkan. Ia tidak mengatakan bahwa Jihan seharusnya hanya bahagia karena sudah punya rumah sendiri.
"Waktu saya pulang dari Jerman, ada barang yang tempatnya juga sudah berubah," katanya. "Rasanya aneh, padahal rumahnya tetap sama."
Jihan menatapnya. Pengalaman mereka berbeda, tetapi ia mengerti maksudnya.
"Aku senang tinggal di sini. Bukan ingin pulang terus."
"Saya tahu. Kamu boleh kangen rumah Ibuk."
Ia mengangguk dan mengambil lauk lagi. Tidak ada perebutan tentang rumah mana yang lebih penting malam itu. Setelah makan, mereka menaruh buku di rak yang sudah dirapikan. Satu sudut apartemen kembali terisi sesuatu dari kehidupan Jihan sebelumnya, tanpa harus membuat kehidupan yang sekarang terasa kurang miliknya.