Pagi pembahasan ulang, Jihan menjatuhkan pulpen sebelum sempat memasukkannya ke tas. Ia membungkuk mengambilnya, lalu berdiri dengan napas panjang yang membuat Bian menoleh dari dapur.
"Masih ada waktu," katanya.
"Aku tahu. Tanganku saja yang ribut."
Bian tidak menyuruh tenang untuk kelima kalinya. Ia mengambil botol minum yang sudah disiapkan dan meletakkannya di samping tas, kemudian menunggu Jihan selesai memeriksa barang.
Mereka sarapan tanpa latihan mendadak. Jihan sempat membuka catatan di ponsel, tetapi menutupnya kembali setelah menyadari dirinya tidak benar-benar membaca.
"Nanti aku kabari kalau sudah selesai."
"Iya. Saya tunggu."
Tidak ada janji hadiah jika hasilnya baik. Tidak ada kalimat bahwa kali ini ia pasti berhasil. Bian mencium keningnya sebelum berangkat, dan Jihan membawa kehangatan singkat itu sampai ke lift.
Di perjalanan, ia mencoba menjelaskan satu bagian dalam hati. Ketika pikirannya mulai berlari terlalu cepat, ia berhenti dan memandangi jalan. Ia sudah belajar. Sekarang ia perlu tiba dengan kepala yang masih bisa dipakai.
.
.
Pertanyaan pertama membuat Jihan kembali gugup. Ia mengenali pokok pembahasannya, tetapi kali ini tidak buru-buru mengeluarkan semua yang diingat.
Ia meminta waktu sebentar untuk menyusun jawaban, lalu memulai dari bagian yang paling jelas. Pembimbing mendengarkan dan memberikan pertanyaan lanjutan.
Ada satu bagian yang tidak segera dapat dijawabnya. Jihan merasakan dorongan lama untuk mengisi keheningan dengan istilah yang terdengar benar. Ia menahannya.
Ia menjelaskan batas yang dipahaminya dan menyebutkan bagian yang perlu diperiksa lagi. Pembimbing mengarahkan pertanyaan, kemudian meminta ia menghubungkan kembali jawabannya dengan pembahasan awal.
Kali ini Jihan dapat mengikuti.
Ketika selesai, ia menerima catatan bahwa perbaikannya sudah memenuhi hal yang diminta dalam pembahasan tersebut. Masih ada saran untuk belajar berikutnya, dan Jihan menuliskannya sebelum lupa.
Ia tidak keluar ruangan dengan perasaan mendadak menjadi ahli. Ia hanya merasa kakinya kembali menyentuh lantai setelah beberapa hari berjalan sambil menahan napas.
Shasya yang melihat dari ujung lorong mengangkat alis. Jihan mengangguk, lalu tersenyum lebar.
"Sudah."
"Nah!"
Shasya hampir berseru lebih keras, tetapi menahan suaranya ketika menyadari tempat mereka berdiri. Ranza datang beberapa saat kemudian dan mendengarkan penjelasan Jihan sambil mengangguk puas.
Mereka tidak langsung merayakan dengan pergi jauh. Masih ada kegiatan yang harus diselesaikan. Jihan hanya membeli minuman pada waktu istirahat dan mengirim pesan kepada Bian serta Ibuk.
Setelah menekan kirim, ia menyimpan ponsel. Untuk sekali ini, ia tidak perlu memeriksa layar setiap beberapa detik agar kabar baik itu terasa nyata.
Pada jeda berikutnya, Ibuk menelepon sebentar. Jihan berjalan ke tempat yang memungkinkan ia berbicara tanpa mengganggu orang lain. Dari seberang, suara Bapak terdengar menanyakan apakah pembicaraan sudah tersambung.
"Sudah, Pak," jawab Jihan sambil tertawa.
Bapak mengucapkan selamat dengan caranya yang singkat, lalu bertanya apakah ia masih perlu kembali belajar malam itu. Jihan menjelaskan bahwa kegiatan tetap berjalan, tetapi perbaikan yang diminta sudah diselesaikan.
"Bagus. Nanti kalau pulang, istirahat juga."
Jihan mengangguk meskipun Bapak tidak melihat. Ia tidak berjanji datang ke rumah hari itu hanya karena sedang senang. Sebagai gantinya, ia mengatakan akan mencari waktu berkunjung setelah melihat kegiatan berikutnya. Ibuk menerima tanpa kecewa, kemudian mengingatkan agar ia kembali sebelum jedanya habis.
Telepon ditutup dengan percakapan biasa tentang makanan dan kabar rumah. Jihan menyimpan ponsel sambil tersenyum. Ia senang dapat membawa kabar baik, tetapi lebih lega mengetahui suara mereka tetap hangat seperti ketika ia menelepon dengan cerita yang belum menyenangkan beberapa hari sebelumnya.
.
.
Di kantor, Bian sedang mengikuti peninjauan pekerjaan menjelang akhir enam minggu pertama. Dua kunjungan sudah dilaksanakan, beberapa keputusan selesai, dan ada tindak lanjut yang akan tetap ditangani tim dalam pekerjaan berikutnya.
Papa meminta bukan hanya laporan hasil, tetapi juga bagian yang perlu diperbaiki dari cara mereka bekerja. Bian menunjukkan keterlambatan bahan pada kunjungan pertama dan perubahan pembagian tugas yang membantu kunjungan kedua berjalan lebih teratur.
Ia menyebut pekerjaan Khairul dan tim di lokasi dengan jelas. Ketika ada usul agar semua persetujuan berikutnya kembali melalui dirinya, Bian meminta mereka meninjau kebutuhan itu satu per satu.
"Kalau semuanya kembali ke saya, pembagian kemarin tidak ada gunanya," katanya.
Papa memeriksa catatan, kemudian menyetujui agar keputusan sesuai kewenangan tetap ditangani oleh penanggung jawabnya. Bian masih harus memeriksa bagian tertentu, tetapi tidak perlu menjadi satu-satunya pintu bagi semua pekerjaan.
Rapat selesai dengan daftar tindak lanjut, bukan tawaran jabatan mendadak atau perjalanan baru yang harus langsung disanggupi.
Baru setelah kembali ke ruangan, Bian membaca pesan Jihan. Ia tersenyum dan menuliskan ucapan selamat. Ia juga bertanya apakah istrinya ingin makan di rumah atau keluar malam itu.
Jawabannya datang menjelang sore.
"Di rumah saja. Aku pengin duduk tanpa mikir pertanyaan."
Bian membalas setuju. Ia menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, lalu pulang tanpa membawa rencana kejutan besar yang justru akan membuat Jihan harus bersiap lagi.
.
.
Jihan datang membawa sebungkus camilan kecil. Ia meletakkannya di meja, kemudian memeluk Bian sebelum menceritakan hasil hari itu sekali lagi.
"Tadi masih ada yang aku nggak tahu," katanya.
"Tapi kamu bisa menyelesaikan pembahasannya."
"Iya. Aku nggak asal ngomong supaya kelihatan tahu."
Bian mengangguk. Ia mendengar kebanggaan yang berbeda dalam suara istrinya. Bukan karena berhasil menutupi kekurangan, melainkan karena dapat berdiri di hadapannya tanpa langsung merasa seluruh dirinya kurang.
Mereka makan dengan lauk sederhana. Sesudahnya Jihan mencuci piring sementara Bian merapikan meja. Ia bersenandung pelan, berhenti ketika lupa kelanjutannya, lalu tertawa sendiri.
"Sudah lama nggak dengar kamu begitu," ujar Bian.
"Suaraku bagus?"
"Saya bilang sudah lama."
Jihan memercikkan sedikit air dari ujung jarinya. Bian mundur sambil tertawa, kemudian menyerahkan lap sebelum lantai ikut basah.
.
.
Malam itu mereka membuka kalender untuk melepas beberapa catatan yang sudah selesai. Dua tanda perjalanan dicoret. Pengingat pembahasan ulang Jihan dipindahkan ke halaman catatan belajar, karena isinya masih berguna meskipun harinya sudah lewat.
Bian menunjukkan bahwa masa peninjauan awal proyek juga sudah dilalui. Pekerjaan tetap berlanjut, tetapi jadwal berikutnya belum menuntut perjalanan baru.
"Berarti bisa napas dulu?" tanya Jihan.
"Bisa. Bukan berhenti kerja."
"Aku nggak minta pensiun, mas."
Mereka tertawa. Jihan kemudian menyebut bahan kegiatan berikutnya yang akan diterimanya. Jalan menuju selesai pendidikan masih panjang, tetapi malam itu ia tidak mengucapkannya dengan wajah takut.
Sebelum menutup kalender, ia menulis satu rencana kecil untuk akhir pekan: sarapan di rumah, tanpa terburu-buru. Tidak perlu tempat baru, tidak perlu belanja tambahan.
Bian membaca tulisan itu dan mengangguk.
"Saya bikin minum."
"Aku urus makannya."
Jihan menyimpan pulpen dan merapat ke sisinya. Di ruangan yang sama, mereka pernah saling mengganggu karena suara pekerjaan, pernah duduk dengan mata sembap, dan pernah tertawa tentang kaus yang salah tumpukan. Apartemen itu belum memiliki ruang belajar tambahan, tetapi malam ini terasa cukup untuk menampung dua orang yang mulai tahu bagaimana memberi tempat satu sama lain.