Bian sampai di apartemen lebih dulu. Ia menaruh koper, mengganti pakaian, lalu berdiri di dapur sambil memeriksa isi lemari. Ada beberapa bahan sederhana, tetapi ia tidak cukup yakin bisa memasaknya tanpa membuat pekerjaan tambahan.
Ia akhirnya menyiapkan nasi dan membeli lauk. Sesudah itu ia membersihkan meja makan yang sebagian terisi berkasnya sendiri. Buku Jihan tidak disentuh; ia hanya menggeser kursi agar istrinya punya tempat duduk nyaman ketika pulang.
Pesan dari lokasi masuk saat ia sedang mencuci gelas. Pekerjaan kunjungan kedua telah selesai diperiksa, sementara tindak lanjut yang tersisa mempunyai penanggung jawab dan waktu laporan.
Bian membaca, menjawab seperlunya, lalu menutup laptop. Besok ia akan membawanya ke rapat kantor. Malam ini tidak perlu diisi dengan pemeriksaan yang sama untuk ketiga kalinya.
Ketika pintu terbuka, Jihan masuk tanpa langsung berbicara. Ia menaruh tas, melepas sepatu, lalu menghampiri Bian yang baru keluar dari dapur.
Pelukannya datang lebih dulu daripada salam panjang.
Bian merangkulnya dan menunggu. Jihan menyembunyikan wajah di dadanya selama beberapa saat sebelum akhirnya mendongak.
"Sudah pulang."
"Sudah."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Jihan seperti baru benar-benar mempercayainya setelah melihat koper di dekat lemari.
.
.
Sesudah mandi dan makan, Jihan membuka catatannya. Bian duduk tidak jauh, tetapi tidak ikut membaca kecuali diminta. Ia sudah belajar bahwa kehadiran tidak selalu harus berupa pertanyaan.
Jihan menulis satu halaman, mencoretnya, kemudian menulis lagi. Beberapa menit kemudian ia menyandarkan punggung dengan wajah kesal.
"Kalau aku baca, rasanya mengerti. Begitu harus jelaskan, hilang."
Bian menoleh. "Besok ada waktu bahas sama pembimbing?"
"Aku mau tanya kapan bisa. Bukan minta diajari semuanya, cuma memastikan arah perbaikannya."
"Tanya saja."
Jihan mengangguk, lalu menulis pertanyaan singkat agar besok tidak kembali panik dan lupa maksudnya. Ia berhenti belajar pada waktu yang telah ditentukan meskipun masih merasa belum cukup.
Menutup buku ternyata lebih sulit daripada membukanya.
Bian mengajaknya duduk di sofa. Mereka tidak menyalakan televisi keras-keras. Jihan menyandarkan kepala di bahunya dan meminta cerita tentang perjalanan, sesuatu yang tidak berkaitan dengan hasil belajarnya.
Bian bercerita tentang tim yang salah memperkirakan jumlah kursi rapat sehingga dirinya harus mengambil kursi dari ruangan sebelah. Jihan tertawa kecil ketika mengetahui kursi itu justru paling rendah.
"Pantas kamu kelihatan pendek di foto."
"Saya kira kamu nggak perhatikan."
"Perhatikan, lah. Suamiku sendiri."
Bian menoleh dan mencium keningnya singkat. Jihan memejamkan mata, membiarkan malam berhenti meminta hasil darinya.
.
.
Keesokan harinya Jihan memperoleh kesempatan singkat untuk memperjelas catatan pembimbing. Ia membawa pertanyaan yang sudah ditulis, sehingga percakapan tidak habis untuk mengatakan bahwa dirinya takut.
Pembimbing menunjukkan bagian yang perlu diterangkan lebih runtut dan meminta ia membedakan antara mengingat istilah dengan memahami alasan. Tidak ada janji bahwa pertemuan berikutnya akan mudah. Namun Jihan pulang dari pembicaraan itu dengan arah yang lebih jelas.
Ia membagi waktu belajar menjadi bagian lebih kecil. Setelah membaca, ia menutup sumber dan menjelaskan menggunakan kalimat sendiri. Ketika menemui bagian kosong, ia menandainya untuk diperiksa kembali, bukan menutupinya dengan kata-kata panjang.
Shasya mendengarkan satu latihan pada waktu senggang mereka. Kali ini ia mengajukan pertanyaan dari urutan yang berbeda.
Jihan sempat berhenti, menarik napas, lalu memulai dari hal yang benar-benar ia pahami.
"Nah, yang ini nyambung," kata Shasya.
"Masih lambat."
"Lambat nggak apa. Tadi lo nggak kabur ke halaman lain."
Jihan tersenyum tipis. Ia menulis bagian yang masih kurang, kemudian memberi giliran kepada temannya. Shasya juga punya bahan yang harus diperdalam; dunia tidak berhenti hanya karena Jihan sedang kesulitan.
Malamnya, Bian pulang membawa kabar bahwa laporan kunjungan keduanya telah diterima untuk dibahas dalam peninjauan akhir. Ia menceritakannya ketika Jihan sedang menyiapkan minum, lalu mendadak menghentikan kalimat seolah merasa waktunya tidak tepat.
Jihan menoleh. "Terus?"
"Nanti saja kalau kamu sudah selesai."
"Aku lagi bikin minum, bukan ujian. Cerita, mas."
Bian melanjutkan dengan suara yang lebih lepas. Ada bagian pekerjaan yang dahulu selalu kembali kepadanya, tetapi sekarang dapat ditangani tim sesuai pembagian. Jihan tidak memahami semua rinciannya. Ia tetap dapat mengenali rasa puas dalam wajah suaminya.
"Kamu senang, ya?"
"Iya. Lega juga."
Jihan menyerahkan gelas. "Ya sudah, jangan disembunyikan karena aku lagi kesulitan. Nanti rumah ini isinya masalahku semua."
Bian tersenyum kecil. Mereka duduk sebentar sebelum Jihan kembali belajar. Ia menanyakan apa yang masih harus disiapkan untuk rapat, lalu mendengarkan jawaban tanpa mengubahnya menjadi perbandingan dengan dirinya sendiri. Ada kebanggaan yang dapat ikut dirasakan meskipun urusannya sendiri belum selesai. Ketika Bian berterima kasih karena sudah mendengarkan, Jihan hanya mengangguk dan meminta ia menyimpan gelas setelah habis. Bantuan di rumah tetap diperlukan, bahkan pada hari ketika seseorang membawa kabar baik dari kantor.
.
.
Pada suatu malam di pertengahan minggu, Ibuk menelepon. Jihan sempat membiarkan ponsel berdering dua kali sebelum menjawab. Ia tidak ingin berbohong ketika ditanya kegiatan, tetapi belum tahu bagaimana mengatakan hasil penilaiannya.
Percakapan dimulai dari kabar rumah. Bik Sri mengirim makanan yang disukai Bapak, ada tanaman yang dipindahkan, dan Ibuk mengingatkan buku lama yang masih tertinggal di kamar Jihan.
Akhirnya Jihan sendiri yang membuka cerita.
"Buk, Adek ada pembahasan ulang minggu depan. Yang kemarin belum cukup."
Ia menunggu pertanyaan mengapa, atau perbandingan dengan hasil orang lain. Ibuk justru menanyakan bagian yang perlu dibantu.
"Adek lagi perbaiki cara belajarnya. Belum perlu apa-apa. Cuma mau cerita."
"Ya sudah. Ibuk dengarkan."
Jihan duduk lebih nyaman. Ia bercerita secukupnya, termasuk bahwa Bian sudah tahu dan teman-temannya membantu latihan. Ibuk tidak menawarkan menghubungi siapa pun di tempat belajarnya. Ia hanya mengingatkan agar Jihan bertanya kepada pembimbing ketika tidak memahami arahan.
Setelah telepon selesai, Jihan mendapati Bian sedang menunggu dengan dua gelas air.
"Sudah cerita?"
"Sudah. Ternyata aku yang kebanyakan membayangkan reaksi orang."
"Kadang memang begitu."
Ia menerima gelas dan meneguknya. Bahunya terasa lebih ringan, meskipun catatan di meja sama sekali tidak berkurang.
.
.
Menjelang hari pembahasan ulang, Jihan berhenti meminta Bian mendengarkan seluruh latihan. Suaminya tidak memahami isi materi, dan mereka sepakat bantuan itu mempunyai batas.
Bian mengambil bagian yang memang bisa dilakukannya: menyiapkan makan sesuai kesepakatan, menyelesaikan panggilan kerja sebelum waktu latihan, serta tidak terus menanyakan apakah Jihan sudah siap.
Suatu malam, Jihan keluar dari tempat belajarnya dan menemukan pakaian yang sudah dilipat di sofa. Lipatannya masih tidak serapi miliknya. Namun kali ini ia tidak mengomentari setiap sudut yang miring.
"Makasih, mas."
Bian mendongak. "Yang ini punyamu atau punya saya?"
Jihan menatap kaus yang diangkat, lalu tertawa. "Punyamu. Masa lupa."
"Belakangan kamu sering pakai."
Ia mengambil kaus itu dari tangan suaminya dan menaruhnya di tumpukan yang benar. Setelahnya mereka mematikan lampu bersama. Esok masih ada waktu belajar, tetapi malam itu Jihan tidak perlu menghabiskannya untuk menghukum diri karena satu hari yang tidak berjalan sesuai harapan.