Bian bangun karena suara sesuatu jatuh di dapur. Ia meraba sisi tempat tidur yang sudah kosong, lalu melihat jam sebelum keluar kamar.
Jihan berdiri di depan lemari dengan sendok di tangan. Di lantai ada tutup wadah yang masih berputar pelan.
"Bukan piring," katanya begitu melihat Bian.
"Saya belum tanya."
"Mukamu sudah."
Bian memungut tutup itu dan membawanya ke tempat cuci. Di meja sudah ada telur, roti, dan beberapa potong buah. Jihan rupanya benar-benar ingin menjalankan rencana sarapan mereka, meskipun rambutnya masih diikat asal dan matanya belum sepenuhnya terbuka.
"Saya bagian minum, kan?"
Jihan mengangguk. "Jangan tiba-tiba ambil alih. Aku sudah punya urutan."
Bian mengangkat tangan tanda menyerah, kemudian mencari gelas. Kali ini ia menemukannya sendiri tanpa menanyakan letaknya. Jihan tersenyum kecil ketika melihat itu, lalu kembali memperhatikan masakannya.
Mereka tidak menyiapkan makanan rumit. Telur di piring Bian sedikit berbeda bentuk dari yang dibayangkan Jihan, tetapi matang dengan baik. Roti dipanggang secukupnya, buah dimasukkan ke mangkuk, dan minuman diletakkan jauh dari tepi meja.
Ketika semuanya siap, Jihan justru berdiri memandangi dapur.
"Apa lagi?" tanya Bian.
"Mau memastikan kompornya mati."
Ia memeriksa sekali, lalu duduk. Bian sudah menunggunya sebelum mulai makan.
.
.
Pagi itu tidak ada yang harus berangkat lebih dulu. Mereka makan perlahan, membicarakan rasa roti dan kebiasaan Jihan mengambil potongan buah paling kecil.
"Biar kelihatannya masih banyak," jawabnya ketika ditanya.
"Padahal jumlahnya sama."
"Jangan semuanya dibantah pakai hitungan, mas."
Bian tertawa. Ponselnya diletakkan agak jauh, bukan sebagai pertunjukan bahwa ia sedang menjadi suami baik, tetapi karena memang tidak ada pekerjaan mendesak yang ditunggu pagi itu.
Jihan mengambil foto meja untuk dikirim kepada Ibuk. Setelah melihat hasilnya, ia memiringkan kepala.
"Kok kursinya kelihatan kosong sekali, ya?"
Bian mengikuti pandangannya. Ada tempat yang cukup jika mereka mengundang orang tua makan bersama, meskipun meja perlu ditata lebih rapat.
"Mau ajak Ibuk dan Bapak ke sini?"
Jihan mengangguk, lalu ragu. "Sama Mama Papa juga. Tapi aku belum pernah menjamu semuanya sendiri."
"Kita berdua."
Ia melirik Bian. "Kamu bisa masak apa selain bikin minum?"
"Saya bisa pesan makanan."
Jihan tertawa, tetapi gagasan itu tidak langsung ditolak. Mereka tidak harus memasak setiap hidangan untuk membuktikan bahwa apartemen tersebut layak menerima keluarga.
Ia mulai menyebut menu, sementara Bian mendengarkan. Pada pilihan kelima, suaminya mengangkat alis.
"Ini makan keluarga atau buka katering?"
Jihan berhenti, lalu melihat daftar yang ditulis di balik kertas belanja. Memang terlalu banyak.
.
.
Sesudah sarapan, mereka membersihkan dapur bersama. Jihan mencuci peralatan masak, Bian mengeringkan dan mengembalikannya. Mangkuk yang baru dicuci hampir ditaruh di rak yang salah, tetapi Bian memeriksa bentuk wadah di sebelahnya sebelum menempatkan kembali.
Jihan tidak mengomentari. Ia senang tidak semua kebiasaan baru harus disertai pengumuman.
Mereka kemudian melihat kalender dan memilih makan siang pada akhir pekan berikutnya, setelah memastikan Jihan tidak mendapat kegiatan yang berbenturan. Undangan disampaikan kepada kedua keluarga secara terpisah. Ibuk langsung bertanya perlu membawa apa, sedangkan Mama mengingatkan agar mereka tidak terlalu repot.
Jihan menjawab bahwa ia akan menanyakan lagi jika membutuhkan bantuan. Setelah telepon ditutup, ia duduk di sofa dengan wajah yang justru lebih serius daripada sebelumnya.
"Sekarang beneran harus menyiapkan."
"Tadi waktu mengundang memang bercanda?"
Jihan melempar bantal kecil ke pangkuan Bian. Suaminya menerima sambil tertawa, lalu mengajaknya membuat daftar kebutuhan yang sungguh-sungguh diperlukan.
Ternyata piring yang biasa mereka pakai tidak cukup untuk enam orang. Jihan langsung ingin membeli satu set baru. Bian meminta mereka memeriksa lemari lebih dulu.
Ada beberapa piring hadiah pernikahan yang masih tersimpan karena belum dipakai. Setelah dikeluarkan, jumlahnya cukup, meskipun bentuknya tidak seragam.
Jihan memandangi piring-piring itu cukup lama.
"Nggak cocok semua."
"Yang makan tetap orang tua kita."
"Aku tahu. Cuma pengin kelihatan bagus."
Bian mengangguk, tidak menertawakan keinginannya. Mereka mencoba menata dengan alas yang sama dan meletakkan piring berbeda secara berpasangan. Hasilnya tidak seperti foto majalah, tetapi rapi dan nyaman dilihat.
Jihan memotret susunannya agar tidak lupa.
Setelah piring dikembalikan ke lemari, mereka menghitung perkiraan bahan dan makanan yang akan dibeli. Jihan sempat menulis jumlah terlalu banyak karena membayangkan setiap orang mengambil semua hidangan dalam porsi besar.
Bian mengambil pensil dan menanyakan kebiasaan makan orang tua mereka. Bapak biasanya menyukai satu lauk utama, sementara Papa tidak selalu menambah nasi. Jihan berhenti menghitung tamu seperti jumlah kursi dalam acara besar dan mulai membayangkan orang yang benar-benar akan datang.
Daftarnya berkurang tanpa membuat hidangan terasa kurang.
"Kalau habis bagaimana?" tanyanya.
"Kita siapkan secukupnya. Bukan berarti harus ada sisa untuk satu minggu."
Jihan mengangguk, lalu menambahkan buah sebagai penutup sebelum teringat Ibuk tadi sudah menawarkan membawanya. Ia menghapus tulisan itu dan mengirim pesan untuk menerima tawaran tersebut.
Rasanya sedikit aneh menerima bantuan setelah berniat menjamu sendiri. Namun Ibuk membalas dengan senang, bahkan menanyakan buah yang disukai Bian. Jihan menunjukkan pesan itu kepada suaminya. Mereka memilih sesuatu yang mudah disajikan, kemudian menutup daftar sebelum muncul keinginan menambah menu lagi. Jihan menyimpan pensil di atas buku belanja, jauh dari tempat sendok, lalu menatap Bian dengan senyum yang membuat suaminya tahu kejadian salah menaruh pensil dulu belum dilupakan.
.
.
Siang harinya mereka turun membeli beberapa kebutuhan. Jihan membawa daftar pendek, sementara Bian memegang keranjang. Di depan rak alat makan, ia sempat berhenti lagi melihat satu set yang warnanya seragam.
Bian tidak menariknya pergi. Ia membiarkan Jihan mempertimbangkan sebelum istrinya sendiri menggeleng.
"Yang di rumah cukup."
"Yakin?"
"Iya. Kalau beli ini, nanti aku mau ganti gelas juga. Terus taplak. Terus suami karena yang lama banyak komentar."
"Yang terakhir nggak dijual di sini."
Jihan tertawa dan berjalan lebih dulu. Ia membeli bahan yang tahan disimpan, sementara bahan segar akan dibeli mendekati hari makan siang. Bian menambahkan satu barang yang lupa masuk daftar: kantong sampah.
"Sangat romantis belanjanya," komentar Jihan.
"Nanti kamu senang waktu butuh."
Di kasir, mereka memeriksa barang sekali lagi. Tidak ada pembelian besar, hanya kebutuhan yang selama ini mudah luput ketika tinggal berdua dan memikirkan pekerjaan masing-masing.
Saat kembali ke apartemen, Jihan menyimpan daftar menu di dekat lemari. Ia masih gugup membayangkan kedua orang tua mereka duduk di meja yang sama. Namun kegugupan itu berbeda dari rasa takut dinilai ketika menjalani pembahasan ulang.
Ia ingin mengundang, ingin memasak satu hidangan yang dikenalnya sejak kecil, dan ingin menunjukkan bagian hidup yang kini dibangun bersama Bian.
"Mas, nanti jangan panggil tamunya sebelum aku selesai mandi."
Bian menoleh dari kantong belanja. "Mereka punya jadwal datang sendiri."
"Makanya bantu aku selesai sebelum itu."
"Siap."
Jihan tersenyum, lalu melipat kantong kosong. Sarapan yang sederhana ternyata menghasilkan rencana baru. Kali ini ia tidak harus menyiapkannya sendirian, dan ia berniat benar-benar mengingat hal tersebut sampai hari yang dijanjikan tiba.