Jihan keluar dari ruangan dengan buku catatan menempel di dada. Shasya yang sedang menunggu giliran langsung berdiri, tetapi pertanyaannya tertahan melihat wajah temannya.
"Nanti gue cerita," ujar Jihan.
Shasya mengangguk. Ia menyentuh lengan Jihan sebentar sebelum namanya dipanggil. Jihan berjalan ke tempat duduk yang lebih sepi, membuka botol minum, lalu menutupnya lagi tanpa minum.
Penilaiannya tidak selesai seperti yang diharapkan.
Ia dapat menjawab bagian awal, tetapi ketika diminta menjelaskan alasan, pikirannya melompat ke kalimat yang sudah dihafal. Pembimbing memberi kesempatan untuk mengulang. Jihan justru semakin terburu-buru, lalu berhenti pada bagian yang seharusnya masih bisa diterangkan.
Ia diminta memperdalam beberapa hal dan mengikuti pembahasan ulang minggu berikutnya. Catatan itu bukan akhir pendidikannya, tetapi saat duduk sendirian, Jihan sulit melihatnya sebagai sesuatu selain kegagalan.
Ia membuka buku dan mencoba menuliskan kembali bagian yang diingat. Pada baris pertama, tulisannya terlalu kecil dan menekan kertas sampai hampir robek. Jihan berhenti, melonggarkan pegangan pulpen, lalu mulai lagi.
Ada jawaban yang sebenarnya telah dimilikinya sebelum masuk ruangan. Ia melewatkannya karena terlalu sibuk menebak apakah wajah pembimbing menunjukkan puas atau kecewa. Di bagian lain, ia memang belum memahami alasan dengan cukup baik. Kedua hal itu terasa sama ketika panik, tetapi memerlukan perbaikan yang berbeda.
Jihan membuat dua catatan pendek. Yang satu tentang materi yang perlu dipelajari, yang lain tentang kebiasaannya menjawab sebelum pertanyaan selesai. Ia tidak menulis daftar panjang kesalahan diri. Halaman itu harus dapat dipakai besok, bukan menjadi tempat memarahi dirinya sendiri selama berjam-jam.
Sebelum meninggalkan area tersebut, ia memastikan kembali waktu pembahasan ulang melalui petugas yang mengatur jadwal. Ia mencatatnya dengan jelas, termasuk kapan perlu hadir, lalu menyimpan buku ke tas. Kejelasan kecil itu membantu meskipun dadanya masih sesak. Setidaknya ia tidak perlu pulang sambil bertanya-tanya apakah salah mendengar arahan terakhir.
Di dekat tempat duduk, seseorang meninggalkan kursi sedikit menghalangi jalan. Jihan menggesernya kembali sebelum duduk. Gerakan sederhana itu membuatnya menyadari bahwa hari masih berjalan. Ia masih dapat mengurus sesuatu dengan benar, meskipun satu pembahasan tadi belum berhasil diselesaikannya seperti yang diharapkan.
Ponselnya bergetar. Bian mengirim foto makan siang dan bertanya apakah kegiatannya sudah selesai.
Jihan mengetik bahwa ia sudah keluar. Ia menambahkan satu kalimat tentang pembahasan ulang, lalu menghapus kalimat yang mengatakan dirinya bodoh.
Pesan yang akhirnya dikirim jauh lebih pendek.
"Belum sesuai harapan, mas. Aku masih harus perbaikan minggu depan. Lagi sedih."
.
.
Bian membaca pesan itu di sela pemeriksaan. Tangannya sudah bergerak hendak menelepon, tetapi ia melihat waktu dan menahan diri untuk bertanya lebih dulu apakah Jihan bisa bicara.
Jawabannya datang beberapa menit kemudian. Jihan masih ada kegiatan, akan menghubungi setelah selesai.
Bian memasukkan ponsel kembali ke saku. Ada dorongan kuat untuk mencari orang yang bisa membantu, mungkin Mama atau Bhima. Namun Jihan tidak meminta jalan pintas, dan ia tidak tahu apakah istrinya ingin hasil penilaian tersebut dibicarakan kepada keluarga.
Ia membalas bahwa dirinya akan menunggu kabar, kemudian kembali kepada tim. Di hadapannya ada pekerjaan yang juga harus diselesaikan dengan benar, bukan ditinggalkan sambil berpura-pura sedang menolong dari jauh.
Pemeriksaan hari itu berjalan sesuai urutan. Bian meminta satu bagian dijelaskan ulang dan memastikan catatan perubahan masuk ke berkas bersama. Menjelang sore, ia mendapat kepastian bahwa pekerjaan utama kunjungan dapat selesai keesokan pagi.
Ia mengirim kabar perjalanan kepada Jihan tanpa menyelipkan desakan agar istrinya segera bercerita.
.
.
Jihan akhirnya minum setelah Ranza duduk di sebelahnya. Temannya tidak membuka percakapan dengan pertanyaan tentang nilai.
"Mau makan dulu?"
Jihan menggeleng, lalu mengangguk ketika perutnya berbunyi. Ranza tidak menertawakan. Mereka mencari makanan sederhana dan duduk bersama sampai Shasya menyusul.
Baru setelah beberapa suap Jihan menjelaskan apa yang terjadi. Ia menunjukkan catatan pembimbing, bukan hanya mengulang bahwa dirinya gagal.
Ranza membaca sebentar. "Yang diminta ini jelas. Kita mulai dari sini."
"Tapi kemarin sudah dibahas."
"Berarti cara belajar kemarin belum cukup buat bagian ini. Bukan berarti nggak bisa lagi."
Jihan menunduk. Ia belum siap merasa optimistis, dan untungnya kedua temannya tidak memaksanya. Mereka hanya menentukan kapan dapat bertemu untuk membahas ulang, setelah Jihan punya waktu meninjau sumbernya sendiri.
Shasya mengingatkan agar ia tidak membaca seluruh bahan dari awal sampai lupa bagian yang benar-benar perlu diperbaiki.
"Lo mau menenangkan panik atau mau memahami?" tanyanya.
Jihan mengusap sudut mata yang terasa panas. "Sekarang masih panik."
"Ya sudah, makan dulu."
Nasihat itu tidak terdengar istimewa. Namun Jihan menurut, dan sedikit demi sedikit tangannya berhenti gemetar saat memegang sendok.
.
.
Di apartemen malam itu, ia menelepon Bian setelah mandi. Wajah suaminya muncul di layar dengan latar kamar penginapan yang terang.
"Sudah makan?" tanya Bian.
"Sudah. Jangan tanya itu lagi, nanti aku merasa semua orang kerjaannya menyuruh makan."
Bian tersenyum kecil. "Baik. Saya dengar."
Jihan mulai bercerita. Ia mengulang pertanyaan yang membuatnya buntu tanpa membawa rincian pribadi siapa pun. Bian tidak mencoba menjawabnya. Ia hanya mendengarkan saat suara Jihan mulai bergetar karena mengingat teman-teman yang tampak lebih lancar.
"Aku malu, mas. Sudah belajar, tetap begitu."
"Saya tahu kamu sudah belajar."
"Tapi hasilnya belum cukup."
"Iya. Dan kamu boleh sedih soal itu."
Jihan diam. Ia tadinya menunggu kalimat bahwa semuanya pasti baik, padahal Bian tidak dapat memastikan hasil minggu depan. Jawaban suaminya justru membuatnya tidak perlu membuktikan seberapa buruk perasaannya.
Ia menangis sebentar. Bian tetap di sana, tidak menyuruh segera berhenti, tidak pula mengubah percakapan menjadi ceramah tentang kekuatan.
Setelah lebih tenang, Jihan meminta satu hal.
"Jangan bilang ke Mama atau yang lain dulu. Aku mau cerita sendiri kalau sudah siap."
"Iya. Saya belum bilang siapa-siapa."
Jihan mengangguk lega. Ia menyeka wajah dan mengeluh hidungnya tersumbat akibat menangis, membuat Bian menawarkan waktu sebentar untuk mengambil tisu.
.
.
Mereka tidak berlatih malam itu. Jihan sudah terlalu lelah untuk menerima bahan baru. Ia hanya membuka catatan pembimbing, menyalin tiga bagian yang perlu diperdalam, dan meletakkannya di meja untuk esok hari.
Bian masih menemaninya melalui layar ketika ia menyiapkan pakaian. Ada sesuatu yang menenangkan dari suara biasa suaminya, bahkan ketika mereka tidak sedang membicarakan masalah besar.
"Besok kamu pulang?"
"Rencananya setelah pemeriksaan terakhir. Saya kabari sebelum berangkat."
"Aku mungkin belum selesai waktu kamu sampai."
"Nggak apa-apa."
Jihan meletakkan pakaian di tempatnya. Ia ingin mengatakan agar Bian cepat pulang, tetapi tidak ingin suaminya mengambil risiko atau meninggalkan pekerjaan setengah jelas demi meredakan sedihnya.
"Aku tunggu di rumah nanti," katanya akhirnya.
Bian mengangguk. "Saya juga ingin pulang."
Sesudah telepon ditutup, Jihan mematikan lampu utama. Kesedihannya belum habis, dan pembahasan ulang masih terasa menakutkan. Namun di meja sudah ada tiga hal yang dapat dikerjakan, bukan tumpukan ketakutan tanpa bentuk. Ia menarik selimut dan membiarkan dirinya beristirahat sebelum mencoba lagi.