Suara Bian dari ruang tengah terdengar sampai meja belajar. Awalnya Jihan masih bisa mengabaikannya. Ia membaca ulang satu paragraf, mencoba menjelaskan dengan kata-katanya sendiri, lalu berhenti ketika tawa singkat dari pengeras suara memotong kalimatnya.
Bian sedang mengikuti pembicaraan tim menjelang keberangkatan. Ia memakai suara rendah, tetapi suara orang lain tetap memenuhi ruangan.
Jihan menutup mata sebentar. Mereka sudah membicarakan waktu belajar, namun rupanya belum membicarakan apa yang terjadi ketika keduanya perlu bekerja bersamaan.
Ia mendekat dan menyentuh bahu Bian. Suaminya menoleh. Jihan menunjuk pengeras suara, lalu memberi isyarat ke arah buku.
Bian langsung mengecilkan volume. Itu membantu sedikit, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Jihan masih mendengar potongan percakapan dan tanpa sengaja mengikuti kalimatnya.
Setelah panggilan berakhir, Bian menghampirinya.
"Masih kedengaran?"
"Iya. Aku tadi baca halaman yang sama tiga kali."
"Saya pikir sudah pelan."
"Pelan, tapi tetap ada."
Bian memandangi meja, lalu ruang duduk yang memang tidak terpisah jauh. Apartemen yang terasa cukup luas ketika hanya dipakai bersantai mendadak memiliki banyak kebutuhan pada waktu yang sama.
Jihan menggeser buku. "Bukan berarti kamu nggak boleh kerja, mas. Kita perlu cari cara."
.
.
Mereka mencoba beberapa pengaturan malam itu. Bian memakai perangkat dengar agar suara tim tidak keluar ke ruangan, tetapi suaranya sendiri tetap terdengar. Jihan mencoba berpindah ke kamar, lalu mengeluh karena tempat duduknya tidak nyaman untuk menulis lama.
"Jangan beli meja dulu," katanya ketika melihat Bian mulai memperhatikan sudut kosong.
"Saya belum bilang beli."
"Mukanya sudah menghitung ukuran."
Bian tidak menyangkal. Ia memang sempat melakukannya.
Akhirnya, panggilan yang sudah terjadwal akan dilakukan Bian dari kantor jika memungkinkan. Jika harus dari rumah, mereka akan menyesuaikan waktu agar latihan lisan Jihan tidak bertabrakan. Untuk malam itu, Jihan meninjau catatan yang tidak perlu dibaca keras sementara Bian menyelesaikan satu panggilan singkat lagi dari kamar.
Solusinya tidak membuat apartemen berubah bentuk. Namun setelah dicoba, keduanya dapat bekerja tanpa terus saling meminta diam.
Ketika selesai, Jihan merentangkan tangan ke atas dan mengeluh bahunya pegal. Bian mendekat, memijatnya sebentar dengan gerakan pelan.
"Masih mau punya ruang belajar sendiri suatu hari nanti," gumam Jihan.
"Dicatat."
"Bukan besok dibeli."
"Saya tahu."
Ia menoleh untuk memastikan Bian tidak sedang membuka iklan rumah. Suaminya malah tertawa melihat kecurigaannya.
.
.
Di kantor keesokan harinya, Bian memeriksa bahan kunjungan kedua bersama Khairul. Kali ini daftar yang dibawa jauh lebih singkat karena beberapa pekerjaan sudah diselesaikan tim di lokasi.
Ia menemukan satu catatan yang belum memiliki jawaban. Refleks pertamanya adalah memasukkan masalah itu ke daftar yang akan ia periksa sendiri. Namun Khairul menunjukkan nama penanggung jawab yang sudah tercantum.
"Tanya dulu hasilnya. Bisa jadi tinggal belum ditulis."
Bian menghubungi orang tersebut. Benar saja, jawabannya sudah ada, hanya belum masuk ke berkas bersama. Ia meminta pembaruan dilakukan hari itu agar tidak ada dua versi yang berbeda saat mereka tiba.
Setelah percakapan selesai, Khairul menatapnya sambil tersenyum.
"Lumayan, satu pekerjaan nggak jadi kamu ambil."
"Saya masih harus periksa hasilnya."
"Ya periksa. Beda dengan mengulang semuanya sendiri."
Bian mengangguk. Di meja lain, Patricia sudah menyiapkan perubahan jadwal rapat supaya tidak bertumpuk pada hari kepulangan. Ia mengucapkan terima kasih sebelum kembali membaca bahan perjalanan.
Untuk pertama kalinya sejak menerima tanggung jawab itu, ia dapat melihat pekerjaan bergerak tanpa harus menarik setiap bagiannya sendiri.
.
.
Sore itu Jihan berlatih dengan Shasya dan Ranza. Mereka saling memberi pertanyaan dan membiarkan orang yang menjawab menyelesaikan pikirannya sebelum dikoreksi.
Ketika mendapat pertanyaan lanjutan, Jihan terdiam lebih lama daripada yang diinginkannya. Ia mengetahui beberapa istilah, tetapi kesulitan menjelaskan hubungan antarbagian tanpa kembali membaca.
Shasya menunggu, lalu menunjuk catatannya.
"Kayaknya lo hafal susunannya, bukan alasannya."
Jihan menghela napas. "Iya. Kalau pertanyaannya beda sedikit, gue bingung."
Mereka kembali ke sumber dan membahas bagian tersebut. Ranza meminta Jihan menjelaskan dari awal tanpa meniru urutan kalimat dalam buku. Percobaan pertama berantakan. Percobaan kedua lebih pendek, tetapi setidaknya Jihan tahu bagian mana yang belum dipahami.
Ia pulang membawa daftar pertanyaan yang lebih sedikit dan lebih jelas. Hal itu seharusnya membuatnya lega, tetapi melihat hari penilaian semakin dekat tetap membuat perutnya tidak nyaman.
Sebelum mereka berpisah, Shasya mengabarkan bahwa ia tidak bisa menemani latihan pada salah satu waktu yang semula disepakati. Ada keperluan keluarga yang tidak dapat ditunda. Jihan sempat merasa kecewa, lalu buru-buru memeriksa jadwal Ranza seolah temannya itu pasti tersedia sebagai pengganti.
Ranza menggeleng. Ia juga sudah punya kegiatan.
Jihan menahan kalimat yang hampir terdengar seperti tuntutan. Keduanya selama ini membantu, tetapi mereka bukan orang yang harus selalu siap setiap kali dirinya cemas.
"Oke. Gue pakai waktu itu buat baca bagian yang belum paham dulu," katanya.
Shasya menawarkan waktu lain yang lebih singkat. Setelah memeriksa jadwal masing-masing, mereka sepakat hanya membahas dua hal terpenting agar pertemuan itu tidak melebar sampai malam. Jihan mencatatnya, kemudian meminta maaf karena tadi langsung mencari pengganti tanpa bertanya apakah mereka masih punya tenaga.
"Santai. Asal jangan kasih pertanyaan satu buku," jawab Ranza.
Di kendaraan menuju rumah, Jihan membuka daftar yang telah dibuat. Ia mencoret beberapa pertanyaan yang ternyata bisa dijawab dengan membaca ulang sumber secara teliti. Dua pertanyaan lain diberi tanda untuk dibawa kepada pembimbing. Daftar yang lebih pendek itu bukan berarti ia tiba-tiba mengerti semuanya, tetapi setidaknya ia tidak lagi meminta teman-temannya ikut menanggung seluruh kepanikannya. Ia mengirim hasil pembagian tersebut ke kelompok, lalu menutup ponsel sampai tiba di apartemen.
Bian menemukan istrinya sedang duduk memandangi buku yang tertutup ketika ia selesai memasukkan barang ke koper.
"Mau ditemani latihan?"
Jihan menggeleng. "Aku perlu cek bagian ini sama orang yang paham. Kamu temani makan saja."
"Boleh."
Mereka duduk di dapur. Jihan menghabiskan makanannya perlahan, sementara Bian mengingatkan waktu keberangkatannya besok. Tidak ada permintaan agar Jihan bangun hanya untuk mengantar.
"Aku tetap mau pamit," katanya.
"Pamit boleh. Habis itu tidur lagi kalau masih perlu."
.
.
Pagi keberangkatan, Jihan muncul dengan mata setengah terbuka dan kerudung yang belum dirapikan benar. Bian sudah siap dengan koper kecil di dekat pintu.
Ia membetulkan bagian kerudung yang terlipat, lalu menunggu Jihan selesai menguap sebelum berbicara.
"Saya berangkat. Kamu jangan lupa sarapan."
"Kamu juga."
Jihan memeluknya sebentar. Kali ini ia tidak menyelipkan pesan lucu di koper. Ia hanya meminta Bian mengirim kabar ketika sudah tiba, kemudian berdiri di pintu sampai suaminya masuk lift.
Setelah kembali ke dalam, Jihan menutup pintu dan memeriksa jam. Ia masih memiliki waktu sebelum berangkat. Alih-alih langsung membuka buku, ia membuat sarapan dan duduk memakannya sampai selesai.
Di samping piring, daftar pertanyaannya menunggu. Ia menarik napas, memilih satu yang paling perlu dipahami, lalu mulai membaca setelah tangannya tidak lagi sibuk memegang sendok.