Tempat makan pilihan Jihan ternyata penuh. Bian berdiri di sampingnya sambil memandangi daftar antrean, lalu melirik wajah istrinya yang sudah berubah kecewa.
"Masih mau tunggu?"
"Katanya cuma sebentar."
Sebentar menurut petugas berbeda dengan sebentar menurut perut Jihan. Setelah beberapa menit, ia mulai memandangi restoran di seberang. Bian mengikuti arah matanya dan tersenyum.
"Boleh pindah. Ini bukan ujian kesetiaan."
Jihan mencubit lengannya. "Aku lagi mempertimbangkan."
Mereka akhirnya memilih tempat lain yang lebih sepi. Jihan duduk dekat jendela, membuka menu, lalu menemukan makanan yang justru membuatnya lupa pada pilihan pertama. Bian membiarkannya memesan sebelum menambahkan minuman untuk dirinya sendiri.
"Jangan bilang kamu sebenarnya lebih suka di sini," ancam Jihan ketika pelayan pergi.
"Saya belum pernah makan di sini."
"Tapi mukanya puas."
"Karena sudah duduk."
Jihan tertawa. Ia melepas tas dari bahu dan menaruhnya di kursi kosong. Tidak ada buku yang dikeluarkan, tidak ada berkas yang harus dibuka. Untuk beberapa saat ia bahkan bingung harus memulai percakapan dari mana jika bukan tentang jadwal.
Bian rupanya mengalami hal yang sama. Ia memandang jalan di luar, lalu bertanya apakah Jihan ingin memesan makanan tambahan.
"Mas, yang pertama saja belum datang."
"Iya juga."
Mereka saling memandang sebelum tertawa bersamaan.
.
.
Percakapan akhirnya dimulai dari hal kecil. Jihan menunjuk pasangan tua yang berjalan perlahan di luar jendela, bukan untuk membicarakan mereka, melainkan karena tas belanja yang dibawa mengingatkannya pada kebiasaan Bapak.
"Bapak selalu merasa kantong belanja bisa diisi satu barang lagi. Terus Ibuk yang ngomel kalau berat."
"Kamu mirip siapa?"
"Ibuk kalau ngomel. Bapak kalau belanja."
"Lengkap."
Jihan mengangguk bangga. Setelah makanan datang, ia bercerita tentang rumah lamanya, tentang Bik Sri yang selalu tahu jika ia mencari makanan malam-malam, dan tentang suara televisi Bapak yang bisa terdengar dari tangga.
Bian mendengarkan sambil sesekali bertanya. Ia mengenal keluarga Jihan sebagai orang dewasa yang menyambutnya baik-baik. Hal-hal kecil yang diceritakan istrinya membuat rumah itu terasa lebih hidup dalam bayangannya.
Sebagai gantinya, ia bercerita tentang kebiasaan Bhima menaruh barang di tempat yang membuat mereka saling menuduh ketika masih tinggal serumah. Jihan hampir tersedak karena tertawa saat Bian mengaku pernah membawa buku yang salah dan baru menyadarinya setelah sampai tujuan.
"Jadi dari dulu memang suka salah masuk tas?"
"Sekali."
"Yakin?"
Bian memilih minum. Jihan menganggapnya sebagai kemenangan.
Setelah makan, mereka berjalan tanpa mencari barang tertentu. Di depan toko buku, Jihan memperlambat langkah. Bian langsung membukakan jalan tanpa perlu ditarik.
Ia menghabiskan waktu cukup lama membalik sebuah buku tipis yang tidak berhubungan dengan kuliah. Ketika Bian bertanya apakah ingin membelinya, Jihan menggeleng.
"Nanti. Di rumah masih ada yang belum dibaca."
Bian tidak memaksa menawarkan hadiah. Ia hanya menunggu sampai Jihan mengembalikan buku ke tempatnya, lalu mengulurkan tangan lagi.
Sebelum pulang, mereka berhenti di dekat tempat duduk kosong. Jihan ingin beristirahat sebentar karena alas kakinya mulai terasa tidak nyaman. Bian duduk di sampingnya, sementara orang-orang berlalu membawa kantong belanja.
"Harusnya tadi pakai yang biasa," gumam Jihan sambil memandangi ujung sepatunya.
"Kenapa pilih yang ini?"
"Mau kelihatan cantik."
Bian menoleh. Jawaban yang terlalu jujur itu membuat Jihan mendadak malu sendiri. Ia segera menambahkan bahwa sepatu tersebut sebenarnya nyaman, hanya sudah dipakai berjalan terlalu lama.
"Saya senang kamu ikut makan, bukan sedang menilai sepatumu," ujar Bian.
"Sekali-sekali bilang bagus juga boleh."
Bian menatap sepatunya dengan sungguh-sungguh. "Bagus. Tapi kasihan yang memakainya."
Jihan tertawa dan menyandarkan bahu kepadanya. Mereka menunggu sampai kakinya terasa lebih enak sebelum melanjutkan jalan dengan langkah lebih pelan. Bian tidak menariknya agar cepat sampai. Ia mengikuti kecepatan Jihan, sesekali berhenti ketika istrinya ingin membetulkan posisi kaki.
Sesampainya di apartemen, sepatu itu langsung dilepas. Jihan berjalan tanpa alas menuju sofa dan menjatuhkan diri dengan lega. Bian membawakan air, lalu duduk di dekatnya. Tidak ada foto makan malam yang diunggah malam itu. Mereka hanya memiliki percakapan panjang, perut kenyang, dan sepasang sepatu yang menurut Jihan harus diberi waktu istirahat sebelum dipakai berkencan lagi.
.
.
Dua minggu berikutnya berlalu dalam kesibukan yang lebih teratur, meskipun tidak selalu ringan. Ada malam ketika Bian pulang dan mendapati Jihan sudah tidur. Ada pagi ketika mereka hanya bertemu selama beberapa menit sebelum salah satunya berangkat.
Jihan menyimpan struk makan malam itu di halaman belakang buku catatannya. Bukan karena makanannya istimewa, tetapi karena ia ingin mengingat bahwa mereka pernah berhasil berhenti membicarakan pekerjaan selama beberapa jam.
Suatu sore, ia menerima jadwal penilaian lisan dalam kegiatan belajarnya. Waktunya berdekatan dengan kunjungan kedua Bian yang sudah tercatat sejak awal.
Ia memeriksanya dua kali, kemudian mengirim kabar kepada suaminya. Setelah itu ia duduk bersama Shasya dan Ranza untuk menentukan waktu latihan.
"Jangan semuanya malam terakhir," ujar Ranza.
"Gue setuju sebelum nanti gue sendiri melanggar," sahut Shasya.
Jihan tertawa, tetapi ia membuat jadwal kecil yang benar-benar bisa dijalankan. Tidak setiap waktu kosong harus diisi. Ia sudah tahu hasil belajar ketika mata mengantuk sering hanya berupa garis stabilo tanpa pemahaman.
Malamnya, Bian memeriksa kedua jadwal di meja makan. Ia tidak langsung menawarkan membatalkan perjalanan.
"Yang kamu perlukan dari saya sebelum berangkat apa?"
Pertanyaan itu membuat Jihan berpikir. Ia sempat ingin menjawab agar Bian tetap di rumah, tetapi yang paling mengganggunya justru sesuatu yang lebih sederhana.
"Waktu tenang. Kalau aku lagi latihan, jangan ajak ngobrol sebentar-sebentar."
Bian mengangkat alis. "Saya sering?"
"Nanya charger di mana, kunci di mana, sudah makan belum. Terus aku lupa sampai mana."
Ia mengatakannya tanpa menuduh, tetapi Bian tetap tampak sedikit tersentil. Jihan buru-buru menyentuh tangannya.
"Aku suka kamu perhatian. Cuma kalau semuanya pas aku lagi mikir, buyar."
Bian mengangguk setelah diam sebentar. Mereka menyepakati waktu belajar yang tidak diganggu kecuali ada hal penting. Urusan makan dibicarakan sebelumnya. Barang kerja masing-masing ditaruh di tempat yang jelas agar pertanyaan kecil tidak terus berulang.
"Terus kalau saya kangen?" tanya Bian.
Jihan menatapnya, curiga suaminya sedang mencari celah.
"Antre."
Bian tertawa. "Baik."
.
.
Hari pertama mencoba aturan itu, justru Jihan yang keluar dari tempat belajarnya sebelum waktunya selesai. Ia berdiri dekat sofa sambil memegang pulpen.
Bian mendongak dari bacaan. "Sudah selesai?"
"Belum. Aku mau tanya."
"Tentang apa?"
Jihan memandangi ponsel di tangannya sendiri, lalu tertawa malu. Ia baru hendak menunjukkan video lucu dari Kani.
Bian tidak mengejek. Ia hanya menunjuk jam dan berkata bahwa video itu boleh menunggu bersama rasa kangennya tadi.
Jihan kembali duduk sambil tersenyum. Setelah waktu belajarnya selesai, ia benar-benar menutup buku. Mereka menonton video itu bersama, kemudian menyiapkan makan malam sederhana.
Kunjungan kedua belum dimulai dan penilaian belum dihadapi. Namun malam itu Jihan berhasil menyelesaikan bagian yang direncanakan tanpa terjaga sampai terlalu larut. Bian mendapat istrinya kembali sesudahnya, lengkap dengan cerita yang tidak lagi terputus oleh halaman yang harus segera dibaca.