Kavin sudah menunggu di ruang depan ketika Bian dan Jihan tiba di rumah Mama. Anak itu membawa kotak berisi balok mainan yang salah satu sudutnya hampir terbuka karena terlalu penuh.
"Om, bikin rumah."
Bian menerima kotaknya sebelum isinya jatuh. "Salam dulu."
Kavin menurut dengan cepat, kemudian beralih kepada Jihan. Kali ini ia tidak menarik Bian menjauh seolah hanya dirinya yang berhak duduk di dekat sang om.
"Tante juga. Tapi jangan tinggi. Kemarin roboh."
"Berarti Tante bagian apa?"
Kavin berpikir sungguh-sungguh. "Pintu."
Jihan mengangguk seolah baru menerima tugas besar. Ia menyapa Mama dan Mbak Al lebih dulu sebelum duduk di karpet. Bian melepaskan jam tangan, menggulung sedikit lengan baju, lalu mulai memisahkan balok sesuai ukuran.
Kavin segera memprotes karena rumahnya belum juga berdiri.
"Om kerja dulu, Bang."
"Lama."
Jihan tertawa. "Kliennya galak, mas."
Mbak Al yang mendengar dari sofa hanya menggeleng sambil tersenyum.
.
.
Rumah balok itu akhirnya memiliki pintu terlalu besar dan atap yang tidak simetris. Kavin menolak ketika Bian hendak memperbaiki salah satu sisi, sehingga sang arsitek menyerah dan membiarkannya sesuai keinginan pemilik.
Jihan memotret hasilnya setelah mendapat izin Kavin. Ia kemudian membantu membereskan balok yang tidak dipakai agar tidak terinjak. Dari dapur, Mama memanggil mereka makan.
Di meja, pembicaraan beralih dari kegiatan anak-anak menuju pekerjaan Bian. Papa menanyakan bagaimana kunjungan pertama dalam tanggung jawab barunya. Bian menjawab seperlunya, mengatakan pekerjaan tertunda sudah dibagi dan laporan berikutnya akan diperiksa di kantor.
"Bagus kalau timnya mulai pegang bagian masing-masing," kata Papa.
Jihan mengambil sayur sambil mendengarkan. Ia senang Bian tidak harus memotong waktu makan untuk membuka laptop. Namun ketika Papa hendak membahas satu rincian tambahan, Mama lebih dulu menunjuk piring suaminya.
"Makan dulu. Kantornya besok masih ada."
Papa tertawa pendek. Bian menunduk menyembunyikan senyum, sementara Jihan pura-pura sibuk dengan sendoknya.
Setelah itu Mama menanyakan kegiatan Jihan. Ia bercerita tentang presentasi kelompok yang sempat kacau, kemudian diperbaiki bersama teman-temannya.
"Masih banyak koreksinya, Ma."
"Koreksi itu dibawa belajar. Jangan dibawa tidur semuanya," jawab Mama.
Jihan mengangguk. Ia hampir mengaku bahwa beberapa koreksi memang sempat ikut masuk mimpi, tetapi Bhima lebih dulu menyela dengan cerita masa belajarnya yang membuat meja menjadi ramai.
Jasmine menambahkan satu bagian yang sengaja dilewatkan suaminya. Bhima menoleh dengan wajah pasrah, dan Jihan tertawa sampai harus meletakkan gelas.
Untuk beberapa saat, ia tidak merasa sebagai orang paling baru atau paling belum mampu di antara mereka.
Jasmine kemudian menanyakan kapan mereka biasanya mendapat waktu belajar bersama. Jihan menjelaskan bahwa jadwal kelompok tidak selalu cocok, sehingga sebagian pekerjaan dibahas lewat panggilan singkat. Ia hampir meminta cara agar tidak pernah gugup lagi, tetapi mengubah pertanyaannya menjadi bagaimana Jasmine dulu menghadapi hari yang kurang baik.
Jawabannya sederhana: beristirahat dahulu sebelum memutuskan bahwa seluruh usaha sia-sia. Jasmine tidak memberi janji bahwa kegugupan akan hilang selamanya. Ia malah bercerita pernah menyiapkan bahan dengan rapi tetapi tetap kehilangan urutan saat berbicara.
Jihan tersenyum lega. Percakapan itu tidak menghapus catatan koreksinya, namun membuatnya ingin membuka catatan tersebut lagi tanpa terlebih dahulu memarahi diri sendiri. Ketika Mama menawarkan tambahan nasi, ia menyodorkan piring sedikit. Ternyata setelah tertawa dan bercerita, ia masih lapar.
.
.
Menjelang sore, Jihan melihat jam. Mereka sudah mengatakan akan pulang sebelum terlalu malam, tetapi Kavin baru saja mengambil permainan lain.
Bian menangkap gerakan istrinya dan mulai membereskan barang mereka. Kavin langsung mendekat.
"Kok pulang?"
"Tante besok belajar, Om juga kerja."
Wajah anak itu merengut. "Sebentar lagi."
Bian berjongkok. Ia tidak menjanjikan datang besok hanya untuk menghentikan protes. Ia mengingatkan bahwa tadi mereka sudah bermain dan makan bersama, lalu menawarkan satu hal terakhir: membantu Kavin menaruh rumah balok di tempat yang tidak mudah tersenggol.
Kavin sempat menolak. Jihan menunggu tanpa mengulang bujukan dari semua arah. Akhirnya anak itu menunjuk meja rendah di sudut ruangan.
Mereka memindahkan bangunan tersebut bersama-sama. Ada satu balok terlepas, tetapi Kavin memasangnya kembali sendiri.
"Kalau Om datang, masih ada," katanya.
"Kalau kamu belum bikin yang baru," sahut Bian.
Anak itu mempertimbangkan kemungkinan tersebut, lalu mengangguk.
Perpisahan tetap disertai bibir cemberut, tetapi tidak ada tangisan panjang. Jihan mencium kepalanya dan berjanji akan melihat foto jika nanti ia membangun rumah lain. Janji kecil itu terasa lebih jujur daripada mengatakan akan selalu datang kapan pun diminta.
.
.
Dalam perjalanan pulang, Jihan menyandarkan kepala. Bian melirik sebentar ketika kendaraan berhenti.
"Capek?"
"Sedikit. Tapi senang. Ternyata keluarga kamu pernah bingung juga waktu belajar."
"Kamu pikir lahir langsung bisa semua?"
"Kadang kelihatannya begitu."
Bian tersenyum. Ia bercerita bahwa Bhima pun pernah pulang dengan wajah kusut dan tidak ingin diajak bicara. Jihan mendengarkan, lalu mengakui bahwa melihat banyak dokter dalam keluarga membuatnya sesekali takut tampak paling lambat.
"Mereka nggak sedang lomba sama kamu," ujar Bian.
"Aku tahu. Kadang kepalaku saja yang bikin lomba sendiri."
Lampu berganti, dan kendaraan kembali bergerak. Mereka tidak menyelesaikan semua rasa tidak percaya diri Jihan di jalan. Bian hanya mengatakan bahwa ia senang istrinya tetap mau belajar meskipun hari-harinya tidak selalu menyenangkan.
Jihan menoleh, lalu tersenyum kecil sebelum kembali memandangi jalan.
.
.
Beberapa hari kemudian, Jihan menerima catatan hasil pembahasan yang telah diperbaiki kelompoknya. Masih ada bagian yang perlu diperdalam, tetapi susunannya sudah dapat diikuti dan alasan pemilihan sumber lebih jelas. Ia membacanya bersama Shasya dan Ranza tanpa mencari nama siapa yang paling pantas mendapat pujian.
"Berarti malam ini kita boleh nggak saling kirim berkas?" tanya Shasya.
"Boleh," jawab Ranza cepat.
Jihan tertawa. Ia menyimpan catatan tersebut untuk belajar berikutnya. Mereka belum selesai menjalani pendidikan, dan satu tugas yang membaik bukan alasan untuk menganggap semuanya mudah. Namun hari itu mereka boleh merasa lega.
Di kantor, Bian menerima laporan bahwa tindak lanjut pekerjaan di lokasi sudah diperiksa oleh tim sesuai pembagian. Ia mencatat dua pertanyaan untuk rapat berikutnya, lalu menutup berkas pada waktunya.
Sore yang mereka tandai dengan pensil akhirnya benar-benar tersedia.
Jihan sudah menunggu di apartemen dengan pakaian santai ketika Bian pulang. Ia mengangkat alis, seolah menantang suaminya mengeluarkan alasan baru.
"Jadi?"
"Jadi. Mau makan di mana?"
"Yang nggak ada rapatnya."
Bian tertawa dan mengulurkan tangan. Sebelum berangkat, Jihan memasukkan ponsel ke tas setelah mengabari Ibuk bahwa mereka akan keluar sebentar. Percakapan lama yang sempat membuatnya gelisah tetap dibisukan; tidak ada pesan baru yang perlu ditangani saat itu.
Mereka turun berdua tanpa koper dan tanpa laptop. Bian masih memiliki kunjungan kerja berikutnya, Jihan masih harus menyiapkan diri untuk kegiatan belajar yang makin padat. Tetapi malam ini sudah mereka sisihkan, dan untuk sekali ini tidak ada alasan untuk mengisinya dengan hal lain.
Di dekat pintu keluar, Jihan mempererat genggamannya.
"Mas, habis makan jalan sebentar, ya."
"Boleh. Asal bukan beli kelinci lagi."
"Aku belum ngomong apa-apa!"
Bian tertawa. Jihan ikut tertawa, lalu menariknya menuju tempat makan yang sudah dipikirkan sejak siang.