Pesan dari teman sekolah itu masuk ketika Jihan sedang memilih buah di dekat apartemen. Awalnya ia mengira hanya undangan berkumpul seperti beberapa pesan sebelumnya. Namun nama Dante pada baris kedua membuat tangannya berhenti di atas keranjang.
Temannya mengatakan Dante ingin menyampaikan permintaan maaf. Ia bertanya apakah nomor Jihan boleh diberikan atau apakah mereka bisa bertemu sebentar melalui perantara.
Jihan membaca pesan itu sekali lagi. Ia tidak merasa penasaran. Yang muncul justru ingatan tentang langkah tergesa di KMC dan perasaan tidak nyaman ketika harus menjelaskan bahwa ia tidak ingin ditemui.
Ia meletakkan buah yang sudah dipilih ke keranjang, membayar, lalu pulang. Balasan dapat menunggu sampai ia duduk dengan tenang.
Di apartemen, Jihan mencuci tangan dan menaruh belanjaan sebelum membuka percakapan kembali. Ia mengetik beberapa kalimat, menghapus bagian yang terlalu panjang, lalu berhenti pada jawaban yang jelas.
Ia tidak bersedia bertemu. Nomor, alamat, dan jadwalnya tidak boleh dibagikan. Ia juga tidak ingin pesan Dante diteruskan kepadanya melalui teman.
Setelah menekan kirim, Jihan meletakkan ponsel menghadap ke bawah.
Tangannya masih terasa dingin.
.
.
Bian pulang dan menemukan belanjaan sudah tertata, tetapi Jihan belum mengganti pakaian. Ia duduk di sofa dengan kedua kaki dirapatkan, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin datang.
"Jihan?"
Perempuan itu mendongak. "Ada pesan dari teman lama. Tentang Dante."
Rahang Bian mengeras sesaat. Ia menaruh tas, lalu duduk di sebelah istrinya. Jihan menyodorkan ponsel tanpa diminta.
Bian membaca dari awal sampai balasannya. Ia tidak mengambil alih percakapan, tidak pula langsung mencari nomor yang tidak dikenalnya.
"Kamu sudah jawab dengan jelas," katanya.
"Aku nggak mau ketemu."
"Ya. Kamu nggak perlu ketemu."
Jihan menatap suaminya. Ia sudah menyiapkan penjelasan panjang tentang mengapa pesan tersebut datang, seolah perlu membuktikan bahwa dirinya tidak pernah membuka jalan. Ternyata Bian tidak menanyakan itu.
"Kamu marah?"
"Saya nggak senang dia masih mencari cara menghubungi. Bukan marah sama kamu."
Jawaban itu tidak langsung menghilangkan tegangnya, tetapi membuat Jihan dapat menarik napas lebih panjang. Ia bersandar, lalu mengaku sempat khawatir teman-teman sekolah akan menganggapnya berlebihan.
Bian menggeleng.
"Yang mengalami kamu. Mereka nggak harus setuju dulu supaya kamu boleh menolak."
Jihan mengangguk perlahan. Ia menyimpan salinan percakapan bersama catatan lama, bukan untuk dibaca berulang-ulang malam itu, melainkan supaya tidak perlu mengandalkan ingatan jika kelak diperlukan.
Bian berdiri untuk mengambil air. Selama beberapa langkah ke dapur, ia sempat membayangkan menelepon orang itu sendiri dan menanyakan mengapa penolakan Jihan masih dianggap dapat dirundingkan. Namun ketika kembali, ia melihat istrinya sedang menatap layar yang sudah gelap.
"Mas, jangan hubungi temanku diam-diam, ya."
Bian berhenti, lalu duduk lagi. "Nggak. Saya nggak akan hubungi tanpa bicara sama kamu."
Jihan menerima gelas darinya. "Aku capek kalau harus menenangkan orang lain juga."
Kalimat itu membuat Bian terdiam. Ia menahan keinginan menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin membantu. Jihan tidak sedang menuduhnya; ia sedang menyebutkan sesuatu yang dibutuhkan malam itu.
"Saya dengar," jawabnya akhirnya.
Mereka duduk tanpa percakapan selama beberapa saat. Jihan minum sedikit, lalu meminta bantuan memindahkan buah ke kulkas. Pekerjaan biasa tersebut membuat tangannya kembali sibuk dengan sesuatu yang dikenalnya. Bian mengambil wadah, sementara Jihan memilah buah yang ingin dimakan setelah makan malam. Ia masih sesekali teringat pesan tadi, tetapi sekarang tidak harus menatapnya terus. Ketika satu buah hampir menggelinding dari meja, Bian menangkapnya dengan gerakan canggung. Jihan menghela napas kecil, lalu mengambil wadah yang lebih lebar. Untuk sementara, itu saja yang perlu mereka urus bersama.
.
.
Balasan temannya datang setelah mereka makan. Ia mengatakan tidak pernah memberikan nomor atau alamat Jihan, dan akan menyampaikan bahwa Jihan tidak bersedia dihubungi. Namun ia juga menambahkan satu kalimat: mungkin Dante hanya ingin menutup masa lalu dengan baik.
Jihan menatap kalimat tersebut cukup lama.
Bian yang sedang membereskan piring tidak langsung mendekat. Ia menunggu sampai Jihan memanggilnya.
"Aku harus jawab yang terakhir ini nggak?"
"Kalau kamu ingin memperjelas, jawab. Kalau tidak, penolakanmu tadi sudah cukup."
Jihan memikirkan itu, kemudian mengetik satu balasan lagi. Ia berterima kasih karena informasinya tidak dibagikan, tetapi meminta temannya tidak membujuk atau menjadi perantara lagi. Apa pun maksud Dante, keputusannya tetap sama.
Kali ini temannya menjawab singkat bahwa ia mengerti.
Jihan mematikan pemberitahuan percakapan tersebut. Tidak ada pertemuan yang dijadwalkan, tidak ada alamat yang dikirim, dan tidak ada janji bahwa ia akan berubah pikiran setelah lebih tenang.
"Sudah," katanya.
Bian mengangguk. "Mau saya temani duduk atau mau sendiri dulu?"
Jihan meraih ujung lengan bajunya. Itu sudah menjadi jawaban.
.
.
Keesokan harinya Jihan menyampaikan perkembangan tersebut kepada petugas keamanan yang menangani catatan sebelumnya di KMC. Ia tidak meminta seluruh rumah sakit membicarakan dirinya. Ia hanya memastikan penolakan kunjungan dan larangan memberikan jadwalnya tetap dipahami.
Petugas memeriksa catatan yang ada. Tidak ada kedatangan baru yang dilaporkan saat itu. Jihan mengucapkan terima kasih dan melanjutkan kegiatan, sementara salinan pesan tetap disimpannya sendiri.
Pada waktu istirahat, ia menelepon Ibuk. Suara yang akrab dari seberang membuat tenggorokannya sedikit tercekat, sesuatu yang justru tidak terjadi ketika ia membalas pesan semalam.
"Adek sudah bilang nggak mau, Buk."
"Ya sudah. Ibuk dengar."
Tidak ada desakan untuk berdamai demi terlihat dewasa. Ibuk menanyakan apakah Bian sudah tahu, lalu menerima jawaban bahwa mereka membicarakannya bersama. Jihan merasa lega karena tidak harus memilih siapa yang boleh mengetahui kesulitannya.
Setelah telepon ditutup, ia duduk sebentar sebelum kembali masuk. Shasya datang membawa minuman dan bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Lagi nggak enak pikiran. Tapi sudah diurus."
Shasya tidak memaksa mendengar rincian. Ia hanya duduk di sebelahnya sampai waktu istirahat selesai. Kehadiran yang tidak banyak bertanya itu terasa sangat membantu.
.
.
Malam berikutnya, Jihan meminta berjalan sebentar bersama Bian. Mereka tidak pergi jauh. Di tempat yang ramai dan terang, ia memilih makanan ringan, mengomentari pajangan toko, lalu berhenti untuk membetulkan tali tasnya.
Bian tidak bertanya tentang Dante setiap beberapa menit. Ia membicarakan hal biasa, termasuk Kavin yang mengirim pesan suara meminta mereka datang pada akhir pekan.
"Kalau kamu masih capek, saya bilang lain kali," katanya.
"Aku mau datang. Tapi jangan seharian. Besoknya masih ada tugas."
"Kita atur."
Jihan mengangguk, lalu menyelipkan tangan ke lengan suaminya. Masalah itu belum dapat disebut selesai hanya karena satu orang mengatakan mengerti. Namun ia sudah menentukan jawabannya, dan tidak ada yang memaksanya membuka pintu yang ingin ditutup.
Di depan toko berikutnya, Bian berhenti karena Jihan tiba-tiba tertawa.
"Apa?"
"Itu ada kelinci lagi. Lebih besar."
Bian mengikuti arah pandangnya, lalu menggeleng cepat.
"Yang di rumah cukup."
Jihan tertawa lebih lepas. Ia memang tidak berniat membeli. Ia hanya senang masih bisa menggoda suaminya, memilih arah berjalan, dan pulang ketika dirinya sendiri merasa waktunya pulang.