Pada kunjungan pertama dalam tugas barunya, Bian menemukan bahwa jadwal yang rapi tetap bisa berantakan sebelum makan siang. Bahan untuk pemeriksaan belum seluruhnya tiba, sementara orang yang membawa catatan pengiriman sedang berada di lokasi lain.
Seorang anggota tim menawarkan agar pembahasan dilanjutkan malam hari begitu semuanya lengkap. Bian melihat daftar pekerjaan, kemudian menggeleng pelan.
"Yang bisa diperiksa sekarang kita selesaikan. Sisanya jangan ditebak hanya supaya rapat kelihatan selesai."
Ia meminta catatan yang tersedia dikumpulkan lebih dulu. Dua bagian ternyata dapat dikerjakan tanpa menunggu bahan tersebut. Orang-orang mulai bergerak setelah tugas dibagi, dan ruangan yang semula penuh keluhan perlahan menjadi lebih tenang.
Menjelang sore, baru jelas bahwa sebagian pemeriksaan harus diteruskan keesokan harinya. Bian menghitung waktu kepulangannya yang semula direncanakan setelah makan siang. Ia belum tahu apakah akan terlambat beberapa jam atau memerlukan perubahan lebih besar.
Ia mengabari Jihan sebelum pertemuan berikutnya dimulai.
"Ada bagian pekerjaan yang mundur. Saya sedang atur supaya tetap bisa pulang besok. Nanti saya kabari setelah waktunya jelas."
Pesan itu belum dibaca. Bian memasukkan ponsel kembali ke saku dan kembali bekerja, tidak mengirim pertanyaan berulang hanya karena istrinya belum menjawab.
.
.
Jihan baru membuka pesan setelah menyelesaikan kegiatan hari itu. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya masih penuh dengan pembahasan yang telah mereka lakukan. Presentasi perbaikan kelompok berjalan lebih baik, dan ia ingin menceritakannya langsung kepada Bian.
Melihat kabar kepulangan yang mungkin berubah, ia mengembuskan napas. Ia sudah membayangkan makan malam bersama besok.
Shasya yang sedang menutup tas menoleh.
"Kenapa?"
"Mas mungkin pulangnya mundur."
"Lo mau ke rumah nyokap?"
"Nggak. Aku... gue pulang apartemen dulu. Mau tidur."
Shasya tertawa mendengar lidahnya terselip. Jihan mencubit pelan lengan temannya sebelum membalas pesan Bian. Ia mengatakan sudah membaca, lalu meminta kabar ketika waktunya pasti. Setelah itu ia menceritakan satu kalimat tentang presentasi mereka.
Balasan Bian datang saat ia sedang menunggu kendaraan.
"Bagus. Nanti ceritakan lengkap kalau kamu belum terlalu capek."
Jihan memotret halaman catatan yang berisi tanda perbaikan, memastikan tidak ada informasi pribadi orang lain di dalamnya. Ia mengirim bagian judul dan tulisan tangannya sendiri, lalu menyimpan ponsel ketika kendaraan tiba.
.
.
Malam itu Bian menghubungi Khairul. Ia membutuhkan pendapat tentang pembagian pemeriksaan besok, bukan seseorang yang akan mengerjakan semuanya sementara namanya tetap berada paling atas.
Mereka membandingkan daftar pekerjaan melalui dokumen yang sama. Khairul menunjukkan bagian yang bisa dilanjutkan oleh penanggung jawab di lokasi setelah Bian menyelesaikan keputusan yang memang memerlukan dirinya.
"Jangan semuanya kamu bawa ke Jakarta dalam kepala, Bi. Orang di sana juga harus tahu pegangannya."
Bian mengangguk meskipun lawan bicaranya tidak melihat.
"Saya buatkan catatannya malam ini. Besok kami periksa bersama."
"Dan pastikan orangnya setuju, bukan cuma kamu kirim lalu dianggap selesai."
Nasihat itu membuat Bian teringat cerita Jihan tentang berkas kelompok. Ia tersenyum sendiri, lalu menulis satu pengingat lagi.
Sebelum menelepon Jihan, ia menemui rekan yang akan melanjutkan pemeriksaan. Mereka duduk di meja yang masih menyisakan gelas kosong dan beberapa gulungan gambar. Bian menjelaskan bagian yang sudah diperiksa, lalu memberi kesempatan rekannya menunjukkan satu kendala yang belum sempat disebut dalam rapat.
Orang yang dibutuhkan untuk memastikan ukuran baru tersedia setelah siang. Jika semua persetujuan menunggu Bian, mereka tetap akan menghadapi masalah yang sama meskipun catatannya rapi.
Bian menarik kursi lebih dekat. Mereka menghubungi pihak terkait, menyepakati siapa yang akan menerima hasil pemeriksaan, dan menandai bagian yang tidak boleh diteruskan sebelum informasi lengkap. Tidak ada tanda tangan yang diminta hanya demi mempersingkat waktu.
"Kalau ada yang berbeda dari catatan ini, kabari saya sebelum dilanjutkan," ujar Bian.
Rekannya mengangguk, kemudian mengulang pembagian pekerjaan dengan kalimatnya sendiri. Ada satu hal yang ternyata mereka pahami berbeda. Bian membetulkannya saat itu juga dan mengganti catatan agar tidak menimbulkan tafsir ganda.
Ketika kembali ke kamar, jam sudah bergerak lebih jauh daripada yang diinginkannya. Namun besok ia tidak harus pulang dengan meninggalkan orang-orang yang masih menebak maksudnya. Ia mengirim pembaruan kepada Khairul, mencuci muka, lalu duduk sebentar sebelum menghubungi Jihan. Suara keran dari kamar sebelah dan dengung pendingin ruangan menjadi bunyi yang paling jelas setelah seharian mendengar percakapan. Ia baru menyadari bahunya terasa kaku ketika berusaha bersandar.
Sesudah panggilan berakhir, Bian menghubungi istrinya. Jihan menjawab dengan suara mengantuk, tetapi langsung lebih bersemangat ketika diminta menceritakan presentasi.
"Aku nggak lompat halaman kali ini, mas."
"Kemajuan penting."
"Jangan diketawain. Kemarin memalukan sekali."
"Saya nggak ketawa."
"Suaranya ketawa."
Bian tersenyum. Ia mendengarkan cerita itu sampai Jihan selesai, baru menjelaskan kemungkinan pulang lebih sore. Makan malam bersama masih mungkin, tetapi ia meminta agar Jihan tidak menunda makan kalau lapar.
"Aku sisakan lauk. Bukan lambungku yang ikut jadwal proyek."
"Bagus kalau begitu."
Percakapan mereka berakhir setelah Jihan menguap untuk ketiga kalinya. Bian melanjutkan catatan serah pekerjaan, lalu mengirimnya kepada tim untuk dibahas pagi hari.
.
.
Pemeriksaan keesokan paginya selesai tanpa keajaiban. Masih ada bagian yang harus ditindaklanjuti, tetapi penanggung jawabnya sudah jelas dan waktu laporan disepakati. Bian tetap tinggal sampai memastikan orang yang menerima tugas dapat menjelaskan kembali bagian yang harus dikerjakan.
Ia berangkat pulang beberapa jam lebih lambat daripada rencana awal. Sebelum meninggalkan lokasi, ia memberi kabar kepada Jihan dan Patricia. Tidak ada janji bahwa ia akan langsung menghadiri pertemuan lain malam itu.
Dalam perjalanan, Bian sempat membuka foto yang dikirim istrinya. Di sudut halaman terdapat coretan kecil: pelan-pelan, jangan balapan. Ia tertawa pendek, kemudian memasukkan ponsel dan menyandarkan kepala.
Ia juga perlu belajar pulang tanpa membawa seluruh kebisingan pekerjaan.
.
.
Ketika pintu apartemen terbuka, Jihan sedang duduk di lantai dengan buku berserakan di atas alas kecil. Ia mendongak, tersenyum, lalu bangkit terlalu cepat hingga harus berhenti sebentar untuk meluruskan kaki yang kesemutan.
"Pelan-pelan," ujar Bian sambil menahan tawanya.
"Jangan ketawa. Mau menyambut suami ini."
Ia tetap memeluk Bian setelah berhasil berdiri. Bau sabun yang sudah samar bercampur udara perjalanan membuat pelukan itu terasa akrab. Bian menepuk punggungnya, lalu meletakkan tas agar bisa membalas dengan kedua tangan.
"Sudah makan?"
"Sudah. Punyamu tinggal dihangatkan."
Bian mengganti pakaian sementara Jihan menyiapkan makanan. Mereka duduk bersama, meskipun hanya satu orang yang sedang makan. Jihan menunjukkan catatan koreksi yang kini lebih sedikit, dan Bian menceritakan keputusan tim tanpa mengubah makan malam menjadi rapat kedua.
Ponselnya bergetar sekali. Laporan singkat dari lokasi sudah masuk.
Bian membacanya, memastikan tidak ada hal mendesak, lalu meletakkan ponsel kembali.
"Selesai?" tanya Jihan.
"Untuk malam ini, iya."
Ia melanjutkan makan. Jihan menarik kursinya sedikit lebih dekat dan mulai mengeluhkan pulpen kesayangan yang tintanya habis saat dibutuhkan. Cerita kecil itu terdengar jauh dari pekerjaan yang menahannya sore tadi.
Bian membiarkannya memenuhi sisa malam.