Jihan mengira menyatukan bahan hanya membutuhkan satu malam. Kenyataannya, menjelang tidur ia masih memindahkan kalimat dari satu halaman ke halaman lain, sambil mengerutkan dahi pada bagian yang isinya berulang.
Pesan Ranza sudah masuk sejak tadi, menanyakan apakah ada bahan yang perlu diperbaiki. Jihan menjawab belum, karena merasa lebih cepat membetulkannya sendiri daripada menjelaskan satu per satu.
Itulah awal kesalahannya.
Saat latihan singkat keesokan harinya, Shasya berhenti di tengah kalimat. Ia menatap layar, lalu menatap Jihan.
"Bagian gue yang kemarin ke mana?"
"Gue pindah ke belakang supaya urut."
"Tapi penjelasan gue nyambungnya dari situ."
Ranza ikut membuka bahan di ponselnya. Ada dua versi yang sekarang berbeda, dan tidak seorang pun benar-benar yakin mana yang sedang mereka pakai.
Jihan merasakan panas naik ke wajahnya. Ia ingin mengatakan bahwa semalam ia sudah bekerja paling lama. Kalimat itu hampir keluar, tetapi tertahan ketika Shasya memperlihatkan catatan yang memang sudah disusun sesuai versi pertama.
"Gue pikir lebih rapi," ujar Jihan akhirnya.
"Bisa jadi. Tapi kabarin dulu, Han."
Nada Shasya tidak tinggi. Justru karena itu Jihan tidak punya tempat untuk menyembunyikan rasa malunya.
.
.
Pembahasan mereka hari itu tidak berjalan selancar yang diharapkan. Bukan karena semua bahan salah, melainkan karena perpindahan antarbagiannya kacau. Ketika mendapat pertanyaan tentang alasan memilih suatu sumber, Jihan terlalu cepat membuka halaman berikutnya dan harus diminta kembali.
Pembimbing meminta mereka memperbaiki susunan dan memperjelas alasan yang dipakai. Ia tidak mempermalukan mereka, tetapi catatan koreksinya cukup untuk membuat Jihan diam selama beberapa menit setelah keluar ruangan.
Ranza menutup laptop perlahan.
"Kita benerin sore ini?"
Jihan mengangguk. "Gue minta maaf. Harusnya semalam gue tanya dulu."
Shasya duduk di sebelahnya. "Gue juga bisa bantu. Jangan semuanya lo ambil, terus besok kita disuruh ngerti hasilnya."
"Gue nggak nyuruh."
"Iya, tapi hasilnya begitu."
Jihan menunduk. Kata-kata itu terasa menyebalkan karena benar.
Mereka memilih satu berkas sebagai bahan bersama, menandai bagian yang perlu didiskusikan, lalu menentukan waktu untuk memeriksa ulang. Kali ini Jihan tidak mengubah paragraf milik temannya diam-diam. Ia menulis pertanyaan di sampingnya dan menunggu jawaban.
Pekerjaan terasa lebih lambat selama beberapa menit pertama. Setelah ketiganya memahami susunan yang sama, justru bagian berikutnya selesai lebih cepat.
Ketika Ranza keluar sebentar, Jihan menggeser kursinya mendekati Shasya. Ia ingin memastikan satu hal yang sejak tadi mengganjal.
"Lo masih kesal?"
Shasya menoleh. "Sedikit. Tapi gue nggak berhenti temenan sama lo gara-gara halaman pindah."
Jihan mengusap pipinya dengan telapak tangan, malu karena pikirannya memang sudah melompat sejauh itu. Shasya menyodorkan botol minum, lalu menunjuk bagian yang masih harus mereka rapikan.
"Ini saja dulu. Nanti kalau gue salah, lo bilang juga. Jangan disimpan terus meledak pas sudah capek."
Jihan mengangguk dan menerima botolnya. Saat Ranza kembali, ia sudah menyiapkan dua pilihan susunan, lengkap dengan alasan singkat, bukan hasil jadi yang tinggal dipatuhi. Mereka memilih salah satunya setelah mencoba membaca bersama. Jihan masih ingin membenahi satu kalimat milik Shasya, tetapi kali ini ia menunjukkannya dahulu. Shasya justru menemukan cara yang lebih pendek daripada usulnya.
.
.
Bian sedang menaruh laptop ke tas ketika pesan Jihan masuk. Istrinya mengatakan ingin makan yang hangat dan tidak ingin ditanya terlalu banyak begitu sampai rumah.
Ia membaca pesan itu dua kali. Kemudian ia memesan makan malam, memastikan lauknya sesuatu yang biasa disukai Jihan, dan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan yang memang harus beres hari itu.
Jihan datang dengan wajah lelah. Ia menyapa, mengganti pakaian, lalu duduk memeluk bantal kecil di sofa. Bian tidak langsung menyodorkan pertanyaan.
"Makanannya sudah datang. Mau sekarang atau mandi dulu?"
"Sekarang. Lapar."
Selama makan, Jihan lebih banyak diam. Bian bercerita singkat tentang printer kantor yang menghabiskan waktu orang satu ruangan. Cerita itu tidak lucu sekali, tetapi cukup membuat sudut bibir Jihan bergerak.
Setelah mangkuknya kosong, ia akhirnya membuka suara.
"Aku bikin kerja kelompok berantakan."
Bian meletakkan gelas. "Mau cerita?"
Jihan mengangguk. Ia menjelaskan bahan yang dipindahkan, latihan yang kacau, dan koreksi pembimbing. Makin panjang ceritanya, makin jelas pula bahwa ia bukan satu-satunya orang yang bekerja dalam kelompok itu, meskipun semalam ia sempat merasa demikian.
"Aku capek, terus merasa paling capek sendiri," akunya.
Bian tidak buru-buru mengatakan istrinya pasti benar. Ia pernah berada di posisi yang sama, mengerjakan semuanya lalu kesal karena orang lain tidak mengikuti pikirannya.
"Sudah dibicarakan sama mereka?"
"Sudah. Shasya nyebelin, tapi benar."
"Biasanya bagian benar yang bikin paling nyebelin."
Jihan mendongak. "Pengalaman?"
"Banyak."
Ia tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu. Bian mengambil mangkuk mereka dan membawanya ke dapur, memberi Jihan waktu untuk membuka kembali pesan kelompok tanpa merasa sedang diawasi.
.
.
Ketika Bian kembali, Jihan sudah duduk di meja dengan laptop terbuka. Ia meminta suaminya mendengarkan bagian pembukaan, hanya untuk menilai apakah kalimatnya terlalu berputar.
"Soal isinya, aku cek sama sumber dan pembimbing. Kamu cukup bilang kalau aku ngomong seperti orang dikejar."
"Baik."
Jihan mulai. Pada kalimat ketiga ia berhenti sendiri, menarik napas, lalu mengulang dengan lebih pelan. Bian mendengarkan sampai selesai sebelum mengatakan bahwa penjelasan terakhir justru lebih mudah diikuti.
Mereka tidak berlatih berjam-jam. Setelah dua kali mencoba, Jihan kembali bekerja bersama teman-temannya melalui panggilan singkat. Bian pindah ke sisi lain ruangan untuk membaca berkasnya sendiri.
Dari tempat duduknya, ia mendengar Jihan bertanya sebelum menghapus sebuah bagian.
"Sya, kalau yang ini diringkas, penjelasan lo masih masuk nggak?"
Jawaban temannya tidak terdengar jelas, tetapi Jihan mengangguk, lalu menambahkan sesuatu. Bian menunduk pada pekerjaannya sambil tersenyum tipis.
Ada perubahan yang tidak membutuhkan tepuk tangan.
.
.
Latihan berikutnya berlangsung lebih baik. Mereka masih menemukan bagian yang terlalu panjang, tetapi sekarang tahu siapa yang harus menjawab dan halaman mana yang dipakai. Ranza bahkan menghentikan dirinya sendiri sebelum melewati waktu yang disepakati.
"Gue potong yang ini, ya. Ternyata memang kebanyakan."
"Nah, akhirnya sadar," sahut Shasya.
Jihan tertawa bersama mereka. Rasa malu kemarin belum hilang seluruhnya, tetapi ia tidak lagi merasa harus membuktikan bahwa dirinya dapat menyelamatkan semua pekerjaan sendirian.
Sebelum pulang, ia mengirim versi terakhir kepada kelompok dan memastikan semua sudah menerima. Lalu ia menutup laptop, benar-benar menutupnya, bukan meninggalkan layar menyala untuk satu perbaikan tambahan yang tidak diminta siapa pun.
Di apartemen, Bian sedang memeriksa koper kecil untuk kunjungan pertamanya dalam tugas baru. Jihan menaruh tas dan duduk di tepi tempat tidur.
"Hari ini lebih baik," katanya tanpa ditanya.
Bian menoleh. "Syukurlah."
"Aku ternyata nggak harus jadi pahlawan kelompok."
"Berat kalau sambil bawa laptop."
Jihan melempar bantal kecil ke arahnya. Bian menangkapnya, tertawa, lalu meminta tolong memilih kemeja yang tidak mudah kusut. Kali ini, ketika Jihan menawarkan bantuan, ia tidak mengambil alih seluruh koper. Ia menyerahkan satu kemeja, mendengarkan pilihan Bian, dan membiarkannya menyelesaikan sisanya sendiri.