Bian membawa dua lembar catatan ketika masuk ke ruangan Papa. Hardi yang sedang menandatangani berkas mengangkat wajah, lalu menunjuk kursi di depannya.
"Sudah dipikirkan?"
"Sudah, Pa. Tapi ada yang perlu diperjelas sebelum saya jawab."
Papa meletakkan pena. Bian membuka halaman pertama, bukan langsung menunjukkan bagian yang berhubungan dengan perjalanan. Ia lebih dulu menanyakan batas tanggung jawabnya. Siapa yang mengawasi pekerjaan harian, keputusan mana yang harus menunggu dirinya, dan siapa yang dapat menggantikan ketika ia sedang menangani klien lain.
Hardi mendengarkan sampai selesai. Sesekali ia menarik lembar jadwal mendekat untuk membandingkannya dengan catatan Bian.
"Papa menawarkan kamu koordinasi, bukan menyuruh kamu tinggal di sana terus."
"Itu yang saya ingin pastikan. Kalau semua persetujuan berhenti di saya, tim tetap akan menelepon setiap saat."
Ada jeda pendek sebelum Papa mengangguk. Mereka membicarakan pekerjaan yang bisa diselesaikan dari kantor dan dua kunjungan menginap yang memang diperlukan dalam enam minggu pertama. Kunjungan tambahan belum dijadwalkan. Jika muncul kebutuhan baru, mereka akan menilai lagi bersama tim, bukan otomatis memasukkan nama Bian.
Bian menulis beberapa hal di pinggir kertas. Papa memperhatikan gerakan anaknya dengan senyum tipis.
"Sekarang catatanmu tambah banyak."
"Supaya nggak ada yang saya sanggupi padahal waktunya nggak ada."
"Dulu juga seharusnya begitu."
Bian tidak membantah. Ia tahu ucapan Papa tidak seluruhnya tentang pernikahan.
Sebelum keluar, ia menanyakan satu hal lagi tentang pekerjaan yang sedang dipegangnya sekarang. Ada bagian yang tidak mungkin tetap ditangani sendiri jika tugas baru dimulai. Papa mengambil lembar lain dan menuliskan nama orang yang dapat diajak membahas pengalihan itu.
"Bicarakan dulu dengan orangnya," pesan Papa. "Jangan karena namanya sudah ditulis di sini, kamu anggap waktunya kosong."
Bian mengangguk. Ia menyadari daftar tugas yang masuk akal untuk dirinya bisa menjadi beban berlebihan bagi orang lain jika hanya dipindahkan begitu saja. Sesampainya di ruangan sendiri, ia menghubungi Khairul untuk mencari waktu berbicara. Tidak ada kalimat mendesak, tidak ada berkas yang tiba-tiba harus selesai sebelum sore. Ia menjelaskan kebutuhan lebih dulu, kemudian mendengarkan pekerjaan yang sedang ditangani rekannya. Dari percakapan singkat itu, satu tenggat yang semula dianggap pasti ternyata masih bisa disesuaikan tanpa mengorbankan hasil.
.
.
Di KMC, Jihan baru sempat membuka ponsel setelah membereskan tugasnya. Pesan Bian berisi kabar singkat bahwa rincian sudah diperoleh dan akan dibawa pulang. Tidak ada pertanyaan yang mengharuskan ia menjawab saat itu juga.
Jihan membalas dengan foto jadwal yang baru dikonfirmasi. Beberapa jam pulangnya berubah. Ada pula tugas presentasi kelompok yang membuat Shasya mengembuskan napas panjang sejak pagi.
"Kenapa bagian gue selalu kelihatan pendek pas ditulis, tapi panjang pas dikerjain?" keluh Shasya.
Ranza menggeser kursi. "Karena lo menghitung judulnya doang."
Jihan tertawa, lalu membuka buku catatannya. Mereka membagi bagian pembahasan sebelum pulang. Ia mendapat tugas menyatukan bahan, pekerjaan yang terdengar sederhana sampai melihat setiap orang memakai susunan berbeda.
"Kirim malam ini, ya. Jangan lima menit sebelum mulai," katanya.
"Siap, Bu Ketua."
"Jangan panggil begitu. Nanti kalau berantakan, gue sendirian yang disalahin."
Ranza tertawa, tetapi kemudian membantu membuat daftar bagian yang belum tersedia. Jihan memotret daftar itu. Untuk pertama kalinya hari tersebut terasa sedikit lebih bisa dipegang, meskipun ia tahu masih harus membuka laptop setelah sampai rumah.
.
.
Bian tiba ketika Jihan sedang berdiri di dapur sambil membaca petunjuk pada kemasan makanan beku. Rambut yang tertutup kerudung sejak pagi kini diikat seadanya. Ia menoleh, lalu menunjuk panci dengan dagu.
"Kalau bentuknya jelek, salah pabrik. Aku cuma merebus."
"Saya belum komentar."
"Pencegahan, mas."
Bian mencuci tangan dan mengambil mangkuk. Mereka makan lebih dulu, ditemani cerita Shasya yang salah menyebut nama berkas. Setelah meja bersih, barulah dua jadwal diletakkan berdampingan.
Jihan membaca dengan teliti. Dua kunjungan itu tidak berdekatan, tetapi salah satunya jatuh pada minggu ketika tugas belajarnya lebih padat.
"Yang ini aku mungkin pulang malam," katanya.
"Kamu mau tinggal di rumah Ibuk?"
"Belum tahu. Aku lihat kebutuhanku nanti. Jangan langsung dipindahin seperti koper."
Bian mengangkat kedua tangan sedikit. "Saya tanya, bukan memutuskan."
Jihan tersenyum. Ia menandai hari tersebut, lalu menanyakan berapa lama Bian menginap. Mereka menghitung waktu perjalanan, pekerjaan sebelum berangkat, dan jeda istirahat sesudah pulang. Ternyata bukan hanya malam yang ditinggal pergi yang perlu diperhatikan.
"Kalau pulang sore, jangan janji langsung ke rumah Mama," ujar Jihan. "Kemarin kamu ngantuk sambil melipat kaus."
"Saya ingat."
"Kausnya nggak ingat. Bentuknya menyedihkan."
Bian mencubit pelan ujung hidungnya. Jihan menepis sambil tertawa, kemudian kembali menunduk pada kertas.
Ia tidak langsung mengatakan semuanya mudah. Ada bagian dirinya yang tetap ingin Bian selalu pulang ke apartemen. Namun melihat suaminya menjelaskan pekerjaan dengan mata lebih hidup membuatnya memahami mengapa tawaran itu ingin diambil.
"Aku dukung kamu ambil, mas. Yang sudah jelas ini bisa kita jalani. Kalau berubah, omongin lagi."
"Saya juga nggak akan janji semua selalu sesuai kertas."
"Bagus. Kertas nggak pernah kena macet."
Bian tertawa. Ia menuliskan satu pengingat untuk dirinya sendiri: memberi kabar ketika perubahan diketahui, bukan setelah Jihan menunggu terlalu lama.
Mereka lalu membagi kebutuhan rumah selama minggu sibuk. Cucian bisa dikirim, makanan tidak harus dimasak setiap hari, dan kunjungan keluarga dijadwalkan sesuai tenaga yang benar-benar tersedia. Jihan meminta satu sore tanpa pekerjaan jika kelak keduanya sama-sama luang. Bukan acara besar, cukup berjalan atau makan berdua.
Bian menandainya dengan pensil.
"Pensil saja dulu?" Jihan mengerucutkan bibir.
"Supaya kalau jadwalmu berubah, kamu nggak tuduh saya merusak kalender."
"Jawabannya sudah pintar sekarang."
.
.
Keesokan paginya, Bian menyampaikan kesediaannya kepada Papa dengan pembagian tugas yang sudah dibahas. Mereka mengajak Khairul memeriksa bagian serah pekerjaan agar tidak ada keputusan penting yang hanya tersimpan dalam kepala Bian.
Patricia menerima salinan jadwal setelah rapat. Ia menunjukkan satu pertemuan yang waktunya berdekatan dengan keberangkatan pertama.
"Kalau ini tetap, Bapak cuma punya waktu sedikit untuk perjalanan."
Bian memeriksa kembali, lalu meminta pertemuan dipindahkan sebelum undangan dikirim. Beberapa bulan lalu, mungkin ia akan menganggap semuanya bisa dikejar. Kali ini ia tidak ingin menjadikan orang lain penonton dari kepanikannya sendiri.
Siang hari, Jihan menerima pesan bahwa tawaran sudah diterima.
Ia sedang memegang roti ketika membacanya. Shasya melirik wajahnya yang mendadak tersenyum.
"Dapat apa?"
"Mas dapat tanggung jawab baru."
"Terus lo yang senang?"
"Ya senang, lah. Masa harus beliau sendiri yang senang."
Shasya mengangguk seolah memperoleh jawaban sangat ilmiah, lalu mengambil tisu. Jihan mengetik ucapan selamat yang sederhana. Setelah ragu sebentar, ia menambahkan bahwa sore bebas yang ditulis dengan pensil tetap akan ditagih.
Balasan Bian muncul ketika rotinya hampir habis.
"Sudah saya simpan jadwalnya, Bu."
Jihan menggeleng, tetapi senyumnya bertahan sampai ia kembali memasukkan ponsel ke tas. Di hadapannya masih ada bahan presentasi yang belum selesai. Ia menariknya mendekat, menyalakan laptop, dan mulai mengerjakan bagian hidupnya sendiri.