Di ruang tunggu, Jihan membuka buku kecilnya lalu menutupnya lagi. Bian memperhatikan gerakan itu beberapa kali sebelum mengulurkan tangan, meletakkan telapak di atas jemarinya.
"Pertanyaannya nggak akan hilang," katanya pelan.
"Aku tahu."
"Terus kenapa dicek terus?"
Jihan mengembuskan napas. "Biar nggak lupa pas masuk."
Bian mengangguk, tidak menggoda lebih jauh. Hari itu mereka datang untuk konsultasi yang sudah beberapa kali dibicarakan: rencana menunda anak sambil Jihan menyelesaikan pendidikan dan keduanya menyesuaikan hidup bersama.
Mereka memilih waktu yang tidak berbenturan dengan kegiatan penting. Bian tidak duduk sambil membuka laptop, dan Jihan tidak perlu menghitung sisa menit sebelum harus berlari kembali bekerja.
Ketika dipanggil, mereka masuk bersama.
.
.
Percakapan berlangsung lebih tenang daripada bayangan Jihan. Ia menjelaskan keinginannya sendiri, riwayat yang relevan, juga kekhawatiran yang selama ini sulit diucapkan dengan lengkap. Bian mendengarkan dan menjawab ketika ditanya, tetapi tidak mengambil alih seolah keputusan itu hanya miliknya.
Mereka memperoleh penjelasan tentang pilihan yang dapat dibahas sesuai keadaan Jihan, hal-hal yang perlu dipertimbangkan, serta tindak lanjut yang disarankan. Ada bagian yang Jihan tanyakan kembali karena ingin memahami, bukan sekadar mengangguk.
Dokter memberi ruang untuk pertanyaan tersebut. Jihan perlahan berhenti merasa sedang dinilai.
Bian juga bertanya bagaimana ia bisa membantu menjalani rencana yang nantinya mereka sepakati. Jihan menoleh sesaat ketika mendengarnya, lalu kembali memperhatikan penjelasan.
Tidak semua keputusan harus selesai sebelum mereka keluar dari ruangan. Mereka membawa catatan yang lebih jelas dan tahu bagian mana yang masih perlu dipikirkan, tanpa menebak-nebak sendiri berdasarkan cerita orang lain.
Di koridor setelahnya, Jihan berhenti untuk memasukkan buku ke tas.
"Lega?" tanya Bian.
"Iya. Ternyata aku paling takut sebelum masuk."
"Sekarang sudah lebih jelas."
Jihan mengangguk. Ia tidak merasa harus menceritakan isi konsultasi itu kepada semua orang. Cukup mereka berdua mengetahui percakapannya dan menjalani tindak lanjut sesuai kesepakatan dengan dokter.
.
.
Mereka makan sederhana setelahnya. Bian menerima satu pesan kantor, membacanya singkat, lalu mengatakan ada bahan yang harus diperiksa malam nanti.
"Mendadak?" tanya Jihan.
"Baru dikirim. Bukan untuk sekarang."
Jihan mengangguk dan kembali pada makanannya. Ia masih belajar tidak langsung menganggap setiap pesan kantor sebagai awal suaminya menghilang berhari-hari.
Bian pun menyadari bahwa memberitahu konteks satu kalimat bisa menghindarkan Jihan dari menebak terlalu jauh.
Sore itu mereka berpisah untuk urusan masing-masing sebelum pulang. Jihan menyelesaikan keperluan terkait jadwal belajarnya, sementara Bian memeriksa hasil kunjungan proyek di kantor.
Di sanalah Papa menyampaikan kemungkinan berikutnya.
"Tahap lanjutnya perlu orang yang memegang koordinasi dengan konsisten," ujar beliau. "Papa ingin kamu pertimbangkan."
Bian memandangi bahan di depannya. Ini bukan sekadar tambahan satu rapat. Ada tanggung jawab lebih besar, rangkaian keputusan, dan kemungkinan kunjungan berulang selama beberapa minggu.
Bagian dari dirinya langsung tertarik. Ia telah melihat lokasi, memahami persoalan awal, dan ingin membuktikan dirinya mampu membawa pekerjaan itu maju.
Bagian lain mengingat bagaimana tiga hari di luar kota saja membutuhkan penyesuaian di rumah.
"Saya boleh baca rinciannya dulu, Pa? Sekalian lihat pembagian tim dan jadwalnya."
Papa mengangguk. "Memang itu yang Papa minta. Bukan jawab iya sekarang lalu semua kewalahan."
Bian menarik bahan lebih dekat. Kepercayaan itu menyenangkan, tetapi ia tak ingin menjawab hanya karena takut terlihat kurang sanggup.
.
.
Jihan tiba di apartemen lebih dulu malam itu. Ada jadwal baru yang masih perlu ia pahami, termasuk beberapa kegiatan yang akan membuat waktu pulangnya berubah. Ia menandai bagian yang penting, lalu menyiapkan makan tanpa mencoba terlalu banyak hal sekaligus.
Ketika Bian masuk, ia langsung tahu suaminya membawa sesuatu dalam pikiran. Bukan marah, lebih seperti seseorang yang sedang menghitung banyak kemungkinan.
"Capek atau ada yang dipikirkan?" tanyanya.
"Dua-duanya. Makan dulu, habis itu saya cerita."
Jihan mengangguk. Ia membiarkan Bian berganti pakaian dan duduk, kemudian mereka makan sambil membicarakan hal ringan. Bian tidak perlu memberi jawaban besar sebelum sempat minum.
Sesudahnya, ia membawa bahan proyek ke meja. Jihan membuka jadwalnya sendiri di sebelahnya.
"Papa menawarkan tanggung jawab tahap berikutnya," mulai Bian. "Kemungkinan ada kunjungan beberapa kali. Belum saya ambil sebelum rinciannya jelas."
Jihan membaca bagian jadwal yang ditunjukkan, lalu menatap Bian.
"Kamu pengin?"
Bian diam sebentar sebelum mengangguk. "Pengin. Saya sudah ikut dari pemeriksaan kemarin. Tapi saya nggak mau asal menyanggupi."
Jihan menunduk pada kertasnya sendiri. Ia sempat ingin mengatakan jangan terlalu sering pergi. Kalimat itu terasa mudah, tetapi ia tahu pekerjaan tersebut penting bagi Bian, sama seperti kegiatan belajarnya penting bagi dirinya.
"Jadwalku juga berubah. Kita lihat yang benar-benar bisa diatur, mas. Jangan kamu bilang aku pasti kuat, tapi jangan juga langsung menolak semuanya karena aku."
Bian menatapnya lebih lama.
"Saya takut kamu pikir saya balik lagi seperti dulu."
"Kalau kamu putuskan sendiri lalu baru bilang setelah berangkat, mungkin iya. Ini kamu cerita sebelum jawab."
Ia menggeser jadwalnya mendekat, menunjukkan hari yang kemungkinan paling melelahkan. Bian menandai hal-hal yang harus ditanyakan kepada Papa dan tim, termasuk bagian yang bisa dipegang orang lain.
Mereka tidak memaksakan keputusan malam itu. Ada informasi yang belum tersedia, dan keduanya mengakui belum punya semua jawaban.
Jihan mengambil pensil, lalu memberi tanda tanya pada satu kolom yang belum pasti. Bian sempat meraih penggaris untuk membuat garis pembatas, tetapi istrinya lebih dahulu menggeser gelas yang nyaris tersenggol sikunya.
"Meja kita mulai mirip tempat rapat."
"Bedanya kamu boleh mengusir ketuanya kalau terlalu malam."
"Oh, kamu ketuanya?"
Bian menatapnya, menyadari jebakan kecil itu. Jihan sudah tersenyum lebar sebelum ia menjawab bahwa untuk urusan rumah, kursi ketua belum tersedia. Ia kemudian menutup map dan meminta Jihan menaruh catatan kuliahnya di tempat yang mudah ditemukan pagi nanti. Mereka membereskan meja bersama. Pensil yang tadi dipakai Jihan dimasukkan Bian ke tempat sendok kelinci karena lengah, membuat istrinya tertawa dan memindahkannya kembali ke tas. Rupanya malam itu mereka berdua memang sudah cukup lelah.
.
.
Setelah meja dirapikan, Jihan berdiri di depan foto wisuda. Ia menggeser bingkainya sedikit karena tadi tidak sengaja tersenggol ketika mengambil buku.
Bian datang membawa dua gelas air. Ia meletakkan satu di dekat Jihan, lalu ikut memandangi foto.
"Saya senang waktu itu bisa ada," katanya.
Jihan menoleh. "Aku juga. Tapi bukan berarti setelah itu kamu nggak boleh kerja jauh lagi."
Bian mengangguk pelan. Ia membutuhkan pengingat itu, sama seperti Jihan membutuhkan kabar yang jelas ketika mereka berjauhan.
"Yang jangan hilang itu ngomongnya," lanjut Jihan.
"Iya."
Ia meraih tangan istrinya, dan Jihan membiarkannya bertaut. Di meja masih ada buku kecil dengan catatan pertanyaan untuk esok. Ada rencana keluarga yang tidak ingin diumumkan kepada orang banyak, pekerjaan yang sedang berkembang, dan pendidikan yang belum selesai.
Semuanya belum tertata sempurna.
Namun malam itu mereka tidak berpura-pura bahwa hanya salah satu kehidupan yang perlu mendapat tempat. Besok Bian akan meminta rincian tugas, Jihan akan memastikan jadwalnya, lalu mereka akan duduk bersama lagi dengan informasi yang lebih lengkap.