"Ternyata kecil."
Jihan memandangi tempat sendok berbentuk kelinci yang akhirnya ada di tangannya. Benda yang tampak begitu lucu di layar ponsel itu ternyata tidak sebesar bayangannya.
Bian berdiri di sebelahnya, menahan senyum dengan susah payah.
"Kamu lihat ukurannya waktu itu?"
"Lihat fotonya."
"Berarti nggak lihat ukurannya."
Jihan menoleh tajam, lalu kembali pada benda di tangan. Setelah sekian lama dibicarakan, rasanya tidak rela menyerah hanya karena telinga kelincinya lebih tinggi daripada wadahnya.
Ia mencoba membayangkan sendok yang ada di dapur. Kalau semuanya dimasukkan, kemungkinan kelinci itu akan kehilangan keseimbangan dan terjungkal dengan sangat tidak anggun.
Bian mengambil pilihan lain dari rak, lebih sederhana tetapi ukurannya cukup.
"Yang ini muat."
"Tapi nggak lucu."
"Sendoknya nggak peduli."
Jihan mendesah, lalu tertawa sendiri. Akhirnya mereka menemukan model kelinci lain yang lebih rendah dan kokoh. Bukan persis foto yang dulu disimpan Jihan, tetapi masih cukup membuatnya tersenyum ketika diletakkan dalam keranjang.
"Akhirnya punya rumah," gumamnya.
"Sudah boleh bahas barang lain?"
"Boleh, Pak. Terima kasih atas kesabarannya."
.
.
Belanja sore itu tidak berakhir dengan banyak barang. Mereka membawa daftar, mencocokkan kebutuhan, lalu beberapa kali mengembalikan benda yang ternyata hanya menarik dilihat.
Jihan sempat mengangkat satu wadah tambahan, tetapi ingat lemari dapur sudah cukup penuh. Bian hampir mengambil barang yang fungsinya sama dengan yang sudah ada di apartemen. Kali ini giliran Jihan yang mengingatkan.
"Itu kita punya, mas. Yang kamu taruh di rak atas."
Bian berhenti, lalu mengembalikannya.
"Oh, iya."
Jihan tersenyum puas. Rupanya bukan dirinya saja yang bisa lupa ketika berdiri di antara banyak pilihan.
Setelah membayar, mereka duduk untuk makan. Tidak ada rencana khusus atau pakaian yang disiapkan seperti saat Bian melamarnya dulu. Jihan mengenakan pakaian nyaman, tasnya berisi catatan belanja dan satu pulpen yang tintanya hampir habis.
Namun ia menikmati cara Bian menarik kursi sebelum duduk, lalu bertanya apa yang ingin dimakannya tanpa langsung memilihkan.
"Kamu ingat waktu kita makan dulu, aku kesel karena kamu diem terus?" tanyanya setelah memesan.
Bian mengangkat alis. "Yang mana? Banyak saya diamnya."
Jihan tertawa. "Nah, sadar juga."
Ia menceritakan bagaimana dulu ia mencoba mencari topik sepanjang perjalanan, sementara Bian menjawab secukupnya dan kembali melihat jalan. Waktu itu ia mengira tidak ada yang ingin diketahui lelaki tersebut tentang dirinya.
"Saya bingung harus mulai dari mana," aku Bian.
"Sekarang?"
"Sekarang kamu biasanya sudah mulai sebelum saya pikirkan."
Jihan hendak memprotes, tetapi makanan datang dan menyelamatkan Bian dari tatapan panjang.
.
.
Di tengah makan, ponsel Jihan berbunyi. Ada pesan tentang jadwal kegiatan yang perlu diperiksa untuk minggu berikutnya. Ia membacanya, lalu wajahnya berubah lebih serius.
Bian menunggu sampai Jihan meletakkan ponsel.
"Ada perubahan?"
"Ada yang perlu dipastikan. Aku cek nanti, jangan sampai salah catat."
"Makan dulu."
Jihan mengangguk. Namun pikirannya sempat melayang pada waktu yang sudah mereka incar untuk konsultasi bersama. Kalau jadwal bergeser, ia harus mencari kemungkinan lain.
Ia mengatakannya pada Bian, tidak menunggu sampai malam terakhir.
"Saya juga perlu cocokkan dengan rapat. Kita telepon tempatnya setelah jadwalmu jelas," jawab Bian.
"Kamu benar-benar ikut, ya. Aku nggak mau cuma disuruh pergi sendiri terus hasilnya aku laporkan."
"Saya ikut. Pertanyaannya juga punya kita berdua."
Jihan mengangguk, kembali makan. Ia senang jawaban itu tidak disampaikan seperti bantuan besar yang patut dipuji. Mereka sudah sepakat menunda anak, jadi wajar kalau keduanya ikut memikirkan langkah berikutnya.
.
.
Mereka pulang menjelang petang. Bian membawa kantong yang lebih berat, Jihan memegang barang pecah belah dengan hati-hati. Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung menuju dapur.
Tempat sendok kelinci dikeluarkan, dibersihkan, kemudian diletakkan di posisi yang menurutnya paling tepat. Bian menonton dari ambang pintu, masih memegang kantong lain.
"Foto dulu atau dipakai?"
"Dua-duanya."
Jihan memasukkan beberapa sendok, memastikan wadahnya tidak bergoyang, lalu mengambil foto. Ia mengirimkannya pada Kani yang selama ini ikut menyaksikan pembahasan panjang tentang benda tersebut.
Balasan datang cepat.
Akhirnya. Tolong jangan bikin pesta penyambutan.
Jihan tertawa, menunjukkan layar pada Bian. Lelaki itu hanya menggeleng dan mulai menyimpan belanjaan lain.
Di sela merapikan, Jihan menemukan struk. Ia mencatat pengeluaran sore itu pada buku yang mereka pakai bersama, lalu menyisihkan anggaran untuk kebutuhan berikutnya. Tidak ada yang menghitung setiap rupiah sambil menuduh, hanya memastikan perkiraan mereka masih masuk akal.
Bian memeriksa bagian tagihan yang menjadi tanggung jawabnya. Ada biaya rutin yang baru terasa ketika benar-benar tinggal di sini, berbeda dengan menghitungnya sebelum menikah.
"Yang ini lebih besar dari perkiraan awal," katanya.
Jihan mendekat. Mereka melihat bersama, lalu memutuskan bagian belanja yang bisa ditunda bulan berikutnya. Bukan kelincinya yang disalahkan, dan bukan pula seluruh daftar Jihan dianggap berlebihan.
Justru Bian yang menyadari beberapa rencananya sendiri belum perlu dilakukan sekarang.
Ia bangkit untuk memeriksa rak lama. Dua kotak kosong ternyata menghabiskan hampir satu tingkat, sementara beberapa katalog ditumpuk mendatar. Jihan ikut berjongkok, menahan ujung rak saat Bian menggeser isinya.
"Ini masih dipakai?" tanyanya, menunjuk kotak kecil.
"Kotaknya saja. Barangnya di meja kerja."
"Berarti yang butuh rumah baru kardusnya, bukan bukuku."
Bian mendengus geli. Mereka melipat kemasan yang memang tidak diperlukan, lalu menyisihkan dokumen yang harus tetap disimpan. Setelah dibersihkan, ada ruang cukup untuk buku Jihan yang selama ini menumpuk di dekat sofa. Ia mengurutkannya sendiri sementara Bian mengambil lap. Tidak semua bisa masuk, tetapi tas belajarnya kini dapat diletakkan tanpa menutupi jalan. Jihan menepuk sisi rak, puas melihat hasil pekerjaan singkat yang sama sekali tidak membutuhkan perjalanan belanja kedua.
"Rak tambahan tunggu dulu. Kita pakai yang ada," ujarnya.
Jihan mengangguk, lega karena penyesuaian tidak selalu berarti hanya keinginannya yang harus mundur.
.
.
Malam itu mereka berhasil memastikan jadwal dan membuat janji konsultasi pada waktu yang dapat dihadiri keduanya. Jihan mencatatnya, lalu mulai menulis pertanyaan yang selama ini hanya lewat dalam percakapan.
Bian duduk di sampingnya, membaca sebentar sebelum menambahkan satu hal tentang bagaimana menyesuaikan rencana dengan kegiatan mereka.
"Aku kadang malu ngomongin ini," aku Jihan.
"Sama saya?"
"Sedikit. Sama dokter nanti juga mungkin. Padahal aku belajar kedokteran."
Bian tidak menertawakannya. "Kamu datang sebagai diri kamu. Nggak harus tahu semua jawaban."
Jihan menatap catatan itu, lalu mengangguk. Ada perbedaan antara memahami topik di buku dan membicarakan tubuh serta rencana hidup sendiri. Ia belum terbiasa, dan rupanya tidak harus berpura-pura terbiasa.
Setelah buku ditutup, mereka duduk santai di ruang tengah. Dari tempat itu Jihan bisa melihat dapur, termasuk kelinci kecil yang kini benar-benar menyimpan sendok mereka.
Benda itu tidak menyelesaikan persoalan rumah tangga. Tetapi setiap kali melihatnya, Jihan akan ingat perjalanan belanja ketika mereka tertawa, mengembalikan barang yang tidak perlu, dan memilih sesuatu bersama.
"Mas," panggilnya.
"Apa lagi?"
"Aku senang hari ini."
Bian menoleh, lalu tersenyum. Kali ini ia tidak bertanya apakah karena kelinci. Ia tahu jawaban Jihan lebih panjang daripada itu.