Hari ketiga dimulai dengan pesan Bian bahwa pertemuan terakhirnya akan berlangsung pagi itu. Jihan membacanya sambil menunggu air minum terisi, lalu menyelipkan ponsel ke tas.
Ia sudah punya rencana untuk sore: pulang bersama Shasya, menyelesaikan bahan belajar yang perlu dibahas, kemudian menunggu kabar perjalanan Bian. Ia ingin rumah rapi ketika suaminya datang, tetapi tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya hanya untuk melipat ulang bantal sofa.
"Gue bawa catatan yang kemarin, ya," ujar Shasya ketika mereka bertemu.
"Iya. Nanti di tempat gue aja. Mas belum tentu sudah sampai."
"Kalau sudah?"
"Ya kita selesaiin dulu. Nggak sampai tengah malam juga."
Jihan mengatakannya dengan yakin. Namun beberapa jam kemudian, ketika Bian mengabarkan pekerjaan selesai lebih cepat dan dirinya sudah bersiap pulang, keyakinan itu goyah sedikit.
Ia membayangkan menyambut Bian sendirian. Sekarang ada Shasya dan setumpuk catatan di tengah bayangan tersebut.
Jihan hampir membatalkan janji, lalu berhenti. Shasya sudah mengatur waktunya. Ia pun masih memerlukan diskusi itu, bukan sekadar mencari teman karena kesepian.
Ia mengirim pesan pada Bian untuk menjelaskan rencananya.
Balasannya tidak panjang: tidak apa-apa, lanjutkan saja.
.
.
Bian duduk dalam kendaraan dengan tas di dekat kaki. Pekerjaan tiga hari itu menghasilkan beberapa keputusan dan daftar tindak lanjut yang jelas. Ia masih perlu menyampaikan laporan di kantor, tetapi tidak membawa persoalan yang sama sekali belum dibahas.
Ketika membaca pesan Jihan, ia sempat merasa kecewa sedikit. Ia ingin pulang, duduk bersama istrinya, dan tidak membicarakan urusan lain untuk beberapa saat.
Namun Jihan tidak menolak kepulangannya. Perempuan itu sedang menepati janji yang dibuat ketika waktu kedatangan Bian belum pasti.
Bian menatap jalan, lalu mengetik bahwa ia akan mengabari lagi ketika mendekati rumah. Setelahnya ia membuka foto yang dikirim Jihan pagi tadi: dua cangkir di rak, salah satunya milik dirinya.
Tiga hari bukan waktu yang lama. Cukup untuk membuat benda sesederhana cangkir terasa seperti undangan pulang.
.
.
Jihan dan Shasya sudah berada di meja ketika pintu terbuka. Jihan segera berdiri, wajahnya berubah terang sebelum Bian sempat mengucapkan salam sampai selesai.
"Mas!"
Ia mendekat, menyalami, lalu memeluk Bian sebentar. Bian meletakkan tas agar bisa membalas dengan leluasa. Dari meja makan, Shasya pura-pura memeriksa tulisan di kertas yang sudah dibacanya berkali-kali.
"Aku lanjut sebentar, ya," kata Jihan setelah menjauh. "Tinggal bagian terakhir."
"Iya. Saya mandi dulu."
Bian menyapa Shasya, menanyakan kabarnya, lalu membawa tas ke kamar. Jihan kembali duduk dengan senyum yang terlalu lebar untuk disembunyikan.
"Sudah?" tanya Shasya.
"Apa?"
"Senyumnya disimpan dulu. Ini belum selesai."
Jihan tertawa, kemudian memusatkan perhatian pada kertas. Tidak mudah ketika tahu suaminya sudah berada di ruangan sebelah, tetapi ia memaksa diri menyelesaikan pembahasan yang telah mereka mulai.
Setengah jam kemudian, mereka menutup buku. Shasya menolak ketika Jihan menawarkan tambahan makanan; ia sudah harus pulang dan memang tidak ingin berlama-lama.
"Besok kita cek lagi hasilnya. Jangan lupa kirim bagian lo," pesannya.
"Iya, hati-hati."
Bian keluar untuk berpamitan. Setelah pintu tertutup, apartemen kembali menyisakan mereka berdua.
Jihan berdiri di dekat meja, mendadak tak tahu kalimat mana yang ingin didahulukan. Banyak yang sudah diceritakan melalui telepon, tetapi melihat Bian secara langsung membuat semuanya terasa baru lagi.
"Mau minum apa?" akhirnya ia bertanya.
"Air putih saja. Kamu duduk, saya ambil."
"Baru pulang sudah ngurus sendiri."
"Saya masih bisa ambil gelas, Ji."
Jihan tersenyum, lalu duduk di sofa. Bian menyusul dengan dua gelas dan meletakkannya di meja. Barulah Jihan merapat, menyandarkan kepala pada bahunya.
"Rumah rasanya beda kalau kamu nggak ada."
"Pengin pindah ke rumah ibuk?"
"Sempat kepikiran. Tapi ternyata bisa juga sendiri. Tetap lebih enak kamu ada."
Bian mengangguk, mengusap tangannya pelan. Ia menyukai jawaban itu: Jihan tidak hancur tanpa dirinya, tetapi tetap memilih senang ketika ia pulang.
.
.
Makan malam mereka berasal dari makanan titipan Ibuk dan tambahan sederhana. Bian menghabiskannya dengan lahap, sesekali menceritakan hal ringan selama perjalanan tanpa mengulang seluruh isi laporan proyek.
Jihan mendengarkan, lalu bercerita tentang diskusinya bersama Shasya. Setelah beberapa suap, ia menoleh dengan ragu.
"Tadi kamu kecewa nggak, pas tahu aku masih belajar?"
Bian meletakkan sendok. "Sedikit. Saya sudah bayangkan langsung ngobrol lama."
Jihan menunduk, tetapi Bian melanjutkan sebelum ia meminta maaf panjang.
"Bukan berarti kamu salah. Saya pulangnya lebih cepat dari perkiraan. Kamu sudah punya janji."
"Aku juga sempat mau batalkan. Tapi Shasya sudah siap, dan aku perlu selesaiin."
"Ya, benar kamu lanjut. Kita masih punya malam ini."
Jihan mengangguk, lalu mengambil lauk lagi. Mereka tidak mengubah rasa kecewa kecil menjadi perdebatan tentang siapa yang lebih mencintai. Ada rencana yang berbeda, lalu ada waktu untuk bertemu sesudahnya.
Selesai makan, Bian membuka koper. Jihan membantu memisahkan pakaian yang perlu dicuci, sambil mengomentari lipatan yang tidak lagi serapi saat berangkat.
"Ini habis gempa di dalam koper?"
"Saya buru-buru bereskan."
"Katanya jago susun ruang."
"Koper bukan bangunan."
Jihan tertawa, lalu berhenti ketika menemukan kaus yang ternyata masih bersih. Ia menanyakannya lebih dulu, tidak langsung memasukkan semua ke cucian.
Bian memperhatikan gerakan itu dan teringat hari ketika ia menggabungkan map Jihan tanpa bertanya. Hal-hal kecil rupanya bisa dipelajari tanpa harus diumumkan setiap kali berhasil.
Di dasar koper, Jihan menemukan kertas gambarnya tersimpan di antara dua buku, rata dan tidak teremas. Ia mengangkatnya dengan ekspresi kemenangan yang langsung membuat Bian mengulurkan tangan.
"Jangan dibuang."
"Aku cuma lihat, mas. Serius disimpan?"
Bian mengambil kertas itu, kemudian menyelipkannya ke laci di sisi tempat tidur. Jihan mengikutinya dengan pandangan geli.
"Besok aku gambar lebih bagus. Yang ini hidungnya kepanjangan."
"Yang ini saja."
Jawaban tersebut membuat Jihan berhenti bercanda sejenak. Ia mendekat dan merapikan ujung kerah kaus suaminya, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan. Bian menangkap tangannya sebelum ia menjauh. Mereka berdiri sebentar di antara koper terbuka dan tumpukan pakaian, lalu Jihan menyandarkan dahi ke bahunya. Kali ini tidak ada bunyi sambungan telepon yang harus menutup percakapan.
.
.
Sebelum tidur, Bian mengabari Mama bahwa sudah kembali. Jihan duduk di dekatnya, ikut menyapa ketika suara Mama terdengar dari ponsel.
Percakapan singkat itu berakhir dengan undangan makan pada hari lain. Mereka belum menjanjikan waktu, memilih memeriksa jadwal lebih dulu.
Setelah layar padam, Jihan menunjuk catatan belanja di meja.
"Jangan lupa kelinci."
Bian memejamkan mata sebentar, seolah baru diingatkan urusan yang jauh lebih rumit daripada proyek tiga hari.
"Masih belum menyerah?"
"Nggak. Konsisten aku orangnya."
Bian tertawa pendek. Mereka sepakat mencari pada waktu senggang terdekat, sekaligus melengkapi kebutuhan rumah yang memang belum terbeli.
Malam itu Jihan tidak memeriksa ponsel untuk mencari kabar. Bian ada di sebelahnya, masih lelah dan kadang menjawab pendek, tetapi nyata. Ia menarik selimut, menggeser bantal, lalu memberi ruang ketika Bian mendekat.
Perjalanan pertama setelah menikah sudah selesai. Ada hal yang perlu diperbaiki lain kali, tetapi tidak ada janji pulang yang ditinggalkan tanpa penjelasan.