"Han, bagian penutup lo masih kepanjangan," ujar Shasya sambil mengetuk kertas di depan Jihan.
Jihan membacanya sekali lagi, kemudian mengangguk dengan enggan. Ia sudah memangkas dua kalimat, rupanya masih ada yang bisa dibuang.
"Kalau ini hilang, maksudnya tetap jelas?"
Ranza yang duduk di seberang ikut membaca. "Jelas. Yang penting tadi sudah lo jelasin di atas."
Jihan mencoret bagian itu, lalu menghela napas. Siang hari kedua Bian bepergian, ia menghabiskan jedanya dengan merapikan bahan pembahasan bersama teman-teman. Tidak ada kesempatan memandangi ponsel sepanjang waktu, meskipun sesekali tangannya tetap mencari benda itu di saku.
Sebuah pesan Bian masuk ketika mereka selesai. Ia mengabarkan sedang berada di lokasi, kemungkinan baru bisa istirahat agak sore.
Jihan membalas singkat dan memasukkan ponsel kembali. Shasya meliriknya, kemudian menyeringai.
"Sudah nggak mondar-mandir nunggu kabar?"
"Nggak. Mas sudah kasih tahu."
"Bagus. Sekarang baca ulang penutupnya."
Jihan mendengus. Rupanya Shasya hanya memberi waktu bahagia selama beberapa detik sebelum mengembalikannya pada pekerjaan.
.
.
Di lokasi proyek, Bian memandangi dua catatan yang tidak sepenuhnya cocok. Ia meminta penjelasan ulang, bukan karena ingin mempermalukan siapa pun, melainkan karena keputusan berikutnya akan bertumpu pada informasi itu.
Salah seorang anggota tim menunjukkan perubahan yang pernah dibicarakan, sementara catatan lain masih memakai susunan sebelumnya. Bian mengangguk pelan, lalu meminta mereka menandai bagian yang perlu dipastikan bersama.
"Jangan kita jawab berdasarkan ingatan masing-masing. Kita cocokkan dulu," katanya.
Pekerjaan itu membuat waktu bergeser. Ada hal yang bisa selesai saat itu, ada yang harus menunggu pemeriksaan ulang. Bian merasakan dorongan lama untuk mengerjakan semuanya sendiri agar lebih cepat, tetapi menahan diri.
Ia membagi bagian yang perlu diperiksa dan menentukan kapan mereka berkumpul lagi. Setelah itu barulah ia mencari tempat duduk untuk minum.
Ponselnya memperlihatkan pesan Jihan bahwa sore nanti ia akan ke rumah Ibuk. Tidak ada alasan darurat, hanya makan malam dan membawa beberapa foto yang sudah dicetak.
Bian tersenyum melihat foto amplop di pangkuannya. Ia menjawab agar salam disampaikan pada Bapak dan Ibuk, lalu mengabarkan bahwa kepulangannya besok masih sesuai rencana.
Belum semua urusan selesai, tetapi ia tidak perlu menyembunyikan keadaan itu sampai menjadi kejutan.
.
.
Ibuk membuka pintu sebelum Jihan sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Beliau menyambut dengan senyum, lalu langsung memperhatikan tas yang dibawa putrinya.
"Bawa baju ganti?"
"Nggak, Buk. Adek makan di sini, nanti balik."
"Oh. Ibuk kira menginap."
Jihan menggeleng, kemudian menyerahkan amplop foto. Bapak yang mendengar percakapan mereka datang dari ruang tengah, mengambil amplop itu dengan hati-hati.
Beberapa menit berikutnya dihabiskan dengan komentar tentang wajah di foto. Ibuk menyukai foto wisuda Jihan bersama Bian yang sedang tertawa, sementara Bapak lebih lama memperhatikan foto bertiga dengan putrinya.
"Yang ini buat Bapak saja," katanya.
"Memang buat Bapak sama Ibuk semuanya."
Jihan tersenyum melihat kedua orang tuanya memilih letak foto. Kehadiran Bian tidak ada di ruang itu malam ini, tetapi fotonya ikut berdiri di antara kenangan keluarga mereka.
.
.
Saat makan, Ibuk menanyakan bagaimana rasanya sendirian di apartemen. Jihan menjawab jujur bahwa malam pertama terasa aneh, tetapi dirinya tidak sampai ingin meninggalkan rumah begitu pintu tertutup.
"Kalau mau menginap di sini, boleh," ujar Bapak.
"Tahu, Pak. Adek cuma mau coba dulu. Besok juga mas pulang."
Ibuk mengangguk. Beliau tidak memaksa, tetapi mengingatkan agar Jihan menelepon jika membutuhkan bantuan.
Percakapan kemudian beralih pada koas. Jihan menceritakan bahwa ia mulai belajar menerima koreksi tanpa menganggap dirinya gagal seluruhnya. Ibuk mendengarkan dengan ekspresi yang membuat Jihan tahu beliau pernah melalui rasa lelah serupa.
"Kadang adek pengin sudah pintar saja, Buk. Nggak usah bagian bingungnya."
"Kalau sudah pintar semuanya, kamu nggak perlu belajar di sana."
Jihan tersenyum malu.
"Yang penting kalau belum tahu, jangan pura-pura tahu," lanjut Ibuk. "Tanya, baca, periksa lagi. Capeknya memang ada."
Kalimat itu tidak membuat tugas Jihan mendadak ringan. Tetapi ia senang dapat mengeluh tanpa langsung disarankan berhenti atau dianggap terlalu manja.
Bapak menambahkan lauk ke piringnya, lalu menanyakan apakah Bian mendukung jadwal yang kadang tidak nyaman itu.
"Mas masih belajar. Adek juga. Tapi sekarang dia dengerin."
Ia tidak mengatakan suaminya sudah sempurna. Ibuk pun tidak meminta laporan tentang setiap kekurangan Bian. Mereka hanya mengobrol seperti tiga orang yang masih saling mengenal meskipun tempat tinggal salah satunya sudah berubah.
.
.
Sebelum pulang, Jihan masuk kamar lamanya untuk mengambil satu buku yang masih diperlukan. Di sana ia menemukan pembatas buku lama terselip pada halaman yang pernah penuh coretan.
Ia membacanya sekilas, tertawa melihat tulisan sendiri yang dibuat ketika terburu-buru. Ada begitu banyak versi dirinya yang tertinggal di rumah ini: anak sekolah, mahasiswa yang panik sebelum ujian, perempuan yang menangis karena Bian tidak memberi kabar.
Sekarang ia pulang membawa foto wisuda dan akan kembali ke apartemen dengan kuncinya sendiri.
Jihan menyimpan buku ke tas, lalu turun. Bik Sri sudah menyiapkan sedikit makanan untuk dibawa, cukup untuk satu kali makan agar tidak menumpuk.
"Buat besok kalau non belum sempat masak."
"Makasih, Bik. Mas pasti senang juga."
Ia berpamitan setelah memastikan kendaraannya sudah siap. Dalam perjalanan, Jihan mengirim kabar kepada Bian bahwa ia sedang pulang dan akan menghubungi lagi setelah sampai.
Di depan pintu tadi, Bapak sempat memanggilnya kembali. Ada kantong kecil berisi buah yang lupa diberikan Ibuk. Jihan menerima kantong itu sambil mengeluh bahwa tangannya sudah penuh, tetapi tetap membungkuk mencium tangan Bapak sekali lagi.
"Kalau kebanyakan, besok dibagi sama teman," pesan Bapak.
"Bapak sendiri sudah makan?"
"Sudah. Jangan malah periksa isi piring Bapak sekarang."
Jihan tertawa. Dari balik bahunya, Ibuk mengingatkan agar buku yang baru diambil jangan tertinggal lagi. Ia mengangkat tas sebagai jawaban, lalu berjalan menuju kendaraan. Ketika menoleh, kedua orang tuanya masih berdiri berdampingan. Jihan melambaikan tangan sampai rumah tertutup belokan. Sesampainya di apartemen nanti, ia ingin mengirim foto buah yang sudah dipindahkan ke mangkuk, supaya Ibuk tahu pemberiannya benar-benar dibawa masuk.
.
.
Telepon mereka malam itu lebih singkat. Bian masih perlu menyelesaikan rangkuman untuk pertemuan esok, sementara Jihan ingin membaca ulang bahan yang dibawa.
"Hari ini kamu kedengaran senang," ujar Bian.
"Habis makan masakan rumah. Sama dapat nasihat gratis."
"Tentang saya?"
"Tentang belajar, mas. Jangan percaya diri begitu."
Bian tertawa. Ia kemudian menceritakan bahwa timnya menemukan catatan yang perlu diselaraskan, tetapi pekerjaan sudah terbagi dan tidak perlu dibawa pulang sebagai kekacauan baru.
Jihan mendengarkan tanpa mencoba menawarkan jawaban tentang pekerjaan yang tidak dipahaminya.
"Semoga besok selesai. Aku tunggu kamu, tapi jangan buru-buru sampai asal tinggalin masalah."
"Iya. Besok saya kabari setelah pertemuan terakhir."
Sesudah berpamitan, Jihan menyiapkan barang untuk pagi. Ia tetap kangen, tetapi malam kedua tidak terasa sepanjang malam pertama. Hari itu berisi pekerjaan, kunjungan pada orang tua, dan percakapan dengan suaminya. Tidak ada satu bagian pun yang harus menelan seluruh hidupnya.