Koper Bian sudah berdiri di dekat pintu ketika Jihan meletakkan dua piring di meja makan. Pagi masih gelap, dan rambut Bian belum sepenuhnya kering setelah mandi.
"Kamu nggak harus bangun sekarang," katanya.
"Sudah bangun. Masa disuruh tidur lagi sambil berdiri."
Bian menarik kursi. Jihan duduk di hadapannya, menguap kecil sebelum mengambil sendok. Mereka sarapan tanpa banyak percakapan, tetapi sesekali pandangan Jihan berpindah pada koper.
Tiga hari. Bukan tiga bulan.
Ia sudah mengulang kalimat itu sejak semalam, dan tetap saja melihat barang Bian siap dibawa pergi terasa berbeda daripada membacanya di kalender.
"Jangan lihat kopernya terus. Nggak akan berubah jadi lemari," ujar Bian.
Jihan mendelik. "Aku lagi menikmati waktu sama suami."
"Suaminya di sini."
Bian menunjuk dirinya sendiri. Jihan tertawa pendek, lalu akhirnya menatap orang yang benar.
.
.
Saat kendaraan jemputan datang, Bian memeriksa barangnya sekali lagi. Jihan ikut berdiri di dekat pintu dengan tangan bertaut di depan tubuh.
"Kalau sudah sampai kabari," pesannya.
"Iya."
"Makan juga. Jangan kopi doang."
"Kamu juga."
Jihan mengangguk, kemudian meraih tangan Bian untuk disalami. Lelaki itu menariknya ke pelukan sebentar, mengecup keningnya, lalu melepaskan sebelum terlambat berangkat.
"Saya pulang sesuai rencana kalau pekerjaannya selesai. Kalau ada perubahan, kamu tahu dari saya dulu."
Jihan menatapnya. "Jangan janji semuanya pasti lancar. Cukup kabarin."
Bian mengangguk, menerima koreksi itu. Setelah pintu menutup, Jihan tetap berdiri beberapa detik, mendengarkan roda koper yang semakin jauh di koridor.
Apartemen kembali diam.
Ia bisa langsung menelepon Ibuk, tetapi memilih membereskan piring lebih dulu. Sesudahnya mandi, menyiapkan barang, lalu berangkat menjalani hari yang memang sudah menunggunya. Rindu ternyata tidak membatalkan kewajiban mengisi botol minum atau membawa buku yang benar.
.
.
Menjelang siang, kabar Bian masuk ketika Jihan baru mendapat jeda. Ia sudah tiba bersama tim dan akan menuju lokasi setelah menaruh barang.
Ada foto langit yang diambil dari halaman penginapan, tanpa wajah Bian di dalamnya.
Jihan membalas dengan satu kalimat.
Yang dikangenin orangnya, mas. Bukan awannya.
Beberapa menit kemudian sebuah foto baru datang. Wajah Bian terlihat terlalu dekat, sudutnya miring, dan sebagian bahunya terpotong.
Jihan tertawa sampai Shasya menoleh.
"Apa?"
"Mas Bian kalau foto diri sendiri begini banget."
"Yang penting dikirim. Daripada disuruh tunggu proposal dulu."
Jihan kembali menatap layar, tersenyum lebih lama daripada yang ingin diakuinya. Ia menyimpan foto itu, lalu mengabarkan jadwalnya masih berjalan seperti biasa.
Di lokasi proyek, Bian memasukkan ponsel sebelum bergabung dengan tim. Ia memeriksa catatan, mendengarkan penjelasan orang yang sehari-hari berada di sana, lalu mulai membandingkan kondisi yang terlihat dengan bahan yang dibawa dari kantor.
Ada hal yang sesuai. Ada pula bagian yang perlu ditanyakan lagi, bukan langsung diputuskan hanya karena semua orang menunggu jawabannya.
Menjelang sore, ia baru menyadari daftar pekerjaannya lebih panjang daripada perkiraan pagi tadi.
.
.
Jihan pulang ke apartemen dengan rencana sederhana: makan, menyelesaikan sedikit tugas, lalu menelepon Bian. Ia menaruh ponsel di meja dalam posisi mudah terlihat, tanpa ingin mengaku bahwa dirinya sedang menunggu.
Bian mengirim pesan sebelum waktu yang biasa mereka gunakan untuk mengobrol. Ada pembahasan tambahan bersama tim. Ia belum bisa menelepon sekarang dan akan memberi kabar sesudahnya.
Jihan membaca pesan itu, lalu mengetik jawaban bahwa tidak apa-apa.
Memang tidak apa-apa. Tetap saja, ia kecewa sedikit.
Ia sudah menyiapkan beberapa cerita kecil, termasuk kejadian lucu ketika Shasya salah mengambil tas yang modelnya mirip. Cerita itu sekarang terasa menggantung di kepalanya tanpa tempat ditaruh.
Jihan menutup buku, berjalan ke dapur, kemudian kembali lagi. Ia hampir menelepon untuk bertanya masih lama atau tidak, tetapi berhenti sebelum menekan tombol.
Bian sudah menjelaskan. Menanyakan hal yang sama lima menit kemudian tidak akan membuat pembahasan selesai lebih cepat.
Ia mengirim pesan suara pendek berisi ceritanya, lalu menambahkan bahwa dirinya akan tidur jika sudah mengantuk. Setelah itu ia meletakkan ponsel agak jauh dan kembali mengerjakan tugas.
.
.
Bian baru mendengarkan pesan itu di kamar. Bahunya pegal, dan ia masih perlu mencatat beberapa keputusan sebelum lupa. Namun ketika suara Jihan terdengar dari ponsel, ia tersenyum tanpa sadar.
Perempuan itu sempat tertawa di tengah cerita, lalu mengeluh karena suaranya sendiri terdengar aneh saat direkam.
Bian memutar bagian itu sekali lagi.
Ada pesan tambahan: Jihan sudah mulai mengantuk. Jika ia belum selesai, mereka bisa bicara besok.
Bian mengecek waktu dan bertanya apakah Jihan masih bangun. Jawabannya datang tidak lama kemudian, hanya satu kata: masih.
Ia segera menelepon.
"Saya ganggu tidurmu?"
"Belum tidur. Sudah hampir jadi kepompong saja."
Bian membayangkan Jihan menggulung diri dalam selimut. Rasa lelahnya belum hilang, tetapi kamar penginapan tidak lagi terasa terlalu sunyi.
"Ceritamu sudah saya dengar. Kasihan Shasya."
"Dia malah nyalahin tasnya karena terlalu pasaran."
Mereka tertawa, lalu diam sebentar. Tidak semua cerita perlu diteruskan sampai panjang. Mendengar napas dan suara biasa dari seberang ternyata sudah cukup untuk membuat Jihan berhenti memandangi kursi kosong di ruang duduk.
"Aku tadi agak sedih karena nggak jadi telepon sesuai bayangan," akunya.
"Maaf, pembahasannya bertambah."
"Aku tahu. Kamu sudah bilang. Aku cuma cerita perasaanku, bukan minta kamu ninggalin kerjaan."
Bian menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. Ia terbiasa mendengar kecewa sebagai tanda masalah yang harus segera dibela atau dibereskan. Kali ini Jihan hanya ingin didengar.
"Saya juga pengin telepon lebih cepat," jawabnya. "Besok saya kabari lagi begitu tahu jedanya."
"Iya. Kamu jangan begadang habis ini."
"Masih tulis sedikit catatan, lalu tidur."
Jihan mengingatkannya minum. Bian bertanya apakah pintu sudah dikunci, lalu menerima jawaban iya tanpa mengulang pemeriksaan panjang seolah istrinya tidak bisa menjaga diri.
Setelah percakapan ditutup, Jihan meletakkan ponsel di nakas. Ia masih merindukan Bian, dan besok pagi sisi tempat tidur itu tetap kosong. Namun malam ini rasa rindu tidak bercampur dengan kebingungan tentang ke mana suaminya menghilang.
Di kota lain, Bian menyelesaikan catatannya, memasang alarm, lalu memandangi foto Jihan sebelum mematikan layar.
Sebelum sempat tidur, ia menemukan secarik kertas terselip di kantong depan koper. Tulisan Jihan miring di ujungnya: jangan lupa bawa pulang diri sendiri. Di bawah kalimat itu ada gambar wajah berkumis yang lebih menyerupai kucing daripada dirinya.
Bian memotret kertas tersebut dan mengirimkannya tanpa menuntut balasan malam itu.
Di apartemen, layar ponsel Jihan masih menyala ketika foto masuk. Ia menggigit bibir menahan tawa, lalu mengetik bahwa kumisnya memang sengaja dibuat berlebihan.
"Saya simpan," balas Bian.
Jihan membaca dua kata itu beberapa kali. Kertasnya hanya sobekan halaman belakang buku belanja, bahkan salah satu sudutnya terlipat. Ia tidak menyangka Bian akan menganggapnya perlu disimpan. Setelah menaruh ponsel kembali, ia menarik selimut sampai bahu dengan senyum yang belum juga hilang.
Hari pertama belum sempurna, tetapi mereka berhasil menjalaninya tanpa saling membuat cemas dengan sengaja.