Foto wisuda tiba dalam amplop bersama beberapa foto akad yang akhirnya mereka pilih untuk dicetak. Jihan membukanya di meja makan dengan hati-hati, seperti takut ujung kertasnya terlipat.
"Yang ini," katanya sambil mengangkat foto ketika Bian tertawa.
Bian mendekat. "Kenapa harus itu?"
"Langka. Harus diabadikan."
"Saya bukan benda museum."
Jihan terkikik, lalu menyandingkan foto tersebut dengan foto akad. Ada wajah yang sama, tetapi kegugupannya berbeda. Ia menyentuh tepi foto orang tuanya sebelum memilih bingkai yang sudah tersedia.
Rak di apartemen kini lebih ramai. Tidak hanya keluarga asal mereka, tetapi juga dua hari penting yang mereka lewati bersama.
Bian membantu menempatkannya, menggeser sedikit agar tidak menutupi buku. Setelah selesai, mereka berdiri bersebelahan memandangi hasilnya.
"Lumayan," ujar Bian.
"Bagus, mas. Jangan semua lumayan."
"Bagus."
Jihan tersenyum puas, lalu mengumpulkan sisa foto untuk dibawakan kepada Ibuk dan Mama nanti.
.
.
Beberapa hari setelah wisuda, Bian membawa kabar pekerjaan baru ke meja makan. Bukan kabar yang disampaikan setelah tiket dibeli atau koper sudah berada di bagasi. Kali ini ia membicarakannya pada malam yang sama setelah mendapat tugas.
"Minggu depan saya perlu ke luar kota tiga hari," katanya.
Sendok Jihan berhenti sesaat. Ia tidak langsung marah, tetapi Bian melihat perubahan kecil pada wajahnya.
"Sudah pasti?"
"Tugasnya sudah. Rincian perjalanan sedang diatur. Saya akan periksa proyek bersama tim, bukan berangkat sendiri."
Jihan menelan makanannya, lalu mengangguk. Ia tahu pekerjaan Bian bisa membawanya bepergian. Mengetahui itu sejak sebelum menikah tidak berarti ia otomatis senang setiap rencana perjalanan muncul.
"Aku bakal sendiri di sini."
"Iya. Kalau kamu ingin ke rumah ibuk atau Mama, boleh. Kalau ingin tetap di sini, kita atur keperluannya."
Jihan menatap apartemen di sekelilingnya. Beberapa waktu lalu ia masih merasa asing di sini. Sekarang membayangkan ruangan ini tanpa Bian selama beberapa malam menimbulkan rasa lain.
"Aku lihat jadwalku dulu. Jangan langsung putusin aku harus pindah ke mana."
"Iya. Saya tanya maumu."
Jawaban itu membuat bahu Jihan sedikit turun. Ia mengambil ponsel untuk melihat jadwal, lalu meminta Bian memperlihatkan hari-hari yang dimaksud.
.
.
Di meja belajar, Jihan menemukan bahwa salah satu hari akan cukup padat. Hari lain justru memungkinkan ia pulang lebih awal. Ia belum ingin meninggalkan apartemen sepanjang perjalanan Bian, tetapi mungkin bisa makan malam di rumah orang tuanya sekali.
Bian duduk di dekatnya, mencatat waktu yang sudah diketahui. Ada bagian yang belum pasti, dan ia mengatakannya begitu, tidak mengisi semua kekosongan dengan janji bahwa dirinya pasti sempat menelepon pada jam tertentu.
"Kalau jadwal di lokasi berubah, saya kabari. Malam kita cari waktu untuk telepon, tapi saya nggak mau janji tepat jam sekian lalu meleset."
"Asal jangan hilang seharian."
"Iya."
Jihan menatapnya. Ia teringat perjalanan ke Jepang yang dulu diketahuinya dari Mama. Luka itu tidak muncul sebagai ledakan malam ini, hanya rasa waspada yang membuatnya ingin memastikan lebih banyak.
"Aku percaya kamu pergi kerja, mas. Yang bikin takut itu kalau aku nggak tahu apa-apa."
Bian mengangguk. "Saya paham. Begitu tiket dan tempat menginap sudah jelas, saya kirim."
Jihan menambahkan jadwalnya sendiri, lalu menutup buku. Mereka belum menyelesaikan semua kemungkinan, tetapi setidaknya pembicaraan berlangsung sebelum siapa pun meninggalkan rumah.
.
.
Esoknya, Bian berbicara dengan Papa mengenai pekerjaan yang akan ditanganinya. Proyek itu membutuhkan perhatian lebih daripada kunjungan singkat, dan Bian ingin memahami batas tanggung jawabnya sejak awal.
"Tiga hari untuk kunjungan ini," jelas Papa. "Setelah itu laporan dan keputusan berikutnya dibahas di kantor. Jangan menjanjikan perubahan di lokasi sebelum datanya cukup."
Bian mengangguk, mencatat hal yang harus diperiksa bersama tim. Ia senang mendapat kepercayaan, tetapi tidak lagi menganggap menerima pekerjaan berarti semua urusan rumah harus menghilang dari kepalanya.
Di sela persiapan, ia mengirim rincian perjalanan yang sudah dikonfirmasi kepada Jihan. Setelah itu ia kembali bekerja, tidak menunggu istrinya membalas saat itu juga.
Jihan membaca pesan tersebut ketika sudah bisa beristirahat. Ia menyimpan informasi penting, lalu menjawab bahwa dirinya akan tetap di apartemen, dengan rencana mengunjungi Ibuk pada salah satu sore jika jadwal memungkinkan.
Keputusan itu membuatnya sedikit gugup. Namun ia ingin belajar tinggal di rumah mereka sendiri tanpa setiap kesepian langsung dianggap sesuatu yang harus dihindari.
Ketika membahas keberangkatan, Bian tidak meminta Jihan ikut mengantar sampai jauh. Ia tahu istrinya masih punya kegiatan pagi. Mereka memilih berpamitan dari apartemen, lalu menjalani urusan masing-masing. Jihan tetap ingin menyiapkan sarapan bersama sebelum Bian berangkat, asal waktunya memungkinkan. Jika tidak, ia tidak perlu memaksa bangun terlalu dini hanya untuk membuktikan perhatian. Kesepakatan itu membuat perjalanan terasa sebagai bagian dari hidup mereka, bukan ujian yang harus diluluskan dengan mengorbankan semua kebutuhan sendiri.
Ia tetap mengabari Ibuk, bukan untuk meminta dijemput, melainkan agar orang tuanya tahu rencananya.
.
.
Akhir pekan sebelum Bian berangkat, mereka menyiapkan kebutuhan rumah secukupnya. Jihan memeriksa bahan makanan, sementara Bian memastikan barang yang biasa dicarinya tidak berserakan menjelang perjalanan.
Di tengah kegiatan itu, Jihan membuka laci dan menemukan daftar belanja lama. Foto tempat sendok kelinci masih ada di ponselnya, dan ia tertawa sendiri saat mengingat bagaimana benda itu berulang kali ditunda.
"Apa?" tanya Bian.
"Kelincinya masih belum punya rumah."
Bian menatapnya, lalu menggeleng. "Kalau memang masih mau, nanti kita cari."
"Nanti itu kapan?"
"Setelah saya pulang. Kita turun beli kebutuhan rumah sekalian."
Jihan tersenyum. Kali ini ia tidak menganggap benda kecil itu sebagai bukti cinta yang harus segera dibelikan. Hanya ada kesenangan dalam memiliki rencana biasa setelah perjalanan selesai.
Mereka juga mengingat kembali pembicaraan tentang menunda anak. Jihan sudah siap mengatur waktu untuk konsultasi bersama, dan Bian meminta ia memilih beberapa kemungkinan hari yang tidak berbenturan dengan kegiatan koas.
Tidak ada keputusan medis yang mereka buat sambil menebak-nebak di meja makan. Mereka hanya mencatat bahwa pembicaraan itu perlu dilanjutkan dengan orang yang tepat, sesudah perjalanan Bian.
.
.
Malam sebelum keberangkatan, koper Bian berada di dekat lemari. Jihan duduk di lantai, membantu memeriksa barang yang sudah dimasukkan, lalu mengangkat satu kaus kaki yang tidak berpasangan.
"Ini mau dipakai sebelah aja?"
Bian mencari pasangannya di tumpukan pakaian. Jihan tertawa ketika ternyata benda itu terselip di bawah tas kecil.
"Pak arsitek bisa atur gedung, kaus kaki susah."
"Kamu kemarin cari peniti setengah pagi."
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
Mereka tertawa, kemudian kembali melipat pakaian. Saat koper ditutup, Jihan meletakkan tangan di atasnya sebentar.
"Aku pasti kangen," katanya.
Bian duduk di dekatnya. "Saya juga."
"Tapi aku nggak akan marah cuma karena kamu berangkat."
"Saya juga nggak akan membuat kamu menebak-nebak saya ada di mana."
Jihan mengangguk. Ia bersandar pada bahu Bian, memandangi foto wisuda di rak dari tempat mereka duduk. Foto itu mengingatkannya bahwa suaminya bisa menepati janji melalui tindakan, bukan hanya meminta dipercaya.
Besok mereka akan mencoba hal lain: tetap dekat ketika tidak berada di ruangan yang sama.