Pagi wisuda, Bian menunggu Jihan selesai memakai sepatu tanpa sekali pun melihat jam dengan wajah mendesak. Padahal sejak tadi ia sudah siap, kunci mobil dan tas kecil berada di dekat pintu.
Jihan justru semakin gugup melihatnya tenang.
"Mas, kenapa nggak nyuruh cepat?"
"Kita masih punya waktu."
"Oh."
Ia merapikan bagian terakhir pakaiannya, mengambil toga yang sudah disiapkan, lalu berdiri di depan Bian.
"Sudah."
Bian memandangnya beberapa saat sebelum mengangguk. "Cantik. Ayo."
Jihan tersenyum diam-diam sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya. Kali ini tidak ada telepon yang hanya dijawab operator, tidak ada bunga datang menggantikan seseorang. Orang yang pernah berjanji itu benar-benar sedang menyetir di sebelahnya.
Bapak dan Ibuk sudah menunggu. Mereka berangkat bersama, membawa percakapan kecil yang berisi pemeriksaan barang dan rencana bertemu setelah acara.
Ibuk berkali-kali memandang Jihan dari kursi belakang. Jihan menangkapnya lewat kaca dan tertawa.
"Kenapa, Buk?"
"Nggak apa-apa. Senang lihatmu."
Jawaban itu membuat Jihan berhenti tertawa. Ia mengangguk, lalu menatap ke depan agar matanya tidak panas terlalu awal.
.
.
Sesampainya di tempat acara, keramaian langsung menyambut mereka. Ada keluarga yang mencari pintu masuk, wisudawan yang memeriksa pakaian, dan teman-teman yang saling memanggil dari kejauhan.
Shasya melambaikan tangan begitu melihat Jihan. Ranza berdiri di dekatnya, sibuk memastikan barang bawaan tidak tertukar.
"Akhirnya lengkap," ujar Shasya, lalu menoleh pada Bian. "Mas, titip tas sebentar boleh?"
"Boleh."
Tidak sampai semenit, Bian sudah memegang barang tambahan. Jihan menahan tawa melihat perubahan tugas suaminya dari pengantar menjadi penjaga tas.
"Nanti aku ambil lagi," kata Shasya cepat.
Bian hanya mengangguk. Untuk pagi ini ia rupanya sudah menerima bahwa jabatan suami wisudawati datang dengan beberapa tugas tak tertulis.
Sebelum berpisah menuju tempat masing-masing, Jihan memastikan Bapak dan Ibuk tahu arah masuk. Bian menemaninya sampai titik yang diperbolehkan, lalu menunjuk tempat mereka akan bertemu setelah acara.
"Saya tunggu di luar. Kalau keluarnya ramai, jangan buru-buru cari. Telepon saja."
Jihan mengangguk. Ia menyalami orang tuanya, kemudian meraih tangan Bian.
"Makasih sudah datang, mas."
"Acara belum mulai, Ji."
"Tetap makasih."
Bian tersenyum dan melepas genggamannya perlahan. Jihan berjalan bersama teman-temannya, sempat menoleh sekali lagi. Suaminya masih berdiri di sana, mengangkat tangan sebelum berbalik mencari tempat menunggu.
.
.
Di dalam, Jihan mengikuti rangkaian acara dengan perasaan yang sulit diam. Ada bagian yang membuatnya tegang, ada bagian ketika ia sempat bertukar pandang dengan teman-temannya dan tersenyum tanpa suara.
Ia memikirkan hari-hari kuliah yang pernah terasa tidak selesai-selesai. Tugas, revisi, sidang, percakapan panjang dengan Shasya saat sama-sama lelah. Tidak semuanya indah, tetapi semuanya ikut membawanya sampai ke kursi ini.
Ketika tiba saatnya mengikuti prosesi, Jihan berdiri dan berjalan dengan hati-hati. Ia tidak tahu persis di mana Bapak dan Ibuk duduk, tetapi tahu mereka ada di ruangan yang sama.
Sementara Bian berada di luar.
Keberadaan mereka tidak membuat langkahnya lebih mudah secara ajaib. Jihan tetap gugup, tetap harus memperhatikan arahan. Namun ada kehangatan dalam mengetahui bahwa hari penting ini tidak akan ia akhiri dengan menahan kecewa sendirian.
Di tempat menunggu, Bian duduk dengan tas-tas titipan di dekat kaki. Ia sempat membalas satu pertanyaan singkat dari Patricia, mengarahkan pada berkas yang sudah disiapkan, lalu kembali menyimpan ponsel.
Ia tidak membuka laptop. Hari ini ia memang datang untuk menunggu.
Waktu berjalan lebih lambat daripada biasanya, tetapi Bian tidak merasa harus mengisinya dengan sebanyak mungkin pekerjaan. Ia memperhatikan keluarga-keluarga lain, beberapa membawa bunga, beberapa sibuk mencari tempat teduh.
Ketika Mama menelepon, ia menjawab pelan dan mengabarkan bahwa Jihan masih mengikuti acara. Mama meminta foto begitu mereka bertemu nanti, lalu menutup panggilan setelah berpesan agar Bian juga makan.
Bian tersenyum kecil. Dari generasi ke generasi, rupanya pesan keluarga mereka tetap sama.
.
.
Jihan keluar bersama arus orang yang membuatnya harus bergerak pelan. Ia baru hendak mengambil ponsel ketika melihat Bian berdiri di tempat yang sudah mereka sepakati, membawa tas di satu tangan dan minuman di tangan lain.
"Mas!"
Bian menoleh. Senyumnya muncul sebelum Jihan sampai di depannya.
"Selamat, Bu Sarjana."
Jihan tertawa, lalu tiba-tiba menangis. Tidak deras, hanya air mata yang seolah sudah menunggu sejak pagi. Bian menyerahkan minuman lebih dulu sebelum mengambil tisu dari tas.
"Sudah disiapkan," katanya.
Jihan mengangguk sambil menyeka mata. "Kamu benar-benar nunggu."
"Iya."
Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada alasan mengapa ia harus pergi setelah lima menit. Bian ada di sana ketika Bapak dan Ibuk menyusul, lalu membantu mereka mencari tempat yang tidak terlalu padat untuk berfoto.
Foto pertama bersama orang tua. Setelah itu dengan Shasya dan Ranza. Kemudian giliran Bian berdiri di sampingnya, sedikit kaku ketika Shasya memberi arahan.
"Mas, dekat dikit. Itu istrinya sendiri."
Jihan menutup mulut menahan tawa. Bian bergeser, merangkulnya ringan, lalu menatap kamera.
"Nah. Senyum. Jangan ekspresi rapat."
Kali ini Bian tertawa sungguhan, tepat ketika foto diambil. Shasya langsung menunjukkan hasilnya dengan bangga.
Jihan memandangi layar lebih lama. Ia tahu foto itu akan dicetak.
Sebelum berpisah dengan teman-temannya, Shasya merangkul bahu Jihan. Untuk beberapa detik keduanya hanya memandangi keramaian, terlalu lelah untuk terus berpose.
"Ingat waktu kita keluar sidang?" tanya Shasya.
"Ingat. Revisi langsung nunggu."
"Sekarang juga masih banyak yang nunggu."
Jihan mengangguk, lalu keduanya tertawa. Tidak ada yang berpura-pura bahwa setelah toga dipakai semua akan mudah. Mereka masih bisa bingung, masih akan dikoreksi, masih perlu membaca ketika orang lain sedang beristirahat.
Ranza mengangkat ponsel untuk satu foto lagi, kali ini tanpa arahan panjang. Jihan merapat pada Shasya, membiarkan wajah lelahnya tetap terlihat.
Ia ingin menyimpan bagian ini juga: persahabatan yang ikut bertahan di antara tugas dan keluhan, bukan hanya foto dirinya berdiri rapi dengan gelar baru. Setelah berpelukan, mereka sepakat saling mengirim foto ketika sudah sampai rumah, lalu berpamitan kepada keluarga masing-masing.
.
.
Mereka makan bersama setelah acara, memilih tempat yang memungkinkan Bapak dan Ibuk duduk nyaman. Percakapan bergerak dari kejadian lucu di dalam gedung sampai rencana Jihan kembali pada kegiatan koas.
"Besok tetap belajar lagi," kata Jihan sambil menyandarkan punggung.
"Iya. Hari ini dirayakan dulu," sahut Ibuk.
Bian mengangguk, lalu mengambil foto Jihan yang sedang mendengarkan Bapak. Foto itu tidak serapi yang tadi diarahkan Shasya, tetapi ia menyimpannya juga.
Setelah mengantar orang tua pulang, Jihan duduk lebih santai di mobil. Toga sudah diletakkan dengan hati-hati, dan rasa lelah mulai menggantikan kegugupan.
"Waktu sidang dulu aku pengin kamu ada," katanya tiba-tiba.
Bian melirik sebentar. "Saya ingat."
"Hari ini senang banget kamu ada."
Bian mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan bahwa hari ini menghapus ketidakhadirannya dahulu. Ia hanya meraih tangan Jihan ketika mobil berhenti, menggenggam sebentar sebelum kembali memperhatikan jalan.
Jihan bersandar, memandangi cincin di jarinya. Janji lama itu akhirnya punya akhir yang sederhana: ia keluar dari acara, mencari suaminya, dan menemukannya sedang menunggu.