"Bagian ini dasar penjelasannya belum cukup kuat, Jihan. Kamu periksa lagi."
Jihan mengangguk, menandai catatan di depannya. Pembahasan hari itu tidak berjalan sebaik yang ia bayangkan. Ada pertanyaan yang bisa dijawab, ada pula bagian yang membuatnya berhenti terlalu lama sebelum menyusun kalimat.
Ia tidak dimarahi. Justru karena koreksinya disampaikan tenang, Jihan tidak punya alasan untuk menganggap masalahnya hanya suasana hati orang lain.
Ia memang perlu membaca lagi.
Selesai kegiatan, Jihan duduk di samping Shasya dengan wajah lelah. Sahabatnya melirik catatan yang penuh tambahan, lalu menyodorkan minuman.
"Gue juga kena koreksi. Jangan muka lo kayak disuruh ulang kuliah."
"Gue tahu. Cuma tadi udah belajar, terus pas ditanya kosong."
"Belajar lagi. Nanti gue dengerin lo jelasin."
Jihan mengangguk. Ada beberapa jam di antara pekerjaan dan kepulangan yang bisa dipakainya untuk memeriksa bagian yang belum jelas. Ia mengirim pesan kepada Bian bahwa hari ini akan pulang sedikit lebih lambat, lalu membuka sumber bacaannya kembali.
Menikah tidak membuat tugasnya berkurang. Wisuda yang semakin dekat pun tidak berarti semua hal sudah dikuasainya.
.
.
Di kantor, Bian menghadapi pertanyaan yang berbeda. Salah satu klien meminta pertemuan pada pagi yang sudah ditandainya untuk wisuda Jihan.
Patricia menyampaikan permintaan itu tanpa langsung menyetujui, sesuai kebiasaan yang kini mereka jalankan. Bian memandangi jadwal, lalu materi yang sudah siap dibahas.
Ada bagian dari dirinya yang ingin mencari cara menghadiri keduanya. Datang sebentar ke pertemuan, lalu menyusul. Atau mengikuti melalui telepon sambil menunggu acara.
Ia hampir mengucapkannya sebelum teringat bahwa dulu semua masalah dimulai dari keyakinan bisa menyelipkan Jihan di sisa waktu.
"Tawarkan hari sebelumnya atau setelahnya, Pat. Kalau beliau hanya bisa hari itu, saya bicarakan dengan tim siapa yang mendampingi."
"Baik, Pak."
Tidak ada adegan besar setelah keputusan itu. Patricia mencatat, menghubungi pihak terkait, lalu kembali dengan pilihan pertemuan persiapan yang bisa dilakukan lebih awal. Beberapa pekerjaan Bian bertambah sebelum hari wisuda, tetapi tidak ada kantor yang runtuh karena ia tidak hadir satu pagi.
Papa mendengar pembagian tugas itu ketika mereka memeriksa bahan bersama.
"Sudah jelas siapa yang menjawab kalau ada pertanyaan?"
"Sudah, Pa. Saya juga siapkan catatan keputusan sebelumnya."
Papa mengangguk. Kali ini Bian tidak menunggu dimarahi Mama atau diingatkan Jihan untuk mengatur waktunya.
.
.
Jihan tiba di apartemen saat Bian sedang menata makanan di meja. Ia melepas tas, mencuci tangan, lalu duduk tanpa banyak bicara.
Bian menunggunya menyuap beberapa kali sebelum bertanya.
"Hari ini berat?"
"Lumayan. Pembahasanku banyak yang perlu dibetulkan."
"Mau cerita?"
Jihan menjelaskan bagian yang membuatnya kesal pada diri sendiri, tanpa membawa rincian pribadi pasien ke meja makan. Bian mendengarkan, meski istilah tertentu membuat dahinya berkerut.
"Saya mungkin nggak paham isinya," katanya setelah Jihan berhenti. "Tapi kalau kamu mau latihan ngomong, saya bisa dengar."
Jihan menatapnya. Ia tadinya hanya ingin mengeluh sebentar, tetapi tawaran itu terasa lebih berguna daripada diminta jangan dipikirkan.
"Nanti habis makan, ya. Tapi jangan pura-pura ngerti."
"Memang saya nggak ngerti."
"Jujur banget."
Bian mengangkat bahu. Jihan tertawa kecil, dan sedikit ketegangan di wajahnya berkurang.
Setelah meja dibereskan, ia duduk dengan catatan yang sudah diperbaiki. Bian mengambil tempat di hadapannya, tidak membawa ponsel. Jihan memulai, tersendat di kalimat kedua, lalu mendengus kesal.
"Ulang," gumamnya sendiri.
Bian tidak memotong. Ketika Jihan selesai, ia menyampaikan bagian yang sulit diikutinya sebagai pendengar. Bukan mengoreksi materi kedokteran, hanya menunjukkan bahwa Jihan melompat terlalu cepat dari satu gagasan ke gagasan lain.
Jihan menandai bagian itu. "Iya, tadi juga aku keburu ngomong."
Mereka mencoba sekali lagi. Setelahnya Jihan kembali memeriksa isi dengan bahan belajarnya sendiri, sementara Bian mengerjakan tugas kantor di sebelah.
Ia tidak bisa menggantikan pembimbing atau teman belajarnya. Tetapi keberadaan Bian membuat latihan yang semula ingin ditundanya akhirnya benar-benar dilakukan.
Beberapa waktu kemudian giliran Bian menghela napas di depan layar. Jihan mengangkat wajah dan melihat suaminya membaca satu paragraf berulang kali.
"Kenapa, mas?"
"Penjelasan untuk klien. Takut terlalu panjang."
"Bacakan."
Bian sempat ragu, lalu membacanya. Jihan mendengarkan, kemudian menunjukkan bahwa kalimat terpenting justru berada paling akhir. Selebihnya ia tidak tahu soal rancangan bangunan, tetapi ia tahu kapan sebuah penjelasan membuat pendengarnya kehilangan arah.
Bian membaca ulang dari bagian yang ditunjuk Jihan, kemudian mengangguk.
"Iya juga."
"Tuh. Aku berguna juga di bidang nonmedis."
"Memang saya bilang nggak?"
Jihan tersenyum, lalu kembali pada catatannya. Mereka bukan ahli dalam pekerjaan masing-masing, dan tetap perlu memeriksa materi melalui orang yang tepat. Namun malam itu meja makan tidak hanya menjadi tempat Bian membantu Jihan. Ada bantuan kecil yang bisa bergerak sebaliknya, dan Jihan senang suaminya mau menerimanya.
.
.
Dua hari kemudian, Jihan pulang dengan cerita berbeda. Ia masih mendapat masukan, tetapi kali ini bisa menjawab lebih teratur dan tahu bagian mana yang belum dipahaminya.
"Nggak sempurna, tapi nggak kosong kayak kemarin," katanya sambil meletakkan kunci.
Bian tersenyum. "Bagus."
"Cuma bagus?"
"Bagus sekali."
Jihan mendelik, lalu tertawa. Ia tidak benar-benar membutuhkan pujian panjang. Malam latihan di meja makan itu sudah cukup menjelaskan bahwa Bian memperhatikan usaha yang tidak terlihat dalam foto wisuda nanti.
Sore yang sama mereka memeriksa perlengkapan acara. Jihan mencoba toga, lalu berdiri di depan cermin dengan wajah yang berubah serius. Bian memperhatikan dari belakang, menunggu sampai ia berbalik.
"Aneh nggak?"
"Nggak."
"Aku masih koas. Rasanya banyak banget yang belum bisa."
"Wisuda ini buat yang sudah kamu selesaikan. Yang belum, nanti kamu kerjakan."
Jihan terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi pas dengan perasaan yang sejak tadi sulit ia jelaskan. Ia boleh merayakan gelar sarjananya tanpa berpura-pura perjalanan menjadi dokter sudah selesai.
Ia melepas toga dengan hati-hati dan menggantungnya agar tidak kusut. Di dekatnya, pakaian Bian untuk hari itu sudah disiapkan.
"Kamu benar-benar kosongkan jadwal?" tanyanya sekali lagi.
Bian menunjukkan pesan terakhir mengenai pembagian tugas di kantor, cukup agar Jihan tahu rencananya sudah konkret. Ia tidak menjanjikan bahwa tidak akan ada satu pun telepon masuk, tetapi menegaskan bahwa ia tidak akan pergi ke kantor diam-diam.
Jihan mengangguk. Kali ini pertanyaan yang sama tidak perlu diulang lebih panjang.
.
.
Malam sebelum wisuda, mereka menelepon Bapak dan Ibuk untuk memastikan waktu berangkat. Bapak sudah memeriksa barangnya, sementara Ibuk masih mengingatkan Jihan agar tidur lebih cepat.
Sesudah panggilan selesai, Jihan berdiri di depan pakaian yang tergantung. Bian mendekat membawa botol minum untuk dimasukkan ke tas besok.
"Sudah semua?"
"Kayaknya."
"Kalau sudah, tidur."
Jihan menoleh dan tersenyum sedikit. "Besok aku mungkin nangis lagi."
"Tisu sudah ada."
Ia tertawa, mengingat jawaban yang sama setelah akad. Bian memang masih orang yang praktis, tidak mendadak pandai merangkai kalimat manis setiap malam. Namun kali ini di antara semua barang yang diperiksa, kehadirannya sendiri tidak lagi diserahkan pada kemungkinan.
Jihan mematikan lampu meja dan berjalan ke kamar bersamanya.