Jihan menemukan kabar wisuda ketika sedang memeriksa pesan kampus di meja belajar. Ia membacanya sekali, kemudian membuka lampiran dan mencocokkan beberapa hal sebelum memanggil Bian.
"Mas, sini sebentar."
Bian datang sambil mengelap tangan. "Ada apa?"
"Jadwal wisuda sudah jelas. Dua minggu lagi. Ini yang perlu aku urus sebelumnya."
Ia menunjukkan layar. Bian menarik kursi, membaca bagian waktu pelaksanaan, lalu membuka kalendernya sendiri.
Jihan menunggu tanpa bicara. Ia tidak ingin langsung menagih, tetapi ingatan tentang buket bunga setelah sidang masih tersimpan dengan rapi di kepalanya. Waktu itu bunganya cantik, sementara kursi untuk orang yang diharapkannya tetap kosong.
"Hari ini saya kabari kantor," ujar Bian.
"Kamu lihat dulu semuanya. Jangan iya sekarang terus lupa."
Bian menoleh. Jihan tidak tersenyum ketika mengatakannya.
"Saya lihat. Saya ingin datang."
Jihan mengangguk, lalu memperlihatkan ketentuan tamu. Tempat untuk pendamping di dalam terbatas. Ia ingin Ibuk dan Bapak duduk di sana, sementara Bian mungkin harus menunggu di luar sampai acara selesai.
Kalimat terakhir ia ucapkan agak pelan.
"Nggak apa-apa," jawab Bian.
"Kamu nggak keberatan?"
"Mereka sudah menunggu kamu kuliah dari awal. Saya bisa tunggu di luar. Yang penting setelah selesai kamu nggak cari saya dan ternyata saya di proyek."
Jihan menatapnya, kemudian tertawa pendek. Tepat sasaran sekali kalimat itu.
.
.
Hari Minggu mereka berangkat ke rumah Ibuk setelah Jihan cukup beristirahat. Rencana mengunjungi dua rumah sekaligus mereka ubah; ke rumah Mama akan dilakukan pada hari lain supaya tidak terburu-buru.
Di mobil, Jihan membawa catatan wisuda untuk diperlihatkan kepada orang tuanya. Bian sesekali mendengar ia mengulang hal-hal yang perlu disiapkan, mulai dari pakaian sampai waktu berangkat.
"Ini rasanya kayak bikin acara lagi," gumam Jihan.
"Tapi tamunya sudah diurus kampus."
"Untung. Kalau aku yang urus, bisa salah gedung."
Bian tersenyum. Jihan meliriknya, lalu kembali pada catatan. Ada semangat yang berbeda di wajahnya hari itu, semangat yang membuat perjalanan terasa lebih singkat meskipun jalan tetap padat.
Ibuk menyambut mereka dengan pertanyaan apakah sudah makan. Jihan langsung tertawa sebelum menjawab, sementara Bapak mengambil catatan yang dibawanya dan membaca dengan serius.
"Jadi ini jam masuknya?"
"Nggeh, Pak. Kita berangkat lebih awal. Jangan mepet."
"Bapak yang biasanya bilang begitu."
"Sekarang giliran adek."
Bapak tersenyum, menyimpan catatan itu di tempat yang mudah dilihat. Ibuk mulai memikirkan pakaian yang akan dikenakan, dan Jihan ikut masuk kamar untuk melihat pilihan beliau.
Bian tinggal bersama Bapak di ruang tengah. Keduanya berbincang tentang perjalanan dan tempat menunggu, kemudian percakapan bergeser pada keseharian Jihan setelah menikah.
"Masih suka lupa makan kalau tugasnya banyak?" tanya Bapak.
"Kadang. Tapi sekarang saling ingatkan, Pak. Saya juga kadang lupa."
"Nah. Jangan cuma pandai menyuruh."
Bian tertawa kecil. Nasihat itu terdengar ringan, tetapi ia tahu Bapak memerhatikan jawabannya.
.
.
Saat makan siang, Ibuk sempat bertanya apakah Jihan sudah cukup tidur setelah jadwal malam. Jihan mengangguk dan menceritakan bagaimana Bian ikut bangun ketika ia pulang.
"Awalnya malah mau ngajak rapat soal Minggu," tambahnya.
Bian menatap Jihan. "Sudah saya batalkan rapatnya."
"Iya, benar. Rapat ditunda karena peserta belum sadar penuh."
Bapak tertawa. Ibuk menggeleng sambil menambahkan lauk ke piring mereka, lalu mengingatkan agar kunjungan tidak dipaksakan ketika keduanya terlalu lelah.
Jihan memperhatikan wajah Ibuk. Selama ini ia takut orang tuanya merasa ditinggalkan jika ia tidak datang sesuai rencana. Rupanya Ibuk lebih khawatir ia datang sambil menahan kantuk.
"Kalau cuma sempat telepon dulu, juga nggak apa-apa," ujar beliau.
"Tapi adek tetap mau datang."
"Ya datang. Bukan berarti setiap libur harus habis di jalan."
Jihan mengangguk, merasa lebih ringan. Ia tak perlu membuktikan sayang pada dua keluarga dengan memaksa tubuhnya berpindah rumah sepanjang hari.
Sebelum pulang, Ibuk mengajak Jihan melihat kebaya yang masih disimpan di lemari. Mereka memilih satu yang lebih sederhana untuk wisuda, lalu memeriksa apakah ada bagian yang perlu dirapikan.
"Nggak harus bikin baru, kan, Buk?"
"Kalau ini masih nyaman, kenapa harus?"
Jihan mencobanya sambil memandangi cermin kamar lama. Ia mengangkat kedua lengan, memastikan bisa bergerak, kemudian tersenyum puas. Ibuk membantu melipatnya agar mudah dibawa, sementara Jihan menyiapkan kerudung yang sesuai.
Di luar, Bian menerima pakaian itu tanpa bertanya mengapa tidak membeli yang baru. Ia hanya memastikan kantongnya tidak tertindih barang lain di mobil. Jihan menyukai cara mereka mengurus hari penting ini: ada tempat untuk merasa cantik dan bersemangat, tanpa semua hal harus dimulai dari belanja. Ia pulang membawa pakaian lama yang akan mendapat kenangan baru.
.
.
Beberapa hari kemudian, giliran rumah Mama yang mereka datangi untuk makan malam. Kavin menyambut dengan meminta Bian melihat bangunan barunya. Jihan langsung ikut duduk di karpet sebelum akhirnya dipanggil ke meja makan.
Percakapan tentang wisuda membuat Mama antusias. Beliau ingin melihat Jihan memakai toga, meskipun tidak semua orang bisa hadir di tempat acara.
"Foto yang banyak, ya. Nanti kirim ke mama," pesan beliau.
"Nggeh, Ma."
Di sela obrolan, seorang kerabat yang sedang berkunjung menggoda soal kapan rumah mereka akan ramai oleh anak kecil. Pertanyaannya disampaikan sambil tersenyum, tetapi Jihan tetap merasa beberapa mata berpindah ke arahnya.
Ia menurunkan gelas, mencari jawaban yang tidak memancing pembicaraan panjang.
Bian lebih dulu bersuara.
"Kami sedang menyesuaikan jadwal dulu. Jihan juga masih menjalani koas. Doakan sehat saja, ya."
Nada Bian tenang. Tidak tajam, tidak pula mengundang perdebatan. Mama segera menanyakan hal lain kepada kerabat itu, dan percakapan beralih tanpa Jihan harus menjelaskan keputusan pribadi mereka satu per satu.
Jihan melirik suaminya. Bian sedang mengambil lauk, seolah kalimat tadi bukan sesuatu yang istimewa.
Baginya justru istimewa.
.
.
Dalam perjalanan pulang, Jihan baru mengucapkan terima kasih. Bian sempat bertanya untuk apa, lalu memahami ketika Jihan menyebut pertanyaan di meja makan.
"Itu keputusan kita, Ji."
"Iya. Aku cuma senang nggak harus jawab sendiri."
Bian mengangguk, memperhatikan kendaraan di depan. Jihan menyandarkan kepala, merasa nyaman dengan jawaban pendek itu.
Sesampainya di apartemen, Bian memperlihatkan kalender yang sudah diperbarui. Hari wisuda ditandai, beberapa pekerjaan dipindahkan, dan ia telah menyampaikan rencananya kepada Papa serta Patricia.
Jihan membaca dengan hati-hati. Ada rasa ingin langsung percaya sepenuhnya, tetapi ia tidak mengusir bagian kecil dirinya yang masih cemas. Kepercayaan tidak selalu kembali utuh hanya karena seseorang berjanji sekali lagi.
"Aku tunggu buktinya, mas," katanya pelan.
"Iya."
Ia tidak tersinggung. Ia tahu ada janji lama yang belum dibayarnya.
Malam itu Jihan menyiapkan daftar keperluan wisuda di dekat meja. Bian ikut memeriksa, lalu menuliskan satu hal yang belum ada: cari tempat foto setelah acara.
Jihan tersenyum membaca tambahan itu.
"Kamu siap disuruh senyum berkali-kali?"
"Saya bawa Bhima saja buat pengganti."
"Mas!"
Bian tertawa pendek, sementara Jihan mencoret gurauan itu dari udara dengan gerakan tangan. Untuk hari yang satu ini, ia tidak menginginkan pengganti siapa pun.