Bian baru menyadari meja makan terlalu besar untuk satu orang ketika ia meletakkan piringnya malam itu.
Biasanya Jihan sudah duduk dengan salah satu kaki ditekuk, bercerita sebelum suapan pertama masuk ke mulut. Kadang yang diceritakan hanya soal pulpen hilang atau Shasya yang salah membawa bekal. Malam ini kursi di hadapannya kosong.
Jihan sedang menjalani jadwal malam.
Bian tahu. Jadwalnya bahkan tertempel di tempat yang mudah dilihat, dan sebelum berangkat Jihan sudah mengingatkan makanan mana yang bisa dihangatkan. Tetap saja, mengetahui alasan ruangan sepi tidak serta-merta membuatnya terbiasa.
Ia makan sambil memandangi kursi kosong, lalu mengambil ponsel.
Sudah makan?
Pesan itu terkirim. Bian kembali menyuap, tetapi baru tiga kali sendok bergerak, matanya sudah melirik layar lagi.
Ia mendengus sendiri.
Jadi begini rasanya menunggu seseorang yang sedang bekerja.
.
.
Di rumah sakit, Jihan baru sempat membuka ponsel setelah pekerjaannya memberi jeda. Shasya duduk tidak jauh darinya, menggosok tengkuk sambil menguap.
"Suami?" tebaknya ketika Jihan mulai mengetik.
"Iya. Tanya makan."
"Jawab sudah, kalau memang sudah. Jangan jawab kangen sampai lupa makan beneran."
Jihan melempar tatapan malas. Sejak menikah, hampir semua kegiatan biasa bisa dijadikan bahan godaan Shasya. Mengisi botol minum pun pernah disebut persiapan pulang kepada suami.
Ia membalas bahwa dirinya sudah makan dan masih ada pekerjaan. Setelah itu ia menambahkan pertanyaan tentang makan malam Bian.
Balasannya cepat sekali.
Sudah. Piring juga sudah dicuci.
Jihan tersenyum. Ia hampir mengirim gurauan tentang laporan pekerjaan rumah, tetapi seseorang memanggil dari luar. Ponselnya kembali masuk saku sebelum percakapan selesai.
Bian menatap tanda pesan yang belum dibaca, lalu meletakkan ponsel. Ia mengambil laptop, membuka pekerjaan yang memang hendak diselesaikannya. Ada beberapa hal yang perlu diperiksa untuk besok, tetapi fokusnya sesekali terpecah oleh suara dari koridor.
Setiap langkah di luar membuatnya menoleh tanpa alasan.
Jihan tidak akan pulang sekarang, Bi.
Ia meraup wajah, geli sekaligus kesal pada kebiasaan barunya sendiri.
.
.
Pagi berikutnya, Bian menyiapkan minuman ketika mendengar kunci berputar. Jihan masuk dengan wajah lelah dan gerakan lambat. Ia mengucap salam, meletakkan tas, kemudian berdiri beberapa detik seolah perlu mengingat urutan kegiatan berikutnya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Bian.
"Sedikit tadi."
"Saya buatkan lagi?"
Jihan menggeleng. "Mau mandi terus tidur dulu, mas."
Bian mengangguk, tetapi ketika Jihan berjalan melewatinya, ia mulai menceritakan bahwa Mama menelepon semalam dan menanyakan rencana akhir pekan. Jihan berhenti di depan kamar, mencoba mendengarkan.
"Jadi Minggu kita ke rumah Mama?" Bian memastikan.
"Nanti dulu, ya. Aku belum lihat lagi."
"Kan jadwalmu ada."
Jihan menutup mata sebentar. "Mas, aku belum bisa mikir sekarang."
Nada itu tidak keras, tetapi cukup pendek untuk membuat Bian terdiam. Jihan masuk kamar mandi. Bian memandangi gelas yang tadi disiapkannya, merasa sedikit ditolak padahal ia hanya ingin mengobrol.
Lalu matanya jatuh pada tas Jihan yang belum sempat ditutup. Ujung buku keluar, satu bolpoin hampir terjatuh. Perempuan itu bahkan belum punya tenaga untuk merapikan barang yang biasanya dijaganya baik-baik.
Bian menarik kursi dan duduk.
Dulu ia pulang lelah lalu berharap semua orang mengerti tanpa diberi penjelasan. Sekarang Jihan sudah memberi penjelasan, tetapi ia masih ingin percakapannya didahulukan.
Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Mama bahwa mereka belum bisa memastikan jam kunjungan. Setelah itu ia memindahkan panggilan kantor yang harus dilakukannya ke ruang duduk, menjauh dari kamar.
Ketika Jihan selesai mandi, tirai sudah ditutup. Bian menunjuk meja kecil tempat air minum diletakkan.
"Tidur dulu. Soal Minggu nanti saja."
Wajah Jihan melunak sedikit. "Makasih, mas. Tadi aku ketus, ya?"
"Kamu ngantuk."
"Banget."
Jihan meraih tangannya sebentar sebelum berbaring. Bian mengecup kepalanya, lalu keluar tanpa membawa percakapan baru ke dalam kamar.
.
.
Menjelang siang, Jihan terbangun oleh rasa lapar. Apartemen sudah sepi, Bian berangkat bekerja setelah meninggalkan pesan. Ada makanan di lemari pendingin yang bisa ia hangatkan, juga catatan singkat agar tidak lupa minum.
Ia makan sambil membaca ulang percakapan semalam. Pertanyaan Bian datang ketika ia tidak bisa menjawab, dan pagi tadi justru dirinya yang tidak sanggup mengobrol.
Jihan mengingat betapa seringnya ia ingin Bian langsung menjawab karena menurutnya hanya perlu satu menit. Sekarang ia tahu bahwa satu menit pun kadang datang di saat kepala penuh. Bedanya, mereka perlu tetap memberi tahu, bukan berharap pasangan bisa menebak semuanya.
Ia mengetik pesan bahwa sudah bangun dan sudah makan. Untuk urusan Minggu, ia akan memeriksa jadwal sore nanti.
Balasan Bian baru masuk beberapa waktu kemudian, setelah rapatnya selesai.
Tidurnya cukup?
Jihan menjawab jujur, masih ingin tidur sedikit lagi. Bian tidak menyuruhnya memaksakan diri keluar.
.
.
Malamnya, Jihan menunggu di meja makan ketika Bian pulang. Ada dua piring, dan kali ini kursi di hadapannya kembali terisi.
"Semalam sepi?" tanya Jihan setelah mereka mulai makan.
"Lumayan."
"Kangen?"
Bian mengangkat mata. Jihan sudah tersenyum, jelas sengaja memancing.
"Iya."
Jawaban yang terlalu cepat itu justru membuat Jihan kehilangan lanjutan godaannya. Ia menunduk ke piring, lalu tertawa kecil.
"Tumben nggak muter-muter."
"Kamu tanya. Saya jawab."
Bian menceritakan bagaimana ia berkali-kali melihat pintu meskipun tahu Jihan tidak pulang malam itu. Jihan tertawa, tetapi tidak mengejek terlalu lama. Ada rasa senang mengetahui dirinya dirindukan dalam hal-hal biasa.
Mereka kemudian memeriksa jadwal bersama. Jihan menjelaskan kapan ia kemungkinan perlu tidur lebih lama setelah bertugas, dan Bian menyesuaikan rencana kunjungan agar tidak langsung memenuhi waktu pulangnya.
"Kalau aku pulang terus diam, jangan langsung dikira marah," kata Jihan.
"Bilang saja capek. Saya juga akan bilang kalau butuh waktu sebelum ngobrol."
Jihan mengangguk. Ia mengambil sendok Bian yang hampir jatuh dari tepi piring, lalu meletakkannya kembali.
"Tadi pagi gelasku sudah kamu siapin?" tanyanya kemudian.
Bian mengangguk. "Saya kira kamu mau sarapan sambil ngobrol."
"Aku malah lewat saja. Maaf, ya."
"Besok-besok tanya dulu maumu apa."
Jihan memperhatikan meja, lalu menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Ia menceritakan satu kejadian ringan yang semalam belum sempat disampaikan, tentang bekal Shasya yang tutupnya tertukar. Bian mendengarkan sampai senyum muncul di wajahnya.
Rupanya cerita itu tidak hilang hanya karena tidak disampaikan tepat ketika Jihan melewati pintu. Bian masih bisa mendengarnya saat istrinya sudah punya tenaga untuk tertawa. Sebaliknya, Jihan juga lebih menikmati obrolan mereka tanpa harus melawan kantuk sambil merasa bersalah. Setelah ceritanya selesai, ia bertanya bagaimana pekerjaan Bian hari itu dan kali ini benar-benar menunggu jawabannya.
Percakapan mereka tidak panjang. Setelah makan, Jihan masih mengantuk, dan Bian masih perlu menyiapkan barang untuk besok. Namun sebelum tidur, ia memastikan alarm Jihan tidak disetel pada jam yang sama seperti malam sebelumnya.
"Sudah mati," gumam Jihan dari balik selimut.
"Saya cek saja."
Jihan meraih tangannya dan menariknya duduk sebentar. Malam ini tidak ada kursi kosong atau pesan yang harus ditunggu. Mereka hanya perlu berhenti bekerja, mematikan lampu, dan beristirahat bersama.