Alarm Jihan berbunyi ketika langit di luar jendela masih gelap. Ia langsung meraih ponsel, mematikannya, lalu duduk dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan Bian.
Usahanya gagal ketika siku menyenggol botol minum di nakas.
Bian membuka mata. "Jam berapa?"
Jihan menyebutkan waktunya, lalu berbisik meminta maaf. Hari ini ia kembali menjalani jadwal koas, sementara Bian juga mulai masuk kantor setelah urusan pernikahan dan pindahan.
"Nggak usah bisik-bisik. Saya sudah bangun."
"Aku kira kamu masih bisa tidur sebentar."
Bian mengusap wajah, lalu duduk. "Kamu siap-siap saja."
Pagi pertama mereka berangkat bekerja dari apartemen ternyata penuh gerakan kecil yang belum teratur. Jihan mencari peniti yang semalam diletakkan dekat buku, Bian mencari kunci yang ada di saku tas berbeda. Keduanya sempat berdiri di depan pintu kamar mandi pada waktu bersamaan.
Jihan tertawa sambil mundur. "Silakan, Pak. Cepat tapi."
"Kamu dulu."
"Kalau saling ngalah terus, kita telat berdua."
Akhirnya mereka membagi giliran, lalu bertemu lagi di dapur. Bian menyiapkan sarapan sederhana sementara Jihan memeriksa isi tas. Ia hampir berjalan pergi tanpa menyentuh makanannya, tetapi Bian menggeser piring lebih dekat.
"Duduk lima menit."
Jihan melihat jam, lalu menurut. Ternyata masih sempat, hanya pikirannya yang sejak tadi berlari lebih cepat daripada tubuhnya.
.
.
Di rumah sakit, Shasya langsung memperhatikan cincin Jihan sebelum melihat wajahnya.
"Selamat datang kembali, Bu."
"Jangan mulai."
"Belum ngomong apa-apa gue."
Ranza tertawa dari dekat meja. Jihan menyimpan tas, mencoba memasang wajah biasa, tetapi senyum kecilnya sulit disembunyikan ketika mereka memberi selamat sekali lagi.
Tak lama, pekerjaan menarik perhatian mereka. Jihan kembali pada rutinitas yang dikenalnya, mengerjakan tugas dan mengikuti kegiatan tanpa banyak waktu memikirkan status barunya.
Namun di sela istirahat, ketika membuka ponsel dan melihat pesan Bian, rasanya tetap berbeda.
Saya sudah di kantor. Nanti selesai sore saya kabari.
Jihan membalas singkat, lalu makan bersama Shasya. Kali ini ia tidak menunggu layar menyala terus-menerus. Ia tahu Bian ada di mana, dan pekerjaannya sendiri juga tidak bisa menunggu sepanjang hari.
Sementara itu, di kantor, Bian harus menahan diri agar tidak langsung mengambil semua urusan yang selama cutinya sudah ditangani tim. Pak Khairul menjelaskan perkembangan, Patricia menyerahkan jadwal, dan beberapa pertanyaan dijawab oleh orang yang memang mengurusnya.
Bian mendengarkan, mencatat bagian yang perlu ia lanjutkan.
Ternyata kantor tetap berjalan ketika ia menikah.
Pikiran itu membuatnya hampir tersenyum, sampai tumpukan pekerjaan berikutnya tiba dan mengingatkan bahwa berjalan bukan berarti tidak menyisakan apa-apa.
.
.
Sore itu Jihan pulang lebih dahulu sesuai kabar yang sudah mereka tukarkan. Bian masih harus menyelesaikan pembicaraan dengan tim dan meminta Jihan tidak menunggu jemputan.
Apartemen menyambutnya dengan sepi. Jihan meletakkan tas pada tempat yang disepakati, mencuci tangan, lalu duduk sebentar. Sebentar yang ternyata cukup lama sampai ia hampir tertidur dengan posisi tidak nyaman.
Ia terbangun ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Ibuk menanyakan hari pertamanya kembali bekerja.
Jihan membalas, lalu melihat dapur. Ia ingin menyiapkan makan malam sebelum Bian pulang, bukan karena diminta, hanya ingin mencoba membuat sesuatu yang terasa menyenangkan setelah hari panjang.
Ia mulai dengan bahan yang mudah. Satu lauk, satu pelengkap, seharusnya cukup. Namun di tengah memasak ia teringat lembar tugas yang harus diperiksa untuk besok dan meninggalkan dapur lebih lama daripada yang direncanakan.
Bau dari penggorengan membuatnya buru-buru kembali.
"Aduh!"
Tidak semuanya rusak, tetapi bagian bawahnya terlanjur terlalu matang. Jihan mematikan kompor, berdiri sambil memandangi hasilnya dengan kecewa. Ia sudah lelah, dan sekarang masakan sederhana pun terasa seperti ujian tambahan.
Ketika pintu terbuka beberapa waktu kemudian, Bian menemukannya di dapur dengan wajah tertekuk.
"Kenapa?"
"Gosong sedikit."
Bian melihat penggorengan, lalu meja yang masih penuh bahan. "Pesan makan saja."
Jihan langsung diam. Bian baru meletakkan tas ketika menyadari wajah istrinya semakin muram.
"Ji?"
"Aku sudah bikin, mas."
"Saya lihat. Kamu capek, kan?"
"Iya, tapi kalau langsung pesan, kayak usahaku dibuang."
Bian berhenti. Baginya tadi itu jalan keluar paling praktis. Rupanya bagi Jihan, kalimat yang sama terdengar seperti penolakan sebelum mencoba.
Ia mendekat, mengambil sendok bersih dan mencicipi bagian yang masih baik. Jihan memperhatikannya dengan tegang.
"Yang ini bisa. Kita makan ini. Kalau kurang, tambah yang gampang."
"Jangan maksa kalau nggak enak."
"Saya nggak bilang semuanya enak. Yang bagian gosong jangan dimakan."
Jihan menatapnya, lalu tawa kecil lolos meskipun ia masih sebal. Bian mengambil piring dan membantu memisahkan makanan yang bisa disajikan.
"Saya tadi maksudnya supaya kamu nggak tambah capek. Bukan mau buang kerjaan kamu."
"Iya. Aku juga lagi capek jadi sensitif."
Mereka menambah lauk sederhana, lalu duduk makan. Rasanya tidak sempurna, tetapi tidak seburuk bayangan Jihan ketika berdiri sendirian di depan kompor.
Di tengah makan, Bian menanyakan kapan Jihan biasanya paling lelah setelah jaga. Jihan menjelaskan bahwa ada hari ketika ia masih sanggup memasak, ada hari ketika membuka tas saja rasanya berat. Mereka sepakat tidak menentukan menu rumit sebelum melihat jadwal. Beberapa makanan sederhana bisa disiapkan ketika punya waktu, dan sesekali membeli makanan bukan berarti salah satu gagal mengurus rumah.
Jihan menyendok lauknya lagi. Dengan kesepakatan itu, dapur terasa tidak lagi seperti tempat ia harus membuktikan diri setiap sore sepulang bekerja.
.
.
Sehabis makan, Bian mencuci piring sementara Jihan menyelesaikan tugasnya. Ia sempat merasa tidak enak melihat suaminya masih berdiri di dapur setelah pulang kerja, tetapi Bian hanya menunjuk meja belajar ketika Jihan mendekat.
"Tadi kamu yang masak. Sekarang kerjakan itu."
"Nanti kalau butuh bantuan panggil."
"Iya."
Jihan kembali duduk. Beberapa saat kemudian ia mendengar bunyi air berhenti, lalu langkah Bian menuju ruang duduk. Laptopnya terbuka, pekerjaan mereka berlangsung di sudut masing-masing.
Sesekali Jihan bertanya hal ringan. Bian menjawab, lalu kembali memeriksa berkas. Tidak semua hening berarti saling mengabaikan. Malam itu Jihan bisa melihat sendiri bahwa Bian ada di dekatnya, bukan menghilang tanpa kabar.
Ketika tugasnya selesai, ia memeriksa pesan kampus. Ada kabar mengenai persiapan wisuda yang perlu ditindaklanjuti. Jihan membacanya dengan teliti, lalu menyimpan daftar yang harus diperiksa besok sebelum menyampaikan tanggal yang benar-benar pasti pada Bian.
"Mas, nanti aku mau cek urusan wisuda lagi," katanya.
Bian mengangkat wajah. "Kabari kalau sudah lengkap. Kita atur."
Jihan mengangguk. Ia belum menagih janji malam ini, tetapi senang karena Bian mengingat tanpa perlu diberi petunjuk panjang.
Sebelum tidur, mereka melihat jadwal esok hari. Ada waktu pulang yang berbeda, ada pekerjaan yang belum selesai, dan sarapan yang sebaiknya disiapkan lebih praktis.
Jihan menutup bukunya, lalu melirik Bian.
"Besok jangan berharap makan malam istimewa dulu."
"Yang nggak gosong cukup."
"Mas!"
Bian tersenyum, menariknya mendekat sebentar. Jihan masih menggerutu, tetapi akhirnya menyandarkan kepala di dadanya dan tertawa pelan.
Hari pertama mereka kembali bekerja selesai dengan dapur yang sudah bersih dan satu rencana sederhana untuk besok. Tidak semuanya berhasil seperti yang dibayangkan Jihan, tetapi malam ini ia tidak harus membereskan kegagalannya sendirian.