Beberapa hari kemudian, bagasi mobil Bian kembali penuh. Bukan oleh perlengkapan akad atau kotak makanan, melainkan tas pakaian dan barang-barang yang akan dibawa ke apartemen.
Jihan berdiri di dekat pintu, mencoba memastikan tidak ada yang tertinggal. Mama sudah dua kali menyuruhnya duduk, tetapi setiap duduk ia teringat benda lain.
"Charger?" gumamnya.
"Sudah," jawab Bian sambil lewat membawa tas.
"Mukena?"
"Di tas kamu."
"Map?"
Bian berhenti. "Yang mana?"
Jihan langsung terlihat panik, sebelum Kani muncul membawa map dari meja ruang tengah.
"Ini, mbak. Tadi ditaruh waktu minum."
Jihan menerima dengan lega. Bian menatapnya, lalu mengulurkan tangan.
"Biar saya bawa. Kamu pegang tas kecil saja."
"Jangan sampai ketindih."
"Iya."
Perpisahan kali ini tidak disertai banyak tangis, tetapi Mama tetap memeluk Jihan cukup lama. Beliau menitipkan pesan agar mereka tidak sungkan bertanya jika ada yang belum dimengerti tentang hidup sendiri.
Papa menepuk bahu Bian. "Jangan lupa makan di tengah beres-beres."
Jihan menoleh cepat. "Tuh, bukan aku aja yang diingatkan."
Bian menghela napas, sementara yang lain tertawa. Mereka berpamitan, lalu mobil bergerak keluar membawa barang-barang yang sejak beberapa waktu lalu hanya menjadi daftar di buku Jihan.
.
.
Begitu pintu apartemen ditutup, Jihan terdiam beberapa detik.
Tidak ada suara anak-anak. Tidak ada Mama memanggil dari dapur atau Kani berkomentar dari tangga. Hanya bunyi roda tas yang ditarik Bian dan dengung pelan pendingin ruangan.
"Sepi," katanya.
"Iya."
"Kamu jangan jawab iya terus. Tambah sepi."
Bian menoleh, lalu tersenyum kecil. "Mau nyalakan musik?"
Jihan mengangguk. Suara pelan segera mengisi ruang duduk, cukup untuk membuatnya berhenti memperhatikan setiap bunyi dari koridor luar.
Mereka membagi pekerjaan. Bian mengeluarkan pakaian dan perlengkapan mandi, sementara Jihan menata kebutuhan belajarnya. Beberapa buku sudah berada di rak, tetapi tas yang baru datang membuat meja kembali penuh.
"Saya rapikan yang di sini dulu, ya," kata Bian sambil menunjuk tumpukan dekat sofa.
Jihan menjawab tanpa mengangkat wajah, terlalu sibuk mencari lembar yang terselip. Ia baru menyadari maksud Bian ketika kembali dari kamar mandi dan mendapati map-mapnya sudah berjajar menurut ukuran.
Rapi sekali.
Masalahnya, urutan yang dibutuhkannya hilang.
"Mas, yang kuning tadi di mana?"
"Di rak."
"Yang isinya belum selesai, maksudku."
Bian mendekat. "Tadi semuanya saya satukan. Biar meja nggak penuh."
Jihan membuka satu per satu, lalu mengembuskan napas lebih keras dari yang dimaksudkannya. Bian langsung berhenti bergerak.
"Kenapa?"
"Aku pisahin tadi karena beda urusan. Sekarang harus cari lagi."
"Kamu bilang boleh dirapikan."
"Aku kira dipinggirkan, bukan digabung."
Mereka saling menatap. Hari pertama di apartemen, dan rupanya lawan mereka bukan persoalan besar, melainkan dua orang yang sama-sama merasa sudah menjelaskan dengan cukup jelas.
Bian hampir mengatakan bahwa susunannya tadi memang berantakan. Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi ia melihat Jihan memeriksa lembar demi lembar dengan wajah cemas.
"Ada yang hilang?"
"Kayaknya nggak. Cuma aku perlu urutannya."
Bian menarik kursi. "Beri tahu saya yang mana. Saya bantu kembalikan."
Jihan masih merengut, tetapi akhirnya duduk. Ia menjelaskan pembagian mapnya, mana yang perlu dibawa besok, mana yang hanya disimpan. Bian membantu memisahkan tanpa mengomentari tulisan kecil yang memenuhi kertas penanda.
Setelah semuanya kembali, Jihan bersandar dan mengusap wajah.
"Maaf tadi nadaku tinggi. Aku takut ada yang kebuang."
"Saya juga harusnya tanya sebelum menggabungkan. Saya kira sama semua."
Jihan mengangguk. Mereka membuat ruang kecil di meja untuk pekerjaan yang masih berjalan, sementara berkas yang selesai tetap masuk rak. Tidak seluruh permukaan harus kosong setiap saat, tetapi juga tidak perlu penuh selamanya.
.
.
Lewat tengah hari, perut Jihan berbunyi saat ia sedang membuka tas terakhir. Bian yang mendengarnya menoleh, lalu melihat jam.
"Belum makan."
"Iya. Papa sudah bilang padahal."
Mereka saling memandang sebelum tertawa pendek. Di rumah tadi semuanya terasa teratur karena ada orang lain yang mengingatkan. Di sini, makanan tidak akan muncul sendiri di meja.
Jihan membuka lemari dapur. Ada bahan sederhana yang sudah mereka siapkan, cukup untuk membuat makan siang tanpa perlu turun. Bian menggulung lengan baju dan mengambil penggorengan.
"Kamu bisa potong itu?" Jihan menunjuk bahan di meja.
"Bisa."
"Jangan kayak bikin maket, ya. Nggak usah sama persis ukurannya."
Bian meliriknya. Jihan menyeringai, lalu sibuk di sisi lain. Ruang dapur membuat mereka beberapa kali hampir bertabrakan karena sama-sama ingin mengambil sesuatu di tempat yang sama.
"Mas, mundur sedikit."
"Kamu yang tadi lewat belakang saya."
"Iya, sekarang aku mau buka laci."
Bian bergeser. Tidak elegan, tidak seperti pasangan dalam iklan peralatan rumah tangga. Namun beberapa waktu kemudian, dua piring makanan sederhana benar-benar terhidang.
Jihan mencicipi lebih dulu, lalu mengangguk puas.
"Lumayan."
"Lumayan atau lapar?"
"Dua-duanya."
Bian ikut makan. Di meja masih ada kotak yang belum dibuka dan kantong belanja yang perlu dilipat. Tetapi untuk sementara mereka membiarkannya, memilih menyelesaikan makan sebelum kembali bekerja.
.
.
Sore menjelang ketika apartemen akhirnya cukup rapi untuk ditempati tanpa harus melangkahi tas. Jihan duduk di sofa, mengangkat kedua kakinya yang pegal. Bian menelepon Mama sebentar untuk mengabari bahwa semuanya sudah sampai dengan baik.
Sambil menunggu, Jihan membuka struk belanja yang tadi dikeluarkan dari tas. Ia menandai sabun cuci dan beberapa kebutuhan dapur yang ternyata belum terbeli. Foto tempat sendok kelinci masih tersimpan, tetapi kali ini ia tidak langsung menunjukkannya kepada Bian.
"Kurang apa lagi?" tanya Bian sesudah telepon ditutup.
Jihan menyebutkan barang-barang itu. Bian mengambil catatan, menambahkan satu hal yang ditemukannya saat membereskan kamar mandi.
"Besok saja belinya, ya. Yang penting malam ini cukup."
Jihan menyetujui. Ia tadinya ingin seluruh apartemen selesai ditata hari ini, sampai sudut terakhir. Sekarang setelah melihat kaki Bian juga memerah karena terlalu lama berdiri, ia memilih melipat struk dan menyimpannya. Tempat tinggal mereka tidak harus langsung tampak sempurna agar bisa dipakai beristirahat. Belanja masih bisa menunggu, begitu pula kelinci yang belum mereka bawa pulang.
Setelah itu Jihan bergantian menelepon Ibuk. Beliau meminta diperlihatkan rak buku, lalu tertawa melihat satu sudut meja sudah dipenuhi catatan.
"Baru datang sudah begitu, nduk?"
"Ini memang tempatnya, Buk. Sudah disepakati."
Bian yang duduk di sebelahnya mengangguk, membuat Ibuk tersenyum puas. Percakapan berakhir dengan pesan agar keduanya tidak terus membereskan sampai kelelahan.
Malam itu Jihan mengeluarkan satu foto keluarga kecilnya dan meletakkannya di rak. Bian menambahkan foto keluarganya di sebelahnya, menggeser sedikit agar keduanya terlihat.
Jihan memandangi dua foto itu. Lalu ia menoleh pada Bian.
"Nanti foto kita juga dicetak, ya. Yang pas kamu akhirnya senyum."
"Saya senyum di beberapa foto."
"Nanti kita hitung."
Bian menggeleng, lalu duduk di sampingnya. Jihan menyandarkan kepala di bahunya, terlalu lelah untuk mengomentari apa pun lagi.
Masih ada satu kardus yang belum dibuka. Besok bisa dilanjutkan. Malam ini, ruangan yang sebelumnya terasa asing sudah menyimpan makanan buatan mereka, dua foto keluarga, dan satu meja yang tidak terlalu rapi tetapi disepakati bersama.