Jihan membuka mata ketika mendengar suara pintu lemari. Untuk sesaat ia belum tahu sedang berada di mana. Langit-langitnya berbeda, tirai jendelanya juga bukan yang biasa ia lihat setiap pagi.
Lalu ia melihat Bian berdiri sambil memegang pakaian, dan ingatannya kembali lengkap.
Oh. Sudah jadi istri orang.
"Bangun?" tanya Bian ketika menyadari tatapannya.
Jihan mengangguk, lalu menarik selimut sedikit lebih tinggi karena udara terasa dingin. Bian melirik pengatur pendingin ruangan dan mengambilnya dari meja.
"Kedinginan?"
"Lumayan. Kamu tidur di kutub, mas?"
"Biasanya segini. Saya naikkan suhunya."
Jihan memperhatikan gerakannya, masih setengah mengantuk. Hal pertama yang perlu mereka sepakati setelah menikah rupanya bukan persoalan besar. Hanya suhu kamar yang cocok untuk dua manusia dengan daya tahan dingin berbeda.
Selesai bersiap dan beribadah, mereka turun. Jihan sudah merapikan kerudungnya, tetapi langkahnya melambat ketika mendengar suara keluarga dari ruang makan.
Bian berhenti di anak tangga terakhir.
"Kenapa?"
"Malu."
"Sama siapa?"
"Ya semuanya. Jangan keras-keras nanyanya."
Bian menahan senyum, lalu berjalan di sebelahnya. Mama menoleh ketika mereka masuk dan menyapa seolah ini pagi biasa.
"Duduk, Jih. Mau teh atau air putih?"
"Air putih dulu, Ma. Jihan ambil sendiri."
Ia menuju dapur, lega karena tidak langsung menjadi pusat perhatian. Sayangnya, ketenangan itu bertahan hanya sampai Bhima datang.
"Pagi, pengantin."
Jihan menunduk, sementara Bian menatap kembarannya datar.
"Pagi. Makan saja."
Bhima tertawa, lalu benar-benar mengambil piring. Rupanya pagi ini ia masih cukup berbaik hati.
.
.
Setelah sarapan, Jihan ikut membawa piring ke dapur. Ia sudah beberapa kali membantu di rumah ini, tetapi sekarang muncul perasaan harus lebih cepat melihat pekerjaan yang perlu dilakukan.
Ada gelas kosong, ia ambil. Ada meja sedikit basah, ia lap. Mama baru hendak menanyakan sesuatu ketika Jihan sudah mengangkat satu wadah lagi.
"Ji, duduk dulu juga boleh."
"Nggak apa-apa, Ma. Tinggal ini."
Kani yang sedang membilas gelas meliriknya. "Mbak, kalau semua diambil, aku ngapain? Berdiri jadi pajangan?"
Jihan tertawa, tetapi tangannya masih bergerak. Sampai Mama mengambil lap dari dekatnya dan meletakkannya di meja.
"Mama senang kamu bantu. Tapi nggak perlu membuktikan apa-apa pagi ini. Kamu juga masih capek."
Kalimat itu membuat Jihan berhenti. Rupanya kegugupannya terlihat jelas.
"Jihan takut kelihatan malas."
Mama menggeleng. "Istirahat bukan malas. Kalau semuanya sudah selesai, ya duduk."
Jihan akhirnya menurut. Ia membawa air minumnya ke ruang tengah dan duduk di dekat Jasmine, yang sedang memeriksa pesan sebelum berangkat.
"Gimana, masih canggung?" tanya Jasmine pelan.
"Kelihatan banget, ya?"
"Sedikit. Dulu aku juga."
Jihan menoleh, tertarik. Selama ini Jasmine tampak begitu terbiasa berada di keluarga ini, sampai ia lupa mungkin dulu ada pagi pertama yang sama gugupnya.
"Nanti biasa. Jangan semua mau dikerjakan hari ini," lanjut Jasmine.
Jihan mengangguk, lalu menertawakan dirinya sendiri. Dari pagi semua orang rupanya sepakat menyuruhnya berhenti mondar-mandir.
Jasmine kemudian memperlihatkan beberapa foto keluarga dari kemarin. Jihan tertawa melihat satu gambar ketika ia belum siap, sementara Bian sudah menghadap kamera dengan wajah serius. Ada pula foto Ibuk memegang tangannya yang langsung ingin ia simpan.
"Yang ini kirim ke aku, ya."
"Semuanya nanti kukirim. Pilih sendiri yang mau kamu bagikan."
Jihan berterima kasih, lalu mengirim satu foto yang disukainya kepada Ibuk. Balasannya datang berupa komentar bahwa Bian terlihat tegang sekali. Jihan hampir menunjukkannya pada semua orang, tetapi kemudian menyimpan ponsel sambil tersenyum. Ia akan menggoda Bian nanti, saat mereka berdua saja. Tidak setiap hal perlu menjadi bahan candaan satu ruang makan.
.
.
Bian muncul dari teras membawa ponsel. Wajahnya masih serius setelah membaca pesan yang masuk, dan Jihan langsung memperhatikan perubahan itu.
"Kerjaan?"
"Tanya letak berkas. Sudah saya jawab."
"Harus ke kantor?"
"Nggak."
Ia duduk di sebelah Jihan dan meletakkan ponsel. Sebelum Jihan sempat merasa lega lebih lama, Kavin datang membawa kotak mainannya. Anak itu berhenti tepat di depan Bian.
"Om, main."
Bian melirik Jihan. "Kamu mau ikut?"
Jihan mengangguk, lalu turun ke karpet. Mobil yang semalam disimpan di kamar sudah dibawanya turun setelah sarapan. Ia meletakkannya di dekat garasi kecil Kavin.
Kavin melihat mobil itu, kemudian menggeser bangunannya sedikit agar lebih dekat. Tidak ada upacara penyerahan kembali. Mainan tersebut langsung masuk ke dalam permainan, dan Jihan ikut mendorongnya pelan.
Masalah baru muncul ketika Bian mengatakan akan pergi sebentar bersama Jihan siang nanti untuk mengambil barang yang tertinggal di rumah Ibuk.
"Jangan pergi," protes Kavin.
"Sebentar saja, bang."
"Mainnya belum selesai."
Jihan menghentikan mobilnya. Ia hampir menawarkan untuk berangkat sendiri, tetapi Bian lebih dulu berjongkok agar sejajar dengan Kavin.
"Kita main dulu sampai sebelum makan. Habis itu Om pergi. Nanti pulang lagi ke sini."
"Bawa tante?"
"Iya."
Kavin merengut. Bian tidak buru-buru mengubah rencana, hanya menunggu sambil tetap berada di dekatnya.
Aliya yang melihat dari sofa ikut menjelaskan bahwa Om dan Tante memang punya keperluan. Setelah beberapa saat, Kavin kembali mengambil mainan, meski wajahnya belum sepenuhnya senang.
Jihan menyadari sesuatu. Akrab bukan berarti Kavin tidak akan merajuk lagi. Mereka masih perlu mengulang penjelasan, menepati janji pulang, dan memberi waktu.
Ia kembali mendorong mobilnya. Kali ini Kavin membiarkannya masuk ke garasi tanpa diperiksa dulu.
.
.
Di rumah Ibuk siang itu, Jihan disambut dengan pertanyaan tentang barang yang tertinggal, bukan drama perpisahan kedua. Ia mencari satu tas berisi kebutuhan belajar, sementara Bian membantu Bapak memindahkan kotak kosong dari ruang tengah.
Rumah sudah mulai kembali seperti biasa. Beberapa hiasan belum dilepas, tetapi kursi tambahan tidak lagi memenuhi ruangan.
Jihan berhenti di pintu kamarnya. Spreinya sudah dirapikan. Ada tempat kosong di rak buku yang membuat kamar itu tampak sedikit lebih lapang.
"Ketemu?" Bian muncul di belakangnya.
"Ketemu. Ini aja."
Ia menunjuk tas, lalu terdiam sejenak. Bian tidak masuk lebih jauh, menunggu di dekat pintu.
"Mau duduk dulu?"
Jihan menggeleng setelah beberapa saat. "Nanti kita balik lagi. Kavin nunggu, kan?"
Bian mengangguk. Ia mengambil tas itu, kemudian berjalan turun bersama Jihan. Ibuk membekali mereka makanan secukupnya, memperingatkan agar tidak dibawa berputar-putar terlalu lama.
"Langsung pulang kok, Buk," jawab Jihan.
Kata pulang itu keluar begitu saja. Ia baru menyadarinya ketika sudah duduk di mobil, lalu menatap Bian yang sedang memasang sabuk pengaman.
"Kenapa?" tanya Bian.
"Nggak. Tadi aku bilang pulang."
"Iya."
"Ke rumah mama."
Bian menatapnya, memahami perlahan. Jihan tersenyum kecil sebelum mengalihkan pandangan ke depan.
Barangkali ia tidak perlu memaksa diri memilih satu tempat untuk disayangi. Kamar lamanya tetap punya arti, begitu juga tempat ia akan beristirahat bersama Bian malam nanti.
Ketika mereka sampai, Kavin muncul untuk memastikan keduanya benar-benar kembali. Bian menunjukkan tas yang diambil, dan Jihan mengangkat wadah titipan Ibuk.
"Sudah pulang, bang."
Kavin mengangguk, lalu berlari memberi tahu Aliya. Jihan mengikuti masuk sambil tersenyum. Janji kecil mereka hari ini akhirnya punya bukti yang bisa dilihat anak itu sendiri.