"Tante, mobilnya!"
Jihan baru saja meletakkan piring ketika Kavin muncul di dekat kursinya. Di belakang anak itu, Bian membuka tas dan mengeluarkan mobil mainan yang dititipkan semalam.
"Ini, bang. Om nggak lupa."
Kavin mengambilnya, lalu menyerahkan langsung pada Jihan. Gerakannya cepat, seolah khawatir berubah pikiran kalau terlalu lama.
"Buat tante. Tapi nanti mainnya di rumah."
Jihan menerima dengan kedua tangan. "Makasih, bang. Sudah bisa jalan semua rodanya?"
Kavin mengangguk bangga. Ia menunjukkan roda yang dibetulkan Adrian, kemudian melirik Bian, memastikan penjelasannya diperhatikan.
Bian mengangguk serius. "Bagus."
Setelah tugasnya selesai, Kavin berlari kecil menghampiri Aliya. Jihan masih memandangi mainan di tangannya ketika Bian duduk di sebelahnya.
"Disimpan dulu. Nanti ketinggalan."
"Aku pegang sebentar. Lucu."
"Mobilnya?"
"Yang ngasih, mas."
Bian tersenyum tipis. Beberapa waktu lalu Jihan bahkan belum boleh mendekat ketika Kavin bermain. Sekarang ada mainan yang sengaja dititipkan untuknya. Bukan perubahan besar yang disambut teriakan seluruh keluarga, tetapi cukup untuk membuat Jihan bahagia.
.
.
Menjelang sore, tamu mulai berkurang. Rumah tidak langsung sepi karena keluarga masih membantu membereskan, namun Jihan akhirnya bisa masuk kamar dan mengganti pakaian yang sejak pagi dikenakannya.
Ia duduk di depan cermin sementara Ibuk membantunya melepaskan beberapa aksesori. Shasya sudah berpamitan setelah memastikan barang-barang Jihan tidak tercecer.
"Pusing?" tanya Ibuk.
"Sedikit. Capek senyum, Buk."
"Makanya habis ini istirahat."
Jihan menatap ibunya lewat cermin. Dari pagi beliau bergerak ke sana kemari, menyambut tamu, memastikan makanan, lalu sekarang masih membantu putrinya.
"Ibuk juga istirahat, ya. Jangan beresin semuanya sendiri."
"Ada yang bantu."
Jihan mengangguk, tetapi belum beranjak. Di sudut kamar ada tas yang akan dibawanya ke rumah Mama. Sebagian barang lain tetap di sini, menunggu dipindahkan nanti.
Ibuk mengikuti arah pandangnya.
"Kalau ada yang ketinggalan, bisa diambil. Nggak perlu wajahmu begitu."
Jihan tertawa kecil, tertangkap basah.
"Padahal cuma ke Pejaten, ya, Buk."
"Lha iya. Bukan pindah benua."
Tetap saja, ketika Ibuk selesai merapikan barang dan membelai kepalanya, Jihan merasa ingin duduk lebih lama. Ia meraih tangan ibunya, menahannya sebentar sebelum bangkit.
"Terima kasih, Buk. Buat semuanya."
Ibuk tidak menjawab panjang. Beliau hanya mengangguk, lalu menyuruh Jihan mencuci muka agar lebih segar.
.
.
Di bawah, Bian sedang berbicara dengan Bapak ketika Jihan turun membawa tas kecil. Pakaian mereka sudah lebih sederhana, membuat suasana terasa seperti kunjungan biasa yang hampir selesai.
Bedanya, kali ini Jihan ikut pulang bersama Bian.
Bapak membantu mengangkat satu tas, tetapi Bian segera mengambil alih. Setelah barang masuk ke mobil, mereka kembali berpamitan. Jihan memeluk Bapak dan Ibuk sekali lagi, lalu menyalami Bik Sri yang berdiri dekat pintu.
"Non jangan sungkan telepon kalau lupa taruh barang di mana. Bibik carikan."
"Nggeh, Bik. Tapi nanti bibik capek kalau aku telepon terus."
"Ya jangan terus-terusan juga."
Jihan tertawa, lalu mengusap matanya yang kembali panas. Bian menunggu di dekat mobil tanpa menyuruhnya cepat. Setelah Jihan siap, barulah ia membuka pintu dan membantunya masuk.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan rumah. Jihan terus melambaikan tangan sampai pagar tak lagi terlihat, kemudian menyandarkan punggung pada kursi.
Untuk beberapa saat ia diam.
Bian mengecilkan volume radio. "Mau nangis lagi?"
"Nggak tahu. Kayaknya persediaannya belum habis."
"Tisunya di depan."
Jihan menoleh, lalu tertawa meskipun matanya masih basah. "Kamu praktis banget, mas."
"Kalau saya ikut nangis, nanti siapa yang nyetir?"
Ia tertawa lebih lepas. Bian melirik sebentar, lega karena bahu Jihan tidak lagi setegang tadi.
"Nanti kabari ibuk kalau sudah sampai," katanya.
"Iya."
"Kalau masih ingin ngobrol, telepon juga boleh."
Jihan mengangguk, lalu menatap jalan. Ia belum tahu bagaimana caranya membagi rasa rindu pada rumah lama dan kegembiraan memiliki rumah tangga baru. Untuk sore ini, keduanya masih bercampur.
.
.
Mama menyambut mereka di rumah dengan senyum lelah namun bahagia. Sebagian keluarga sudah lebih dulu kembali, dan suara anak-anak masih terdengar dari ruang tengah.
"Langsung istirahat dulu saja. Nanti kalau lapar, makanan ada," ujar beliau.
Jihan hendak menawarkan bantuan, tetapi Mama menggeleng sebelum kalimatnya selesai.
"Hari ini cukup. Besok juga masih ada piring."
Bian mengambil tas mereka dan mengajak Jihan naik. Pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan ruang yang selama ini hanya sesekali dilihat Jihan. Ada tempat yang sudah dikosongkan untuk barangnya, juga handuk yang disiapkan Mama.
Jihan berdiri di dekat pintu, mendadak canggung.
Sekarang ia tidak akan tidur di kamar Kani.
"Tasmu di sini dulu, ya," ujar Bian.
"Nggeh."
"Kenapa berdiri terus?"
"Lagi lihat-lihat."
Bian menatapnya sesaat, lalu tersenyum kecil. "Silakan. Nggak ada karcis masuk."
Jihan mendengus, akhirnya duduk di tepi kursi. Ia mengeluarkan ponsel dan mengabari Ibuk bahwa mereka sudah sampai. Balasan datang tak lama kemudian, meminta keduanya beristirahat.
Ia meletakkan mobil mainan Kavin di dekat tas, lalu merapikan kerudungnya dengan gerakan yang mendadak serba hati-hati.
Di lemari ada beberapa gantungan kosong yang disediakan untuknya. Jihan membuka tas dan menggantung dua pakaian, kemudian berhenti ketika melihat baju kerja Bian berjejer di sebelahnya. Kebiasaan lelaki itu terbaca dari susunan warna dan lipatan yang hampir seragam. Pakaian Jihan membuat barisan tersebut berubah sedikit lebih ramai.
Ia menoleh pada Bian, memastikan tempat itu memang boleh dipakainya. Bian mengangguk sambil menggeser barangnya sendiri ke sisi lain. Gerakan sederhana itu membuat Jihan berani membuka tas berikutnya tanpa bertanya lagi.
Bian mengambil air minum dari meja dan menyerahkannya.
"Kamu mau sendiri sebentar buat ganti? Saya turun dulu."
Jihan menatapnya, lega karena tak perlu mencari kalimat sendiri.
"Iya, mas. Sebentar aja."
Bian mengangguk dan keluar, menutup pintu dengan pelan. Jihan baru sadar sejak tadi ia menahan napas. Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri. Menghadapi ujian pernah, berjaga sampai lelah juga pernah, tetapi duduk di kamar suami sendiri ternyata punya kesulitan berbeda.
.
.
Malamnya mereka makan sedikit bersama keluarga sebelum kembali beristirahat. Bhima hampir membuka godaan, tetapi Mama lebih dulu memintanya mengambilkan air untuk Papa. Kesempatan itu dipakai Bian untuk membawa Jihan naik sebelum pertanyaan berkembang ke mana-mana.
Di kamar, suasananya lebih tenang. Jihan sudah tidak sekaku ketika pertama masuk. Ia duduk bersandar, memperhatikan Bian meletakkan ponsel jauh dari bantal.
"Nggak kerja?" tanyanya.
"Nggak malam ini."
Bian duduk di dekatnya. Jihan menatap cincin mereka yang tampak berbeda di bawah cahaya lampu kamar, kemudian tersenyum sendiri.
"Ternyata sudah nikah, ya."
"Sejak tadi pagi."
"Aku tahu, mas."
Bian mengulurkan tangan. Jihan menyambut, lalu perlahan menyandarkan kepala di bahunya. Tidak ada tuntutan untuk bicara atau melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Mereka sama-sama lelah, sama-sama baru belajar nyaman dalam kedekatan yang kini berbeda.
"Kalau ada yang bikin nggak nyaman, bilang," ujar Bian pelan.
"Kamu juga."
Ia mengangguk, mengecup kening Jihan, lalu membiarkan mereka menikmati hening. Di luar kamar suara keluarga berangsur mereda. Malam pertama mereka akhirnya berjalan tanpa jadwal dan tanpa penonton, cukup dengan waktu yang tidak lagi harus buru-buru diakhiri oleh kata pamit.