Sabtu pagi, Jihan mendadak lupa cara mengaitkan gelangnya sendiri.
Ia sudah mencoba dua kali, tetapi jari-jarinya seperti tidak mau bekerja sama. Shasya yang sejak tadi mengawasi akhirnya mengambil alih sambil menggeleng.
"Lo bisa pegang alat praktik, gelang kecil begini kalah."
"Tangan gue dingin, Sya."
"Iya, kerasa. Tenang dulu."
Jihan menatap bayangannya di cermin. Pakaian yang dicobanya beberapa hari lalu sekarang benar-benar dikenakan untuk menikah. Tidak ada lagi bagian yang harus ditandai penjahit, tidak ada pertanyaan mau dilonggarkan sedikit atau tidak.
Semua sudah pas. Yang belum pas hanya detak jantungnya, terlalu cepat sejak bangun tadi.
Ibuk masuk dengan membawa air minum. Beliau berhenti sesaat ketika melihat Jihan, lalu tersenyum sambil mendekat.
"Minum sedikit, nduk."
Jihan menerima gelas dengan kedua tangan. "Mas sudah datang?"
"Sudah di depan sama keluarganya. Bapak sedang menyambut."
Jihan mengangguk, tetapi pertanyaan berikutnya langsung muncul.
"Dia kelihatan gugup nggak?"
Shasya menyahut sebelum Ibuk menjawab. "Mau gue ukur nadinya sekalian?"
"Sya!"
Ibuk tertawa pelan. Suara itu membuat Jihan sedikit lebih tenang. Rumah masih rumah yang sama, Ibuk masih bisa tertawa, dan Shasya masih menyebalkan. Ia tidak tiba-tiba berada di tempat asing hanya karena hari ini ia akan menikah.
.
.
Di ruang depan, Bian duduk dengan punggung tegak. Bhima ada di dekatnya, sesekali melirik tangan kembarannya yang terus merapikan ujung lengan baju.
"Sudah lurus, Bi. Dari tadi juga lurus."
"Saya tahu."
Bhima mengangkat alis. "Gue kena saya sekarang?"
Bian menoleh, baru sadar. Bhima menahan tawa agar tidak mengganggu suasana, lalu menepuk lututnya singkat.
"Santai. Napas."
Papa duduk tidak jauh darinya. Saat pandangan mereka bertemu, beliau mengangguk sekali. Bian membalas, lalu memandangi ruangan yang dipenuhi orang-orang dekat. Ia mengenali wajah-wajah itu, namun pagi ini tetap terasa berbeda.
Di hadapannya ada Bapak Jihan. Lelaki yang pernah berbincang dengannya di warung makan belakang rumah sakit, yang mengajaknya bicara soal pekerjaan dan olahraga, kini akan menyerahkan kepercayaan yang jauh lebih besar.
Bian menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Ia sudah memeriksa segala keperluan bersama keluarga. Tidak ada lagi berkas yang dicari mendadak. Kotak cincin berada di tempatnya. Bahkan mobil mainan titipan Kavin sudah aman di dalam tas yang dibawa.
Semua siap. Sekarang tinggal dirinya.
Ketika acara dimulai, percakapan di sekeliling mereda. Bian mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengikuti arahan yang disampaikan. Ia tidak mencari ponsel atau menoleh pada jam. Untuk pagi ini, tidak ada tempat lain yang perlu ia datangi.
Saat tiba gilirannya, ia mengangkat wajah dan menjabat tangan Bapak. Kalimat yang harus diucapkannya terasa berat sebelum keluar, tetapi setelah mengambil napas, suaranya terdengar jelas.
Jihan mendengarnya dari tempat ia menunggu.
Ia menahan napas tanpa sadar, sampai ucapan sah terdengar dan doa menyusul. Shasya menyentuh lengannya, sementara Ibuk yang tadi berada di dekat pintu mengusap sudut mata.
Jihan menunduk. Tisu yang sudah disiapkan di tangannya akhirnya kembali basah.
Sudah.
Lelaki yang semalam masih disebutnya calon suami sekarang benar-benar menjadi suaminya.
.
.
Bian baru merasa bisa bernapas lega ketika Jihan duduk di sebelahnya. Ia memandang wajah perempuan itu, sedikit terdiam melihat mata yang basah namun tersenyum.
"Mas," panggil Jihan pelan.
"Ya?"
"Lihatnya jangan begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Kayak belum kenal."
Senyum tipis muncul di wajah Bian. "Sudah kenal."
Ia menyentuh tangan Jihan ketika cincin sederhana yang mereka pilih bersama disiapkan. Jemari Jihan masih dingin. Bian menyelipkan cincin itu perlahan, lalu membiarkan Jihan melakukan hal yang sama padanya.
Tidak ada hiasan berlebihan, hanya lingkaran yang tadi pernah mereka coba di toko. Namun kali ini Jihan tidak ingin cepat-cepat melepasnya untuk dikembalikan ke kotak.
Ketika ia menyalami Bian, tangannya gemetar sedikit. Bian menunduk dan mengecup keningnya dengan lembut. Jihan memejamkan mata, mendengar ucapan doa dan suara keluarga di dekat mereka.
"Assalamualaikum, istri saya," bisik Bian ketika menjauh sedikit.
Jihan mengangkat wajah. Pipinya terasa hangat seketika.
"Wa'alaikumsalam, mas."
Astaga, hanya dua kata tambahan, kenapa pengaruhnya begini?
Bhima yang melihat mereka tersenyum sendiri memilih tidak berkomentar. Setidaknya sampai sesi foto dimulai. Ia masih punya cukup kesabaran untuk tidak merusak momen saudaranya dalam lima menit pertama.
.
.
Mereka mendekati orang tua satu per satu. Ketika sampai pada Bapak, Jihan tidak berhasil mengucapkan kalimat yang tadi sempat disusunnya dalam kepala. Ia hanya memeluk, lalu menangis di bahu yang sangat dikenalnya.
Bapak mengusap punggungnya, menunggu sampai Jihan sedikit tenang.
"Bahagia, ya, nduk."
Jihan mengangguk, lalu bergeser pada Ibuk. Pelukan ibunya membuat pertahanan yang baru dibangun runtuh lagi.
"Jangan lupa makan kalau sibuk," bisik Ibuk.
Jihan tertawa di sela tangis. Di hari sebesar ini pun pesan Ibuk tetap sesuatu yang sangat sehari-hari. Justru karena itu, rasanya begitu dekat.
Bian menyalami kedua mertuanya, menerima pesan Bapak tanpa banyak menyela. Saat Mama merangkul Jihan setelahnya, ia melihat putrinya yang baru diterima dalam pelukan yang sudah sangat akrab.
Ada rasa lega yang tidak bisa ia jelaskan dengan kalimat panjang.
Ketika mereka menyelesaikan urusan tanda tangan, Jihan menatap nama lengkap Bian yang tertulis di lembar depannya. Selama ini nama itu muncul di layar ponsel, kartu bunga, atau pesan yang ditunggunya. Sekarang ia menandatangani dokumen yang sama dengan lelaki tersebut.
Tangannya kembali sedikit gemetar. Bian tidak mengambilkan pulpen baru atau memberi instruksi, hanya menunggu sampai Jihan selesai.
"Jelek nggak?" bisik Jihan setelah mengangkat pulpen.
"Tanda tangannya?"
"Iya."
"Masih seperti punyamu."
Jihan mengembuskan napas, kemudian tersenyum. Ia menyadari bahwa di tengah segala hal yang berubah pagi ini, dirinya tetap Kirana Jihan yang sama. Ia hanya akan belajar menjalani sesuatu yang baru bersama Bian.
Foto bersama berlangsung lebih ramai daripada akad. Bryan ingin berdiri di sebelah Bian, Bryna mengatur posisinya sendiri, sementara Kavin lebih tertarik melihat tas tempat mobil mainannya disimpan.
"Nanti, bang," bisik Bian.
"Jangan lupa."
"Iya."
Jihan menangkap percakapan itu dan tertawa. Ia melambaikan tangan kecil pada Kavin, lalu kembali menghadap kamera ketika diarahkan.
"Mas, senyum," gumamnya tanpa menoleh.
"Sudah."
"Tambah dikit."
Bian akhirnya tersenyum lebih lebar. Tepat saat itulah foto diambil, sementara Jihan masih menahan tawa di sebelahnya.
.
.
Di sela tamu yang memberi selamat, Bian mengambil air minum dan menyerahkannya pada Jihan. Ia juga meminta waktu sebentar agar mereka bisa duduk, mengingat sejak tadi Jihan belum benar-benar berhenti.
Jihan menerima gelas, memandangi cincin di jarinya sebelum menatap Bian.
"Kamu ingat aku haus."
"Dari tadi kamu menjilat bibir terus."
"Oh. Kirain sudah peka tingkat tinggi."
"Masih latihan."
Jihan tersenyum, lalu menyesap airnya. Di depan mereka masih ada keluarga yang menunggu disapa, makanan yang perlu dicicipi, dan hari panjang yang belum selesai.
Tetapi ketika Bian mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, Jihan menyambut tanpa ragu. Kali ini ia tidak lagi bertanya dalam hati kapan lelaki itu akan benar-benar mengikatnya.
Ia sudah berada di sini. Dan mereka akan pulang sebagai suami istri.