Air pertama menyentuh bahu Jihan dan membuatnya menarik napas pendek. Bukan karena terlalu dingin, tetapi karena Ibuk berdiri di dekatnya dengan mata yang sudah basah lebih dulu.
"Buk, jangan nangis dulu," gumam Jihan.
"Kamu sendiri sudah begitu."
Jihan tertawa kecil, lalu gagal mempertahankan senyumnya. Acara siraman keluarga sore itu berlangsung dengan tenang di bagian rumah yang sudah disiapkan. Hanya orang-orang dekat yang berada di sana, sementara yang lain membantu dari ruang depan.
Ia merasa cukup nyaman karena tak perlu menghadapi banyak pandangan. Setiap kali kainnya perlu dirapikan atau ia ingin jeda, Ibuk dan orang-orang yang mendampinginya menunggu.
Bapak memberi doa dengan suara pelan. Jihan mendengar setiap kata sambil menunduk, air matanya bercampur dengan air yang mengalir di pipi.
Besok ia masih menjadi putri mereka. Ia tahu itu. Tetapi ada bagian dari kesehariannya yang akan berubah, dan sore ini perubahan tersebut terasa semakin dekat.
Ketika acara selesai, Shasya membantu mengambilkan barang yang dibutuhkan. Kani membawa tas pakaian, sementara Ibuk memastikan Jihan punya waktu berganti dan beristirahat sebelum kembali menemui keluarga.
"Pelan-pelan, Han. Nggak dikejar ambulans," ujar Shasya ketika Jihan terburu-buru mencari sandalnya.
"Gue takut orang-orang nunggu."
"Mereka bisa minum teh dulu. Sandal lo di sebelah kiri."
Jihan menunduk. Benar saja, sejak tadi benda itu ada di dekat kakinya.
Rupanya gugup memang bisa membuat barang yang terlihat jelas menjadi tak terlihat.
.
.
Menjelang malam, rumah mulai lebih tenang. Beberapa orang masih membantu membereskan tempat untuk akad esok hari, tetapi Jihan sudah diminta masuk kamar dan berhenti memeriksa setiap sudut.
Ia bertahan sekitar sepuluh menit sebelum keluar lagi.
"Mau ke mana?" Ibuk memergokinya di tangga.
"Minum."
"Di kamar ada."
"Yang dingin dikit."
Ibuk menyipit. Jihan menyerah, mengangkat kedua tangan kecil-kecil.
"Iya, mau lihat sebentar."
Beliau akhirnya membiarkan, asal Jihan tidak ikut menggeser kursi atau mengangkat barang. Jihan berdiri di ujung ruang tengah, memandangi tempat yang sudah ditata. Di sanalah besok Bian akan duduk di hadapan Bapak.
Ia menelan ludah.
Selama berbulan-bulan ia menunggu kepastian, lalu mengeluh karena rencana tertunda. Sekarang tinggal satu malam, justru rasanya ia ingin waktu berjalan lebih pelan.
"Nduk."
Bapak duduk di bangku dekat jendela, memberi isyarat agar ia mendekat. Jihan menghampiri, lalu duduk di sebelahnya seperti ketika masih sering menunggu Bapak pulang bekerja.
"Capek?"
"Sedikit. Bapak capek?"
"Lumayan. Tapi senang."
Jihan menatap tangan Bapak yang terletak di lutut, kemudian menggenggamnya. Tidak ada kalimat yang langsung keluar. Suara orang membereskan barang terdengar samar dari ruang depan.
"Kalau adek kangen rumah, boleh sering pulang, kan?"
Bapak menoleh, seperti heran kenapa hal itu perlu ditanyakan.
"Ini tetap rumahmu. Tapi nanti rumah kalian juga dijaga. Jangan setiap kesel sedikit langsung lari sebelum bicara."
Jihan tersenyum malu. Bapak mengenalnya terlalu baik.
"Adek akan belajar."
"Kalau butuh bantuan, tetap bilang. Belajar berdua bukan berarti nggak boleh minta tolong."
Jihan mengangguk, merapatkan bahunya ke lengan Bapak. Beliau membiarkannya bersandar tanpa segera menambahkan nasihat lain.
"Mas Bian baik sama Bapak, ya?" tanyanya pelan.
"Baik. Tapi yang akan hidup sehari-hari dengannya kamu, nduk. Yang baik dipelihara, yang menyakitkan dibicarakan. Jangan dipendam cuma karena sudah menikah."
Jihan mengingat bagaimana ia akhirnya berani mengatakan takut pada bentakan Bian. Percakapan itu tidak mudah, tetapi sesudahnya ia bisa melihat sesuatu yang berbeda.
"Nggeh, Pak."
Ia mengecup punggung tangan Bapak. Kali ini air matanya jatuh tanpa usaha disembunyikan. Bapak mengusap kepalanya, lalu memanggil Ibuk dengan suara yang sedikit berubah.
Ketika Ibuk bergabung, mereka bertiga duduk berdekatan. Tidak ada foto yang diatur, tidak ada permintaan mengulang senyum. Hanya beberapa menit bersama sebelum hari yang ramai datang lagi.
.
.
Di rumah Bian, Mama juga belum berhenti bergerak. Setelah memeriksa pakaian untuk besok, beliau beralih menanyakan kendaraan, lalu kembali lagi ke kotak yang tadi sudah diperiksa.
"Ma, sudah lengkap," ujar Bian.
"Mama cuma lihat."
"Itu tadi juga cuma lihat."
Mama menatapnya, lalu tertawa pelan. Bian menarik kursi agar beliau duduk. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Dari ruang tengah terdengar suara anak-anak, lalu Aliya mengingatkan agar mereka tidak berlari.
"Nanti rumah sepi satu orang lagi," gumam Mama.
Bian menoleh. "Mas masih datang, Ma. Dekat juga."
"Mama tahu. Tetap beda."
Ia tidak buru-buru membantah. Baru beberapa hari lalu Kavin mengatakan hal serupa dengan kata-katanya sendiri. Ternyata bukan cuma anak kecil yang perlu waktu membiasakan diri.
"Jihan juga pasti kangen rumahnya," lanjut Mama. "Jangan diketawain kalau tiba-tiba sedih."
"Iya. Kemarin dia sudah bilang."
Mama mengangguk, tampak lega. Lalu beliau menatap putranya lebih sungguh-sungguh.
"Kalau capek kerja, bilang capek. Jangan pulang bawa marah lalu semua kena."
Bian menunduk, mengusap ujung jarinya sendiri.
"Mas sedang belajar, Ma."
"Teruskan. Jihan juga belajar."
Percakapan terpotong ketika Kavin datang membawa sebuah mobil mainan. Rodanya sudah lengkap, rupanya dibantu Adrian memperbaiki bagian yang sempat hilang.
"Om, ini buat tante. Besok bawa."
Bian menerima mainan itu dengan heran. "Boleh dibawa?"
"Nanti balik lagi kalau main."
Mama tersenyum, sementara Bian mengangguk serius seperti menerima titipan berharga.
"Iya. Saya kasih tahu tante."
Kavin pergi setelah pesannya diterima. Bian meletakkan mobil itu di dekat tas, terpisah dari barang akad supaya tidak membuat orang mencari cincin di kotak mainan.
.
.
Malam semakin larut ketika Bian menelepon Jihan. Ia sudah bertanya melalui pesan apakah Jihan masih terjaga, dan jawabannya datang hampir seketika.
"Belum bisa tidur?" tanyanya setelah salam.
"Belum. Kamu?"
"Sama. Tapi sebentar lagi harus coba."
Jihan menarik selimut ke pangkuan. Ia tersenyum mendengar suara Bian yang lebih pelan daripada biasanya.
"Mas, besok jangan lupa datang."
"Jihan."
"Bercanda. Jangan pasang muka begitu, aku bisa bayangin."
Bian mengembuskan napas, lalu menceritakan titipan Kavin. Tawa Jihan terdengar ringan di telinganya, membuat kegugupannya berkurang sedikit.
"Bilang makasih. Aku jaga mobilnya."
"Besok bilang sendiri."
Mereka diam sesaat. Tak ada lagi daftar belanja atau jadwal yang dibahas malam itu.
"Aku masih takut nggak bisa jadi istri yang baik," kata Jihan akhirnya.
"Saya juga belum pernah jadi suami. Kita pelan-pelan, ya."
"Jangan hilang kalau susah."
"Iya. Kita bicara. Besok saya datang, Ji."
Jihan tersenyum, lalu mengingatkan Bian agar memasang alarm. Lelaki itu membalas bahwa alarmnya sudah disiapkan, termasuk Bhima yang sejak sore menawarkan diri membangunkannya dengan cara paling berisik. Jihan terkikik membayangkan wajah kesal masnya. Ia tidak meminta percakapan diperpanjang meski masih ingin mendengar suaranya. Mereka sama-sama perlu tidur, dan untuk pertama kalinya menutup telepon malam itu terasa seperti memberi ruang beristirahat, bukan menunggu seseorang menghilang tanpa penjelasan.
Setelah berpamitan, Jihan meletakkan ponsel di nakas. Ia menatap kamar yang sudah ditempatinya bertahun-tahun, mendengar langkah Ibuk di luar, lalu meredupkan lampu.
Besok akan ramai. Malam ini ia mencoba memejamkan mata, membawa suara Bian yang baru saja didengarnya: besok saya datang.