Sehari sebelum akad, pagi terasa datang terlalu cepat. Jihan berdiri di depan cermin, merapikan kerudung untuk ketiga kalinya, lalu menatap pintu kamar seolah ada sesuatu yang terlupa di luar.
Padahal semua sudah diperiksa sejak semalam.
Pakaian sudah pas. Barang yang perlu dibawa sudah dipisahkan. Buku tugasnya juga sudah ditutup, meskipun tadi ia sempat tergoda mengecek satu halaman lagi.
"Han, kerudung lo nggak lari," komentar Shasya dari tepi tempat tidur.
"Gue tahu."
"Terus kenapa dipegang terus?"
"Tangan gue perlu kerjaan."
Shasya menyodorkan sekotak tisu. "Nih, pegang. Berguna sebentar lagi."
Jihan mendelik. "Jangan nakut-nakutin."
Di bawah, pengajian akan dimulai sebentar lagi. Suara tamu yang datang terdengar sampai kamar, bercampur sapaan Ibuk dan langkah orang yang membantu menata tempat duduk. Rumahnya berubah ramai, tetapi masih terasa seperti rumahnya sendiri.
Tidak ada panggung besar menutup ruang tengah. Hanya susunan tempat yang dirapikan, bunga secukupnya, dan wajah-wajah yang dikenalnya.
Jihan menarik napas, lalu mengambil ponsel sekali lagi.
Mas Abiandra
Sarapan dulu. Jangan cuma teh. Saya di rumah, Mama sedang bersiap ke sana.
Jihan mengetik cepat.
Kirana Jihan
Kamu juga. Aku deg-degan.
Balasan datang ketika Shasya mulai merapikan tasnya.
Mas Abiandra
Saya juga.
Jihan membaca dua kata itu dua kali. Aneh, mengetahui Bian ikut gugup justru membuatnya lebih tenang.
"Dia juga takut?" Shasya melongok.
"Gugup. Bukan takut."
"Oh, maaf. Calon istrinya sensitif."
Jihan melempar bantal kecil ke pangkuan sahabatnya sebelum mereka turun bersama.
.
.
Mama datang bersama Kani dan Jasmine. Aliya menyusul setelah memastikan urusan anak-anaknya, sementara Bian tetap di rumah menyelesaikan persiapan keluarganya sendiri.
Jihan menyalami Mama lebih lama dari biasanya. Beliau menatap wajahnya, merapikan ujung kain yang sebenarnya tidak berantakan, lalu tersenyum.
"Cantik. Sudah makan?"
"Sudah, Ma. Semua orang nanya makan terus."
"Karena kamu suka lupa kalau sedang begini."
Jihan tidak bisa membantah. Pagi tadi roti di tangannya memang hampir ditinggal setelah ia teringat daftar tamu. Untung Ibuk melihat sebelum piringnya dibawa ke dapur.
Saat pengajian dimulai, Jihan duduk dekat Ibuk. Ia mengikuti dengan tenang, berusaha tidak terus memikirkan besok pagi. Tetapi setiap mendengar doa untuk rumah tangganya, ada rasa hangat yang naik ke dada.
Selama ini pernikahan hadir dalam bentuk daftar. Tanggal, kain, berkas, undangan, jadwal. Pagi itu untuk pertama kalinya ia duduk diam sementara orang-orang mendoakan kehidupan yang bahkan belum ia mulai.
Jihan melirik Ibuk. Bibir beliau bergerak pelan, tangannya terangkat, dan mendadak Jihan teringat ibunya menunggu di pintu ketika ia pulang sekolah dulu.
Menunggu di pintu yang sama ketika ia pulang kuliah. Menyuruh makan. Menegur karena tidur terlalu malam. Kadang memarahinya, lalu tetap datang membawa minuman hangat.
Kotak tisu dari Shasya akhirnya berguna juga.
Ibuk menyadari gerakan Jihan dan menggenggam tangannya tanpa menoleh. Justru itu yang membuat Jihan semakin sulit menahan air mata.
.
.
Setelah acara selesai, beberapa tamu mendekat memberi selamat. Jihan menjawab satu per satu, sesekali dibantu Kani ketika ia lupa meletakkan barang. Jasmine mengingatkan agar ia minum, sementara Shasya menjaga tasnya seperti petugas khusus.
Ada yang memuji pilihan acara sederhana. Ada pula yang bertanya apakah nanti akan ada resepsi lain. Jihan menjawab seperlunya, tak lagi merasa harus menjelaskan seluruh rencana hidupnya di antara salam dan ucapan selamat.
"Doakan lancar besok, ya, Bu," katanya pada salah seorang tamu.
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. Percakapan selesai di sana, tanpa Jihan harus membela keputusan yang sudah mereka pilih bersama.
Ketika suasana mulai lengang, Jihan menemukan Mama dan Ibuk berdiri di dekat meja makan, berbicara pelan sambil memperhatikan wadah makanan.
"Kalian ngomongin aku, ya?"
"Ngomongin nasi masih berapa," jawab Ibuk.
Kani yang lewat tertawa. Jihan mengerucutkan bibir, merasa terlalu percaya diri sudah mengira dirinya pusat setiap percakapan hari ini.
Mama menariknya mendekat.
"Tapi memang mama mau bilang sesuatu. Besok setelah semuanya selesai, jangan merasa harus melayani semua orang sampai capek. Bilang kalau perlu istirahat."
"Nggeh, Ma."
"Masmu juga begitu. Kalian bukan panitia tunggal."
Jihan mengangguk sambil tersenyum. Ada banyak orang yang membantu hari ini, dan ia mulai belajar menerima bantuan tanpa merasa semua harus diperiksa sendiri.
Ia menemukan Bik Sri di dapur, sedang menata gelas yang baru dicuci. Jihan mengambil lap dan hendak membantu, tetapi bibik segera menunjuk kursi kosong.
"Duduk dulu, non. Dari tadi berdiri terus."
"Bibik juga dari pagi kerja."
"Ada yang bantu, kok. Non jangan khawatir."
Jihan duduk, memperhatikan tangan yang dulu membantunya memasak bekal pertama untuk Bian. Ia teringat tutup panci yang dipakainya sebagai tameng, lalu tertawa sendiri.
"Ingat goreng cumi, Bik?"
"Yang non takut minyak itu? Ingatlah."
"Nanti kalau mas protes masakanku, aku telepon bibik."
"Belajar lagi saja. Den Bian juga boleh ikut belajar."
Jihan mengangguk, kemudian meraih tangan Bik Sri sebentar dan mengucapkan terima kasih. Bibik tampak salah tingkah, buru-buru menyuruhnya minum. Jihan menurut. Di antara banyak doa dan ucapan selamat hari ini, ia tidak ingin lupa pada orang yang selama bertahun-tahun ikut membuat rumah ini terasa nyaman baginya.
.
.
Di rumahnya, Bian sedang mencari kaus kaki ketika Bhima masuk membawa kotak kecil. Wajah kembarannya terlalu santai untuk seseorang yang tahu saudaranya hampir membongkar satu lemari.
"Ini yang lo cari?"
Bian menoleh. "Dari mana?"
"Lo taruh di atas tas semalam. Bukan disimpan di alam lain."
Bian mengambilnya, menghela napas. Bhima duduk di tepi kursi, memperhatikan kamar yang biasanya rapi kini dipenuhi barang yang sudah dikelompokkan.
"Deg-degan?"
"Biasa."
"Oh. Makanya kaus kaki dicari di laci dokumen."
Bian berhenti menutup laci. Bhima langsung tertawa, puas karena tebakannya mengenai sasaran.
"Gue takut ada yang ketinggalan," aku Bian akhirnya.
"Makanya periksa sekali bareng-bareng. Habis itu berhenti bongkar. Kalau dibongkar terus, malah ilang beneran."
Mereka memeriksa barang yang perlu dibawa. Setelah selesai, Bhima meletakkan kotak cincin di tempat yang sudah ditentukan, bukan di saku mana saja yang nanti sulit dicari.
Bian memandang benda itu beberapa saat. Kemarin ia memilihnya bersama Jihan. Besok cincin itu tak lagi sekadar barang dalam kotak.
Ponselnya bergetar. Ada foto dari Jihan, duduk di antara Ibuk dan Mama setelah pengajian. Matanya sedikit sembab, tetapi senyumnya lebar.
"Cantik, kan?" Bhima ikut melirik.
"Iya."
"Jawab ke orangnya, Bi. Bukan ke gue."
Bian menatap kembarannya kesal, kemudian mengetik pesan. Bhima tidak mengintip lebih jauh. Ia keluar sambil membawa gelas kosong dan meninggalkan Bian duduk sendiri beberapa saat.
Di layar, Jihan membalas dengan foto kotak tisu yang hampir habis.
Kirana Jihan
Aku kalah sama doa ibuk.
Bian membaca kalimat itu sambil memikirkan Mama yang sejak pagi berulang kali memeriksa kebutuhannya. Ia menuliskan bahwa sebentar lagi Jihan boleh beristirahat dulu sebelum acara keluarga berikutnya.
Lalu, setelah ragu sebentar, ia menambahkan satu kalimat.
Terima kasih sudah mau sampai di sini sama saya.
Kali ini ia tidak menunggu Bhima untuk mengingatkannya.