Seminggu menjelang akad, meja Bian penuh map yang sudah diberi penanda. Bukan karena ia akan meninggalkan kantor selamanya, tetapi karena Papa menolak menerima kalimat nanti saya jawab lewat telepon untuk setiap pertanyaan.
"Kalau semuanya tetap menunggu kamu, namanya bukan serah tugas, mas."
Bian menatap ayahnya yang berdiri di depan meja. Ia baru saja menjelaskan urusan proyek, jadwal pertemuan, dan beberapa hal yang masih perlu diperiksa selama dirinya mengambil waktu untuk menikah.
"Saya cuma mau memastikan nggak ada yang terlewat, Pa."
"Pastikan dari sekarang. Bukan nanti sambil duduk di sebelah penghulu."
Patricia menunduk ke buku catatan untuk menyembunyikan senyum. Bian meliriknya sebentar, lalu kembali pada Papa. Sulit membantah kalau bayangan dirinya menjawab telepon di hari akad memang terasa mungkin.
Ia menarik sebuah kursi tambahan untuk Pak Khairul yang baru masuk. Mereka memeriksa daftar bersama, menentukan siapa yang bisa menangani pertanyaan rutin dan hal apa yang benar-benar perlu menunggu Bian kembali.
Beberapa pekerjaan ternyata bisa diselesaikan tanpa dirinya. Menyadari itu agak mengganggu harga dirinya, tetapi juga membuat bahunya lebih ringan.
Bian meminta setiap orang menyebutkan bagian yang belum jelas. Ada dua pertanyaan yang tadinya ia kira sudah terjawab dalam berkas. Ia membuka halaman terkait dan menjelaskannya lagi, kali ini tanpa menunjukkan wajah kesal karena harus mengulang.
"Yang ini saya bisa lihat langsung ke lokasi, Pak," ujar Khairul.
"Baik. Catatan perubahan terakhir ada di bagian belakang."
Patricia mencatat keputusan mereka. Untuk sekali ini Bian tidak hanya memberikan tumpukan berkas lalu berharap semua orang menebak isi kepalanya.
.
.
Setelah yang lain keluar, Papa masih duduk. Beliau memperhatikan Bian memisahkan satu map lama dari tumpukan aktif.
"Punya Pak Santoso?"
"Iya, Pa. Lagi saya rapikan arsipnya."
Ada gambar yang dahulu membuat Bian bergadang sampai pagi. Melihatnya lagi membawa ingatan tentang ruang kerja kosong, makanan kiriman Jihan, dan amarah yang akhirnya ia tumpahkan pada orang yang tidak bersalah.
Papa menyandarkan punggung. "Aslinya sudah lengkap semua?"
"Sudah. Yang dikembalikan Edwin waktu itu juga sudah disatukan. Saya cek lagi dengan catatan revisi."
Bian membuka map, memperlihatkan lembar dengan ujung sedikit terlipat. Benda kecil yang dulu hampir membuatnya kehilangan kendali itu sekarang hanya menjadi bagian dari arsip.
Ia mengangkat wajah.
"Soal Irfan, tindak lanjutnya sudah selesai, Pa? Waktu itu saya cuma fokus menyelesaikan presentasi."
Papa menjelaskan bahwa setelah gambar dikembalikan, pengakuan Edwin dan bukti yang Bian rekam tetap disimpan oleh perusahaan. Pihak Irfan sudah menerima keberatan resmi dan memberikan jawaban tertulis mengenai gambar tersebut. Urusan itu ditangani melalui perusahaan, bukan lewat pertengkaran pribadi Bian.
"Sampai sekarang tidak ada temuan gambar itu dipakai di proyek lain," tambah Papa. "Dokumennya tetap kita simpan. Kalau ada masalah lagi, kita punya catatan."
Bian mengangguk. Ia tak ingin menganggap semua orang tiba-tiba berubah baik, tetapi setidaknya ada kejelasan tentang apa yang terjadi setelah hari itu.
"Saya dulu langsung curiga sama Patricia."
"Papa juga sempat menuduhnya. Itu keliru."
Keduanya diam sejenak. Papa lalu bangkit dan menepuk bahu Bian.
"Jangan bawa kebiasaan marah dulu baru bertanya ke rumah, mas. Di kantor saja bikin orang takut menjelaskan."
Bian memandang map di depannya. Ia sudah melihat akibatnya pada Jihan.
"Nggeh, Pa."
.
.
Siang itu Bian memanggil Patricia untuk memastikan daftar penyerahan tugas sudah lengkap. Ketika urusan selesai, ia menahan sekretarisnya sebelum beranjak.
"Pat, soal kejadian gambar hilang dulu. Saya belum pernah minta maaf dengan benar karena membentak kamu."
Patricia tampak kaget. Buku catatannya masih terbuka di tangan.
"Oh... iya, Pak."
"Kamu sudah menjelaskan, tapi saya tetap marah. Seharusnya nggak begitu."
Patricia mengangguk pelan. Ia tidak langsung berkata tidak apa-apa, dan Bian tidak memaksanya. Permintaan maaf bukan tombol agar orang lain melupakan pengalaman buruk seketika.
"Terima kasih, Pak."
Setelah Patricia keluar, Bian menyelesaikan satu surel terakhir. Ia memeriksa kembali lampirannya sebelum mengirim, kemudian menutup laptop untuk makan siang. Ponselnya memperlihatkan pesan Jihan yang masuk beberapa menit lalu.
Kirana Jihan
Kebayanya sudah bisa dicoba lagi besok. Ibuk mau ikut. Kamu sudah makan?
Mas Abiandra
Baru mau. Besok saya bisa setelah jam tiga. Kamu bagaimana?
Ia menunggu sebentar, kemudian sadar Jihan belum tentu sedang memegang ponsel. Bian meletakkannya, mulai makan tanpa menelepon berkali-kali.
Ada kebiasaan yang memang harus dilatih dari dua arah.
.
.
Sore harinya, mereka bertemu di rumah Jihan. Di sofa sudah ada beberapa contoh undangan yang akan disampaikan secara pribadi. Nama mereka tercetak berdampingan, dan Bian memperhatikan ejaannya lebih lama daripada hiasan di pinggir kertas.
Jihan membawa dua minuman, lalu duduk sambil menghela napas panjang.
"Mau tahu sesuatu?"
Bian mengangkat wajah.
"Hari ini ada yang nanya kenapa nggak bikin resepsi besar. Aku jawab sesuai rencana kita. Terus ditanya lagi, kenapa buru-buru."
"Kamu jawab apa?"
"Karena yang nikah aku sama kamu, bukan seluruh Jakarta."
Bian menatapnya, lalu senyum kecil muncul.
"Beneran kamu jawab begitu?"
"Dalam hati. Di luar aku senyum."
Ia tertawa pendek, tetapi Bian menangkap lelah di wajahnya. Komentar yang satu mungkin ringan. Jika diulang oleh banyak orang, akhirnya mengusik juga.
"Kalau capek menjelaskan, cukup bilang kita pilih acara keluarga. Saya juga akan bilang begitu kalau ditanya."
Jihan mengangguk. "Aku cuma pengin orang datang buat doain, mas. Bukan hitung-hitung kursi terus bikin kesimpulan sendiri."
"Iya."
Bian menggeser satu undangan ke arahnya. "Ini nama Ranza sudah benar?"
Jihan membaca, lalu mengambil pulpen. Ada satu huruf yang perlu diperbaiki pada catatan alamat, dan ia bersyukur Bian memeriksa sebelum semuanya dikirim.
Mereka menghabiskan beberapa waktu untuk pekerjaan kecil itu. Tidak romantis menurut ukuran foto di media sosial, tetapi Jihan menikmati duduk bersama tanpa harus meminta perhatian berkali-kali.
Di tengah tumpukan undangan, ia menemukan catatan wisuda dari kampus yang baru dimasukkan ke map. Jadwal rincinya belum selesai ia pastikan, tetapi ia menunjukkannya pada Bian.
"Kalau sudah pasti, aku kabari. Janjimu masih berlaku?"
Bian tak perlu bertanya janji yang mana.
"Masih. Saya datang. Kirim begitu kamu tahu, biar saya atur dari awal."
Jihan menatapnya beberapa saat, kemudian mengangguk. Ia ingin percaya, tetapi kali ini tidak meminta sumpah atau kalimat panjang. Ia hanya menyimpan catatan itu di bagian yang mudah ditemukan.
Saat Bian pulang, satu pekerjaan lagi sudah berkurang dari daftar. Di kantor, tugasnya juga sudah terbagi lebih jelas.
Untuk pertama kali menjelang hari penting, ia tidak merasa harus berada di semua tempat sekaligus. Masih ada pekerjaan besok, masih ada kemungkinan rencana berubah, tetapi ia sudah memberi tahu orang-orang yang perlu tahu.
Di lampu merah, Bian melihat sebuah keluarga menyeberang bersama. Ia teringat Jihan yang tadi menandai undangan sambil mengunyah camilan dan sesekali mengoreksi tulisannya.
Sebentar lagi ia pulang bukan hanya ke rumah Mama.
Pikiran itu membuatnya tersenyum sampai kendaraan di belakang membunyikan klakson pelan. Lampu sudah hijau.
"Iya, iya," gumamnya, lalu kembali melaju.