Jihan sedang memasukkan lembar tugas ke map ketika suster memanggilnya dari ambang pintu. Bukan untuk mengambil berkas pasien. Ada pesan dari petugas depan yang ingin disampaikan.
"Ada yang titip nomor telepon, dek. Namanya Dante. Dia minta kamu hubungi. Petugas tidak memberikan jadwalmu."
Tangan Jihan berhenti. Map yang hampir ditutupnya terbuka lagi, beberapa lembar bergeser ke tepi meja.
"Orangnya masih ada?"
"Sudah pergi. Tadi diminta menunggu di depan, lalu bilang cuma mau titip pesan."
Jihan mengangguk, mencoba mengatur napas. Dante tidak masuk ke tempat kerjanya kali ini, tidak berdiri di dekat meja, tetapi mendengar namanya saja masih membuat tengkuk Jihan menegang.
Suster meletakkan kertas kecil itu tanpa mendesak.
"Kamu nggak harus telepon sekarang. Kalau perlu bicara sama petugas yang tadi, nanti saya tunjukkan."
"Iya, Sus. Terima kasih."
Setelah suster pergi, Jihan duduk kembali. Ia memotret kertas itu untuk disimpan bersama catatan sebelumnya, lalu memasukkannya ke saku map terpisah. Tugas pasien tidak perlu bercampur dengan urusan pribadinya.
Shasya menemukan Jihan beberapa menit kemudian, masih diam menghadap meja.
"Kenapa?"
Jihan menjelaskan singkat. Wajah Shasya langsung berubah serius.
"Lo mau hubungi?"
"Nggak. Aku nggak punya yang perlu dibicarakan sama dia."
Untuk pertama kalinya jawaban itu keluar tanpa keraguan panjang. Jihan tidak ingin datang hanya untuk mendengar Dante mengulang klaim bahwa mereka masih punya hubungan. Ia sudah menolak, dan penolakannya tidak menunggu persetujuan Dante.
Shasya menarik kursi di sebelahnya. "Oke. Sekarang mau gue temenin ke mana?"
Jihan mengambil ponsel. "Aku kasih tahu mas dulu. Habis itu ngomong sama petugas."
.
.
Bian menerima pesan itu saat berada di kantor. Tidak lama, ia menelepon. Jihan menjawab setelah berpindah ke tempat yang tidak mengganggu pekerjaan orang lain.
"Kamu aman sekarang?"
"Aman. Dia nggak masuk. Aku sama Shasya."
Ada embusan napas di seberang. Jihan menunggu pertanyaan lain, bersiap jika suara Bian meninggi, tetapi lelaki itu justru bertanya pelan.
"Kamu ingin saya datang?"
Jihan memejamkan mata sebentar. Ia ingin, tentu saja. Tetapi sekarang ia masih punya tanggung jawab dan ada hal yang bisa ia urus bersama petugas rumah sakit.
"Sore jemput aku, ya. Sekarang aku mau jelasin kalau aku nggak minta ditemui atau dihubungi lewat sini."
"Iya. Nanti saya jemput. Kabari kalau ada perubahan."
"Mas."
"Ya?"
"Jangan hubungi dia sendiri."
Bian diam sesaat. Ia sudah menatap nomor yang terlihat pada foto kiriman Jihan, tetapi kemudian mengunci layar ponselnya.
"Saya nggak akan hubungi. Kita bicarakan dulu."
Jihan mengangguk walau Bian tak bisa melihatnya. Setelah telepon ditutup, ia dan Shasya menuju tempat yang ditunjukkan suster tadi.
Percakapannya tidak panjang. Jihan memastikan bahwa ia tidak menunggu Dante, tidak ingin jadwal atau nomor pribadinya diberikan, dan ingin kabar segera disampaikan jika ada upaya menemui lagi. Petugas mencatat penjelasannya bersama kejadian yang sebelumnya sudah dilaporkan.
Tidak ada pengumuman melalui pengeras suara. Tidak ada kerumunan. Justru ketenangan itulah yang membuat Jihan bisa berbicara sampai selesai.
Ia kembali bekerja setelahnya, meski beberapa kali masih melirik pintu.
Shasya tidak terus menanyainya. Ia hanya menggeser kursi sedikit lebih dekat saat mereka merapikan tugas, membuat Jihan bisa kembali berkonsentrasi tanpa merasa sedang diawasi atau dikasihani sepanjang siang.
.
.
Menjelang pulang, Jihan bertemu Mama di koridor. Beliau baru selesai berbicara dengan seorang rekan, lalu tersenyum ketika melihat calon menantunya.
"Sudah mau pulang, Ji?"
"Sebentar lagi, Ma. Mama ada waktu sedikit?"
Mama mengangguk dan mengajaknya duduk di tempat yang lebih tenang. Jihan merapikan tas di pangkuan, mencoba menentukan kalimat pertama. Selama ini ia lebih takut pada bayangan penilaian Mama daripada pertanyaan yang benar-benar pernah beliau ajukan.
"Ada hal yang belum Jihan ceritakan. Bian sudah tahu, ibuk sama bapak juga."
Mama tidak menyela. Beliau meletakkan ponselnya agar Jihan tahu ia diperhatikan.
Jihan bercerita secukupnya tentang Dante, tentang hubungan yang sudah lama tidak diinginkannya, dan tentang kedatangan lelaki itu ke rumah sakit. Ia tidak mengulang rincian masa sekolah yang membuatnya tidak nyaman. Mama juga tidak memintanya.
"Jihan takut mama dengar dari orang lain," katanya, suara mengecil di akhir. "Takut mama kecewa."
Mama mengulurkan tangan, menunggu sampai Jihan menyambutnya.
"Kenapa mama harus kecewa sama kamu karena ada orang yang mengganggu?"
Jihan menunduk. Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat matanya panas.
"Jihan cuma... malu, Ma."
"Mama sedih kamu takut cerita. Tapi sekarang mama tahu. Kamu sudah bicara dengan petugas?"
Jihan mengangguk, menjelaskan bantuan Mama Nadia dan langkah yang sudah dilakukan. Mama mendengarkan sampai selesai, lalu mengusap punggung tangannya.
"Baik. Kalau kamu perlu ditemani, bilang. Mama nggak akan menyebarkan ceritamu."
"Makasih, Ma."
Jihan mengeluarkan tisu, sedikit kesal pada air matanya sendiri. Tadi ia bisa menghadapi petugas dengan tenang, sekarang satu kalimat Mama malah membuat pertahanannya melemah.
Mama mengambil tisu lain dan menyerahkannya.
"Pelan-pelan. Nggak perlu malu menangis di depan mama."
.
.
Bian sudah menunggu ketika Jihan keluar. Ia tidak membunyikan klakson atau melambai berlebihan, hanya membuka pintu setelah Jihan mendekat.
"Sudah makan?" tanyanya begitu Jihan duduk.
"Sudah. Kamu?"
"Sudah juga. Mau langsung pulang?"
Jihan mengangguk. Sepanjang beberapa menit pertama ia diam, memperhatikan lalu lintas di depan. Bian tidak memaksanya berbicara sambil mobil bergerak.
Baru ketika mereka sampai di rumah dan duduk di teras, Jihan mengeluarkan map kecilnya. Ia menunjukkan apa yang dicatat hari ini, kemudian menceritakan percakapannya dengan Mama.
Bian mendengarkan dengan kedua tangan bertaut. Sesekali rahangnya menegang, tetapi ia tetap duduk.
"Kamu lega habis cerita ke Mama?"
"Iya. Ternyata selama ini aku takut sama pikiranku sendiri juga. Mama nggak menyalahkan aku."
"Memang nggak seharusnya kamu disalahkan."
Jihan menatapnya sebentar. Bian terlihat lelah, dasinya sudah dilonggarkan sejak di mobil, namun kali ini ia tidak berkata sedang sibuk.
"Kalau dia terus datang, aku mau cari bantuan lebih lanjut, mas. Aku nggak mau cuma pindah tempat terus."
"Saya temani. Kita simpan catatannya baik-baik."
Mereka belum tahu apakah Dante akan mencoba lagi. Bian ingin sekali memberikan kepastian bahwa semuanya selesai, tetapi ia tidak punya dasar untuk itu. Yang bisa ia lakukan malam ini adalah duduk di sebelah Jihan dan membantu memikirkan langkah berikutnya.
Ibuk keluar membawa minuman. Setelah mendengar kabar hari itu, beliau meminta Jihan menunjukkan catatan yang sudah dibuat. Bapak ikut membaca ketika pulang, tidak meninggikan suara, hanya memastikan Jihan tak perlu menanggungnya sendirian.
Ketika percakapan selesai, Jihan menyimpan map di laci. Ia tetap tidak menelepon nomor titipan Dante.
Sebagai gantinya, ia membuka pesan Shasya yang menanyakan apakah sudah sampai rumah. Jihan membalas, lalu menambahkan bahwa ia sudah bercerita pada Mama.
Tak lama, balasan masuk.
Nah. Sekarang makan yang bener. Tadi lauk lo masih separuh.
Jihan melirik piring camilan di meja, lalu mengambil sepotong. Bian mengangkat alis melihat senyumnya.
"Apa?"
"Shasya. Cerewet."
"Bagus. Jadi bukan saya sendiri."
Jihan mendelik, tetapi kali ini ia tidak keberatan dikelilingi orang-orang yang memperhatikan dirinya.