"Ini beli semua?"
Bian memandangi layar ponsel yang disodorkan Jihan. Ada foto piring, gelas, wadah bumbu, sampai tempat sendok berbentuk kelinci. Ia berhenti agak lama pada foto terakhir.
"Yang itu lucu," ujar Jihan sebelum ditanya.
"Saya tahu. Tapi buat apa?"
"Tempat sendok, mas. Masa tempat helm."
Kani yang sedang membantu mengeluarkan buku dari kardus langsung tertawa. Minggu sore itu mereka bertiga datang ke apartemen untuk menaruh sebagian barang Jihan. Bukan pindahan sungguhan, hanya mencicil agar nanti tidak semuanya dibawa setelah akad.
Apartemen memang sudah berisi perabot. Namun rupanya menurut Jihan, ada perbedaan besar antara lengkap dan cocok untuk ditempati. Bian baru menyadari hal itu setelah mendengar pembahasan tentang ukuran saringan teh selama hampir lima menit.
"Kita cek yang sudah ada dulu, ya," putus Bian.
Jihan menurunkan ponselnya. "Aku cuma bikin daftar. Belum beli."
"Iya. Saya juga belum melarang."
Kani mengangkat dua buku tebal, berpura-pura menjadi penengah. "Sebelum rapat alat dapur dilanjutkan, ini mau ditaruh mana? Tanganku mau copot."
Jihan segera menghampiri rak. Satu bagian sudah dikosongkan Bian seperti janjinya, tetapi ketika buku-buku itu disusun, ternyata tempatnya kurang. Jihan menoleh pelan.
"Mas."
"Masih ada lagi?"
"Di kardus satunya."
Bian menatap kardus di dekat pintu. Ia kira isinya pakaian. Rupanya calon istrinya membawa perpustakaan kecil, dan perpustakaan itu masih punya cabang di rumah Ibuk.
Ia berjongkok, membuka kardus, lalu mulai memindahkan barang di rak sebelah. Kani menyeringai melihatnya.
"Selamat datang di kehidupan bersama diktat, mas."
"Kamu bantu, jangan komentar terus."
"Nggeh, Pak Kepala Perpustakaan."
.
.
Setelah rak selesai, Kani turun membeli minuman. Jihan duduk di kursi makan, membuka buku kecil yang kini selalu dibawanya. Halamannya sudah penuh urusan pernikahan, diselingi coretan tentang barang rumah.
Bian meletakkan dua gelas air putih, lalu menarik kursi di sebelahnya.
"Ngomong-ngomong soal belanja," mulai Jihan, "kartu yang kamu kasih itu nanti buat apa aja, mas?"
"Keperluan kita."
"Itu luas banget."
Bian terdiam. Memang selama ini ia hanya mengatakan pakai kalau perlu, lalu heran sendiri karena Jihan tidak menggunakannya. Ia lupa bahwa mereka bisa punya pengertian berbeda tentang perlu.
"Belanja makan, kebutuhan rumah. Nanti saya kasih tahu berapa yang kita siapkan setiap bulan."
"Tagihan apartemen juga?"
"Saya urus terpisah. Tapi kamu harus tahu jumlahnya."
Ia mengambil ponsel, membuka catatan pengeluaran yang baru dibuatnya. Ada biaya rutin tempat tinggal, transportasi, belanja, juga bagian yang ingin tetap disimpan. Jihan memperhatikannya sungguh-sungguh, sesekali menunjuk angka untuk memastikan ia tidak salah membaca.
Tidak ada angka yang disebut Bian sambil membanggakan diri. Justru beberapa kali dahinya berkerut, mempertimbangkan ulang sesuatu.
"Selama ini di rumah Mama banyak hal sudah beres," akunya. "Di sini kita yang atur. Saya juga masih menghitung."
Jihan mengangguk. Ia lega Bian tidak menjawab semuanya dengan kalimat gampang, tinggal beli.
"Aku belum punya penghasilan tetap. Kalau soal kebutuhan koas, selama ini ibuk sama bapak yang bantu. Aku mau bicarain juga sama mereka, biar jelas."
"Iya. Jangan kamu khawatir sendirian."
"Aku bukan minta semua langsung dibelikan. Aku cuma nggak mau sungkan terus setiap butuh sesuatu."
Bian menoleh padanya. Kalimat itu membuatnya teringat protes Jihan soal kartu yang hampir tak pernah digunakan.
"Kalau untuk kuliah dan kebutuhanmu, bilang. Bukan berarti kamu harus minta izin buat beli sabun. Kalau ada pengeluaran besar, kita bicarakan supaya sama-sama tahu. Saya juga begitu."
Jihan mengetukkan ujung pulpen ke buku, kemudian menuliskan beberapa kategori sederhana. Mereka mencoba memisahkan kebutuhan sekarang dari barang yang bisa menunggu.
Tempat sendok kelinci pindah ke halaman belakang.
Sebelum menutup catatan, Jihan menambahkan satu baris untuk kebutuhan mendadak. Bian menyetujuinya, lalu meminta agar mereka memeriksa pengeluaran bersama setelah mulai tinggal di sini. Perkiraan hari ini mungkin belum tepat. Jihan menyukai usul itu, sebab ia tidak ingin satu pembelian yang keliru menjadi bahan sindiran berbulan-bulan. Mereka akan melihat apa yang benar-benar terpakai, lalu menyesuaikan lagi bulan berikutnya.
"Kasihan," gumam Jihan.
"Kelinci yang mana?"
"Yang belum jadi diadopsi."
Bian menggeleng, menahan senyum. Dari semua pembicaraan serius hari ini, rupanya yang paling menyentuh hati Jihan adalah nasib wadah sendok.
.
.
Kani kembali dengan minuman dan sebungkus camilan. Ia mendapati kedua calon pengantin masih menunduk di atas buku, lalu menaruh belanjaannya di tengah meja.
"Aku kira udah selesai. Ternyata rapatnya naik tingkat."
"Lagi hitung belanja," jawab Jihan.
"Jangan lupa biaya laundry. Mas Bi kalau cari baju setrikaan bisa muter satu rumah."
"Kani."
"Fakta, mas."
Jihan langsung menoleh pada Bian. "Nah, iya. Urusan cucian gimana?"
Pertanyaan itu membuka daftar baru. Membersihkan tempat tinggal, memasak, membawa sampah keluar, mencuci piring. Hal-hal yang tidak muncul di foto apartemen cantik, tetapi pasti menunggu ketika mereka mulai tinggal di sana.
"Aku bisa masak sedikit, tapi kalau pulang jaga capek, jangan berharap aku langsung bikin macam-macam, ya," kata Jihan.
"Saya juga bisa bantu yang sederhana."
Kani menyesap minumannya. "Telur."
"Saya pernah tinggal sendiri."
"Iya, mas. Aku cuma kasih contoh."
Jihan tertawa, kemudian menulis bahwa mereka akan mencoba menyesuaikan pekerjaan rumah dengan jadwal masing-masing. Kalau sama-sama tidak sempat, mereka mencari bantuan sesuai kebutuhan, bukan menunggu rumah berantakan lalu bertengkar.
"Pokoknya kalau lihat piring kotor, jangan pura-pura nggak lihat," ujarnya.
"Kamu juga jangan taruh buku di meja makan sampai nggak ada tempat makan."
Jihan melirik tumpukan diktat yang belum dipindahkan dari meja. Ia segera merangkul dua buku, membuat Kani tertawa lagi.
"Langsung kena contoh nyata, mbak."
.
.
Mereka pulang menjelang magrib. Sebelum mengunci pintu, Jihan kembali menatap rak yang sekarang terisi bukunya. Ada satu pembatas buku berwarna cerah di antara barang Bian yang kebanyakan gelap.
Aneh, hanya beberapa buku tetapi tempat ini sudah terasa sedikit lebih dekat dengannya.
Di lift, Kani sibuk membalas pesan Mama. Bian berdiri di samping Jihan, membawa kardus kosong yang tadi sempat membuat tangannya berdebu.
"Capek?" tanyanya.
"Sedikit. Tapi senang."
"Karena bukunya muat?"
"Karena kamu nggak bilang semua terserah aku."
Bian mengerutkan dahi. Jihan tersenyum melihatnya bingung.
"Kalau semuanya terserah aku, nanti yang mikir aku semua, mas. Tadi enak, kita sama-sama mikir. Walaupun kelincinya ditunda."
"Masih saja kelinci."
"Berduka boleh, kan?"
Pintu lift terbuka, memotong jawaban Bian. Kani berjalan lebih dulu sambil tertawa kecil, sementara Jihan mengikuti dengan buku catatan dipeluk di depan dada.
Di parkiran, Bian meletakkan kardus ke bagasi sebelum mengambil kunci. Ia memandang Jihan yang sedang membantu Kani merapikan kantong belanja agar minumannya tidak tumpah.
Membeli apartemen ternyata baru permulaan. Mengisinya dengan kebiasaan dua orang jauh lebih rumit daripada memilih perabot.
Tetapi sore itu Bian tidak merasa harus menyelesaikannya sendirian.
"Besok kirim daftar yang tadi, ya," katanya ketika mereka sudah duduk.
"Termasuk halaman belakang?"
Bian melirik kaca spion, menangkap senyum Kani, lalu kembali melihat Jihan.
"Termasuk. Tapi bukan berarti semua dibeli besok."
Jihan mengangguk puas. Setidaknya kelincinya masih punya harapan.