Pukul tiga lewat sepuluh, Bian masih berada di ruang rapat ketika ponselnya menyala. Pengingat janji dengan Jihan muncul di layar, tepat saat klien meminta satu bagian gambar dibuka lagi.
"Kalau yang sebelah ini digeser, bagaimana, Pak Bian?"
Bian menatap gambar, lalu jam di dinding. Pertemuan yang diperkirakan selesai sebelum pukul tiga rupanya belum mendekati akhir. Ada beberapa hal yang harus dicatat ulang sebelum tim pulang.
Dulu ia akan memasukkan ponsel ke saku dan mengurus semuanya sampai selesai. Mengabari Jihan bisa belakangan. Lalu belakangan itu berubah menjadi malam, besok, dan pertengkaran lain.
Tangannya berhenti di atas layar.
"Maaf, Pak. Saya izin sebentar mengirim pesan, setelah itu kita lanjut."
Ia mengetik singkat. Rapat mundur, kemungkinan tidak sempat menjemput tepat waktu. Jihan bisa berangkat bersama Ibuk lebih dulu untuk mengukur pakaian. Ia akan menyusul begitu selesai, dan akan memberi kabar lagi sebelum berangkat.
Pesan terkirim. Bian meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, lalu kembali membahas gambar.
Hanya sebentar. Ternyata tidak sesulit alasan yang selama ini ia simpan.
.
.
Jihan membaca pesan itu ketika sedang memeriksa isi tasnya di rumah. Ibuk sudah siap sejak tadi, tetapi ia masih mencari catatan model pakaian yang entah terselip di mana.
Saat melihat nama Bian, ia sempat tersenyum. Senyum itu turun sedikit setelah membaca sampai selesai.
Ya, tetap kecewa. Ia sudah membayangkan berangkat bertiga, lalu memilih kain sambil mengomentari ekspresi Bian yang pasti kebingungan di antara warna-warna mirip.
Tapi kali ini masnya memberi tahu sebelum ia menunggu di teras.
Jihan mengembuskan napas lalu membalas.
Aku berangkat sama ibuk. Kabari kalau sudah selesai. Jangan ngebut karena mau nyusul.
"Masmu belum bisa?" tanya Ibuk.
"Rapatnya mundur. Kita duluan, Buk."
Ibuk menatapnya sejenak, mungkin menunggu keluhan yang biasanya menyusul. Jihan memasukkan ponsel ke tas dan mengambil catatan dari bawah buku.
"Ayo. Ketemu nih kertasnya."
"Nggak ngambek?"
Jihan mencibir sedikit. "Kesel dikit. Tapi dia udah bilang, kok."
Ibuk tersenyum tanpa menambahkan nasihat. Kali ini putrinya sudah bisa membedakan sendiri antara terlambat dan menghilang.
.
.
Ketika Bian akhirnya tiba, Jihan sedang berdiri di depan cermin dengan kain disampirkan di bahunya. Ibuk duduk di dekat meja, berdiskusi dengan penjahit tentang bagian lengan.
Bian mengucap salam, meminta maaf karena menyusul belakangan, lalu duduk setelah dipersilakan.
"Gimana, mas?" Jihan berputar sedikit.
"Bagus."
"Belum jadi bajunya, ini kain doang."
"Warnanya bagus."
Penjahit tersenyum, sementara Ibuk menahan tawa. Jihan memutar mata, tetapi tidak ada amarah di wajahnya. Ia menunjukkan model yang sudah dipilih, menjelaskan bahwa ia ingin tetap bisa bergerak nyaman dan tidak sibuk membetulkan baju sepanjang acara.
Bian mendengarkan sampai selesai.
"Kalau duduk lama nyaman?" tanyanya pada penjahit.
Jihan menoleh. Nah, akhirnya ada juga pertanyaan yang berguna dari pak arsitek.
Setelah ukuran dicatat, mereka membicarakan jadwal mencoba pakaian. Bian membuka kalendernya, Jihan membuka jadwal sendiri. Ibuk memperhatikan dua ponsel yang diletakkan berdampingan, lalu menunjuk hari ketika keduanya sama-sama punya waktu.
"Yang ini. Jangan kalian muter-muter terus sampai ibuk yang menikah lagi."
"Buk!" Jihan tertawa.
Bian mengangguk cepat, menyimpan tanggalnya sebelum percakapan berubah menjadi godaan baru. Gilirannya diukur membuat Jihan berdiri agak jauh sambil memperhatikan dengan puas.
"Jangan tahan napas, mas. Nanti bajunya sempit."
"Saya napas biasa."
"Mukamu serius banget. Kayak mau tender."
"Kamu mau saya senyum terus?"
"Boleh. Latihan buat foto nikah."
Bian meliriknya datar. Jihan malah terkikik, membuat Ibuk menggeleng pelan. Kalau pasangan ini tidak saling mengomentari, mungkin hari belum lengkap rasanya.
.
.
Selesai dari sana, mereka mengantar Ibuk pulang sebelum melanjutkan makan malam di rumah. Bik Sri sudah menyiapkan lauk, jadi Bian tidak perlu mencari tempat di tengah macet.
Ia membantu membawa piring ke meja. Jihan mengambil gelas, lalu berhenti ketika melihat ponsel Bian bergetar di dekat tempat duduknya.
"Itu telepon, mas."
Bian memeriksa layar. "Dari tim. Saya jawab sebentar, ya."
Jihan mengangguk. Bian keluar ke teras, menyelesaikan percakapan, kemudian kembali sebelum Bapak duduk. Ia tidak membawa laptop masuk, meski tas kerjanya masih berada di mobil.
Makan malam berlangsung biasa. Bapak bercerita soal jalan yang ditutup, Ibuk mengingatkan jadwal mencoba pakaian, dan Jihan mengeluh karena lengan bajunya tadi berkali-kali harus dirapikan saat pengukuran.
Bian lebih banyak mendengar. Tetapi ketika Jihan mengatakan hari jaganya akan berubah minggu berikutnya, ia meminta dikirimkan jadwal terbaru. Jihan mengangguk sambil terus makan, lalu beberapa detik kemudian baru sadar.
Ia tidak perlu mengingatkan lebih dulu.
Selesai makan, mereka duduk di ruang tengah. Jihan mengeluarkan daftar barang yang ingin dibawa ke apartemen: pakaian, buku, perlengkapan ibadah, dan beberapa benda kecil dari kamar lamanya.
"Buku kamu banyak?" tanya Bian.
"Lumayan. Jangan kaget kalau satu kardus isinya diktat semua."
"Saya kosongkan satu bagian rak."
"Meja belajarnya gimana? Aku bisa nugas sampai malam."
"Kita lihat lagi posisinya. Jangan sampai lampunya bikin kamu silau atau ganggu yang tidur."
Jihan mengangguk puas, lalu menggambar kotak kecil di pinggir kertas. Hasilnya miring. Bian refleks mengambil pulpen lain, tetapi Jihan lebih dulu menahan kertasnya sambil tertawa.
"Ini daftar barang, bukan maket. Biarkan jelek."
"Saya cuma mau tandai raknya."
"Alasan."
Bian menyerah. Namun senyum Jihan perlahan mereda ketika melihat baris kosong di bawah daftar. Ada pembicaraan lain yang belum benar-benar mereka selesaikan sejak malam lamaran.
"Mas, soal anak..."
Bian mengangkat wajah, menunggu.
"Aku masih mau selesaikan koas dulu. Aku senang sama Kenzie, sama si kembar, tapi menjaga anak sendiri kan beda. Aku belum siap sekarang."
Ia mengatakannya lebih jelas daripada saat di restoran dulu. Bian meletakkan pulpen agar Jihan tahu ia mendengarkan.
"Iya. Waktu itu saya bilang kita bisa bicarakan."
"Sekarang aku bicarain."
"Saya dengar."
Jihan menunggu, kali ini tidak mau puas dengan senyum saja.
"Saya mau punya anak sama kamu," lanjut Bian. "Tapi saya nggak minta harus segera setelah akad. Kita atur bersama. Kalau perlu tanya dokter, kita datang berdua, jangan kamu yang mikir sendirian."
Bahunya terasa lebih ringan. "Kamu nggak keberatan?"
"Nggak. Kamu masih harus belajar, saya juga masih harus belajar jadi suami."
Jihan menunduk sambil tersenyum. "Banyak PR ya, mas."
"Iya. Punya saya lebih banyak kayaknya."
Ia tertawa kecil, kemudian menambahkan satu catatan di bawah daftar barang. Bukan barang yang harus dibeli, melainkan hal yang perlu mereka bicarakan lagi sebelum menikah.
Ketika Bian berpamitan, pekerjaan mereka belum semuanya selesai. Pakaian masih harus dijahit, undangan belum seluruhnya disampaikan, dan Jihan tetap punya tugas yang menunggu di kamar.
Namun malam itu ia tidak merasa ditinggalkan bersama semua urusan tersebut.
Sesampainya di rumah, Bian mengirim pesan singkat. Sudah sampai, akan membereskan sedikit pekerjaan lalu tidur. Jihan membacanya sambil menyandarkan punggung pada kursi belajar.
Tidak ada bunga, cincin baru, atau kunci apartemen malam ini.
Hanya kabar sederhana yang selama ini ia tunggu.
Jihan membalas, lalu meletakkan ponselnya dan membuka tugasnya kembali. Untuk sekali ini, ia bisa belajar tanpa berkali-kali melihat layar, menebak-nebak ke mana masnya menghilang.